BABY/I EL (END)

BABY/I EL (END)
Episode 18: Tak Adil



Happy reading


Sorry for typo


"Nggak gua gak mau"


"Please"


"GUA GAK MAU BEGO!"


"WOY ANJING BANGUN BANGSAT!" El terus menepuk-nepuk pipi Jojo yang sudah basah akibat keringat dan air mata. Entahlah apa yang dimimpikan oleh sahabatnya sampai-sampai dia berteriak histeris.


Seketika Jojo membuka matanya. Ia menatap sekeliling. Ah rupanya dirinya masih berada di kamar El dan kakinya masih dirantai.


"El, gua gak diadopsi keluarga setan lo kan?" Tanya Jojo serius.


El pun tersentak dengan pertanyaan Jojo.


"Sorry Jo"


"Kenapa lo minta maaf? Jangan bilang ka-"


"Sayangnya mimpi lo itu kenyataan, welcome bro"


Mata Jojo menatap hampa El, ia juga sudah mulai terisak. Siksaan apa lagi ini ya Tuhan. Membantu anak singa kabur dan sekarang ia malah dikurung di kandang singa.


"Udah tenang aja masih ada gue, mereka gak seburuk itu kok." El memeluk Jojo dan mengusap-usap punggungnya.


"Tapi boong," lanjut El dalam hati. Berurusan dengan keluarga setan adalah hal terburuk di dunia.


"Jo"


"Hmm?"


"Badan lu kok panas ya"


"Gue juga ngerasa badan lu panas El"


Keduanya melepaskan pelukan dan saling menatap intens.


"Mampus," ujar mereka berbarengan.


Auto panik lah mereka. Otak duo kunyuk itu pun berusaha semaksimal mungkin untuk memikirkan cara lari dari si santet yang kejam.


"Anjing Jojo cepet cari cara buka nih rantai!"


"Babi El mana bisa, tangan kanan gue sakit banget gara-gara kakak lo, belum lagi rantainya seret banget anjir"


Ceklek


"Sudah bangun rupanya bocah nakal"


Bulu kuduk El dan Jojo seketika berdiri. Tatapan mereka lurus ke depan, tak berani menatap Dante.


"Kenapa tegang begitu hmm? Ada yang sakit?"


"Ng- nggak ada, ya kan Jo." El menyikut lengan Jojo agar mengiyakan perkataannya.


"I- iya gak ada yang sakit kok"


Dante menatap keduanya dengan penuh curiga. Tentu saja ia tidak akan langsung percaya dengan ucapan dua bocah nakal ini.


Dengan gerakan cepat Dante memegang dahi kedua bocah laknat itu dan benar dugaannya kedua bocah nakal itu demam.


"Ada yang bisa kakak bantu duo nakal?" seringai Dante.


"Eng... Ga ada kak, kakak kerja aja kami di sini baik-baik aja, ya kan Jo"


Jojo malah cengo melihat wajah Dante yang seperti psychopath mencari mangsa, dengan gerakan cepat El menabok pipi Jojo membuat Jojo mengaduh kesakitan.


"Babi El! Sakit woi"


"Mulut mu boy!"


Jojo meringis melihat Dante yang semakin marah. "Maaf kak engga sengaja"


"Sudahlah, sekarang waktunya kakak bermain dengan kalian duo nakal"


"Maksud kakak? Rantai kita akan dilepas gitu terus kita main?" Celetuk Jojo.


El yang sudah tau watak keluarga setan ini hanya diam dan tak menjawab perkataan Dante.


"Berbaringlah kalian, eits tapi tunggu kira-kira siapa yang duluan yang akan bermain dengan kakak?" ujar Dante dengan wajah ingin di taboknya.


"Jojo," teriak El kencang, berbeda dengan Jojo yang belum mengerti dan mungkin tak akan mengerti malah diam.


"Ok, as your wish baby." dengan cepat Dante mengambil perlengakapan penyiksaannya.


Jojo yang baru saja melihat Dante akan menempelkan stetoskop sudah pucat pasi "Engga mau kak." Pening di kepalanya langsung membuatnya semakin sakit dan merenggut kesadarannya.


"Ups pingsan, baguslah." Wajah tak bersalah Dante sungguh membuat El ingin mencakar dan mencabik wajah tampan kakaknya.


"Dasar psikopat," cibir El.


"Kalau memang iya kenapa? Kamu takut hm?" Dengan seringainya yang tercetak di bibirnya Dante mendekati El perlahan membuat El mati kutu di buatnya.


"Maaf? Kata yang sudah sering kau katakan tapi maaf sekarang tak bisa dipakai lagi"


•••


Pagi ini akhirnya El dan Jojo mengakhiri sesi hukuman mereka setelah 3 hari lamanya. Ah rasanya mereka sudah muak menghirup udara kamar.


Kini El tengah memperjuangkan dirinya agar bisa sekolah. Oh ayolah menuntut ilmu adalah hal yang wajib.


"Please dad, El pingin sekolah," rengeknya kepada Gilbert.


"No! Baru sembuh juga kan. Tidak ada sekolah sampai kamu benar-benar sehat"


"Daddy mau anak tetangga lebih pinter dari El? Terus El jadi bahan ejekan mereka, nggak kan? Mangkanya izinin El sekolah biar pinter kek Albert Einstein"


Astaga putranya satu ini membuat kepala Gilbert pening saja.


"Om, Jojo berangkat dulu ya," seru Jojo yang rapi dengan setelan seragamnya.


El menganga melihat Jojo yang sudah siap berangkat sekolah sedangkan dirinya tidak.


"Daddy..." El kembali mencak-mencak. Mengapa Gilbert tidak adil.


"Jangan nakal di sekolah, turuti semua perkataan Oliver dan untukmu El cepat bersiap kamu akan ikut Dante hari ini"


"Ta-"


"Tidak ada bantahan. Jake bawa El ke kamarnya!"


Dengan penuh perjuangan Jake menyeret El kembali ke kamarnya. Jojo dibuat meringis melihat sahabatnya yang sepertinya sungguh tersiksa dengan perlakuan Gilbert.


"Emm om," panggil Jojo takut-takut.


"Jangan biasakan memanggilku dengan sebutan om, panggil saja daddy," tegur Gilbert. Ia merasa Jojo harus mendekatkan dirinya karena sekarang mereka adalah keluarga.


"I- iya dad"


"Ada apa hmm? Apa yang ingin kau bicarakan?"


"Jadi gini, Jojo kasihan sama El. Kenapa om eh maksud Jojo daddy tidak mengizinkan El sekolah seperti Jojo?"


Gilbert menurunkan koran yang sedang ia baca. "Kamu tahu sendiri kan bagaimana kondisi kesehatan El yang cukup lemah, daddy tidak ingin hal buruk menimpanya. Sudah jangan terlalu dipikirkan biar daddy yang urus masalah ini, berangkatlah sebelum kamu terlambat"


Jojo menghela napasnya pasrah. Mau membela El tapi ia sadar diri ia hanya anak pungut yang gak punya wewenang apa-apa. Akhirnya Jojo mengikuti Oliver, sang pengawal pribadi untuk berangkat ke sekolah.


"Akh... Anjing, setan kalian gue mau sekolah." Katakanlah El sudah gila dengan berteriak teriak sendiri.


"Mau sekolah" dan akhirnya El mengacak ngacak rambutnya dengan duduk di lantai.


"Huaaaa.... Mau sekolah anjing Jojo jangan tinggalin gue"


Mendengar teriakan-teriakan dari arah dalam Jake yang berjaga di depan pintu langsung masuk menemui tuan mudanya.


"Tuan kenapa anda duduk di bawah kalau tuan besar tau anda bisa dihukum"


"Bodo amat pokonya gue mau sekolah huaa"


"Ada apa ini?" Tanya Dante yang baru saja masuk ke kamar El.


"Ish, dasar si santet udah kayak jelangkung saja"


"Apa gue santet online aja penghuni rumah ini supaya mereka tunduk sama gue"


"Kalau mereka tunduk semua sama gue ah, alangkah bahagia dalam hati," batin El.


"El, El, Elnathan!" panggil Dante namun tak ada jawaban dari El. Anak itu masih melamun sesekali ia tersenyum tipis saat ia membayangkan bagaimana jika keluarganya kena santet.


"Astaga anak ini," keluh Dante. Ia lantas menggendong adiknya ala koala dan melangkahkan kakinya keluar kamar.


"Jake siapkan baju untuk El aku akan membawanya dulu, ini sudah terlambat dari jadwal"


"Baik tuan"


Beberapa saat setelahnya El baru tersadar dari dunia imajinasinya. El merasa bingung kenapa sekarang ia sedang digendong Dante. El pun menggeliat ingin diturunkan.


"Diamlah boy nanti kamu jatuh"


"Mau sekolah," lirih El sambil menelusupkan kepalanya di ceruk leher sang kakak.


Dante terkekeh kecil. "Baiklah"


Mendengar itu El langsung senang bukan kepalang. "Beneran?" Tanyanya antusias.


"Kapan kakak pernah berbohong?"


"Huaaa makasih kak Dante yang tampan sedunia tapi masih lebih tampan El. Jangan lupa siapin seragam El ya kak"


"Buat apa seragam? Kamu kan sekolah di rumah"


Cengo lah si El. Ya gak salah sih homeschooling juga termasuk sekolah tapi gak gitu juga.


"EMANG SETAN KALIAN SEMUA!"


To be continued~