BABY/I EL (END)

BABY/I EL (END)
Episode 26: Bullying



Happy reading


Sorry for typo


"ANAK MANJA"


"ANAK PUNGUT"


"ANAK KAMPUNG"


"CUMA MODAL NUMPANG DOANG"


Segelintir cacian makian yang terngiang-ngiang di telinga El rasanya membuat El tak tenang dan merasa sedih.


Sedari pulang sekolah hanya Jojo yang tak murung, El sangat terlihat murung sudah beberapa kali Jojo menanyakan kenapa dengan El tapi El tak bergeming dengan pertanyaan Jojo.


"El babi, lo kenapa sih? Ngomong sama gue, ada yang nakalin anak manja ini apa?"


"Berisik, udah sana lo pergi dari hadapan gue, gue lagi pengen sendiri"


"El... Lo tega ya ngusir gue," Jojo mendramtisir.


"GUE BILANG PERGI ANYING!" bentak El.


"Hei santai santai. Ya udah tidur ya, gue tau lo capek." Jojo membantu El membaringkan tubuhnya. Tak ada penolakan sedikitpun dari El. Mungkin dirinya sudah terlampau lelah dengan hari pertama sekolahnya yang sangat berat.


Dengan beberapa usapan halus di punggung El, bocah itu sudah tertidur pulas. Jojo bernapas lega akan hal itu.


Dengan sangat hati-hati Jojo keluar dari kamar El agar tak mengganggu tidur sang sahabat sekaligus adiknya. Tak lupa ia menutup pintu dengan sangat pelan, berusaha tak menimbulkan suara apapun.


Jantungya hampir keluar dari sangkarnya ketika Jojo berbalik dan sudah mendapati si santet yang berdiri tepat di hadapannya.


Jojo mengelus dadanya pelan. "Kak Dante bikin kaget aja," ujarnya lega.


"Apa yang kau sembunyikan?" Tanya Dante to the point.


"Ya gak ada lah, emang pernah aku menyembunyikan sesuatu dari kalian. Dahlah aku mau ke bawah dulu ambil camilan, bye"


Baru juga satu langkah, tangan Jojo dicekal kuat oleh setan berkedok manusia ini. "Biar kakak suruh maid yang antarkan, sekarang masuk ke kamarmu, kamu harus istirahat."


Jojo mengangguk. Tak ada bantahan sedikitpun dari bocah itu. Setelah memastikan Jojo masuk ke kamarnya, Dante melanjutkan tujuan awal dia yaitu mengecek keadaan El.


•••


El duduk termenung di samping lapangan. Dirinya sedikit kesal dengan Clovis yang tidak mengizinkannya mengikuti pelajaran olahraga. Gak tau aja tuh si cookies kalau El mantan kapten futsal waktu SMP.


Ia sesekali melihat Jojo yang sedang asyik mengoper bola basket ke yang lain.


"Ishh... Gak boleh iri, gak boleh dengki," ucap El menyemangati dirinya.


Beberapa menit berlalu dan Jojo akhirnya selesai bermain.


"Hahhhh capek," keluhnya sambil mengusap bulir-bulir keringat di pelipisnya.


"Nih." El menyodorkan sebotol air untuk Jojo. Gini-gini El masih perhatian dengan sang sahabat.


"Makasih." Jojo menerima air mineral kemasan itu dari El dan langsung meneguknya hingga tandas.


"Lo gak papa kan? Maksud gue, kalau lo ngerasa iri atau gak nyaman gue ikut pelajaran ini, gue bisa ajuin ke kak Clovis biar gue gak usah ikut"


"Gak papa kok, gue gak begitu keberatan"


Jojo mengangguk. "Kalau lo tiba-tiba berubah pikiran, bilang aja. Jangan disembunyikan, entar stress terus sakit, terus berurusan dengan si santet lagi baru nanges"


"Oh iya gue mau ke kamar mandi dulu ya, mau ikut nggak?" Tanya Jojo.


"Dih ogah, gue bukan anak ayam yang selalu ngekor ke induknya," tolak El.


Jojo pun melenggang pergi meninggalkan El seorang diri.


Tepat setelah kepergian Jojo sebuah bola basket mendarat tepat di kepala El. Hal itu membuat sang empu mengaduh kesakitan.


"Sorry bro, sengaja," ucap Rangga diikuti gelak tawa siswa yang lain.


Rangga mendekati El. "Dasar lemah, nangkap bola ringan aja gak mampu," bisik Rangga di telinga El.


"Ah tali sepatuku lepas, pasangkan cepat!"


Tangan El mengepal menahan emosi. "Gue bukan babu lo," balas El dengan nada rendah.


"Begitu ya? Boys!"


Setelah panggilan dari Rangga berkumandang beberapa remaja laki-laki bergerak mengelilingi El.


Salah satu dari mereka menendang punggung El hingga El jatuh tersungkur.


"Gua bilang gak mau ya gak mau bangsat!"


Satu tendangan kembali dilayangkan namun dari arah yang berbeda. "Menurutlah atau tubuhmu akan menjadi keset kaki mereka," ancam Rangga.


El menggeram rendah. Dengan sangat terpaksa ia menuruti permintaan Rangga bajingan itu. El tidak mau tubuhnya penuh lebam. Bisa-bisa si santet itu mengurungnya lagi.


"Nah gitu dong! Kalau kamu nurut dari tadi kan enak"


Bugh


"Hitung-hitung sebagai salam perpisahan hari ini"


Rangga menendang kepala El dan pergi begitu saja diikuti dengan anak buahnya yang lain.


El meringis sedikit. Ia bersusah payah untuk berdiri. Badannya terasa sakit semua.


Tak lupa El berdoa dalam hati, semoga saja Jojo tidak melihat semua kejadian barusan.


•••


"El lo sakit? Gue telpon kak Dante ya?" Jojo merasa khawatir melihat wajah El yang seperti menahan sakit.


"Heh mana ada gue sakit, gue cuma capek aja"


Jojo menarik lengan El. "Ayo ke UKS sekarang!"


El menepis tangan JoJo "Berhenti mengasihani gue anjing!"


"El!" Jojo sedikit membentak El karena ucapannya yang tak semestinya.


El tak menjawab dan berlalu pergi meninggalkan Jojo yang masih kesal dengan ucapannya.


Jojo tak mengikuti El, dia langsung duduk di tempat duduknya sedangkan El berlari sekuat tenaga menuju ruangan kosong yang sudah tak terpakai di belakang sekolah.


Menurut El mungkin di sana El bisa bersembunyi dari semua orang-orang yang sangat menyebalkan menurutnya.


"Anjing, setan, goblok kalian semua!" El berteriak.


Menumpahkan segala kesal, benci, dan kecewanya. El ingin sekali menendang semua orang yang sudah mempermalukannya tapi El tak bisa, sekarang tubuh El lemah, El benci itu.


"Semua gue benci, gue mau mati aja"


Brugh....


Bangku yang sudah usang menjadi sasaran tendangan atas kekesalannya, rasanya El ingin sekali menganghiri semua ini tapi El tak bisa El sudah tergantung dengan manusia-manusia kejam itu.


El hanya bisa diam menelungkupkan wajahnya, menyembunyikan kesedihannya sendiri hanya sendiri tanpa ada seorangpun yang tau.


Dua jam berlalu Jojo mulai gundah El tak kunjung kembali walaupun El sangat menyebalkan tapi Jojo sayang El sangat menyayanginya.


"El lo kemana sih?"


"El maafin gue kalau gue buat lo kesal atau marah" Batin jojo.


"Jonathan!"


"JONATHAN!"


Pluk


"Sakit babi!"


"Ups, maaf sir"


Di sana ya di sana tepatnya di depan mata Jojo guru yang sedang mengajar sudah menunjukan tanduknya melihat Jojo yang melamun dan tak mendengar panggilan yang di berikannya.


"Keluar!"


"Maaf sir." Jojo hanya bisa menunduk takut melihat sorot mata guru yang ada di depannya.


"KELUAR! SEBELUM SAYA SERET KAMU DARI KELAS SAYA!"


mendengar teriakan sang guru Jojo terjingkat kaget dan berdiri meninggalkan kelas.


"Sekali lagi maaf sir, bukan maksud...."


"KELUAR!"


"Iya-iya aku keluar." Jojo berlari keluar kelas.


"Galak bet dah, tapi ada untungnya juga gue bisa cari tuh si babi El dimana," Batin Jojo.


~To be continued~