BABY/I EL (END)

BABY/I EL (END)
Episode 29: Kabur



Happy reading


Sorry for typo


Dengan langkah tergesa-gesa Gilbert mendatangi kamar putra bungsunya. Ia menggeram marah. Sial dirinya ceroboh meninggalkan anak itu sendirian cukup lama.


Gilbert pikir El sudah tertidur, jadi ia meninggalkan putranya dan kembali bekerja karena pekerjaan Gilbert yang sangat menumpuk.


"Sialan! Cepat temukan putraku!" Bentaknya kepada para bodyguard yang sedang mencari El di kamarnya.


"JAKE!" Teriak Gilbert memanggil sang pengawal pribadi El.


"I- iya tuan?" Jujur ia merasa sangat gugup berhadapan dengan Gilbert yang sedang marah.


"Temukan dia malam ini juga atau tubuhmu akan menjadi taruhannya," ancamnya.


Jake hanya menunduk hormat dan melanjutkan pencarian El ke seluruh penjuru mansion. Lantas Gilbert memilih untuk ke kamar Jojo, memastikan ia tidak ikut kabur bersama El.


Oliver menunduk hormat akan kedatangan sang tuan besar.


"Buka pintunya," titah Gilbert.


"Baik tuan." Tanpa basa-basi lagi Oliver membuka perlahan pintu kamar Jojo, takut-takut suara bisingnya akan membangunkan bocah itu.


Gilbert bernapas lega sekaligus kesal. Ia lega karena Jojo masih berada di sini namun ia kesal melihat putranya masih belum tidur dan bermain handphone.


"Ini sudah malam Jonathan, letakkan ponselmu atau daddy sita"


"Eh anjir ayam ayam!" Jojo terkejut mendengar suara bariton Gilbert yang terkesan dingin.


"Bahasamu boy." Gilbert menepuk pelan bibir Jojo.


Jojo hanya bisa nyengir saat Gilbert memperingatinya. Namanya juga refleks, kagak bisa dihindari.


"Dad besok aku mau pulang kampung ya? Udah lama loh aku di sini, kasihan Papa dan Mama"


"Tidak"


"Daddy~ daddy tidak boleh egois seperti itu, Mama Jojo kangen sama Jojo, Papa pun begitu"


Gilbert menghela napas panjang. Barusan El kabur dan sekarang Jojo malah ingin meninggalkannya. Namun benar kata Jojo, ia tidak boleh egois. Orang tua Jojo pasti merindukan putra semata wayang mereka.


"Baiklah tapi Oliver akan tetap menjagamu. Sekarang tidur, daddy tidak menerima penolakan"


"Ishh... Bang Oliver gak usah ikut. Bang Oliver suruh jaga El aja, si El kan 100 kali lebih bandel daripada Jojo"


"Iya atau tidak sama sekali"


"Hahhh... Iya deh iya, selamat malam daddy." Jojo membenarkan posisi tidurnya kemudian memejamkan kedua matanya.


"Good night, sleep well baby." Gilbert mengecup singkat kening Jojo kemudian meninggalkan kamar Jojo.


Setelah yakin Gilbert sudah tidak ada, Jojo kembali membuka matanya.


"Huhhh astaga untung saja gak ketahuan." Ia mengelus dadanya, menetralkan jantungnya yang berdegup cukup kencang.


"Sialan lo babi El. Kalau sampai si setan itu buka HP gue bisa mampus kita berdua"


Yup, isi percakapan di kolom chat Jojo dengan El merupakan rencana kabur El. Jojo awalnya tak setuju namun karena paksaan El akhirnya ia setuju membantu El.


Jojo menyewa jasa salah satu temannya yang notabenenya merupakan seorang hacker ternama untuk meretas CCTV mansion.


Sementara itu di sisi lain...


"Beh mantap kali cok, angin malam emang gak ada dua," ucap El sambil bersenandung ria menitih jalan setapak membelah hutan yang mengelilingi mansion Gilbert.


Serasa di dunia mimpi El berjalan sendiri tanpa ada siapun yang mengahalangi ataupun mengawasinya.


"Andai hidup gue seperti dulu bahagia bet dah!"


"Eh tapi-tapi sekarang juga gue bahagia sih punya daddy sama kakak, ya walaupun mereka kayak setan semua"


"Dahlah, El kamu harus kuat demi hidup yang lebih baik lagi semangat El," monolognya.


Dengan tergesa-gesa El berjalan sedikit berlari kala ada bayangan-bayangan yang menurut El sedari tadi terasa mengikutinya.


"Setan, jurig, genderuwo, dan segala jenis mahluk halus maupun mahluk astral jangan deketin gue ya!"


"Daging gue engga enak, mana badan gue bau apek belum mandi seminggu"


"Please gue hanya numpang lewat janji deh gue engga akan menganggu kalian"


"Peace! Damai kita"


"Gue jalan lagi ya, maafin kalau keinjek, ketendang, atau kena kentut gue tadi gue udah engga kuat soalnya"


Dengan langkah pasti tapi takut El berjalan. Bulu kuduk El malah meremang, El mengusapnya dengan cepat menghilangkan rasa takutnya.


Gonggongan anjing menjadi teman setia apalagi suara jangkrik dan kodok sedari tadi silih berganti.


"Allhahuma lakasumtu!" teriak El. Beginilah kalau orang panik, segala doa disebut padahal beda agama.


Saking kagetnya melihat kelebatan bayangan hitam di depannya, mau mundur udah jauh mau maju entah sampai kapan ketemu jalan raya.


El benar-benar bingung El tak tau harus bagaimana dan berbuat apa "El berpikir El jangan bodoh"


Baru saja El melangkahkan kakinya lagi suara terdengar "Krek"


"ANJING JOJO!"


"DADDY!"


"SANTET"


"COKIES!""


"KLEPON!"


Teriak- teriak El saking takutnya padahal suara itu berasal dari kakinya sendiri yang menginjak ranting pohon. Bodoh.


"Ampun gue belum nikah"


"Belum ngerasakin ***-*** jangan bunuh gue"


"Tolong lepasin gue yang tamvan tak ada bandingannya ini!"


Dengan sekuat tenaga El berlari sejauh mungkin menghindari dia yang entah apa dan siapa?


El tak kenal lelah terus berlari tanpa henti sampai dia lelah dan berkeringat membasahi seluruh tubuhnya.


"Capek hah-hah-hah"


El duduk di bawah meregangkan ototnya yang sedari tadi di ajak berlari terus menerus tak henti sampai El menyadari hal yang aneh.


"Hah kenapa gue masih di sini di tempat yang tadi?"


El langsung berdiri dan mengedarkan pandangannya tapi tak ada yang salah dirinya masih di tempat saat dia berlari tadi.


"Sial!"


"Kenapa gue masih di sini padahal gue sedari tadi udah berlari jauh!"


"Apa gue lari di tempat ya?"


"Seperti dia yang tak bergerak sedikitpun dari hati gue. Melihat dia dengan orang lain sakit banget tapi hati ini nggak sanggup buat mengungkapkan isi hati"


"Ish, napa gue jadi ngomong sendiri sih dari tadi!"


"Tidak, engga mungkin pokoknya engga mungkin kan? gue gila"


El hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya dengan tangan terus memegang dada.


"Dahlah gue capek ngomong sendiri"


Kreak


Suara injakan ranting pohon terdengar lagi dari arah belakang El membuat El ingin menoleh tapi takut sedangkan tidak menoleh El bakal penasaran.


Kreak


Suara degup langkah yang cukup pelan terdengar lagi di telinga El membuatnya semakin ketakutan setelah tadi El hanya berlari di tempat tubuhnya sekarang sedikit lemah dan lemas.


Keringat dingin terus membanjiri tubuh El, El sangat-sangat takut dengan hal ini.


"Siapapun lo tolong tunjukin diri lo"


"Please jangan gangu gue, dada gue mulai sesak neh"


"Kalau bisa lo ambilin obat atau apalah biar sesak di dada gue agak hilang tapi kalau lo nggak mau ya nggak pa–"


"Hpttttmmmtpppttppp"


Bau menyengat khas chloroform menyeruak di hidung El. Astaga, bahkan memberontak pun tak bisa menyingkirkan sapu tangan kecil yang membekap hidung dan mulutnya.


5 menit berlalu, sampai akhirnya kegelapan menghampiri remaja nakal itu.


"Kau harus mati di tanganku! Selamat datang di neraka *****"


~ To be continued~