
Happy reading
Sorry for typo
Pemilik tubuh ini masih betah dengan kedamaian yang diciptakannya, alat-alat penopang hidup masih apik terpasang di seluruh tubuhnya.
Waktu tak akan berhenti dan akan terus berputar detik demi detik waktu demi tanpa hambatan apapun.
Tubuh ringkik ini terlihat sangat kurus tapi masih menampakan wajah yang rupawan di baliknya.
"Jo gue datang lagi"
"Jo lo engga capek apa udah tidur lama banget"
"Jo gue kesepian engga ada lo dan apa yang lo rasakan dulu sekarang gue yang harus merasakannya"
Setetes air mata terjun bebas begitu saja ke atas tangan Jojo yang pucat.
"ELNATHAN!"
Teriakan dan pintu terbuka dengan tak sabarnya menampakan sang kakak yang selalu saja tak bisa bersabar.
"Ish kak ngagetin"
"Kamu kemana aja? apa kamu sakit?"
"Dante cepat periksa El! Dan kau hubungi Kevin suruh ke sini," titah Clovis menunjuk bodyguarnya.
El yang mendengar perintah Clovis langsung berdiri dari duduknya.
"Apaan sih kak, aku engga sakit ya!"
"Jangan membantah!"
"Ini bukan permintaan tapi perintah mutlak!"
"Tapi kak~"
Dante langsung menyeret El keluar dari kamar Jojo dan membawa El ke kamarnya.
"Kak aku engga apa-apa please kak," rengek El.
"Diam, lihatlah wajahmu sembab seperti ini pasti kamu menyembunyikan sesuatu dari kami!"
"Tapi ini engga ada hubungannya dengan penyakit kak aku sehat walafiat!"
"Ini sehat?"
Dante mengelap air bening yang meluncur bebas dari hidung El yang tak bisa ditahan lagi.
El hanya bisa melongo dengan kelakuan mereka semua itu tadi hanya ingus woii, I-N-G-U-S bukan apa-apa tapi kenapa mereka seperti ini?
"Berbaring!"
El menurut saja ketiga bodyguardnya terus menatap tajam El membuat El tak bisa berkutik.
Dante dengan serius memeriksa tubuh El dan terakhir mengambil benda laknat yang paling El benci.
"Eh eh itu mau ngapain kak?" El sudah dengan siaga di posisi akan kabur tapi naas kedua tangan dan kakinya langsung dicegat oleh kedua mahluk jadi-jadian di depannya.
"Jangan bergerak El kakak hanya ingin memberikan vitamin saja agar kamu selalu sehat"
"Kagak! Baru aja minggu kemarin kakak ngasih njusan sekarang di njus lagi!" sewot El.
"Maaf tapi ini demi kebaikan kamu, kami tak akan kecolongan lagi setelah Jojo!" Seringai Dante.
"Akh, sakit goblog, edan kalian gue disiksa woiii udah sakit setan!" Teriak El menggelegar. Peduli setan dengan pasien lain di rumah sakit ini.
"Mulutmu mau sekalian di jahit agar tak bisa berbicara kasar!"
"Hiks... hiks... sakit kak"
Dante langsung memeluk El agar tenang. "Sudah ini semua demi kebaikan kamu"
El mendongak "Kenapa harus seperti ini?"
Sontak mereka kaget dengan pertanyaan El yang menohok, Clovis langsung mencairkan suasana dengan menyuruh El tidur.
"Ah lihatlah ini sudah jam kamu tidur adik nakal jadi sekarang lebih baik kamu pejamkan matamu dan tidurlah"
Dante mengangguk begitu juga Clovis. Hidup El sekarang dan dahulu selalu serba diatur bahkan El sudah dikeluarkan Clovis dari sekolahnya agar ia tidak bisa kemana-mana lagi.
Kadang El ingin seperti Jojo yang masih bebas entah dimana di dunia ini hanya tubuh Jojo saja yang berbaring tapi jiwa Jojo entah dimana.
"Hitungan di mulai!" Celetuk Dante yang melihat jam tangan mahalnya.
El yang mengerti langsung memejamkan matanya tak ingin para singa menerkamnya lagi.
Dalam sepuluh menit El tak menidurkan dirinya maka akan ada hukuman menanti,itu salah satu aturan yang di berikan mereka selain aturan yang lainnya.
•••
"Ngueeeeeng... Pesawat datang~" sepotong buah peach melayang-layang di atas wajah Jojo dan siapa lagi pelakunya kalau bukan bocah nakal favorit kita, El.
Ya beginilah rutinitas El saat kegabutan melandanya. Berlagak seakan Jojo akan menerima suapan darinya padahal sahabatnya itu masih belum menampakkan mata coklatnya yang indah.
Sedih? Tentu saja El sedih. Ia kesepian. Biasanya Jojo lah yang menjadi mood booster bagi dirinya. Ah, jika dipikir-pikir ia rindu saat bercanda dengan Jojo.
Sialan, lagi-lagi ia menangis. Ia tidak boleh cengeng. El harus kuat, El harus bisa hadapin ini semua, El harus yakin semua ini akan berakhir.
"El?"
Suara bariton yang lembut itu menyapa pendengaran El.
El hanya menunduk tak ingin memperlihatkan kesedihannya dan El paling tidak suka kalau kakaknya tau apa yang El rasakan.
"Engga apa-apa kok kak"
"Bohong!"
"Kak~"
"Adakalanya kita juga butuh orang untuk meluapkan semua gundah"
"Kak~" rengekan El terdengar kembali kala kepalanya masih menunduk.
Dante yang mengerti langsung mendekat dan memeluk El hangat "Kakak tau apa yang kamu rasakan bahkan bukan hanya kamu kita semua, tapi kita harus kuat demi mereka"
"Kakak aku kangen Jojo, aku juga kangen daddy"
"Bukan hanya kamu kakak juga sama El, tapi apa daya kita El hanya Tuhan yang tau kapan mereka akan bangun dari tidurnya"
"Kakak~"
El memeluk erat Dante menyalurkan segala kesedihannya. Perlahan Dante mengelus punggung El dan menenangkannya.
"Kita harus yakin ingat Tuhan pasti mendengarkan doa-doa kita"
El mengangguk di dekapan Dante rasanya hangat andai Dante selalu hangat seperti ini mungkin El tak akan nakal.
"Kalau Jojo bangun kakak bakal cerita semua sama dia kelakuan kamu bagaimana," cibir Dante.
"Ck, kakak!" Sentak El kesal.
Dante hanya tersenyum melihat wajah marah El begitu lucu dan menggemaskan.
"Apa adik kakak yang paling nyebelin"
"Ish, dahlah lebih baik aku lihat daddy kira aja daddy udah bangun dari tidur lamanya"
"Mau kemana?"
Dante mencekal tangan El "Apa lagi sih kak!"
"Boleh cium?" Dante mengetuk-ngetuk jari telunjuknya ke pipinya sendiri mengkode El yang sedang marah.
"Sorry aku bukan LGBT ya kak, aku LURUS NO BELOK BELOK CLUB!"
Sontak Dante tertawa mendengar kata-kata El padahal Dante sedari tadi hanya menggoda El saja.
"Tau ah, mending ikutan yang lagi trend daripada ngeladenin abang tak punya ahlak gini"
"Heh, bicaramu El!"
"Bodo amat, engga denger!" Seru El dengan langkah seribunya.
Dante hanya menggeleng melihat kelakuan adik nakalnya dan berbalik memeriksa Jojo yang masih enggan melihat dunia lagi.
•••
"SLEBEWWW!"
"Ah mantap"
"Heh pak tua kenapa lagi ini juga masih merem, bukalah matanya gw kangen neh"
"Kangen di hukum"
Bukan El yang menjawab ataupun Gilbert yang masih terbujur lemah di atas pembaringan tapi Clovis si anak sulung yang selalu saja buat El kesal.
El mendelik sebal dengan perkataan tak senonoh Clovis menurut El.
"Tadi si santet sekarang si cookies kapan hidup gue tenang Tuhan," bisik El sendiri.
"Setan jualan cookies?" Tanya Clovis kaget mendengar kata-kata El.
Wajah El semakin memerah dibuatnya manusia satu ini kadar kekepoannya sangat di atas rata-rata.
"Tau ah kak, lo mah super super nyebelin dibanding adek lo"
Clovis hanya bisa cengo mendengar kata-kata El.
"El~"
"Apa sih bang mau ngehukum aku silahkan udah terbiasa sama kalian"
"El~"
"Berisik!"
"El~"
"Ap–"
"Daddy?" Kerutan di dahi El sangat terlihat. Ia mendengar begitu jelas suara sang ayah namun saat ia melirik ke ranjang Gilbert, matanya masih terpejam. Berbeda dengan Clovis yang sudah tak terlihat lagi entah kemana. Mungkin dah diseret ke neraka kali ya.
"El-nat-han"
"Eh buset merinding gue tiba-tiba denger suara daddy di sini, pasti kemenyan yang gue pasang udah habis," monolog El sambil menggosok-gosok lengannya.
"Dasar anak gak peka"
To be continued~