
Happy reading
Sorry for typo
Bisa dibilang El ingin mati tapi tak mau, dengan alasan belum menikahkan anak-anak si Mincret, kalau El mati siapa yang akan menikahkan mereka nanti. Ya walaupun El sedikit kesal setelah diberitahu Mama Jojo pasal si Mincret kawin dengan kucing oren gang sebelah tapi El tetap sayang kok.
Setelah tadi tubuh El seperti mannequin dibolak-balik dengan beberapa manusia gila sekarang tubuh El serasa remuk tak karuan.
"Apa lagi," sungut El benar-benar ingin ditabok kali ini.
"Kau ini kenapa sedari tadi marah-marah terus." Gilbert kali ini sudah jengah dengan sikap El yang keterlaluan.
"Bodo amat!"
"ELNATHAN!"
"Berisik lo, gue butuh sendiri silahkan anda bisa pergi dari sini," usir El dengan santainya.
Mungkin El sudah muak melihat wajah Gilbert yang selalu mengekangnya. Ayah macam apa si Gilbert itu.
"Jaga mulutmu! Daddy sudah menahan emosi untukmu jangan sampai emosi daddy memuncah hanya karena ucapan dan sikapmu!"
"Terus gue harus apa hah! Diem aja kaya orang mati? Mending lo bunuh gue aja"
"Dimana sopan santunmu El?" Tanya Gilbert dengan amarah memuncak yang berusaha ia tahan.
"Persetan dengan itu, gue udah muak dengan pak tua modelan macam lo"
Sungguh El sudah membangunkan singa tidur, Gilbert langsung berdiri setelah mendengar perkataan El. Tangan dan mulut Gilbert rasanya sudah gatal ingin melakukan sesuatu untuk anak pembangkang seperti El.
"Sekarang daddy tanya apa yang kamu inginkan anak nakal?"
"Sederhana" jawab El singkat.
"Hanya ingin bebas"
"Baiklah kali ini kamu akan bebas tanpa kekangan siapapun dan darimanapun tapi jangan salahkan daddy bila suatu saat kau akan menyesalinya"
"Really!"
"Kapan daddy berbohong, daddy persilahkan kamu mau pergi kemanapun dan sesuka hatimu"
Kesabet setan apa Gilbert dengan mudahnya mengatakan hal yang di luar nalar seperti ini.
El tak mau kesempatan emas ini hilang lagi bahkan tak akan ada lagi. El langsung mengambil langkah seribu langsung bangun dari rebahannya dan langsung pergi meninggalkan Gilbert yang hanya diam dengan mata tertutup.
Bodo amat dengan Gilbert yang pasti El sekarang bebas dan akan menikmatinya sebelum semuanya terlambat.
Dengan tertatih-tatih El berjalan menyusuri koridor. Tiba-tiba ada sebuah tangan yang mencekalnya.
"Apa yang kamu lakukan di sini bocah nakal?"
El menatap jengah sahabat kakak keduanya, Kevin. Dengan sekali hentakan El mampu melepas cekalan Kevin.
"Bukan urusan lo dokter sialan!"
Kevin menggeram rendah. Walaupun dia dikenal sebagai orang yang humoris dan sabar dalam menangani pasiennya, kesabarannya benar-benar diuji ketika menangani El.
Sebelum El melanjutkan langkahnya Kevin mencengkram kembali pergelangan El dengan sangat kencang sampai-sampai El meringis kesakitan. "Kembali ke kamarmu," ucap Kevin dingin kemudian mulai menyeret El.
Belum juga sampai ke kamar rawat El, Gilbert sudah berdiri tegak di hadapan mereka.
"Lepaskan dia Kevin, biarkan dia bebas," ucap Gilbert dengan penekanan di akhir kalimatnya.
"Tapi om El masih ha-"
"Lepaskan." Gilbert menatap tajam Kevin sehingga mau tak mau Kevin melepaskan tangan El.
Melihat kepergian El, Kevin memberikan ekspresi bingung kepada Gilbert.
"Biarkan saja, kita lihat seberapa kuat anak itu bertahan," jelas Gilbert seakan bisa membaca pikiran Kevin.
"Tapi om itu bisa sangat berbahaya, bagaimana jika jantungnya mengalami takikardi lagi? Jika tidak cepat ditangani El bisa-bisa pindah alam"
"Kemarin kau bilang itu tidak terlalu parah bukan? Tenang saja, El harus merasakan kebebasan sejenak sebelum dia benar-benar tidak akan pernah menginjakkan kakinya keluar lagi"
•••
El mencoba mengatur napasnya yang ngos-ngosan. Sial sekali padahal baru berjalan keluar rumah sakit saja rasanya sudah seperti lari maraton.
"**** you!" Ucapnya lantang dengan menunjukkan kedua jari tengahnya ke gedung rumah sakit milik sang kakak.
Peduli setan dengan tatapan aneh orang-orang yang lewat. Mungkin mereka akan mengira El adalah pasien jiwa yang kabur.
"Ah jadi kangen anjing Jojo gue. Tuh anak mati apa begimane, kagak nongol-nongol perasaan"
Gak tau aja si El kalau sahabatnya itu tengah sengsara di mansion akibat tidak diperbolehkan keluar.
"Ok skip pasal Jojo, saatnya gue bersenang-senang"
El bersenandung ria sembari menikmati semilir angin yang bercampur polusi. Ngomong-ngomong soal polusi, El jadi rindu batang nikotin yang selalu menemaninya dikala ia suntuk.
"Ck, mana kagak bawa duit gue," gerutunya saat merogoh saku piyama bergambar beruang miliknya.
El berpikir keras sekeras batu sampai dia menemukan ide untuk mencoba peruntungan dengan suara serak beceknya.
El berjalan menyusuri jalan dan terlihat ada warung makan mungkin keberuntungan atau ini hal yang biasa di dalam warung makan sudah banyak orang yang sedang makan dengan cepat El masuk.
Tanpa basa basi lagi El mulai bersenandung bodo amat apa kata mereka mau muntah atau bahkan mencela El udah tidak perduli yang penting El mendapatkan uang.
Tanpa di sangka-sangka El mendapatkan lumayan banyak recehan cukuplah untuk membeli sepuntung rokok keinginan El.
•••
Hembusan demi hembusan asap mengebul dari mulut El, menenangkan pikiran dan hati El saat ini yang sedang kacau entahlah perasaan El sekarang bagaimana.
El sebenarnya rindu dengan keluarganya yang sangat pengekang tapi El sadar El ingin bebas dalam artian bebas melakukan apapun yang El suka tapi semua itu hanya mimpi buat El.
"Gue kangen daddy, kangen si santet, kangen si cookies, dan kangen lo juga klepon." Helaan napas terdengar dari mulut El.
Segera El menepis semua yang di pikirkannya dan membuang puntung rokok yang sudah habis tak lupa menginjaknya agar apinya mati.
El berjalan pelan dengan memegang dadanya sesekali jantungnya tak bisa berkompromi saat ini.
"Tung lo baek-baek di dalam sana, jangan sakit mulu dah gue capek tung kalau lo sakit-sakitan terus gue juga kena imbasnya"
El duduk di pinggir jalan mengistirahatkan kaki dan jantungnya yang malah semakin terasa sakit.
Di usap pelan dada El menetralisir rasa sakitnya dengan menghembuskan napas keluar dan masuk lewat mulut.
"Please kali ini aja gue pengen menikmati hidup sebelum gue dipanggil sama Tuhan"
"Gue pengen bahagia, gue pengen bebas sebelum semuanya gelap dan tak ada lagi kehidupan"
"Tuhan El cuma minta tolong sembuhkan jantung El biar El bisa lari dari kenyataan, eh maksudnya lari dari para titan gila itu ya Tuhan"
Beberapa menit berlalu El rasa jantung El mulai terasa enak dan bisa diajak kerjasama lagi.
El beranjak pergi yang entah kemana kaki melangkah akan membawa El kali ini, El hanya pasrah dengan semuanya biarlah seperti ini yang penting El bahagia.
Tanpa di sadari El ada banyak pasang mata dan telinga yang siap menerkam El dengan semua perkataan El yang sangat-sangat membuat mereka kesal dan marah.
~To be continued~