BABY/I EL (END)

BABY/I EL (END)
Episode 15: Tertangkap Basah



Happy reading


Sorry for typo


Sinar hangat mentari mulai menyinari bumi, mengusik tidur lelap seorang wanita berbalutkan gaun putih bertaburkan berlian langka buatan designer ternama dunia.


Evelyn mengerjapkan matanya beberapa kali. Kepalanya terasa pening mungkin akibat minuman beralkohol tadi malam.


Ia menatap sekeliling. Ruangan ini begitu asing baginya. Ruangan yang didominasi warna merah dan hitam, sangat luas dan sepertinya tidak ada benda apapun di sini kecuali kasur yang ia tiduri saat ini dan sebuah lemari besar di pojok ruangan yang entah apa isinya.


"Astaga apa ini mimpi?" Kejut Evelyn saat melihat pakaian yang ia kenakan.


Gaun pernikahan yang sangat cantik. Ia bertanya-tanya apakah hari ini adalah hari pernikahannya? Tapi kenapa ia memakainya sekarang? Bukannya ia harus siap-siap terlebih dahulu.


"Hai sayang, bagaimana? Apa kau suka gaun yang aku pilihkan?"


Gilbert yang telah berpakaian rapi layaknya orang yang akan melangsungkan pernikahan tiba-tiba masuk dan sontak membuat lamunan Evelyn buyar begitu saja.


"Kenapa tidak menjawab hm? Apa kamu tidak suka dengan modelnya? Aku bisa menggantinya jika kau mau"


"Ah tidak, aku hanya terkejut tiba-tiba aku terbangun dengan gaun ini"


Gilbert menunjukkan seringainya. Ia lantas mendekati Evelyn. Gilbert menatap Evelyn begitu intens sampai beberapa saat ia mendekatkan kepalanya dengan kepala Evelyn.


Evelyn pikir Gilbert akan menciumnya. Namun bukan sebuah ciuman lembut yang ia dapat melainkan sebuah cengkraman kasar dan menyakitkan di dagunya.


"Aaakkhh... Sakit sayang," rintih Evelyn.


"Ini belum seberapa sakit dibanding yang dirasakan putraku sayang," bisik Gilbert tepat di samping telinga sang wanita ****** itu.


Mata Evelyn membulat. "A- apa yang kau maksud?"


Gilbert tak menjawab. Dengan angkuhnya ia berjalan menuju ke lemari yang berada di ruangan ini.


"Kau salah memilih lawan bermain Evelyn"


Evelyn meringsut mundur melihat Gilbert membawa sebuah pisau di tangannya. "A- aku tidak mengerti"


"Tidak perlu pura-pura tidak mengerti ******!"


Sreet


"Hiks sakit. Sayang mengapa?" Ringis Evelyn kala Gilbert menggores pipinya.


"Kau pikir aku bodoh hah!"


Karena terlampau emosi, Gilbert menusuk bahu Evelyn hingga pisaunya tembus ke belakang. Teriakan pilu Evelyn menggema di seluruh kamar. Darah kotornya mengotori gaun putih yang ia kenakan.


"Ck, kau terlalu berisik. Ini hari spesial kita, jangan kau isi dengan tangisanmu yang buruk itu."


"KUBILANG DIAM!"


Seakan tak menghiraukan teriakan perintah dari Gilbert, Evelyn terus menangis menahan rasa sakit di bahu dan pipinya.


"Merepotkan," geram Gilbert. Ia kemudian kembali mengambil sesuatu di lemari tersebut dan membawanya menuju Evelyn dengan senyuman yang tak pernah luntur di wajahnya.


"Aku mohon Gilbert hiks maafkan aku, to- tolong jangan sakiti aku lagi"


"Sudah terlambat"


Dengan cekatan Gilbert menjahit mulut Evelyn yang sangat berisik dan menjijikkan itu. Wanita itu hanya bisa pasrah saat jahitan demi jahitan Gilbert berikan.


Setelah selesai Gilbert menatap bangga hasil karyanya.


"Bodyguard!" Teriak Gilbert untuk memanggil bodyguard yang berjaga di luar.


"Iya tuan?"


"Ikat dia dan bakar dia hidup-hidup! Aku sudah bosan bermain dengan wanita busuk ini"


"Ba- baik tuan"


Gilbert melangkahkan kakinya pergi dari ruangan tersebut dengan angkuhnya untuk menemui anak anaknya yang belum tau semua rencana Gilbert.


•••


"Tuan saya sudah menemukan tuan muda"


Dante yang sedang duduk di kursi kebesarannya langsung berjingkat kaget "Dimana kau menemukannya?"


"Maaf tuan ada kabar bahwa tuan muda sedang dirawat di rumah sakit kecil di sebuah desa"


"Kirim alamatnya aku akan pergi sekarang, siapkan beberapa bodyguard, dan hubungi Clovis untuk menyusul!"


"Baik Tuan, saya permisi"


Dante tak menjawab lagi dia sibuk dengan menyiapkan alat-alat yang akan dibawanya takutnya di sana El tidak mendapatkan penanganan yang bagus.


Dengan langkah lebarnya Dante langsung menuju mobilnya diikuti beberapa mobil di belakangnya kalau di lihat sudah seperti konvoi mobil mewah, atau mungkin seperti pejabat lewat.


"Tunggu aku bocah nakal, sepertinya kau ingin hukuman berat dari kakak," monolog Dante.


"Diam bodoh!"


"Kagak, lepasin gue anjing Jojo"


"Babi lo monyet, diam malu aing"


"Bodo amat gue mau pulang"


"Anjing"


Teriakan dan perkataan kasar terus terlontar dari bilah bibir mereka berdua membuat telinga para perawat dan dokter seperti berasa di kebun binatang.


"DIAM!" Bentak dokter yang menangani El yang sudah kesal sedari tadi malah melihat mereka bertengkar.


El dan Jojo langsung kicep dibuatnya mereka malu sekaligus takut melihat Dokter yang sudah seperti Banaspati yang terbakar api emosi.


"Sekarang kamu diam!" Tunjuknya pada El.


El yang sudah mengumpulkan keberanian lagi tak tinggal diam, "maaf dok saya mau pulang karena saya tidak sakit"


"Mana ada orang gila bilang dia gila"


"Maksud anda apa hah!" Napas El kembali lagi kembang kempis membuatnya semakin pucat.


"Sesek, sakit dadanya? Apa lagi? Oh pusing, sama satu lagi kamu tuh udah lemes. Itu kan yang kamu rasakan saat ini," timpal dokter yang menangani El dengan tenangnya dan terus mendekati El.


"Lo.." El melotot mendengar itu semua napasnya seakan akan tercekat di tenggorokan.


Grep


Dengan mudah dokter tadi langsung memeluk El dan memegang tangannya agar bisa dipasangkan infus.


"EKSEKUSI!" Teriak dokternya.


Semua perawat langsung memegang alatnya masing masing sedangkan El meronta-ronta di pelukan dokternya Jojo meringis di buatnya.


"Heh kamu siapa? Anjing Jojo bukan?"


"Saya?" Tunjuk Jojo pada dirinya sendiri.


"Iya kamu siapa lagi"


"Saya bukan ANJING JOJO Dokter gadungan!" Kesal Jojo.


"Tadi temen kamu manggil kamu seperti itu"


"Mon maaf ye, nama saya JOJO, ingat bukan ANJING JOJO," tekan Jojo.


"Ah, apalah terserah. Sekarang kamu jangan hanya melihat pegang kakinya kalau dia nendang aset saya bisa mati saya disunat istri saya nanti"


Bukannya membantu Jojo malah cengo dibuatnya lagi.


"Hey!" Teriak dokternya.


Jojo langsung berjingkat kaget dan langsung membantu memegang kaki El yang terus meronta dengan mulut lemesnya dan napas yang tersengal senggal.


"AAAARRRRHHHH!!! KALIAN SEMUA BANGSAT! SAKIT BEGO!"


Tak ada yang peduli dengan teriakan El dan kini infus itu sudah terpasang sempurna. Semuanya bernapas lega.


"Hahh... Akhirnya kelar juga. Susah bener sih cuma ditusuk jarum kecil doang Lo kaya udah mau dipenggal kepalanya," cibir Jojo.


"Lo gak tau betapa sakitnya ini!"


Memang benar, Jojo tidak tahu bagaimana rasanya. Jojo kan anak sehat, gak penyakitan jadi gak pernah tuh berurusan sama jarum-jarum kecuali waktu imunisasi.


"Halah bacot! Tidur! Gue mau ke depan dulu buat ngurus administrasi"


"Hmm"


Hanya deheman singkat sebagai jawaban dari El. El lantas memejamkan matanya dan berpura-pura tidur.


Setelah dirasa Jojo sudah pergi, El kembali membuka matanya. "Kesempatan emas gak datang dua kali," monolog El.


El menarik paksa infusnya dan ia melepas nasal canula yang tersemat di hidungnya. Dengan cepat ia turun dari brangkar. El mengendap-endap seperti maling agar ia bisa keluar dari ruang IGD tersebut.


"Akhirnya gue bebas!" Teriaknya saat sampai di luar gerbang rumah sakit.


"Bebas apa hmm?"


Jantung El terasa berhenti saat mendengar suara dingin yang ia kenal betul siapa sang pemilik suara.


Perlahan El mendongakkan kepalanya, mendapati wajah tampan kakaknya yang sedang menunjukkan seringainya.


"Hahahahahah- hueeeee hiks hiks kenapa Tuhan gak adil sama gue hiks hiks." Tubuh El luruh ke tanah. Ia menangis mencak-mencak di hadapan Dante.


Katakanlah El gila karena ia tertawa sendiri lalu tiba-tiba menangis. Rupanya El sudah lelah karena segala usahanya untuk kabur hanya berbuahkan sia-sia.


To be continued~