
Happy reading
Sorry for typo
Terkadang otak manusia tak bisa berpikir dengan baik bahkan bisa melakukan hal bodoh sekalipun demi hasratnya semata.
Seperti kelakuan Gilbert saat ini entah karena depresi atau karena gangguan jiwa. Entahlah, jika di bilang bodoh Gilbert lebih dari bodoh.
Lihatlah sekarang bukan hanya dua brankar yang berisi tapi tiga brankar sekaligus ada di dalam satu kamar yang cukup luas ini.
El dengan komanya, Jojo dengan diagnosa Dante terkena gegar otak sedang yang mengakibatkan koma sementara waktu dan Gilbert dengan kegilaannya memotong urat nadinya sendiri.
Dante dan Kevin hanya bisa memijit pangkal hidungnya yang semakin berdenyut nyeri akibat ulah mereka. Pasien mereka bertambah satu lagi.
"Kau bodoh pak tua bangka!" Seru Dante tepat di depan wajah Gilbert.
"Bagaimana kalau aku tak tepat waktu mungkin nyawamu sudah melayang!"
"Kenapa kau melakukan ini tua bangka akhh!" Dante menyalurkan kekesalannya dengan menjambak rambutnya sendiri.
Tanpa sadar Clovis dan Kevin memperhatikan kelakuan Dante saat ini.
"Apa aku menyusul kalian saja mungkin itu lebih baik dari pada aku melihat kalian tak berdaya seperti ini"
Dengan gerakan cepat Dante merogoh sakunya yang berisikan suntikan dengan dosis yang tinggi. Dante sengaja membawanya karena sudah berniat akan mengakhiri hidupnya sendiri.
Kevin yang melihat gelagat tak baik dari Dante langsung mendekat dan merampas suntikan di tangan Dante.
"Goblok! Mau apa lo dengan suntikan ini!"
Clovis yang mendengar teriakan Kevin langsung berdiri mendekati Dante yang sudah bersimpuh memegang kepalanya dan menjambak rambutnya prustasi.
"Lo apa-apaan sih hah, lo engga liat ke tiga orang ini HAH!"
"Gue,mau nyusul mereka karena ini semua salah gue," lirih Dante pelan dengan meneteskan air mata.
Clovis dan Kevin mencoba untuk tidak terbawa emosi melihat kelakuan bodoh dari Dante.
"Please lo harus kuat ini semua udah takdir dan yang harus kita lakuin adalah berusaha nyembuhin mereka bukan seperti ini"
"Tapi-"
"Tapi apa lo mau bodoh kayak bokap lo hah!" Kesal Kevin.
"Ini bukan kebodohan daddy tapi kebodohan gue yang engga berpikir lagi"
"Iya emang kebodohan lo tapi lo sendiri yang harus bisa merubah ini semuanya, kalau lo mati sama aja lo nyerah." giliran Clovis yang bicara.
"Bukan gue engga berusaha bodoh gue berusaha semaksimal mungkin untuk membuat mereka bangun tapi apa daya gue bukan Tuhan"
"Kalau lo nyadar lo bukan Tuhan makannya lo engga usah gegabah lagi mencari solusi lo sendiri bodoh," timpal Clovis.
Dante diam dan berbalik menuju pintu keluar tapi tangannya di cegah oleh Kevin "Mau kemana duduk!" Titah Kevin mutlak.
Dante mengehempaskan tangannya membuat tangan Clovis terlepas dari tangan Dante "Jangan ikut campur terlalu dalam!"
Kevin geram dengan kelakuan Dante dirinya tau Dante pasti akan melakukan hal bodoh lagi di luar sana tanpa sepengetahuannya.
Clovis yang sadar akan gelagat Dante langsung mencekal kedua tangan Dante ke belakang dan Kevin langsung merogoh suntikan dari dalam sneilnya.
"Akh, bodoh kalian lepasin gue anj*in*g!" kesal Dante dengan sekuat tenaga membuka cekalan tangannya.
Tapi naas kekuatannya tak bisa mengalahkan Clovis, tak lama tubuh Dante mulai terkulai lemas dengan cepat Clovis dan Kevin membawa Dante ke sofa membaringkan tubuh Dante yang sudah terlulai lemas.
"Akhirnya dia kalah," cibir Kevin.
"Kalau dia bangun dan marah lo yang harus tanggung jawab," balas Clovis.
"Lah, kok gue sendiri sih kan tadi yang nyiksa dia kita berdua napa gue yang disalahin sendiri"
Clovis hanya menggedikan bahunya dan berlalu pergi meinggalkan Kevin dengan sejuta kekesalan.
•••
"Lah bocah napa ngajak-ngajak kalau mau modar!" Kesal Jojo akan ajakan El.
"Ish lo mah kagak besplend ah"
"Bukan kayak gitu babi orang tua gue gimana kan lo tau gue anak satu-satunya dan anak yang paling ganteng seantero rumah gue"
"Najis tralala trilili"
"Niat gue ke sini ngajak lo bambang"
"Jawaban gue tetap satu kagak mau lagi gue hidup, gue udah bahagia di sini"
"TIDAK BOLEH!"
Baru saja Jojo membuka mulutnya ingin menjawab pernyataan El tapi dari arah tak terduga ada suara yang tak asing lagi.
Mereka langsung mencari arah suara itu memastikan siapa si pemiliknya.
"DADDY!" serempak dua bocah itu.
Gilbert langsung berlari memeluk El dan Jojo secara bersamaan tanpa tau mereka hampir kehabisan napas tapi entah napas dari mana sedangkan mereka aja setengah mati.
"Engga sia-sia pengorbanan daddy akhirnya daddy ketemu kalian"
"Dad," lirih El.
Gilbert langsung menoleh dan memegang wajah El yang Gilbert sangat rindukan selama ini.
"Maafkan daddy." Gilbert langsung memeluk El menyalurkan semua rasa rindu yang ada.
Sementara El terhanyut dengan keadaan saat ini tapi tak lama El tersadar dan menggeliat melepas pelukan Gilbert.
"Dad kenapa daddy ke sini?"
Gilbert hanya tersenyum mendengar pertanyaan anak tercintanya.
"Jawab dad!"
"Daddy sengaja melakukan ini karena kamu, kamu satuhsatunya yang buat daddy gila!"
"Akh..." El menjambak rambutnya sendiri tidak hanya di dunia nyata bahkan di dunia akhirat pun El masih terus di hantui keluarga gilanya.
"Sudah lebih baik kalian kembali aku masih ingin di sini"
"Maksud kamu apa? Daddy nggak akan meninggalkan kamu lagi!"
"Gue juga sama!"
"Terserah kalian gue kagak peduli lagi dan jangan cari gue masa bodo mau kalian mati ataupun setengah mati urusan kalian!" El pun berjalan meninggalkan Jojo dan Gilbert.
Gilbert yang tak senang diabaikan pun mengejar El. "El ayo kembali!"
"Aku emoh!" Teriak El sambil mempercepat langkah kakinya melihat Gilbert semakin mendekat.
"Elnathan, daddy mohon"
"Berhenti ngejar gue bangsat! Gue gak mau bareng kalian la- AAAAAAAAA"
Tiba-tiba saja badan El serasa ditarik ke bawah dan menghilang. Benar-benar definisi tertelan bumi.
Entah apa yang terjadi dan tentu saja hal itu membuat Gilbert kebingungan.
"El?" Panggil Gilbert dengan segala kebingungannya.
•••
Semuanya tampak gelap untuk El. "Gue dimana?" Batinnya.
"Masa gue mati? Ya kali"
"Ugh... Badan gue rasanya kaku semua serasa jadi papan triplek"
"Mana tangan gue rasanya kebas banget anjir"
Sayup-sayup El mendengar suara yang sangat tidak asing bagi dirinya. Suara yang dikeluarkan mesin kecil bernama EKG yang membuat El jengah.
Cepat-cepat El membuka matanya. Langit-langit putih beserta bau khas desinfektan dan obat-obatan berbondong-bondong menyapa remaja nakal itu.
"BANGSAAAAT!!!!"
Brak
"Tu- tuan muda?"
To be continued~