BABY/I EL (END)

BABY/I EL (END)
Episode 42: Bahagia-?



Happy reading


Sorry for typo


Tanpa Jojo sadari saat ini kamarnya sudah kedatangan sepasang suami istri yang tak lain dan tak bukan adalah orang tua kandungnya.


"Aih, meni alus pisan kamarna"


"Iya, ini mah si Jojo udah kaya pangeran di negri dongeng"


"Iya pah"


"Ma si Jojonya bangunin jam segini masih molor aja tuh anak mau jadi apa coba!"


"Iya iya mamah coba bangunin, Papa tau kan dia tuh susah bangun dari dulu, apalagi di sini makin susah pastinya"


"Jo, Jojo bangun," ucap Viona sambil menggoyang-goyangkan badan Jojo.


"Berisik, lagi mimpi sama Lisa nih"


"Bangun Jojo!" Viona tentu saja tidak menyerah membangunkan putranya. Ia sedikit meningkatkan volume suaranya saat membangunkan Jojo.


"Ish, berisik nanti si Lisanya pergi ah!"


"JONATHAN!" Teriak Arga yang sudah kesal melihat Jojo tak kunjung bangun.


"Eh copot copot, pala kau copot!"


Jojo langsung membuka matanya. Ia dikagetkan oleh teriakan menggelegar dari seseorang yang Jojo rindukan selama ini.


Dua manusia di depan Jojo sudah berkacak pinggang melihat tingkah Jojo yang tak pernah berubah sedari dulu.


Jojo auto mingkem dan mengucek matanya takutnya apa yang dilihatnya sekarang hanya hayalan seperti si Lisa yang selalu ia mimpikan.


"Pala siapa yang copot!" Balas Arga tajam. Kebiasaan memang si Jojo kalau ngomong gak difilter dulu.


"He he." Jojo menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


Tapi tak lama Jojo langsung bangun dan menerjang kedua manusia di hadapannya. Rasa rindu, haru, campur aduk jadi satu saat Jojo memeluk mereka berdua.


"Eomma~"


"Appa~"


"Jojo kangen"


"Apaan sih lu tong, kalau kangen kenapa kagak pulang?" Tanya Viona.


"Kagak boleh sama tuan besar mak"


"Tapi kamu di sini baik-baik aja kan?"


"Baek kok, keliatannya gimana? Ck, badan Jojo sekarang makin berisi aja gara-gara mereka ngasih Jojo susu tiap hari"


"Ya baguslah daripada kamu kurus kerempeng kaya keripik, mamah ikut bahagia"


"Ihhh Mama body shining deh"


"Body shaming Jojo," ralat Arga membernarkan perkataan Jojo.


"Iya deh iya terserah Papa." Jojo hanya mengangguk masih tak percaya ini mimpi atau tidak pasalnya Gilbert jarang membawa orang asing masuk ke mansionnya.


Tapi Jojo bahagia kalau ini bukan mimpi karena mungkin Gilbert sudah menganggap orang tua jojo bukan orang asing lagi.


"Kita ke bawah, tuan Gilbert sudah menunggu kita"


Jojo hanya mengangguk patuh masih dengan memeluk tangan kedua orang tuanya manusia-manusia yang sangat Jojo rindukan.


•••


Sesampainya di bawah, Jojo hanya menemukan 3 setan yang sudah siap di meja makan. Ia mengernyit heran. Si anak setan kemana, tumben jam makan malam ia tidak berada di meja makan.


Tanpa basa-basi lagi Jojo beserta orang tuanya duduk. Untuk menjawab rasa penasarannya, ia menatap Dante sambil memberikan kode.


Dante yang peka hanya tersenyum tipis dan mengangguk.


Kode dari Dante cukup membuat Jojo sedikit risih dan was-was entahlah Jojo masih ragu apakah perasaannya benar.


"Daddy sudah selesai makan dan daddy akan kekamar El." Terlihat Gilbert berdiri dengan wajah yang layu.


"Baiklah dad aku juga sudah selesai akan aku temani ke kamar El sekalian aku akan memeriksa El lagi," timpal Dante.


Gilbert hanya mengangguk dan berjalan meninggalkan meja makan dengan Jojo yang masih penasaran ada apa dengan El.


"Kak," cicit Jojo pada Clovis.


"Sebaiknya di meja makan jangan ada yang berbicara." Jawaban Clovis sungguh ngena banget ke hati Jojo yang lembut seperti sutra.


"Maaf." Jojo hanya bisa mengatakan itu dan kembali memakan makan malamnya.


"Aku sudah selesai silahkan kalian menikmati makan malamnya, aku permisi dulu." Clovis beranjak pergi.


"Hey Jojo!" Viona menepuk tangan Jojo cukup keras.


"Awss, mak sakit mak!" rengek Jojo.


"Halah segitu aja sakit noh si Udin digebukin mulu sama emaknya karena nakal kagak ngerengek kayak elu tong"


"Beda judul kali mak"


Jojo mendelik sebal, sebagai anak yang luar biasa pintar, tidak sombong, dan sangat menunjung tinggi budi pekerti Jojo tidak mau di sandingkan dengan si Udin yang nakalnya nauzubilah.


"Biarin," serempak Viona dan Jojo.


Arga hanya bisa menggeleng melihat kelakuan anak dengan istrinya yang tiada duanya.


"Ngomong-ngomong kamu di sini emang di cuekin gini?" Tanya Arga.


"Emmm engga pah mereka mungkin lagi sensi masalah El, tapi aku juga belum tau El kenapa"


"Kirain kamu selalu dicuekin, kalau iya lebih baik kamu pulang jangan di sini," ajak Viona.


"Emang sih gue sekarang lagi dicuekin dan si El yang selalu dapat apa yang dia mau tapi walaupun begitu gue engga bisa keluar dari penjara ini mak, tolong Jojo mak," batin Jojo menjerit.


"Udahlah lupakan aja soal itu, jalan-jalan ke taman belakang yuk, cari kunang-kunang"


Viona dan Arga tersenyum berbarengan. "Tentu sayang, ayo," balas Viona dengan lembut.


Sementara itu di kamar El.


Seorang remaja laki-laki sedang terbaring lemah di ranjangnya. Wajahnya pucat pasi dan napasnya yang sedikit berat.


"Eungh..." Lenguhan kecil itu keluar dari bibir mungil El.


Ketiga setan itu pun berinisiatif mendekati El. Tampak sekali raut wajah mereka yang khawatir.


"Apa ada yang sakit?" Tanya Dante.


El pun menggeleng. Tentu saja anak nakal itu berbohong. Perutnya sangat sakit, seakan ditusuk ribuan jarum.


"El sehat kak," balasnya dengan suara serak.


"Tidak usah berbohong sayang." Gilbert mengelus dan merapikan rambut El dengan lembut. Sedangkan Clovis mengelus tangan El yang mulai membengkak karena tertancap jarum infus.


El menghela napas panjang. Kenapa setan-setan ini selalu saja tidak termakan kebohongannya.


Ck, ia juga sudah lelah penyakitan seperti ini. Perasaan dia tidak melakukan hal yang aneh-aneh kenapa sekarang dia malah tiba-tiba sakit begini.


"Ingin makan camilan dan menonton film atau ingin istirahat lagi?" Tawar Clovis yang melihat wajah murung sang adik.


"Dimana Jojo?" Out of topic memang tapi saat ini El benar-benar merindukan sahabatnya itu.


Biasanya disaat seperti ini mereka bercanda. Jojo kalau soal membuat El tertawa tidak pernah gagal. Berbeda dengan ketiga setan yang selalu serius. El tidak suka.


"Kenapa mencari Jojo hm? Bukankah sudah ada kami bertiga yang menemanimu?" Jawab Gilbert namun dengan nada yang sedikit dingin. Nampaknya Gilbert tidak suka saat El lebih memilih Jojo dibanding dirinya.


"Bukan apa-apa, lupakan saja"


Tak terasa likuid bening mengalir dari pelupuk mata El. Sudah berhari-hari ia tidak bertemu dengan sahabat sekaligus kakaknya yang biasanya selalu berada di samping dirinya apapun yang terjadi. Rindu, El sangat rindu itu.


Peka adiknya sedang menangis dalam diam, Dante mengusap air mata El. "Apakah perutmu terasa sangat sakit?"


"Kakak akan berikan obat pereda nyeri, setelah itu tidur lagi oke?"


El tidak menjawab. Ia memejamkan matanya dan mencoba menyelami lagi alam mimpi yang lebih indah dibanding kenyataan. Ia lelah, ia ingin istirahat.


Sementara itu


"Kenapa nangis atuh?" Tanya Viona sambil mengusap air mata Jojo.


"Entah Ma, tiba-tiba Jojo kepikiran El"


Viona dan Arga tersenyum. Mereka paham betul kedua remaja itu tidak bisa dipisahkan.


"Ya sudah sana temui El," ujar Arga.


Jojo pun mengangguk antusias. Ia pun memeluk kedua orang tuanya dan mencium pipi mereka secara bergantian.


"Tetep di sini jangan tinggalin Jojo ya, bye bye." Setelah mengatakan itu ia pun langsung ngacir ke dalam ingin menemui El.


Setelah beberapa menit, akhirnya Jojo sampai di depan pintu kamar El yang menjulang tinggi. Niatnya sih dia ingin nyelonong begitu saja. Namun dirinya dihadang oleh Jake, bodyguard El.


"Maaf tuan muda, anda dilarang masuk"


"Lah kenapa bang?"


"Tuan muda El sedang beristirahat dan ini juga merupakan perintah dari tuan Gilbert"


Hati Jojo seakan teriris pisau tajam. Apakah Gilbert sekarang membencinya sampai-sampai ia tidak boleh menemui El. Ah, mungkin benar ia harus segera menyingkir dari keluarga ini dan memulai hidupnya yang baru.


Jojo pun tersenyum secara terpaksa. "El lagi sakit ya bang?"


"Iya tuan muda, oleh karena itu tuan muda El diwajibkan istirahat oleh tuan Gilbert"


Oke Jojo paham sekarang. Astaga... Kenapa dirinya memberikan ide gila itu kepada Dante.


Jojo pun mengangguk. "Ya udah deh bang, kalau El udah bangun sampaikan salam Jojo ya semoga cepet sembuh"


Setelah mengatakan itu Jojo pun melenggang pergi untuk menemui kembali orang tuanya yang mungkin masih berada di taman.


"Gue harap lo baik-baik aja El dan semoga lo bahagia tanpa gue"


To be continued~


Woy mau sad end atau happy end nih?


Ditunggu part selanjutnya ya, Kira-kira sad end atau happy end yah? haha


See you