
Happy reading
Sorry for typo
Untuk kedua kalinya hari ini El harus berususan dengan musuh bebuyutannya bukan hanya satu tapi dua sekaligus.
Satu terpasang dengan apik di tangannya dan satu lagi sudah menjebol kulit pantat El yang mulus bak pipi bayi.
Dante memang titisan raja setan tak tanggung-tanggung dia menancapkan dua benda kecil nan mungil itu langsung dua kali, ingin berkata kasar tapi tak bisa karena sialnya mulut El malah ditempeli lakban oleh Clovis yang baru saja datang melihat kegaduhan yang di perbuat El.
Saat ini El hanya bisa diam dan mencoba menenangkan diri sebelum para titisan iblis ini membawanya pergi ke tempat asal mereka.
"Empththhpthamm," Teriak El tak jelas.
"Apa? Kalau ngomong yang jelas dong," tanya Dante dengan muka pengen ditaboknya.
El dengan sekuat tenaga menunjuk bibirnya karena si Cokies malah mengikat dirinya di kasur dan penderitaan El sudah tak bisa dibayangkan lagi.
"Kenapa hm?" tanya Clovis.
"Hmptmptpsmtsp"
Clovis dan Dante saling bertatap dengan seringainya membuat El semakin kesal di buatnya.
"Mungkin dia mau nambah suntikan Dante." dengan muka tengilnya Clovis mengejek.
"Oh baiklah sebelum kita bawa dia pulang bagus juga sekalian kita bius dia dengan suntikan gajah," ucap Dante mengompot-ngompori.
El menggeleng membayangkannya saja sudah membuatnya ketar-ketir, pikiran El berkelana membayangkan suntikan gajah segede apa?
"Buahaha haha..." Jojo sudah tak bisa menahan tawanya melihat keadaan El saat ini membuat dua titisan iblis El menatap tajam Jojo.
Jojo yang di tatap seperti itu langsung diam dengan menampakan deretan giginya "Maaf kak Dante sama kak Clovis"
"Kamu akan menerima hukumannya nanti setelah kita pulang jangan harap kamu bisa menghindarinya!"
Sungguh perkataan Dante seperti petasan mercon yang meledak-ledak di atas langit. Jojo sekarang mengerti apa yang dirasakan El selama ini. Kini mata Jojo jelalatan mencari celah agar dirinya bisa keluar dari situasi ini.
"Ah kak Dante ini suka bercanda juga ya ha ha ha, wah kak ada banaspati minum es teh"
Clovis dan Dante menoleh ke arah yang Jojo tunjuk, ya itu hanya akting mereka saja untuk menyenangkan hati Jojo.
"Kabooorrrr..."
Baru juga dua langkah, Clovis sudah menarik topi hoodie yang Jojo kenakan. "Dante, mana suntikannya"
"A- ampun kak, canda doang... Jangan diambil hati dong"
Tak ada yang menjawab ucapan Jojo. Jojo semakin dibuat deg-degan saat melihat El sudah tertidur pulas. Jojo yakin betul si babi El tidak akan tidur secepat itu tanpa campur tangan dari Dante.
"Kak please kak gak usah ya, nurut kok janji bakalan nu- aarrrkkhh..."
Sungguh kejam Dante yang tiba-tiba menusukkan jarum suntik ke lengan Jojo. Tak lama Jojo menyusul El masuk ke dalam alam mimpinya.
Clovis lantas menggendong Jojo sedangkan Dante menggendong El agar mereka bisa membawa kedua bocah nakal ini pulang.
•••
Satu setengah jam perjalanan terlewati, mereka sampai di rumah sakit Dante. Dibaringkannya El dan Jojo di brangkar masing-masing.
Kedua kakak El kemudian duduk di sofa sembari menunggu bocah-bocah nakal itu bangun.
"Hahh... Pria tua itu benar-benar tidak peduli lagi," ujar Clovis seraya menghela napasnya lelah.
Ia benar-benar tak habis pikir dengan kelakuan kedua orang tuanya. Arin yang membuang El hanya karena El penyakitan dan Gilbert yang lebih memilih bermain dengan ****** dibanding mengurus anaknya sendiri.
"Sudahlah, kita bisa hidup tanpa uang dari pria bajingan itu"
Dante merebahkan badannya yang terasa lelah. Ia memejamkan mata menikmati sunyi.
Tapi hal itu tak bertahan lama, terdengar kegaduhan yang entah karena apa di luar kamar rawat El.
"Ck, berisik sekali," geram Dante.
"Biar aku yang mengecek, kau istirahat saja. Simpan tenagamu untuk mengurus El dan Jojo." Clovis mencegah Dante yang hendak bangkit dari rebahannya.
"Mau apa kau ke sini?" Sinis Clovis.
"Oh son, apakah daddy tidak boleh menjenguk putra bungsu daddy?"
"Kau bukan daddy kami! Dan aku tidak akan membiarkanmu menyentuh El sampai kapanpun!"
Seakan tuli, Gilbert tetap saja masuk ke dalam untuk menemui El. Clovis yang hendak menahannya malah kalah cepat dengan bodyguard Gilbert.
"DANTE LINDUNGI EL!" Teriak Clovis. Ia terus saja memberontak agar dirinya segera lepas dari bodyguard sialan Gilbert.
"Keluar kau pak tua sialan!" Sentak Dante sambil berdiri menghalangi di samping brangkar El.
"Bukankah bahasamu terlalu kasar Dante?"
Pertanyaan Gilbert bagaikan angin lewat bagi Dante. Dante terlalu terpaku pada gerak-gerik Gilbert sampai-sampai ia tidak menyadari ada salah satu bodyguard Gilbert di belakangnya.
"Kau terlalu banyak bekerja nak, istirahat lah"
Brug
Dante jatuh tak sadarkan diri setelah bodyguard di belakangnya menembaknya dengan obat bius.
Begitu pun dengan Clovis. Ia kalah telak dan bernasib sama dengan Dante.
"Bawa mereka berempat ke mansion dan khusus untuk dua bocah nakal itu masukkan mereka ke ruang hukuman," tegas Gilbert.
"Baik tuan"
•••
Jojo mulai tersadar dari pengaruh obat Dante. Ia menatap ke sekelilingnya. Kosong. Ruangan gelap yang hanya bercahaya kan lampu pijar kecil yang berada tepat di atas kepalanya.
"Ah sialan!" Umpat Jojo mengetahui bahwa dirinya terikat dengan kursi dan tidak mampu bergerak.
Tiba-tiba dinding pembatas kaca di hadapannya mengeluarkan cahaya tanda lampu ruangan sebelah telah dinyalakan. Jojo sedikit menyipitkan matanya untuk beradaptasi dengan cahaya tersebut.
"EL!" Teriak Jojo
"EL BANGUN WOY! JANGAN KEBO!"
Teriakan demi teriakan yang Jojo berikan tidak ditanggapi oleh sesosok remaja laki-laki yang juga bernasib sama dengan Jojo yaitu terikat di kursi.
Mata Jojo membulat saat mendapati dua orang berpakaian serba hitam dan memakai topeng mendekati El dengan membawa nampan berisi berbagai macam pisau.
"WOI JANGAN MACEM-MACEM LU SAMA EL!" Teriak Jojo frustasi.
Jojo semakin dibuat frustasi karena salah satu orang misterius tersebut mulai memainkan pisaunya di lengan El. Kemudian diikuti orang hitam yang satunya memotong jari-jari kaki El satu per satu.
"E- El please jangan sakiti El"
Air mata Jojo tak dapat ditampung lagi mendengar teriakan kesakitan dari sang sahabat.
"LEPASIN EL ANJING BEGO! BIAR GUE AJA hiks EL GAK SALAH!"
Semua teriakan Jojo tentu saja percuma. Ruang sebelah tidak akan dapat mendengarnya sampai pita suara Jojo putus pun tidak akan terdengar.
Dor
Suara tembakan itu membuat jantung Jojo berhenti sebentar. Matanya melotot melihat isi dari kepala sahabatnya berhamburan di lantai.
"EEEEELL!!!!"
Setelah itu Jojo pingsan karena sudah tak tahan lagi dengan pemandangan mengerikkan di depan matanya.
Sementara di ruangan lain...
"Hiks Jojo jangan mati hiks nanti Mincret gue sapa yang jagain hiks hiks"
El menangis sesenggukan karena melihat Jojo yang telah tewas terpenggal. Dada El kembali terasa sesak dan sakit, kepalanya berdenyut hebat, sampai akhirnya kegelapan menghampiri El.
Di ruang CCTV Gilbert menyeringai puas. Tenang saja kedua bocah nakal itu masih hidup. Semua adegan tadi hanya rekayasa semata yang dibuat Gilbert untuk menghukum El dan Jojo. Tidak begitu buruk bukan?
To be continued~