BABY/I EL (END)

BABY/I EL (END)
Episode 34: Psycho



...Happy reading...


...Sorry for typo...


El menatap lekat pemuda yang sedang tertidur dengan keadaan terantai. Jujur ia juga rindu dengan sahabatnya yang gak punya otak ini.


"Tidur El," titah Dante yang matanya masih terpaku pada iPad nya.


"Huft... Aku baru saja bangun kak," protes El tak terima.


"Tidur sekarang atau kakak kembalikan kamu ke ruangan itu lagi"


El langsung bergidik ngeri. Sudah cukup ia berada di ICU. Ruangan itu membuatnya stress saja. Banyaknya alat-alat aneh di sana membuat El pusing.


"Oke oke aku tidur sekarang tapi janji jangan masukkan aku ke ruang laknat itu lagi"


Dante tersenyum tipis. Ah ia tahu sekarang ancaman baru untuk adik nakalnya.


Satu menit dua menit sampai satu jam El tak bisa tertidur hanya bisa pura-pura tidur dengan posisi yang terus berubah-rubah membuat Dante sedikit kesal dengan kelakuan adik nakalnya.


"Sudahlah El jangan berpura-pura kakak tau sedari tadi kau tak tidur lebih baik kakak kasih kamu obat tidur agar kamu bisa tidur!"


El masih memejamkan matanya berharap rasa kantuk datang tapi nihil semua usahanya tidak ada hasil apapun.


Dante mendekat ke arah tempat tidur El berniat ingin menyuntikan obat penenang agar El tertidur tapi itu hanya hayalan semata saat Jojo terbangun membuat semua kaget.


"Huaaaaaaaaaa......lepasin"


Sontak Dante dan El melihat ke arah Jojo yang di sebelah tempat tidur El sedang duduk dan mencoba membuka rantai yang membelenggu kakinya.


"Gue bukan kucing garong, buka rantainya"


"Huaaaaaa....." Jojo terus berteriak tanpa tau dua mahluk tak kasat mata sudah menatap dengan tatapan tak bisa di artikan lagi.


Dasar Dante si otak Einsten melihat El yang masih sibuk cengo dengan kelakuan sobatnya Dante tak menyia-nyiakannya Dante langsung mendekat dan menyuntikan obat di infusan El.


Memang jalurnya lewat infusan tapi tetap saja akan terasa sakit yang membuat El langsung melirik ke arah Dante yang sudah memasang wajah tamvannya.


"Hiks.....hiks.....sakit" rengekan El.


"Stsss...sudah selesai"


"Ja-hat da-sar SANTEEEEEET"


Teriakan El tak berlangsung lama karena El sudah masuk dunia baru dunia mimpi dan sekarang giliran titisan anak tuyul satu ini yang masih teriak-teriak engga jelas.


"Bisa diam kamu lagi di rumah sakit bukan di pasar atau di balapan liar yang bisa teriak-teriak apalagi di tempat karokean!"


Jojo langsung kicep dengan perkataan Dante yang membuatnya sedikit bergidik ngeri mendengarnya.


"Maaf Jojo diam" cicitnya.


"Bagus!"


"Kak," cicit Jojo pelan.


"Hm?"


"Kapan?"


"Jika kau menjadi anak baik sekarang juga boleh." Dante bukan orang yang tak tau apa kode dari adik-adiknya hanya saja Dante senang membuat mereka menderita dahulu.


"Bener?" binar mata Jojo langsung terlihat kala mendengar perkataan Dante.


"Kapan kakak bohong"


Jojo hanya bisa nyengir kuda kala mendengar perkataan Dante, memang sih Dante anti kebohongan tapi engga menutup kemungkinan juga Dante khilaf.


"Buka." Sudah seperti kucing minta makan, wajah Jojo sangatlah imut dan menggemaskan.


"Ok kakak buka tapi hanya untuk ****** itu saja setelah itu kau akan mendapat hukuman lagi atas perbuatanmu sendiri"


"Tapi kak-"


"Iya atau tidak"


"Iya." Jojo tak mau menyia-nyiakan kesempatan emas ini kapan lagi Jojo bisa menyalurkan hasratnya yang tidak diketahui siapapun. Sstt... Jangan bilang-bilang El ya, nanti El takut.


"Ok"


Dante langsung membuka rantai yang di pasang di kaki Jojo dan sialnya rantai itu bukannya dibuang atau disimpan tapi berpindah tempat ke kaki mulus El.


"Protes sama dengan menambah hukumanmu!"


Jojo membekap mulutnya Jojo masih sayang nyawa kalau Dante sudah marah bisa-bisa nyawa Jojo hilang.


•••


"Lepaskan aku sialan!"


"Akan aku hancurkan kalian semua"


"Sumpahku tak akan aku ingkari akan membunuh kalian sampai habis!"


"Bacot!" Bukan Dante, melainkan Jojo yang sudah jijik akan suara bajingan ini.


Dante membiarkan Jojo berkata kotor semaunya. Tapi untuk kali ini saja. Jika di lain waktu mungkin Dante sudah melakban mulut Jojo.


"Ingin kakak atau kamu dulu yang memulainya?" Tanya Dante yang sedang menyiapkan alat penyiksaan untuk Evelyn.


"Tentu saja Jojo!" Ucapnya semangat.


Dante tersenyum kemudian ia bergeser memberikan akses untuk sang adik mengambil alat penyiksaannya.


Jojo pun mengambil palu yang lumayan berat. Ia tersenyum picik ke arah Evelyn.


"Saatnya bersenang-senang"


Dengan satu ayunan saja, palu tersebut mampu mematahkan tulang tangan Evelyn menjadi dua. Teriakan Evelyn menggema di seluruh ruangan. Namun Jojo belum puas.


Ia kembali mengayunkan palunya ke tangan Evelyn yang satunya. Dan...


Krak


Tulang itu patah dengan mudahnya.


"Hey boy, mau tau cara yang lebih seru?" Tanya Dante dengan pisau kecil di tangannya.


"Tentu!" Balas Jojo antusias.


"Hiks kumohon hiks henti- AAARRRRGGGGHHHH!"


Tanpa ampun Dante menggores bola mata Evelyn kemudian ia mencongkelnya hingga keluar.


Jojo memekik kesenangan. "Ah iya kak, ajarkan aku cara menguliti manusia, aku selalu penasaran"


"Baiklah, ambil pisaumu dan perhatikan bagaimana kakak melakukannya"


"AAAAAKKHHHHH CUKUP AKU MINTA MA- AAAAAAAAA"


Begitu seterusnya. Raungan demi raungan Evelyn lontarkan. Bukannya merasa iba, Dante dan Jojo malah semakin senang.


Setelah kedua psikopat ini bosan menyiksa ****** tak tahu diri ini, dengan teganya mereka melemparkan tubuh Evelyn yang tak karuan namun masih bernyawa ke kandang harimau.


"Kau baik-baik saja?" Tanya Dante yang sedang mencuci tangannya. Ia tampak khawatir melihat Jojo yang bengong dengan wajah sedikit pucat.


"Nggak papa kok kak. A- aku cuma takut El membenciku"


"Tenanglah, semua ini hanya rahasia kita berdua. Kakak pastikan El tidak akan pernah mengetahuinya"


"Hiks apa yang sudah hiks kulakukan." Jojo terisak mengingat bagaimana kejamnya saat ia menyiksa Evelyn. Ia memegang kepalanya erat, menyalurkan rasa kecewanya.


Ia takut, takut El akan menganggapnya gila dan menjauhinya.


"Hey, stop crying. That ***** should be punished right? Gak ada yang perlu kamu sesali," ucap Dante berupaya menghibur Jojo.


Dante paham perasaan Jojo. Ini pertama kali bagi adiknya membunuh seseorang. Pasti tidak mudah.


•••


"Om ada yang mau Kevin bicarakan, bisa kita keluar sebentar? Aku takut mengganggu tidur El"


"Tentu. Memangnya kau ingin membicarakan apa? Sepertinya serius sekali"


Kevin tersenyum tipis kepada Gilbert. Hatinya seakan berat menyampaikan hal penting ini. Tapi ia harus, demi semuanya.


"Tentang kesehatan El"


To be continued~