BABY/I EL (END)

BABY/I EL (END)
Episode 31: Painful



Happy reading


Sorry for typo


"Elnathan!"


El tersentak bingung mendengar suara sang daddy yang memanggilnya. "Mungkin gue cuma halu, ah rasanya jadi kangen daddy. Maafin El daddy," batin El.


"Buka ikatannya cepat!"


"Hei hei El, ini daddy sayang. Bisa buka mata indahmu itu?" Ucap Gilbert sambil menepuk halus pipi El. Tak terasa likuid bening menetes di pelupuk mata Gilbert. Hatinya begitu hancur melihat putranya dalam keadaan begitu mengenaskan.


Perlahan El membuka matanya. Pandangan pertama yang ia lihat yaitu Gilbert yang sedang menangis di hadapannya. Ia juga merasakan seseorang berusaha melepaskan dirinya dari ikatan tali menyakitkan ini.


"Dad- ukkhhh..." Lirih El.


"Terima kasih sudah membuka matamu baby. Tahan sebentar ya kita akan menyelamatkanmu baby"


"Dad Ma- af"


Gelap sudah, El sudah tak ingat apa-apa lagi yang terakhir El dengar hanya jeritan dan rasa sesaknya makin bertambah tapi rasa sakitnya agak berkurang.


Air mata Gilbert semakin deras mengalir. Kenapa tidak dirinya saja yang berada di posisi El.


"Tuan." Perkataan Jake membuyarkan lamunan Gilbert.


Cepat-cepat Gilbert mengangkat tubuh ringkih El. Ia lantas berlari keluar. Tak ada pikiran lain di otak Gilbert selain menyelamatkan putranya.


"Cepat bodoh,apa kau tak bisa menjalankan mobil dengan cepat!"


"Akh, lihatlah El sudah banyak mengeluarkan darah bodoh!"


"Kalau terjadi sesuatu dengan El kau yang akan kena timah panasku"


Gilbert benar-benar kehilangan akal melihat El sudah terkapar di pangkuannya.


Dante dan Kevin sudah berada di rumah sakit untuk menunggu Gilbert dan sudah menyiapkan alat-alat yang mungkin dibutuhkan El.


Semua sama merasakan hal yang sakit kala tau El sangat menderita sungguh mereka tak akan mengampuni siapapun yang sudah menyakiti El sampai seperti ini.


Kematian adalah jalan terakhir untuk siapa saja yang sudah menyakiti kelurga Gilbert apalagi El yang notabenenya anak kesayangan Gilbert.


Kevin lah yang pertama kali menyambut kedatangan Gilbert dan El. Ia menatap tak percaya remaja yang sedang digendong itu. Ah rasanya baru kemarin ia mengerjai anak nakal itu dan hari ini tiba-tiba kondisinya sudah seburuk ini.


"Cepat selamatkan dia," ucap Gilbert dengan nada cemas.


"Kami akan berusaha semaksimal mungkin," jawab Kevin. Ia tidak bisa memberi janji kepada Gilbert bahwa El akan baik-baik saja.


Pintu ruang gawat darurat kini tertutup rapat. Gilbert tak bisa masuk ke dalam dan melihat keadaan El. Harapan dan doa terus ia panjatkan kepada Tuhan.


Sementara di dalam, ketegangan mendominasi. Semuanya sibuk mempertahankan arwah El agar tetap berada di raganya.


"Flail chest," gumam Dante saat meraba dada El.


Flail chest merupakan kondisi dimana tulang rusuk patah di 2 tempat atau lebih yang mengakibatkan ruas patahan tersebut terlepas dan mengambang.


"Kevin, ada pendarahan internal?"


"Sementara tidak tapi reaksi alerginya cukup parah"


"Dok saturasi dan tekanan darahnya terus menurun," ucap salah satu perawat. Hal itu membuat perasaan Dante tak karuan.


"Beri dia epinefrin lagi," perintah Dante.


"Dante! Kau gila? Jangan berikan"


"Diamlah Vin. Ini sudah hampir 5 menit dari pemberian pertama. Daripada kau terus mengomel lebih baik kau siapkan ruang operasi untuk El"


"Terlalu beresiko jika memberi El secepat itu"


"Jangan hiraukan orang itu, beri saja obatnya"


"Jangan gegabah Dante, jantungnya bisa rusak"


"Dok ini bukan waktunya untuk bertengkar, tolong bersikap profesional," tegur salah satu perawat yang semakin khawatir dengan kondisi El.


Dante membuang napasnya kasar. Mungkin dirinya terlalu panik. "Maaf, tolong beri El terapi obat sesuai dengan yang Kevin berikan. Aku akan memanggil dokter Yasmin untuk mengoperasi tulang rusuk El"


Dante memilih pergi dari ruangan tersebut untuk menemui Dokter yang menurutnya bisa membantu meringankan kesakitan El.


"Bagaimana El?"


Dante hanya bisa menarik napas dalam dan berkata "Doakan yang terbaik buat El"


Setelah berkata demikian Dante tak ingin melihat wajah-wajah sedih semua anggota keluarganya Dante langsung pergi meninggalkan mereka dengan hati yang berkecambuk antara bingung dan cemas.


"Dad,El pasti sembukan dad!" tanya Jojo dengan linangan air mata.


"El anak kuat,El pasti bisa melaluinya dengan mudah"


"Tapi tadi kak Dante bilang?"


"Siapa Dante TUHAN? Dante bukan Tuhan ingat umur ada di tangan Tuhan jadi percayalah bahwa Tuhan pasti masih sayang El"


"Dad!" Jojo langsung memeluk Gilbert menyalurkan kesedihannya.


Clovis mendekat dan ikut memeluk mereka,air mata mereka terus mengalir dengan doa yang terus di panjatkan dalam hati.


"Flail chest" Gumam seseorang.


"Perlu tindakan secepetnya tapi bagaimana dengan kondisinya saat ini apa dia akan bertahan?"


"Aku menjamin dia pasti bisa bertahan dan melewati semua ini"


"Ingat kau bukan Tuhan!"


"Memang aku bukan Tuhan tapi aku akan pastikan dia kembali ceria seperti dulu tanpa rasa sakit apapun!"


"Semangatmu sangat tinggi semoga saja sama dengan adikmu baik kalau begitu mari kita lakukan apa yang kau pinta"


"Kita bekerja bersama-sama untuk hasil yang maksimal"


•••


"BABIIIIII." Jojo berteriak bak orang kesetanan. Ia tak sanggup saat melihat El terbaring lemah dengan banyak alat medis yang menempeli tubuhnya. Apalagi ia menyaksikan langsung di balik kaca bagaimana El yang tiba-tiba drop hingga 3 kali banyaknya.


Hati Jojo tambah teriris ketika mengingat El jadi seperti ini karena ia membantunya kabur. Ia pun terisak ketika mengingat semuanya.


"gue minta maaf hiks andai gue engga ngebantuin lo kabur mungkin lo engga bakal hiks seperti ini"


"Ini salah gue hiks, seharusnya gue yang berbaring di sana hiks bukan lo babi"


Jojo menghapus air matanya cepat-cepat.


"Gue harus menghukum diri gue sendiri karena semua ini salah gue," ucapnya penuh tekad.


"Babi El, mungkin ini perkataan gue yang terakhir kalinya selamat tinggal El"


Jojo menyendiri di ruangaan tak berpenghuni di area rumah sakit. Entahlah pikiran Jojo kacau melihat El yang seperti sudah tak ada kesempatan lagi untuk hidup.


Jojo sudah memegang erat pisau lipat yang dicurinya dari ruang kerja Dante dengan diam-diam.


Jojo sudah gelap mata dan ingin mengakhiri hidupnya saja, rasa bersalah bersarang di hatinya melihat El seperti itu.


Pisau lipat sudah tepat ada di urat nadi Jojo tinggal satu langkah menyayatnya dan mungkin semua akan sempurna menurut Jojo.


"Selamat tinggal El, mungkin kalau gue mati lo bisa hidup ambil aja apa yang lo butuhin dari badan gue, gue ikhlas kok"


"Tapi kalau gue nyayat nadi gue kira-kira sakit engga ya?"


"Tapi kalau bunuh diri cara lain gue takut, apalagi gantung diri kalau talinya lepas yang ada gue jatuh bukan mati"


"Akh... Kenapa gue jadi bingung seperti ini sih"


"Babii El lo bisa ngasih gue pendapat engga, gue bunuh diri cara apa dan bagaimana?"


"Asal jangan sakit, perih, dan yang pasti kegantengan gue masih terjaga walaupun gue udah mati"


"Ish, kan lo lagi sekarat ya mana bisa lo ngejawab pertanyaan gue"


"Tapi kalau gue gini terus, kapan gue matinya nanti keburu daddy dan yang lain tau bisa-bisa gue mati tersedak takut"


"Ah bodo lah, demi El." Jojo mengarahkan pisau tersebut tepat di lehernya. Saat pisau itu mulai menggores kulitnya tiba-tiba...


"JONATHAN BERHENTI SEKARANG!"


Deg


To be continued~