BABY/I EL (END)

BABY/I EL (END)
Episode 38: Balik Ke Neraka



Happy reading


Sorry for typo


Pagi yang sungguh luar biasa menggemparkannya Clovis yang notabene seorang pendiam sedikit ceria sekarang ia menjelma menjadi manusia paling menakutkan.


Sedari pagi Clovis terbangun di atas kasurnya yang empuk di kamarnya padahal kemarin Clovis sedang di rumah sakit menunggu El tersadar dari tidurnya.


"Siapa yang membawaku pulang ke mansion!" Amuk Clovis.


"Cepat katakan!"


Clovis benar-benar marah sekarang, amarahnya memuncak pasti ini semua ulah Gilbert yang sengaja menculiknya.


Clovis bergegas pergi berniat ingin menemui El di rumah sakit namun Gilbert dengan sengaja menghalangi jalan Clovis dengan menggunakan beberapa bodyguard, bukan hanya satu atau dua tapi puluhan bodyguard sudah bersiaga di depan pintu mansion.


"Sedang apa kalian di sini!"


"Bubar!"


"Maaf tuan, tuan Gilbert tidak mengizinkan anda pergi setelah anda terbangun"


"Persetan dengan tua bangka itu!"


"Tapi tuan-"


Clovis tak mengindahkan semua kata-kata para bodyguard, Clovis langsung menerjang semua para bodyguard tapi naas Clovis kalah saing dengan mereka yang jumlahnya lebih banyak.


"Maafkan kami tuan tapi anda dilarang pergi kemanapun sebelum tuan Gilbert datang tuan"


"Brengsek kau pak tua!" Umpatnya meneriaki Gilbert yang bahkan tidak ada di mansion.


Kemarahan Clovis semakin memuncak kala tubuhnya ditahan oleh beberapa bodyguard tapi apa daya Clovis hanya bisa meronta-ronta dengan sisa tenaganya.


"Lepaskan bodoh, aku akan ingat wajah-wajah kalian jangan harap kalian bisa menghirup udara lagi setelah ini!"


"Bodoh!"


"Akh!"


"Mohon jangan memberontak tuan, ini demi kebaikan anda sendiri"


Perkataan bodyguard itu bagai angin lewat untuk Clovis. Ia malah semakin membabi buta dan membuat orang-orang di sekitarnya kelimpungan.


Setelah perjuangan kerasnya yang berujung sia-sia, kini Clovis malah kembali terbaring lemas di kasurnya dan berhiaskan rantai di kedua kakinya.


"Maafkan kami tuan, kami terpaksa memberi anda obat penenang. Efek obatnya akan hilang dalam 1 jam lagi, selamat beristirahat tuan." Seusai mengatakan itu bodyguard-bodyguard tadi pamit undur diri dari sang majikan yang masih setengah sadar.


"Bajingan! Akan kubalas semua perbuatan kalian," batin Clovis.


•••


Sedangkan di tempat berbeda, El sudah dipindahkan ke rumah sakit milik Dante.


"Uh, babi kali ini lo engga akan bisa pergi kemanapun"


"Maafkan gue dan kak Dante babi tapi ini buat kebaikan lo"


"Hahaha"


Seringai Jojo terlihat kala tawanya menggelegar ada rasa bangga dan haru melihat karyanya dengan Dante tadi.


Sungguh Jojo sudah menjadi manusia kejam tapi Jojo sangat menyukainya ada rasa puas dalam hatinya.


"Babi jangan lakuin ini lagi ya kalau lo engga mau kaki mulus lo hilang dan jadi koleksi baru di lemari gue"


"Kalau lo lakuin ini lagi gue mau jadi yang pertama hilangin kaki lo biar lo diam dan menurut!"


"Akh, gue udah kasar sama lo tapi lo engga boleh marah sama gue"


"Ini hukuman buat lo babi," bisik Jojo di kalimat terakhirnya.


"Eungh-"


Lenguhan kecil terdengar di mulut El membuat Jojo langsung merubah mimik mukanya menjadi Jojo yang dulu Jojo yang dikenal El.


"Babi!"


"Babi lo udah bangun babi!"


"Ada yang sakit gak babi?"


"Atau lo haus? Gue panggilin kak Dante ya"


Jojo hendak berbalik badan namun tangannya di cekal oleh El. "Jangan," lirih El di balik masker oksigennya.


"Engga kak Dante harus tau dan daddy juga harus tau lo udah bangun goblok!"


El hanya memutar bola matanya jengah, baru saja ketemu sudah bikin kesal saja ini si anjing Jojo. Tau gitu sudah El buang aja si anjing ini ke got.


"Please," mohon El lirih hampir tak terdengar saking pelannya.


Jojo diam dan berbalik lagi melihat El yang masih pucat dan mata yang sayu, Jojo tak tega melihat El seperti ini.


"Diam, gue udah nurutin kata lo sekarang lo yang harus nuritin kata gue babi!"


"Anjing lo"


"Kenapa tak memberitahu kami kalau anak nakal ini sudah sadar!" Jojo berjingkat kaget kala mendengar suara dari belakangnya.


Jojo berbalik dan tersenyum kecut melihat Gilbert, Dante, dan Kevin yang sudah menatap tajamnya seakan-akan ingin menerkam Jojo dan memakannya hidup-hidup.


"Hai anak nakal sudah puas?"


Satu pertanyaan atau satu ejekan buat El dari Dante kala mendekati brankar El.


El hanya diam tak menjawab apapun dirinya sudah jengah dengan semua ini, El langsung memejamkan matanya lagi kala Dante dan Kevin mengegerayangi tubuh seksinya.


Sepertinya Dewi Fortuna juga ingin menghukum El, tiba-tiba saja ia merasakan mual namun masih ia tahan. Oh ayolah El tidak ingin urusannya dengan Dante dan Kevin semakin runyam.


"Kenapa El?" Tanya Kevin yang mengamati ekspresi aneh anak nakal itu.


"Gak pa- ugghh..."


Sungguh isi lambung El memberontak ingin dikeluarkan.


"Muntahkan El," titah Dante yang dengan sigap membantu El duduk dan membuka masker oksigen yang menghiasi wajah mungil adiknya.


Tanpa berlama-lama lagi, El pun muntah. Rasanya sangat sakit dan perih karena lambungnya kosong semenjak kemarin.


"Hiks hiks sakit"


"Beginilah ulahmu sendiri El!" kesal Dante.


El tak menjawab apapun dia hanya berbaring lagi dan merasakan pahit dalam mulut dan mual di perut. Sungguh membuat El menderita.


"Makanlah agar lambung kamu tak makin bermasalah lagi," titah Gilbert.


El menggeleng, Gilbert sudah gila kah? Mana mau El makan dengan keadaan seperti ini minum saja tak ingin rasanya, apalagi harus makan.


"Babi menurutlah, lo nggak mau kan gue marah!" kesal Jojo dengan berbisik.


Melihat wajah Jojo yang terlihat marah tapi malah aneh dari pandangan El, membuatnya ingin tertawa sekaligus muntah.


"Babi lo!" kesal Jojo yang mendapat reaksi seperti itu membuat telinganya langsung memerah dan panas karena ulah Gilbert yang menyentilnya dari belakang.


"Aws, sakit"


"Jaga mulutmu kau juga harus makan bukan hanya El karena kamu sedari tadi di sini dan melupakan sarapanmu!" tegas Gilbert.


Kevin mengambil dua mangkuk bubur yang sudah tersedia di atas nakas dan memberikan satu pada Dante "Gue bocah nakal satu ini dan lo silahkan bocah tengil itu!" Tunjuk Kevin pada El.


"Hmm"


Dante mengambil semangkuk bubur di tangan Kevin sedangkan Gilbert membantu El untuk duduk. El tak berontak karena El benar-benar lemas dan tak punya tenaga walaupun hanya untuk sekedar menimpali kata-kata Jojo tadi.


"Kak udah," rengek El kepada Dante.


"Ini baru 3 suapan El"


"Hiks udah, perut El hiks sakit"


Tangan Dante terulur mengusap air mata si bungsu. Ada sedikit rasa kasihan melihat El yang nampaknya tersiksa.


"Satu suapan lagi oke?"


El pun mengangguk, ia tak ingin membuat Dante marah dan berujung menyiksa El kembali.


"Gendong~" El merentangkan tangannya pada Gilbert. Nampaknya ia lupa kalau ia masih ngambek kepada daddy nya itu.


Tanpa berlama-lama lagi, Gilbert menggendong putra bungsunya dengan sangat hati-hati.


"Tidur lagi ya," ucap Gilbert lembut sambil mengusap-usap punggung El.


Lagi dan lagi El tidak menjawab. Ia semakin membenamkan wajahnya di ceruk leher Gilbert. Namun rasa nyaman itu tak berlangsung lama.


El ingin sedikit mengubah posisi kakinya. Anak nakal itu mengernyit bingung. Berulang kali ia mencoba menggerakkan kedua kakinya namun tetap saja gagal.


"Hiks daddy, kaki El hiks kaki El gak bisa digerakkan hiks hiks"


Pecah lagi deh tangisan El. Sudah susah payah Gilbert menimang bocah itu dan berbuah sia-sia.


"Huaaaaa kaki El kenapa?" El memberontak dalam gendongan Gilbert minta diturunkan. Ia ingin melihat keadaan kakinya.


"Diam baby, nanti jatuh," peringat Gilbert.


Tapi El tak mengindahkan peringatan Gilbert hingga Gilbert tak bisa menahan tubuh El yang terus berontak.


Gubrak!


"ELNATHAN!"


~To be continued~