BABY/I EL (END)

BABY/I EL (END)
Episode 39: Random Things



Happy reading


sorry for typo


Gilbert sudah duduk manis di kamar Clovis dengan secangkir kopi dan koran yang menemaninya pagi ini.


Di hadapannya Clovis masih tertidur nyenyak setelah kembali berulah dengan mengambil pistol yang ada di lemari nakas dan membabi buta menembaki para bodyguard yang mendekat.


untung saja terakhir kali Clovis bisa di lumpuhkan karena peluru di dalamm pistolnnya habis dan Clovis kembali di berikan obat penenang.


"Kau pak tua!" sentak Clovis saat terbangun dan melihat Gilbert sudah. duduk manis di dekatnya.


"Ah, bocah nakal kau sudah bangun?"


"Apa kau tak melihat aku sedang apa?"


Gilbert terkekeh dengan ejekan Clovis "Kau sudah berani mengejekku bocah"


"Sudahlah buka rantai ini, aku bukan bocah lagi yang harus di rantai seperti ini!"


"Hukumanmu karena kau selalu membawa apa-apa dengan emosi"


"Dan jangan lupa daddy akan melakukan ini bukan pada El dan Jojo saja pada kalian pun kalau kalian salah akan daddy hukum seperti ini!"


"Cih, seakan-akan kau selalu benar"


Gilbert tersenyum miring. "Kau mau melawan ku bocah," bisik Gilbert di dekat telinga Clovis.


Clovis diam dirinya sadar dia bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa di mata Gilbert yang melanglang buana di jagat raya ini.


"Buka rantainya," lirih Clovis.


"Kau tau apa kesalahanmu?"


Clovis memutar bola matanya, yang benar saja dirinya disamakan dengan El. "Entahlah"


"Oh kau bahkan tidak tau, baguslah akan daddy beritahu tapi sebagai gantinya hukumanmu daddy perpanjang"


Baru saja Clovis akan angkat bicara tapi sudah di tahan oleh Gilbert "cukup diam dan dengarkan jangan sampai hukumanmu bertambah"


Clovis menutup mulutnya kembali demgan perkataan Gilbert. "Kau tau seseorang yang membawa El pulang?"


"Entah dan tidak penting bagiku"


"Oh, daddy tau daddy sering membunuh tapi daddy tau siapa yang akan daddy bunuh dia musuh, lawan, atau kawan"


"Sedangkan kau seenak jidat ingin membunuh dan memenjarakan seseorang tanpa tau dia siapa?"


"Sudahlah aku mual mendengar ceramahmu pak tua lebih baik kau pergi!"


"Kau ini selalu saja membantah"


"Daddy sudah memberikan dia jabatan dan apartemen murah senilai dua miliyar karena dia sudah berjasa membawa El ke hadapan daddy"


"Apa itu tidak terlalu berlebihan"


"Tidak, dia pantas mendapatkannya"


"Terserah kau saja aku tak peduli"


"Baiklah baiklah, karena kau sudah mau mendengarkan perkataan daddy kau kulepaskan dengan syarat jangan terlalu gegabah. Apa kau bisa berjanji?"


Lagi-lagi Clovis kesal dibuatnya dengan perlakuan Gilbert "Hmm" hanya itu yang bisa Clovis jawab.


Gilbert gemas sendiri dengan kelakuan anak-anaknya yang membuatnya harus selalu turun tangan.


•••


"Lebih kenceng lagi Jo, lebih kenceng hahahahaha"


"Sesuai permintaan, wuuussshhh..." Jojo menambah kecepatannya mendorong kursi roda El.


Ya beginilah kelakuan absurd duo sahabat sengklek. Mereka bolak-balik sepanjang koridor rumah sakit, untung saja sepi kalau ramai maka dapat dipastikan mereka akan menabrak pengunjung lain.


El terlihat sangat senang bisa bermain lagi dengan Jojo ya walaupun ia tidak bisa ikut berlari.


El sebenarnya sedikit kesal, masa sih cuma gara-gara terlalu banyak berjalan kakinya jadi gak bisa gerak lagi. Tidak masuk akal. Tapi kata Dante seperti itu, ah... El jadi bingung harus percaya Dante atau tidak.


"Loh loh kok berhenti njing? Belum puas nih"


"Hahh... Hahh... Bentar babi, gue hahh... Capek"


Bukannya kasihan El malah tertawa terbahak-bahak melihat keadaan Jojo.


"Ish jahat lo, abangnya lagi kesusahan malah diketawain"


"Dih gak sudi gue punya abang modelan kek lo"


"Oh gitu... Ya udah bye, balik sendiri sono ke kamar. Kalau nanti ketemu setan-setan jangan salahin gue ya"


"Panggil gue abang dulu, baru gue anterin lo ke kamar"


"B- bang Jojo!" Ucap El dengan kecepatan kilat.


"Nah gitu dong, ayo abang antar adek balik," ucap Jojo senang sambil mendorong kursi roda El kembali ke kamarnya.


•••


Baru saja Jojo bahagia dan El juga begitu tapi semua itu sepertinya hanya mimpi karena sudah terlihat duo setan terkutuk di depan pintu kamar El.


Wajah tegas Dante dan wajah tengil Kevin menghiasi daun pintu yang terbuka lebar.


"Dari mana?" satu pertanyaan tapi sangat sulit untuk di jawab.


"Ngapain aja?" timpal Kevin.


"Kak-" El memberanikan diri untuk menjawab dengan tangan yang meremas ujung bajunya dan kepala terus menunduk.


"Jojo pergi ke ruangan kakak, tunggu kakak di sana!" titah Dante tegas.


"Dan kamu El masuk sebelum kakak berubah pikiran dan malah membuat kedua tanganmu menjadi tak berguna lagi!"


"Tunggu, apa yang kakak maksud dengan kata membuat. Oh... El paham, jadi selama ini kakak yang membuat kaki El jadi lumpuh, iya?!"


"Omong kosong macam apa itu El? Jelas-jelas kakimu jadi seperti ini karena ulahmu sendiri," elak Dante.


"Halah bacot! Kakak kalau cari alasan yang masuk akal dong. Ya kali cuma kebanyakan jalan sampai lumpuh begini? Nggak kan"


Dante berjongkok guna menyetarakan tingginya dengan El. Tak lupa ia menampilkan senyuman manisnya yang sayangnya malah membuat El takut.


"Kalau iya kenapa hmm? Toh lebih bagus begini, seorang Elnathan yang nakal dan tak bisa diatur kini lemah tak berdaya"


"Berterima kasih lah pada kakak karena tidak melumpuhkan seluruh badanmu," lanjutnya dengan berbisik.


Sialan, perkataan Dante membuat El merinding dan mematung. Sekejam itu kah keluarganya. Pantas saja kembarannya dulu mati muda, mungkin dia tidak kuat dengan kelakuan gila mereka.


"Bawa dia Kev," ucap Dante kemudian ia berdiri kembali.


Kevin langsung mengambil alih kursi roda El dari tangan Jojo. "Siap-siap hukuman menanti boy," bisik Kevin di telinga Jojo.


Jojo diam rasanya ingin mencabik-cabik wajah tengil Kevin tapi Jojo masih sayang nyawa.


Dante tak ikut masuk ke ruangan El dia malah menggiring Jojo yang masih enggan untuk berjalan menuju ruangan Dante.


Dante duduk di kursi kebesarannya dengan masih menatap tajam Jojo yang masih menunduk kaku di depannya.


"Hukuman apa yang pantas untuk anak nakal sepertimu?"


Jojo diam dan malah menundukan kepalanya dengan tangan memilin ujung bajunya sendiri.


"JAWAB!" Sentak Dante dengan menggebrak meja membuat Jojo terjingkat kaget.


"Ma- maaf kak," cicitnya pelan.


Sungguh Jojo rasanya ingin menguburkan dirinya sendiri melihat kemarahan Dante saat ini.


"Apa kau mau seperti El, ah sepertinya bagus juga jika hukumanmu sama seperti El," seringai Dante.


Keringat dingin mengucur di seluruh badan Jojo melihat Dante sudah menunjukan kegilaannya.


"Kakak..." Jojo langsung menubruk kaki Dante dan bersujud meminta ampun.


"Ampun kak ampun maafin Jojo kak"


"Hiks hiks... Maafin Jojo"


"Berdiri!" Tegas Dante.


Tanpa basa-basi lagi Jojo langsung berdiri. Ia takut nanti Dante semakin marah.


"Angkat kaki kirimu, jangan turunkan sebelum kakak perintahkan"


Dengan berat hati Jojo pun melaksanakan perintah Dante.


Beberapa menit berlalu, Dante tak kunjung membebaskan Jojo. Ia malah sibuk sendiri dengan laptopnya.


"Kak... Kakiku lelah," rengek Jojo.


Bola mata Dante bergerak untuk melirik sang adik. "Baiklah turunkan kakimu"


Dalam hati Jojo bersorak senang. Ia pikir hukumannya telah usai, tapi sepertinya tidak semudah itu ferguso.


"Sekarang angkat kaki kananmu dan jika kamu merengek lagi kakak tambah waktunya sampai kakimu benar-benar mati rasa"


"JUAAANCOK! DASAR SETAN BIADAB," Batin Jojo berteriak.


To be continued~