BABY/I EL (END)

BABY/I EL (END)
Episode 37: Yah!!!



Happy reading


Sorry for typo


Sungguh kelakuan Gilbert membuat Clovis naik darah saja. Dirinya baru saja pulang dari Italia niatnya ingin bermanja ria bersama sang adik eh malah dengan santainya Gilbert mengatakan bahwa ia membebaskan El.


"Apa yang daddy pikirkan huh? El masih sakit, bagaimana bisa daddy membiarkannya berkeliaran begitu saja"


"Santai dulu Clovis, daddy pastikan El masih dalam pengawasan kita"


"Ck, terserah kau saja. Aku sudah lelah," ucap Clovis kemudian meninggalkan Gilbert yang tengah bersantai di ruang keluarga ditemani iPad nya.


Sementara itu di ruangan lain


Dua psikopat kita eh maksudnya Dante dan Jojo sedang menatap intens layar komputer yang menampilkan semua kegiatan El.


"Si babi gak ada tobat tobat nya," gumam Jojo saat melihat El merokok di pinggir jalan.


"Mau mematahkan kaki adikmu boy?" Tanya Dante namun pandangannya tetap pada layar.


"Jangan dipatahkan kak, kita buat lumpuh saja biar dia tidak bisa lari dari kita"


Keduanya menampilkan senyum miring yang menyeramkan. Entah bagaimana jadinya El bila bertemu keduanya nanti.


•••


Kembali lagi dengan pemeran utama kita. Kini El tengah berjalan santai mencari tempat yang cocok untuk tidur malam ini.


Lupakan soal makan, bahkan ia tidak merasa lapar sedikitpun walaupun ia tidak makan dari tadi siang.


Berjalan menyusuri jalanan yang sepi cukup membuat El merinding ketakutan tapi El harus berani karena El cowok tulen kan.


Saat El berjalan tiba-tiba di belakang El ada yang menepuk bahunya.


"Anjir siapa yang menepuk bahu gue"


Dengan pelan El berbalik untuk melihat siapa. "Set-setaaan"


"Huaaaaa ampun tan gue masih pengen hidup, hidup gue udah menderita please jangan buat gue menderita lagi"


"Heh gue bukan setan!" Ujar orang tersebut tak terima.


El membuka matanya sedikit ingin melihat siapa yang ada di depannya "Heh bukan setan ya," cengir El dengan wajah tak berdosa.


"Bodoh!"


"Gue engga bodoh ya!" Elak El. Ya kali dirinya dibilang bodoh, ulangan matematika selalu dapat nilai pas KKM kok dibilang bodoh.


"Serah!"


"Heh, mau kemana?" Tanya El saat orang itu mulai menjauh.


"Pergi menghindari orang bodoh"


"Anjing lo, gue engga bodoh"


"Serah"


"Eh, gue ikut woii"


El berlari mengejar seseorang yang tadi di sebut El setan. "Please berhenti dulu jantung gue ngadat lagi"


El mencoba memegang tangannya dan mencoba untuk bernegoisasi sebentar.


"Lo ribet ah," ucap orang tersebut.


Napas El tak teratur El harus istirahat saat ini supaya kerja jantungnya bisa aman lagi tapi naas El malah kehilangan kesadarannya.


"Eh eh, lo ngapain tiduran di sini!"


"Bangun woii, anjing jangan-jangan lo malah mati di sini lagi"


"Woii!"


"Ck, gue bawa aja lah ke kosan daripada dia tiduran di sini nanti ada yang macem-macem sama dia bahaya"


Dengan cepat El digendong dan dibawa ke kosan yang cukup untuk dua orang walaupun tak seluas kosan pada umumnya tapi cukup untuk beristirahat.


"Hahhh... Akhirnya sampai juga," ucap Lingga setelah meletakkan El di kasur tipisnya.


Mata monolid Lingga terfokus pada gelang pasien yang masih tersemat di pergelangan tangan kanan El.


"Ck, ngapain coba kabur dari rumah sakit. Bikin orang susah aja"


"Elnathan Narve Laurelino," batin Lingga mengeja nama El. Sepertinya tak asing, dia mengenal nama ini.


Beberapa detik kemudian...


Lingga memang merupakan salah satu karyawan di perusahaan milik Clovis.


"Ya ampun... Ini gimana? Kalau bos tau bisa dipecat gue. Entar gue dikira nyulik nih anak lagi, terus gue masuk penja–"


Belum menyelesaikan kalimatnya lenguhan kecil terdengar dari bilah bibir bocah manis-manis bangsat ini.


"Anjir gue dimana?" Kaget El saat sadar ia berada di dalam kamar seseorang.


"Diem lo, masih baik gue tolongin waktu pingsan tadi kalau nggak mungkin lo dah jadi santapan om om pedofil"


"Oke oke makasih, bang?"


"Lingga," jawab Lingga singkat.


El pun mengangguk. "Bang Lingga yang baik hati dan tidak sombong... Gue gak papa kan numpang di sini semalem aja?" Tanya El ragu-ragu pasalnya Lingga terlihat kesal sekali kepada El.


"Boleh tapi dengan satu syarat"


El menaikkan alisnya tanda bertanya apa syarat yang diajukan Lingga.


"Lo jangan pernah fitnah gue ke keluarga lo kalau gue nyulik lo"


"Ck yaelah bang... Santai aja napa. Mereka juga udah buang gue"


"Hah?!" Tentu saja Lingga kaget. Ia tau betul bagaimana bosnya menyayangi adiknya, tidak mungkin dia membuang El.


"Udah bang ini urusan pribadi, mending kita tidur aja, besok lo harus kerja juga kan"


"Hmm"


Sebuah deheman singkat mengakhiri percakapan dua insan yang sudah lelah ini. Mereka pun tertidur pulas walaupun hanya beralaskan kasur tipis murah.


•••


"Hahhh... Pakai acara demam nih bocah," gumam Lingga saat menyentuh dahi El.


Segera ia bangkit dari tidurnya untuk mengambil plester anti demam. Untung saja ia memiliki persediaan.


Setelah menempelkannya di dahi El, Lingga pun segera bersiap menuju kantornya. Hanya butuh 15 menit Lingga sudah siap dan rapi. Ia menatap El yang masih tertidur dan sesekali menggigil.


"Ck, apa gue bawa aja ya nih bocah. Kasihan kalau sendirian di sini"


"Ah sekalian aja gue serahin ke tuan Clovis, gak tenang hidup gue kedatangan nih alien laknat"


Lingga membawa El ke dalam gendongan koalanya dengan sangat hati-hati agar El tidak terbangun.


El sedikit menggeliat terganggu namun dengan elusan di punggungnya El kembali tenang.


"Nyusahin neh bocah, tapi kalau di lihat-lihat lucu juga kalau dia lagi tidur"


"Ah, otak gue sudah tak waras mungkin"


•••


"Bodoh segera penjarakan dia karena dia sudah berani mengusik adikku!"


"Maaf tuan saya-"


"Sekali kamu bersalah tetap bersalah jadi tunggu hukumanmu!"


"Tuan saya mohon tuan saya tidak ada niat menculik tuan-"


"Diam cepat bawa bajingan ini ke ruangan tahanan!"


Clovis sungguh dibelenggu dengan amarah melihat Lingga menggendong El.


Emosinya memuncak tak bisa berpikir jernih yang ada hanya amarah, kesal, dan sakit karena melihat El tak berdaya dengan wajah yang sudah memerah akibat demam tinggi dan jangan lupakan tubuh yang sedikit menggigil.


Clovis langsung membawa El ke rumah sakit tanpa menghubungi keluarganya sendiri, Clovis akan membawa El ke rumah sakit yang semua orang tak mengenali El.


Clovis masih kesal dengan Gilbert dan yang lain karena mereka hanya melihat tanpa berbuat apa-apa sehingga El menjadi seperti ini.


"Cepat periksa dia bodoh!"


"Jangan sampai terlambat sedikitpun"


"Nyawa kalian jadi taruhannya"


"Tak boleh ada sedikitpun kesalahan yang kalian perbuat!"


Clovis sudah seperti orang gila yang sedang marah-marah, semua dokter dan perawat dibuat pusing karena teriakan-teriakan Clovis tapi mereka tau siapa Clovis dan tak berani membantahnya.


~To be continued~