
Happy reading
Sorry for typo
El menarik napasnya dalam-dalam, menghirup aroma khas kelas di pagi hari. Sudah lama rasanya.
Walaupun ini bukan sekolah lamanya tapi El tetap senang. El dan Jojo dipindahkan ke sekolah milik Clovis sehingga mereka lebih mudah diawasi.
"Jo mejanya bersih amat ya, beda sama meja sekolah kita dulu yang penuh karya seni," ucap El sambil mengusap meja yang berada di depannya.
"Humm, jadi kangen gue nyatetin nama-nama anak badung yang suka corat-coret bangku"
"Cepu," lirih El kemudian ia memilih tempat duduk asal karena ia baru di sini. Diikuti dengan Jojo yang duduk di sebelah El.
Tak lama berselang satu per satu murid pun datang. Jika biasanya murid baru datang saat pelajaran akan dimulai, berbeda dengan dua curut ini yang memaksa datang lebih awal karena saking semangatnya.
El memandang sekitar, memperhatikan calon teman-teman barunya. Berbeda sekali dengan teman-temannya dulu yang berandalan. Murid di kelas ini tampak kalem dan rapi.
"Jo gua bosen, jadi kangen Pak Andi"
"Ya kalau lo bosen, sana bikin ulah biar lo ada urusan dengan guru BK"
El menghela napas panjang. "Gak bisa sekarang Jo, nanti si cookies itu tau bisa bisa langsung di DO gua"
Belum juga Jojo membalas perkataan El, seorang guru laki-laki masuk dengan beberapa buku pelajaran di tangannya.
"Selamat pagi anak-anak," sapa seorang guru tersebut.
"Selamat pagi sir," balas seluruh murid serempak, begitu pula dengan El dan Jojo.
"Hari ini kita kedatangan dua murid baru, El dan Jojo silahkan perkenalkan diri kalian di depan," titah guru itu.
Tanpa basa-basi lagi dua curut itu berdiri dan maju ke depan sesuai dengan perintah sang guru.
"Halo, perkenalkan nama gue Elnathan Narve Laurelino biasa dipanggil El tampan atau El ganteng juga boleh, umur gue 17 tahun, dan alasan gue masuk sekolah ini, ya gak tau lah tanya noh sama bapak gue"
Jojo menepuk jidatnya pelan. Perkenalan macam apa yang El berikan barusan. Oke kini saatnya giliran Jojo.
"Kenalin gue Jonathan Abimanyu Giandra, biasa dipanggil Jojo, salam kenal"
Tak nampak ada keanehan dari gaya perkenalan Jojo. Berbanding terbalik dengan El yang sangat ajaib.
Sesi perkenalan pun selesai. Sekarang saatnya sesi tanya jawab alias QnA. Tak banyak pertanyaan yang dilontarkan dan kedua curut itu sudah kembali duduk di bangkunya.
"Kalian kembar?" Celetuk salah satu siswa yang duduk di sebelah bangku El dan Jojo.
"Dih gue mah ogah kalau harus kembar sama si anjing ini," balas El.
"Kok wajah kalian mirip?"
"Mirip darimana? Gue sama nih anak bagai langit dan bumi," kini Jojo yang menjawab.
"Maksud gue, lo dengan Vero," ucap siswa tersebut sambil menunjuk El.
"Oh nanya tuh yang jelas dong jangan belibet kayak BLT pemerintah yang tak tau arah"
"Anjir lo bawa-bawa pemerintah segala babi"
"Napa emang iya sih, ok dahlah kalau mikirin itu bisa-bisa pala gue botak kita balik ke pertanyaan dia aja"
"Menurut bokap sama kakak gue, gue kembarannya"
"Halah paling juga cuma hoax, liat aja dari perkataan lo engga sama kayak si Vero, dia lebih kalem dan engga kampungan kayak lo," ujar salah satu teman El dan Jojo yang mendengarkan pembicaraan mereka.
"Maksud lo apa hah!" El yang tersulut emosi langsung berdiri dan menggebrak meja membuat guru yang sedang membahas pelajaran terkaget.
"Ada apa ini?"
"Maaf sir." salah satu siswa yang mengejek El langsung minta maaf.
Tapi berbeda dengan El yang menatap tajam dia. Terselubung rasa tak suka di hati El.
Walaupun sempat tersulut emosi sebentar, kini El sudah lupa akan hal itu. Kebahagiannya mendengarkan guru yang sedang mengajar menutupi segala rasa kesalnya.
Setelah beberapa jam terlewati akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu para siswa pun tiba. Waktu dimana para siswa mengisi perut mereka.
"Gass kantin," pekik El bersemangat seraya menarik tangan Jojo untuk mengikutinya.
"Eh eh, kita kan bawa bekal babi, mubazir entar"
"Ck, ayo lah Jo sekali-kali"
"Engga, ingat pesan bunda El. Jangan membuang-buang makanan mau makanannya nangis nanti kamu yang tanggung jawab?"
"Ah masa bodo, lo makan aja bekal gue. Gue mau ke kantin dulu, bye," ucap El sambil melenggang pergi meninggalkan kelas dan menyisakan Jojo seorang diri.
Baru juga sampai di ambang pintu, tubuh kurus El menabrak entah apa dan membuat pantat mulusnya mencium lantai.
"Woy sapa yang naruh tembok di sini!" Pekik El tak terima.
Kepalanya mendongak melihat siapa orang menghalangi jalannya.
"Kembali ke dalam," titah orang itu dingin.
Tanpa bantahan lagi El bangkit dan mengambil langkah seribu kembali ke bangkunya.
Clovis tersenyum puas. Ia mengikuti El dengan santainya.
"Bagaimana sekolah kalian?" Tanya si sulung sambil menarik kursi di dekat bangku El kemudian mendudukinya.
"Baik, tapi tadi ad–"
Perkataan Jojo terpotong karena El menatap tajam dirinya dan memberikan kode kalau si babi itu akan menghajarnya jika ia melanjutkan kalimatnya.
"Ada apa hmm?"
"Ada beberapa materi yang susah, nah iya susah," lanjut Jojo gugup.
El bernapas lega, bisa mampus dirinya jika Clovis mengetahui teman-teman sekelasnya tidak menyukai El. Bisa-bisa auto gak boleh sekolah lagi.
"Kakak gak balik kerja aja? Kasihan dokumen-dokumen kakak ditinggal sendirian," ucap El.
"Kakak akan tetap di sini memastikan dua adik kakak yang nakal ini memakan bekalnya"
El meneguk salivanya kasar. "Dasar setan biadab! Gue mau ke kantin beli bakso goblok, lah elu malah tiba-tiba dateng. Batal kan rencana gue," batin El tak suka.
"Kenapa diam, ayo makan bekal kalian, harus habis tak ada sisa sama sekali," peringat Clovis.
El hanya bisa misuh-misuh sendiri sedangkan Jojo sudah ingin tertawa melihat wajah El sudah ditekuk seperti ibu-ibu tidak kebagian minyak goreng murah.
"Sabar El belum waktunya lo makan enak," bisik Jojo membuat El ingin menenggelamkan Jojo di sungai Amazon.
"Bukannya dimakan malah diliatin terus emang makanannya bakal kenyang hanya diliatin El, lihatlah Jojo sudah memakan bekalnya dengan lahap, apa perlu kakak panggilkan Dante?"
"Jangan!"
"Terus?"
"Iya El makan bekalnya kalau bisa El makan sama tempatnya biar kalian puas," bisik El di akhir kalimat.
Tapi namanya Clovis punya telinga setajam silet mendengar apa yang di katakan El.
Pletak
Lagi-lagi dahi El kenapa imbasnya akibat mulut lemesnya bisa-bisa dahi El kalau terus di sentil akan benjol sebesar bola golf.
"Jaga bicaramu kalau kau tak mau kena amukan kita!"
"Sakit kak." El mengusap-ngusap dahinya.
"Ngamuk terus udah kayak banteng aja" Batin El kesal.
To be continued~