
...Happy reading...
...Sorry for typo...
Setelah beberapa saat Jake belum juga mendapati El keluar dari kamar mandi rasa penasaran Jake menggebu, entahlah Jake sudah sangat sayang dengan tuan mudanya dan Jake merasakan perasaan yang tak enak tentang tuan mudanya.
Dengan tergesa Jake berjalan ke arah kamar mandi "Tuan muda apa anda baik baik saja?" Teriak Jake.
Satu menit, dua menit tak ada jawaban sama sekali membuat Jake kembali penasaran dan mencoba mengetuk kembali pintunya.
"Tuan muda apa anda masih di dalam?" Tetap tak ada jawaban sampai Jake memutuskan untuk masuk dan untung saja pintu kamar mandi tak di kunci dari dalam oleh El memudahkan Jake untuk masuk.
"Ya ampun tuan muda!" Kaget Jake yang melihat tuan mudanya yang sudah tak bernyawa eh maksudnya tak sadarkan diri.
Jake dengan cekatan menggendong El dan membawanya ke tempat tidur dibaringkannya El dengan hati-hati dan Jake pergi menemui semua tuan besarnya.
Sampai tak lama Dante, Gilbert, Clovis dan nenek lampir meringsut masuk ke kamar El dengan wajah panik.
"El kenapa?" Tanya Dante yang sudah menempelkan stetoskop di dada El.
"Maaf tuan saya menemukan tuan muda sudah pingsan di kamar mandi," jelas Jake.
"Bodoh kau, kenapa kau biarkan El sendiri!" Sentak Gilbert.
"Maaf tuan, maafkan saya"
"Sudalah sebaiknya kau pergi dari sini biarkan kami yang akan mengurusnya"
"Baik tuan saya permisi." Jake berlalu pergi meninggalkan mereka dengan perasaan tak tenang.
"Sayang" Evelyn si mak lampir langsung mendekati Gilbert membuat Dante dan Clovis sedikit risih dengan kelakuannya.
"Iya sayang ada apa hm?"
"Aku takut El sakit apa lebih baik kita bawa ke rumah sakit saja"
"Tenang sayang jangan terlalu dipikirkan ada Dante di sini"
"Tapi sayang aku kasian dengan calon putra bungsuku, aku harus berbuat apa untuk dia supaya dia lekas sembuh"
"Diamlah, kau cerewet membuatku pusing"
"Dante!" Sentak Gilbert.
"Ayolah dad, lihat putra bungsumu sedang bertarung nyawa dan kau hanya bermesraaan dengan wanita ini"
"Ternyata menjadikan kamu seorang dokter dengan gelar yang bagus tak bisa membuat sopan santunmu bagus juga," cibir Gilbert.
"Sudah jangan bertengkar hanya karena wanita simpananmu dad sekarang kita harus fokus dengan El." Clovis mencoba menengahi suasana panas ini.
"Ah ternyata daddy lupa kalian membawa darah wanita ****** itu jadi mungkin kalian seperti ini karena mewarisi darah wanita ****** itu"
"Sayang kamu engga boleh berkata seperti itu mereka calon anak anakku sayang!"
"Lihatlah bahkan Evelyn yang notabene baru akan menjadi pengganti ibu kalian sudah membela kalian"
"Tapi kalian malah memojokannya, daddy kecewa dengan kalian"
Gilbert meraih tangan Evelyn "Lebih baik kita pergi dari sini aku muak dengan wajah wajah mereka yang tak suka padamu sayang"
Evelyn seketika memberikan senyuman licik dan berlalu pergi bersama Gilbert meninggalkan ketiga curut itu.
"Apa El baik-baik saja?" Tanya Clovis yang begitu khawatir melihat El yang pucat dan terbaring lemah.
"Kurasa begitu. Dia hanya terserang panic attack, entah apa yang menyebabkan semua ini. Tapi aku curiga dengan wanita ****** itu"
"Eunghh..." Lenguhan kecil itu mampu mengalihkan perhatian Clovis dan Dante.
"Hi baby, ada yang sakit? Pusing? Mual? Atau masih sesak?"
"Tanya tuh satu-satu! Baru juga bangun udah dicecer pertanyaan sekebon," kesal El.
"Pertama aku gak ngerasa ada yang sakit, kedua aku gak pusing, ketiga aku gak mual, dan yang terakhir napasku baik-baik saja. Kesimpulannya Elnathan Narve Laurelino sehat wal afiat tanpa cacat dan luka sedikitpun"
Jawaban dari El membuat kedua kakaknya terkekeh kecil. Masih lemas begitu mampu jawab panjang lebar kali tinggi.
"Stop berpikir macam-macam, makan dulu yuk, kak Clovis suapin"
Clovis menyodorkan sesendok penuh bubur ke hadapan mulut El. El menerima suapan dari Clovis tanpa bantahan walaupun bubur bukan termasuk makanan yang ia sukai.
El merasa takut dengan tatapan tajam Dante yang sedang memegang sebuah abocath di tangan kanannya. El tahu jika ia menolak pasti jarum itu akan menembus vena punggung tangan El.
"Kak, boleh El bertanya sesuatu?" Cicit El.
"Kamu mau bertanya apa?" Tanya Dante dengan masih setia memegang alat tempurnya.
"Sepertinya pertanyaan serius melihat wajah kamu yang seserius ini?" Timpal Clovis.
"Apa aku akan dibuang?"
Deg
pertanyaan macam apa itu, Dante dan Clovis tak bisa menjawab. Tapi bila nanti benar Gilbert lebih sayang kuntilanak itu mereka yang akan menjaga El.
"Kenapa diem? Pasti kan aku mau dibuang, dahlah aku mau pergi saja sekarang dari pada nunggu diusir!"
El sudah akan bangun dari tempat tidurnya dan menyingbakkan selimut yang sedari tadi menutup sebagian tubuhnya.
Tapi tangan Clovis lebih dulu menghadangnya "Jangan coba-coba beranjak dari tempat tidur ini kalau kau tak mau tanganmu kena alat tempur Dante"
Nyali El langsung menciut tadinya El ingin mendrama agar dia bisa keluar dari sini tapi Si Cookies malah tau bahwa El sedang mendrama.
"Jangan sekali-kali kamu berani membohongi kakak, tak akan semudah itu perguso!" Cibir Clovis.
"Sekarang kamu makan dan minum obat kakak akan temani kamu di sini"
"Jangan khawatir kita bakal jagain kamu dari si nenek sihir itu kamu adik kakak kamu matahari kakak"
"Kakak juga akan selalu menjaga kamu, jangan sungkan untuk meminta apa saja sama kakak kalau itu tidak membahayakan kamu kakak pasti kasih," sambung Dante.
"Emm so sweet kalian, peluk...." El sudah merentangkan tangannya dan kedua kakaknya menyambut dengan baik pelukan El, tapi dengan menggemaskannya El malah memeluk guling yang ada di sebelahnya membuat kedua kakaknya menahan emosi jiwa.
"ElNATHAN!" geram mereka.
El hanya nyengir kuda saja tanpa merasa berdosa ataupun takut dengan tatapan tajam dua setan di depannya.
Melihat itu Dante memberikan kode pada Clovis untuk memberikan hukuman pada El dengan mengelitiknya.
"Serbu..." Teriak Clovis dan mereka berdua menggelitik El yang masih memeluk gulingnya membuat El kaget.
"Anjing satu lawan satu woiii"
"Aing kaget, aing geli ampoon"
"Udah geli, woii tolong gue"
"SANTET... UDAH"
"COOKIES... UDAH WOII"
Dengan wajah datarnya Dante dan Clovis menyudahi acara menggelitik El dan menatap tajam El yang sedang terengah-engah.
"Kamu manggil kakak apa barusan?" Ucap keduanya serempak.
"Aduh mampus gue," ringis El dalam hati.
"Wadoh ada kuyang salto!"
Saat semuanya menoleh ke arah yang ditunjuk El, si bocah nakal menaikkan selimutnya dan memunggungi kedua setan bodoh itu.
Merasa dibohongi, Clovis dan Dante saling menatap. Mereka berniat memberi hukuman kecil bagi El.
"Dasar anak nakal," ucap Clovis diikuti dengan cubitan di pipi El. Dante juga ikut-ikutan mengunyel-unyel pipi tembem El.
"Huaaaaa jangan digituin nanti pipi El melar...."
To be continued~