BABY/I EL (END)

BABY/I EL (END)
Episode 08: Daddy



...Happy reading...


...Sorry for typo...


"Sudah bangun kau bocah?" Suara serak nan dingin itu menyeruak di ruangan yang besar ini seakan akan ruangan ini menjadi bioskop film horror.


"Ah sial, gara-gara ketua setan ini datang pertanyaan gue gak jadi kejawab kan," kesal El dalam hati.


"Jake kembalilah bekerja biarkan bocah nakal ini bersamaku"


"Baik Tuan saya permisi." Jake pun melenggang pergi meninggalkan ayah dan anak itu berdua di dalam kamar.


Gilbert tak menjawab dan langsung menghampiri El yang sedang cemberut entah kenapa. "Baby kenapa kamu cemberut seperti itu hm?"


El tak menjawab hingga makanan datang seketika perut keroncongan El malah kembali berbunyi menandakan alarmnya sudah benar benar tak bisa dimatikan lagi.


Gilbert menyambar langsung makanan El dan berhasil membuat El kesal setengah mampus "Daddy suapi kamu!" Final Gilbert.


"Gue bukan bayi, gue bisa makan sendiri," ketus El.


"Terserah, disuapi atau tidak makan sama sekali." Jawaban yang sungguh membagongkan yang di dengar telinga El.


"Ish, maksa!" kesal El.


Gilbert hanya menggedikan bahunya dan menyendokan satu suapan nasi dan lauk pauknya di hadapan mulut El membuat alarm di perut El semakin gencar.


El masih diam tak berkutik kala sendok yang sudah penuh dengan nasi dan lauk pauknya akan segera meringsud memaksa masuk ke dalam mulut El.


"Ayo, daddy tau perutmu sudah berbunyi sedari tadi, apa kau mau daddy panggilkan kakakmu hm?"


Dengan gerakan cepat El langsung menyambar satu suapan sendok di tangan Gilbert membuat Gilbert tersenyum menang. Masih mendingan berurusan dengan ketua setan dibandingkan si santet itu, bisa mampus El di tangan dia, pikir El.


Suapan demi suapan El terima. Memang awalnya El sedikit risih namun lama-kelamaan entah kenapa El malah senang disuapi oleh Gilbert.


Tak terasa semua makanan di piring itu habis tidak bersisa. "Apa kau ingin makan sesuatu lagi?" Tanya Gilbert.


El menggeleng. Ia bukan tipe orang yang makan dengan porsi kuli.


Gilbert tersenyum tipis melihat kelakuan menggemaskan putra bungsunya. Ia kemudian mengusap pucuk kepala El dengan lembut. "Daddy tahu jika kamu masih belum bisa percaya dengan semua kejadian ini, tapi daddy harap kamu bisa menerimanya"


El menatap lamat Gilbert, ia tersenyum dengan tulusnya. "Terima kasih," ucap El dengan sangat lirih. Tak terasa kristal bening keluar dari pelupuk mata El entah mengapa. Tersadar, El pun langsung mengusapnya cepat dan melengos memunggungi Gilbert.


Peka dengan apa yang dirasakan putanya, Gilbert membalikkan badan El dan memeluknya erat dan menepuk-nepuk halus punggung El. "Daddy sayang El"


"El juga sayang daddy," balas El dengan suara sedikit bergetar akibat menahan tangisnya agar tidak keluar.


•••


Benar perkiraan Gilbert kemarin, pagi ini El dilanda pilek dan demam. Namun bukannya beristirahat, anak babi itu malah berlari tak tentu arah dan bersembunyi saat ia tahu si santet itu akan datang.


Jujur, ia masih trauma dengan kakaknya yang sangat kejam tak ada tandingannya. "Berpikir otak kecil, ayo berpikir," monolog El tapi dengan gerakan seperti setrika bolak balik kanan kiri depan belakang.


"Ke pintu ada duo kingkong, diem di kasur trio setan mau datang mana pasti bawa persenjataan lengkap lagi." kembali El bermonolog sendiri dengan mengacak ngacak rambutnya prustasi.


Terdengar deru langkah semakin dekat membuat El semakin bingung dan harus berpikir keras, sekeras batu.


"Ah, balkon!" Otak cemerlang El langsung bereaksi seperti cairan kimia yang bereaksi.


Dengan tergopoh-gopoh El mendorong sebuah lemari kecil untuk menghalangi sementara pintu yang akan terbuka agar mereka tak bisa langsung masuk, cerdik sekali babi El ini.


Dirasa sudah berhasil menutupi pintu El langsung pergi ke balkon kamarnya niatnya sih ingin lompat tapi pas dilihat waw ternyata El ada di lantai tiga mansion ketua setan ini.


"Anjir jiper gue liatnya juga bisa-bisa gue jadi sayur sop tulang lunak ini mah!"


"El, buka pintunya!" Teriak Gilbert yang sudah membuka pintu kamar El,


dengan paksa tapi tetap saja pintu tak bisa terbuka membuat trio setan mengeluarkan asap dari telinga dan hidungnya karena kesal.


"Anjing ini gimana? Lompat gue cuma nyawa satu engga lompat gue pasti disiksa"


"Akh... gue milih mana Tuhan, siksa kubur atau siksa trio setan terutama siksa si santet"


"ELNATHAN!"


Mendengar itu El langsung berjingkat kaget padahal pilihannya belum bisa diputuskan tapi pintu kamar El sudah rusak akibat para kingkong lepas.


"Huachim!" Dengan bodohnya El malah bersin dan mengeluarkan ciaran bening di hidungnya yang membuat trio setan langsung berlari ke arah El.


Dante langsung menggendong El yang sudah terbatuk batuk dan bersin bersin belum lagi badan El terasa sangat hangat mendekati mendidih.


"Tuhan ini jawabanmu kau biarkan hambamu yang ganteng engga ketulung harus berakhir oleh siksa trio setan," batin El.


•••


Di sini lah El berakhir, kamar Dante. Ia menyesal sudah memberontak dan berniat kabur tadi pagi. El dihukum harus tidur di kamar kakaknya sampai dia sembuh.


"Bukan untung malah buntung gue," ringis El dalam hati pasalnya entah kenapa aura di kamar Dante sangat menyeramkan. Mana kamarnya kek kekurangan pigmen warna lagi, putih semua anjer.


Telinga tajam El mendengar bahwa akan ada orang yang masuk ke dalam. Dengan cepat ia menutup matanya dan pura-pura tertidur.


Dante memasuki kamarnya, ia kemudian menghampiri El yang sepertinya sedang tidur. Tangan Dante mengusap perlahan wajah pucat El dengan lembut.


"Mirip bunda," lirih Dante seraya tersenyum.


Setelah puas memandangi wajah El, Dante beranjak ke salah satu lemari khusus yang ia siapkan untuk obat-obatan.


El yang mendengar suara-suara aneh pun menjadi ketar-ketir. Entah kenapa ia merasakan adanya hawa-hawa mistis dirinya akan bertemu dengan senjata andalan si setan santet.


Dengan gerakan cepat El membuka matanya dan menyibakkan selimutnya, ia hendak pergi sebelum kakaknya selesai menyiapkan senjata.


"Mau kemana?" Tanya Clovis yang baru masuk kamar Dante.


"Aduh malah si cookies datang," batin El.


"M- mau ke kamar mandi," jawab El setenang mungkin padahal jantungnya tengah berdisko di dalam.


Tanpa aba-aba Clovis menggendong El ala koala dan membawanya ke kamar mandi.


"Kak... El cuma flu bukan lumpuh, turunin dong," protes El. Namun apalah daya, Clovis tetap menggendongnya.


Beberapa menit berlalu, El kembali digendong Clovis untuk kembali ke kasur.


"Ngapain kakak ke sini? Balik ke kamar kakak!" Marah Dante ketika melihat Clovis bukannya istirahat malah lagi enak-enakan gendong El.


Siang tadi, setelah membantu Dante mengurus El, maag Clovis kambuh akibat ia terlalu banyak melembur pekerjaannya. Dante selaku dokter di keluarga ini dibuat kerepotan, di satu sisi ia harus mengurus El yang banyak tingkah, di sisi lain ia juga harus mengurus kakaknya yang keras kepala.


"Iya iya, bentar doang. Masa kakak gak boleh liat baby El yang menggemaskan ini"


El menatap horror ke arah Clovis. "jijik anjim," umpatnya dalam hati.


Tiba-tiba secara tak sengaja mata El menangkap satu benda aneh yang berada di saku celana Dante. Curiga betul si El, pasti itu musuhnya.


Sebuah ide cemerlang muncul di benak El. "Kak Clovis... Ayo ke kamar kakak, aku mau bobok bareng kakak," ucap El dengan nada manja yang ia buat-buat demi merebut hati Clovis.


"Ay–"


"Tidak!" Potong Dante. Dante menatap tajam Clovis dan tanduk setannya sudah mulai mencuat.


"Mending sekarang kakak kembali ke kamar kakak atau aku akan memanggil bodyguard untuk menyeret kakak"


Tak punya pilihan lain akhirnya Clovis pergi dengan berat hati. Dasar adik es, kalau saja Dante bukan adiknya, sudah Clovis hajar daritadi.


"Emm a- anu kak, boneka El ketinggalan di kamar,El a- ambil dulu ya"


Saat ingin bangkit, tangan El dicekal. "Mau kemana hmm? Tidak usah banyak alasan, kakak tahu kamu mau melewatkan jadwal suntikan vitaminmu bukan?"


"K- kak plis jangan disuntik, pakai obat oral aja ya kak," mohon El dengan mata berkaca-kaca.


Tak menjawab permintaan El, Dante langsung mengusapkan alkohol swab ke lengan kurus adiknya.


Dan...


"HUAAAAAAAAAAA AMPOOOOOOONNNNN!!!!"


To be continued~