BABY/I EL (END)

BABY/I EL (END)
Episode 09: Kesialan Dante



...Happy reading...


...Sorry for typo...


"El, maafin kakak dong"


"El... Ya udah mau apa? Kakak beliin deh?"


"Mau rumah sakit beserta isinya? Mau jarum suntik satu pabrik? Mau ruang bedah buat kamu sendiri atau mau peralatan dokter biar kamu bisa mainin?"


"Mon maap nih ye, itu semua bukan kesukaan El tapi itu semua kesukaan kakak"


"Ok adek kakak yang ganteng engga ketungan mau apa?"


"Bener mau dikabulin? Jangan kayak dia yang cuma ngasih harapan palsu apalagi alamat palsu"


Dante hanya bisa menghela napas mendengar perkataan El yang sangat sangat estetik menurutnya. Saking estetiknya anak senja mungkin sampai menangis tersedu-sedu mendengarnya.


"Kemauan aku tuh engga buat kakak bangkrut, cuma bisa buat kakak modar!"


"El!" Sentak Dante.


"Oops, maaf"


"Jangan sekali kali kamu berkata kasar awas aja kalau kakak denger kamu berkata kasar lagi kakak sumpel mulut kamu pake kasa"


"Jahanam kau SANTET," batin El.


"Aku cuma mau seblak level iblis jahanam modar kak, itu aja udah bisa buat El maafin kakak"


Sungguh babi El luar binasa di luar nalar ilmu perbinatangan dan peri kebabian.


Dante menaikkan salah satu alisnya. "Ayo sekarang kita pergi ke rumah sakit kakak, biar kakak perlihatkan cara mengoprasi perut manusia itu bagaimana!"


"Mau?"


Bibir pink El mengerucut. Apa salah dia meminta seblak? Toh seblak cuma 10.000 rupiah doang bukan 10.000 dollar.


"Yaudah El mau pinjem HP kakak aja," ujarnya sambil menjulurkan tangan kanannya meminta benda kotak itu.


Dante mengalah, daripada adik kecilnya ini terus ngambek ia menyerahkan handphone berlogo apel kegigit sebelah miliknya.


Tanpa ba-bi-bu lagi El menyambar ponsel sang kakak. Ia mengetik nomor sahabat bangkenya, Jojo.


Tak butuh lama telpon dari El diangkat dengan orang di seberang sana.


"WOY JO! LU BENER-BENER YA, UDAH KAGAK INGET APA SAMA GUE YANG GANTENG, SANGAR, DAN BAD BOY INI?"


Mendengar teriakan El yang seperti babi ngepet kalau ketangkep basah, Jojo menjauhkan ponselnya dari telinganya. Dasar babi! Bukannya mengucapkan salam malah langsung teriak maki-maki gak jelas aja.


Begitu pula dengan Dante, ia sampai menyumpal kedua telinganya dengan jari guna meredam teriakan membahana sang adik.


"Halo? Spada... Jojo? Jonathan Abimanyu Giandra... Yuhuuuu..."


"APA?!" Sentak Jojo


"Kok lu gak kaget sih gue telpon lu? Lu gak curiga gue diculik gitu? Secara kan gue gak pulang udah seminggu lebih"


"Gak sama sekali. Gue udah tau kok mereka itu keluarga kandung lo"


El memegang dadanya histeris. Inikah yang dinamakan rasa sakit hati ketika dicampakkan?


"Hiks kurang ajar Lo anjing! EMANG TEMEN BANGSAT LO! JANCOK! ASU!Gue hiks sibuk mikirin elu dan lu malah hiks, ah udahlah! KITA PUTUS!"


El menutup sepihak telponnya dan membanting ponsel Dante yang bernilai puluhan juta itu hingga hancur berkeping-keping saking kesalnya.


Pluk


"Untuk mulut yang berbahasa kasar!"


Cetak


"Dan ini untuk ponsel kakak yang sudah hancur." Dante menyentil dahi El sedikit keras karena ia gemas akan kelakuan El yang sangat ajaib bin nyeleneh.


"Sakit san– kakak"


"Apa mau lagi!"


El menggeleng. "engga like ah, mainannya gitu"


"Mau lebih dari ini hm?"


"bukan gitu maksudnya bam– san– eh kakak"


"Lalu apa?" Seringai Dante.


El menggaruk tengkuknya berpikir sebentar apa yang harus dikatakan agar El tak mendapatkan hukuman lagi.


"Kakak kan tadi yang salah dan minta maaf sama El, napa sekarang El yang jadi salah sih," kesal El.


"Itu tadi beberapa menit yang lalu dan itu sudah hilang dalam ingatan kakak"


"Apa? Jangan menghujat, kakak tau apa yang kamu pikirkan!"


"Tau ah, mau daddy atau kak Clovis"


"Daddy belum pulang dan kak Clovis lagi dihukum sama kakak!"


El berdecak kesal. Segera ia turun dari kasur dan berjalan menuju balkon. Ia membuka pintu balkon dengan kasar.


"HUAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!" El berteriak melampiaskan segala kejengkelannya dalam hati. Teriakan El menggema ke seluruh penjuru mansion.


Seketika Dante melotot dan ia segera berlari ke balkon takut-takut El kanapa-kenapa.


"Ada apa? kamu sakit? yang mana yang sakit bilang sama kakak!" Dante membolak balik tubuh kurus kering kerontang El ke kanan, ke kiri, depan, belakang.


"Kakak!" Sentak El di depan telinga Dante membuat Dante langsung menutup telinganya dengan tangannya.


"El, bisa budeg telinga kakak!" Kesal Dante.


"Bodo, awas aku mau lewat," singkir El dengan mengibas ngibaskan tangannya.


"Jawab dulu kamu kenapa?"


"Aku, gelo amarga sampean!" kesal El di depan wajah Dante.


El pergi berlalu tak ingin melihat wajah Dante yang sudah seperti tuan krabs.


El membuka pintu kamarnya dan zonk ada dua bodyguard yang langsung menghadang El. "mau kenapa Tuan muda?"


"Mau ke hatimu bang," goda El dengan menaik turunkan alisnya dan memasang muka tengilnya.


"Maaf tuan muda sebaiknya anda masuk lagi, tuan Dante sudah menunggu anda di dalam"


"Bang lo tergoda kek, kan gue udah coba godain lo bang hidup jangan datar-datar amat bang udah kayak papan triplek aja"


"Neh ya bang aku bilangin body papan triplek juga masih ada lekukannya lah ini wajah datar kayak triplek rata semua bang"


"El," panggil Dante dari dalam kamar.


"Apaan sih kak, aku mau godain abang triplek dulu"


"ELNANTHAN MASUK!"


"Sewot banget jadi orang!" geram El.


"Satu...."


"Dalam hitungan ke tiga kamu engga masuk jangan salahkan jika dua jarum akan menembus kulit pantat kamu!"


"Dua...."


"Ngancem terus kagak ada gitu capek ngancem," gerutu El yang langsung berbalik arah masuk kedalam kamar lagi.


El masih sayang pantatnya yang mulus seperti pipi bayi.


"Tidur!"


"Kak," rengek El.


"Ti...."


"Ok aku tidur, udah jangan lanjutin hitungannya!" kesal El yang langsung berbaring.


"Tiga..."


"Sudah telat karena kamu banyak salah dan hukumannya ini" seringai Dante dengan menunjukan dua musuh bebuyutan El.


"Kak, ko gitu sih engga mau," rengek El.


Dante hanya menggedikan bahunya acuh dan terus mendekati El sedangkan El terus beringsut mundur sampai pungungnya terbentur headboard.


"Kak ampun kak hiks jangan suntik aku lagi kak maaf ampun." Akhirnya air mata suci El keluar juga karena ulah Dante.


"DANTE!"


Dante yang merasa terpanggil langsung menoleh dan mendapati Gilbert yang sudah berkacak pinggang melihat kelakuan anak keduanya.


"Dad, padahal lagi seru loh," kesal Dante yang langsung beringsut berdiri.


El melihat ada peluang langsung bangun dan menubruk tubuh jangkung Gilbert.


"Daddy... Kak santet nakal," adu El kepada Gilbert.


"Betul dad! Hukum saja dia. Aku dan El menjadi korban kenakalan Dante saat daddy tidak berada di rumah," sahut Clovis yang secara ajaib tiba-tiba muncul di depan kamar Dante. Entah bagaimana cara dia kabur dari kamarnya sendiri, mungkin dengan sihir? Entahlah hanya Clovis dan Tuhan yang tahu.


Seketika Gilbert menghunuskan tatapan tajamnya ke Dante sementara El dan Clovis tersenyum penuh kemenangan.


"Aku lagi aku lagi yang kena. Dasar dua pasien kurang ajar! Awas aja kalian berdua"


To be continued...