BABY/I EL (END)

BABY/I EL (END)
Episode 35: Setan Galak



Happy reading


Sorry for typo


Gilbert menatap lekat wajah damai El. Ia menggenggam tangan kecil nan halus sang putra dengan erat seakan ia tak mau kehilangan. Pernyataan Kevin tadi masih terngiang-ngiang di otak Gilbert.


Setetes air mata jatuh. "Maafkan daddy El karena lengah menjagamu," ucapnya lirih.


Gilbert hanyut dalam diam sampai-sampai ia tak merasakan bahwa ada tangan yang mengusap air matanya.


"Daddy kenapa nangis?" Tanya El dengan suara serak khas bangun tidur.


Cepat-cepat Gilbert menghapus air matanya. "Siapa yang nangis hmm? Mata daddy barusan kemasukan debu"


El menatap sinis sang ayah. Ia tahu betul kalau Gilbert sedang berbohong. Mana ada seorang Gilbert membiarkan ruangan putranya terdapat debu barang setitik pun.


"Ah baby mau makan siang apa? Biar daddy belikan. Daddy tau kamu tidak suka makanan di sini," ujar Gilbert mengalihkan pembicaraan.


"Aku ingin seblak!"


"No"


"Ayam geprek"


"No"


"Cuanki"


"No"


"Berhenti berdebat, kakak sudah bawakan makanan untukmu El"


Sudah El bilang, Dante itu sepertinya punya dedemit. Lihat saja, perasaan ia dan Gilbert hanya berdua tiba-tiba saja si santet ini muncul tanpa suara.


"Dante jaga adikmu, daddy ingin keluar sebentar"


Namun tak semudah itu, Dante mencekal tangan Gilbert. "Jangan bilang daddy akan merokok lagi," bisiknya karena Dante tidak ingin El mendengar hal itu.


Dante peka, pasti Gilbert sedih setelah Kevin memberitahunya.


"El akan baik-baik saja selama kita menjaganya lebih ketat lagi"


"Wey apwaan nih bawa-bawa El?" Tanya bocah nakal itu yang masih mengunyah makanannya.


"Kunyah yang benar El!" Peringat Gilbert.


Gilbert menepuk bahu Dante. "Ini adalah jalan ninja daddy untuk menghilangkan sedikit masalah daddy"


"NO! Bersikaplah dewasa dad"


"Ayolah son, daddy ini sudah dewasa malah mau ke tua jangan samakan dengan bocah tengil itu," tunjuk Gilbert pada El dengan dagunya.


"Sekali no! Tetap no!"


"Kalau daddy masih melawan jangan salahkan aku akan mengurungmu bersama dua bocah tengil ini, mau?" Dante menaik turunkan alisnya seakan-akan ingin bermain-main dengan sang macan.


"Siapa kau berani mengancamku!"


"Aku dokter anda sekaligus anak anda yang paling tau kesehatan anda jadi anda jangan coba-coba dengan saya kalau anda tak mau saya mencabut semua fasilitas yang saya berikan untuk anda sebagai dokter anda!"


"Huaaaahaha....uhuuk...uhuuuk" El tertawa sampai terbatuk-batuk melihat seorang Gilbert bisa kalah dengan seorang dokter gadungan macam Dante.


"Apa yang kau perbuat!" Dante langsung menepuk-nepuk punggung El sedangkan Gilbert langsung memberikan minum untuk El.


"Horang keselek nanya la- aaasssshhh"


El langsung menegang dadanya yang terasa nyeri. Napasnya juga sedikit berat menahan sakit.


"Berbaring dulu El, biar kakak panggilkan Kevin," titah Dante.


"U- udah kak, El baik-baik saja kok"


"Tidak ada penolakan Elnathan!" Tegas Gilbert. Sakit rasanya melihat putranya seperti ini.


Tak lama Kevin datang dengan antek-anteknya. Tanpa basa-basi lagi ia memeriksa El dengan teliti.


"El dengerin kakak. Jangan sampai terlalu lelah dulu ok?" Ucap Kevin serius.


"Ck lebay," lirih bocah nakal itu namun masih bisa terdengar oleh Kevin.


"Kakak tidak lebay El. Ini semua demi jantung kamu. Jantungmu tidak seperti dulu lagi karena kejadian kemarin"


Di lain sisi, Gilbert merasa sangat khawatir dan takut. Oh ayolah, ia baru bertemu dengan El. Ia tidak ingin kehilangan permatanya lagi. Cukup Varo (kembaran El) saja yang pergi.


•••


Seminggu lamanya El berada di tempat laknat bin keramat milik Dante. Ia sangat bosan berada di sini. Mana si anjing Jojo tidak menampakkan batang hidungnya sama sekali. Kemana sih si anjing itu.


El sungguh jengah dengan segala peraturan yang dibuat duo setan laknat itu. Jangankan turun dari kasur, untuk duduk pun ia harus merengek terlebih dahulu.


"Dad, El udah sehat ayo pulang," pintanya dengan wajah melas.


Sayang sekali saudara-saudara, Gilbert tak memperdulikan El dan masih fokus dengan laptopnya.


"Daddy~"


"Berhenti merengek El"


Bukannya menurut anak nakal itu malah menggeliatkan tubuhnya tak jelas sambil terus mengatakan kata pulang. Sontak hal itu membuat Gilbert panik.


"ELNATHAN!" Sentak Gilbert.


"Apa? Udah dibilangin gue dah sehat! Kenapa kalian selalu melebih-lebihkan hah!" Balas El dengan membentak pula.


"Daddy melakukan itu karena daddy sayang El"


"Sayang sayang, mana ada ayah yang sayang anak mengurung anaknya sampai lumutan?!"


"Ini demi kebaikanmu"


"Cih, berapa kali daddy mengatakan bullshit itu? Daddy merupakan ayah yang paling buruk di dunia!"


Gilbert mengepalkan tangannya. Tak lama ia menghembuskan napas panjang guna menetralisir emosinya. Ia tidak boleh kelepasan sampai-sampai menyakiti El.


"Keluar"


"Hah?" Tanya El yang masih bingung dengan ucapan dingin Gilbert barusan.


"Kamu ingin pulang kan? Pulang sendiri, daddy tidak peduli lagi." Setelah mengucapkan itu Gilbert kembali ke sofa dan fokus ke laptopnya.


El masih bingung dong. Apa katanya? Tidak peduli lagi. It's fine kok, El bisa hidup sendiri tanpa Gilbert.


"Yaudah, bye!" El bangun dari rebahannya berniat akan pergi.


Tapi semua itu hanya hayalan semata baru saja kaki El menggantung belum sampai menginjak dinginnya lantai rumah sakit sudah ada bentakan yang membuat niat El urung.


"BUKAN HANYA JANTUNG KAMU YANG TAK BERFUNGSI LAGI KAKI KAMU AKAN JADI SANTAPAN HARIMAU DADDY"


El hanya bisa kicep mendengarnya, ini kenapa sih aki-aki satu ini tadi El disuruh pergi dan sekarang dia malah marah-marah.


"Maksudnya apa?"


Gilbert berdiri emosinya sudah tak semeledak tadi setelah mengatur napasnya, Gilbert tak mau sesuatu terjadi pada El.


Gilbert mendekati El dan meraih kaki El yang masih menggantung menaikannya kembali ke atas kasur.


"Daddy akan potong di sini, sini, sini mungkin jadi tiga bagian," celetuk Gilbert dengan menyekat-nyekat dengan tangannya seakan akan itu pisau tajam.


"Pasti harimau daddy akan bahagia mendapat santapan manusia apalagi manusianya masih muda jadi lebih nikmat"


El bergidik ngeri mendengar kalimat-kalimat Gilbert dengan suaranya yang serak dan tatapan tajamnya membuat El terhanyut dalam cerita Gilbert.


"Jadwal pemotongan terserah kamu, kamu yang menentukan"


"Tenang kak Dante akan membiusnya jadi tidak akan terlalu sakit jadi kamu tak akan bisa pergi lagi dari daddy" bisik Gilbert di dekat telinga El.


Bulu kuduk El langsung meremang mendengarnya se-psikopat itukah Gilbert.


Dada El terasa sesak tapi El tetap berusaha tenang sampai pintu terbuka lebar menampakan jajaran. para dokter dengan antek-anteknya.


Dante dan Kevin masuk dengan angkuhnya di depan barisan para Dokter membuat El terkejoet.


"Mau demo dimana kak?" Tanya El polos atau tolol.


"Kita semua akan memeriksa mu dengan diagnosa kita masing-masing mencari titik terang untuk jantung kamu" ujar Dante dengan santainya.


"ASU!"


~To be continued~