BABY/I EL (END)

BABY/I EL (END)
Episode 01: Hujan



...Happy reading...


...Sorry for typo...


Hujan membasahi bumi yang dipijak saat ini rasa sakit di relung hati begitu menyayat hati, tak bisa lagi digambarkan dengan apapun bahkan bumi pun ikut menangis.


Air mata membasahi pipi tak kuat lagi menahan derasnya air yang terus ingin mengalir.


"ALVERO!" Teriakan dari sang bunda begitu menyayat hati.


Seorang remaja laki-laki kini sudah menyatu dengan dinginnya tanah lembap, meninggalkan sebuah pusara sebagai tanda bahwa dia pernah menginjakkan kaki di bumi fana ini.


"Bunda, ikhlaskan Vero. Dia pasti sedih melihat bunda seperti ini," ucap Clovis, si sulung menenangkan sang bunda yang masih menangis histeris di kuburan sang adik bungsunya.


Tak menghiraukan ucapan putranya, Arin malah semakin hanyut kala mendengar nama putranya yang telah berpulang. Ia mengingat kenangan-kenangan manis bersama Vero, begitu hangat.


Tiba-tiba pikiran Arin terhenti saat ia mengingat satu wajah seorang bayi yang sangat familiar. Arin berdiri kemudian ia mencengkram erat lengan sang suami, Gilbert.


"Kita harus mencari anak itu, a- aku yakin sekali dia masih hidup"


Gilbert menatap istrinya bingung. "Anak siapa yang kau maksud?"


"Kembaran Vero," balas Arin lirih. Kepalanya tertunduk takut.


"Bunda sadarlah, dia sudah mening–"


"Dia tidak meninggal waktu itu. Bunda memalsukan kematiannya." Ucapan Dante, sang putra kedua terpotong karena perkataan lantang Arin.


Gilbert melepas paksa cengkraman istrinya dan menampar pipi Arin dengan sangat kencang. "APA MAKSUDMU?!" Suara Gilbert meninggi.


"Hiks maafkan aku." Tubuh Arin luruh. Ia menyesal karena dahulu telah membuang bayinya sendiri.


"Atas dasar apa kamu membuang bayi yang tak bersalah itu HAH!" Gilbert kembali membentak Arin yang sudah menumpahkan air matanya.


"Maafkan aku, aku khilaf aku takut dia cacat karena dia memiliki kelainan. Aku tak mau nama keluarga kita tercemar hanya karena anak yang memiliki kekurangan," lirih Arin dengan napas yang tersengal sengal menahan sesak di dada dan tangisan.


PLAK


satu tamparan lagi di layangkan Gilbert membuat ujung bibir Arin mengeluarkan darah segar.


"Maksud bunda apa? Aku nggak nyangka bunda sekejam itu aku kecewa dengan bunda," timpal Clovis.


"Akh..." Dante menjambak rambutnya sendiri melepaskan rasa kesal dan kecewa dalam dirinya.


Bunda yang selama ini dia puja-puji yang selama ini dia hormati tapi dengan tega membuang anaknya sendiri tanpa satu orang pun yang tau bunda macam apa itu.


"Pergi," lirih Gilbert.


"Tidak sebelum aku menemukan anak itu, tolong beri aku kesempatan kedua, aku mohon Gilbert." Arin memohon di kaki Gilbert sang suami supaya memberikan kesempatan kedua untuknya.


"PERGI!" Gilbert mendorong Arin hingga terjatuh.


"Tak ada kesempatan kedua untukmu, aku bukan Tuhan yang bisa memaafkan kesalahan sebesar ini!"


"Tap–"


"PERGI! sebelum timah panas di pistolku menembus jantungmu"


Arin pergi dengan luka yang sangat menyayat hati tak terbayangkan olehnya akan serumit ini dan sesedih ini.


Dirinya diusir oleh suami dan anaknya sendiri disaat anak yang dibanggakan anak yang sangat dia sayang meninggalkannya selamanya.


•••


"Hujan gerimis aje~"


Pletak


Jojo menyentil dahi sahabatnya yang kelewat goblok. "Gerimis pala Lo! Hujan udah kek badai gini Lo bilang gerimis," protesnya.


Jojo mengelus dadanya sabar. Kelakuan seorang Elnathan Narve Laurelino memanglah seperti babi, tapi wajahnya sangat imut seperti bayi sampai-sampai orang tidak tega marah kepada El.


"Jo, buatin gua mie soto pedes pakai telor setengah mentah"


"Emang gue babu Lo? Buat sendiri!" Tolak Jojo sambil melempar bantal yang ada di sampingnya.


"Ya elah Jo, sekali-kali napa gue jadi bos. Capek gue jadi babu mulu." El membuat ekspresi semelas mungkin agar hati seorang Jojo luruh.


"Heh, sudah berapa kali gue bilang, di sini lo sahabat gue sekaligus adik gue bukan babu. Keluarga gue juga gak ada niat jadiin lo babu waktu mungut lo."


El memeluk erat Jojo. Ia merasa sangat beruntung namun tetap saja hatinya merasa tidak enak karena sudah merepotkan Jojo dan keluarganya.


"Makasih ya. Gue janji bakal angkat kaki dari sini kalau uang gue sudah cukup buat bayar hutang gue ke ibu kos."


Jojo meringis mendengarnya andai El mau dibantu pasti Jojo akan senang hati membantu El meringankan bebannya tapi El tetaplah El yang tak mau merepotkan siapapun itu termasuk Jojo yang sudah sangat baik padanya.


"Dahlah lo jangan sungkan, mungkin kalau bisa dilihat mulut gue udah berbusa karena capek ngomong sama orang bebal kayak lo"


"Aih... Pengen peluk." El merentangkan tangannya kembali bermaksud ingin memeluk lagi Jojo, tapi naas Jojo malah menepis tangan El dan berujung bibir El yang di majukan ke depan membuat Jojo ingin sekali menabok wajah El.


"Jojo mau kemana?" Teriak El melihat Jojo yang sudah berdiri dan melangkah pergi.


"Mau cari ayam"


"Buat apa?" Tanya El bingung pasalnya Jojo tak pernah memelihara ayam dan buat apa Jojo mencari ayam.


"Mau suruh patok mulut lo yang manyun!"


Seketika El langsung memegang mulutnya sendiri dan bergidik ngeri membayangkan bagaimana mulutnya dipatok ayam.


"Ish punya sahabat dah kayak psikopat," monolog El.


Tak lama berselang, hujan mereda. Bulan yang semula bersembunyi di balik pekatnya awan kini mulai menyembul keluar.


El melirik jam, betapa terkejutnya ia melihat jarum jam sudah menunjuk ke angka 8. Dengan tergesa-gesa El berganti pakaian, tak lupa pakai parfum yang banyak biar wangi karena El belum mandi dari sore.


"Buset anjir bisa-bisa gue telat," keluhnya sambil berlari keluar kamar.


"Woy mau kemana lo?" Teriak Jojo yang sedang menyeduh kopi di dapur.


"KERJA," balas El dengan berteriak juga. Memang sengklek kedua manusia ini, jarak dapur dengan pintu keluar tidak terlalu jauh kenapa harus berteriak.


"Ngapain lo ker–"


Jojo tidak dapat menyelesaikan kalimatnya dikarenakan si sahabat bangsatnya sudah terlebih dahulu meninggalkannya.


•••


El menghela napas panjang. Sungguh membosankan menjaga minimarket seorang diri di tangah malam.


Matanya tiba-tiba menangkap sesosok wanita yang terduduk di depan minimarket dengan pakaian kotor dan basah kuyup.


Karena merasa iba, El menghampiri wanita tersebut. "Tante masuk dulu ke dalam, di luar bahaya apalagi tengah malem begini," ujar El lembut.


Arin menoleh ke sumber suara. "Vero," balas Arin lirih. Air mata Arin kembali tumpah melihat remaja yang berjongkok di sampingnya.


"Eh tante jangan nangis, El traktir mie sama teh deh, kalau tante nangis nanti El dikira apa-apain tante, kan gak lucu"


"Hiks, Vero sayang jangan tinggalin bunda." Arin memeluk erat El, menumpahkan segala kesedihannya. Sesekali Arin tertawa kemudian menangis lagi, membuat El bergidik.


"Mimpi apa gue semalem bisa ketemu orang stress begini. Nasib nasib..."


To be continued~


Jangan lupa tinggalin jejak


See you