
...Happy reading...
...Sorry for typo...
Badan El terasa remuk akibat kejadian kemarin. Untung saja sekarang dia bisa keluar dari tempat laknat itu berkat perjuangannya mengelabui si santet dan para kingkongnya.
Namun sayang seribu sayang, kini El mendapat tatapan-tatapan aneh dari para pengguna jalan. Bagaimana tidak? Ada seorang anak penuh dengan perban, memakai piyama rumah sakit, eh malah berjalan santai tanpa alas kaki pula.
Si El mah bodo amat, yang terpenting ia bisa pulang ke rumah Jojo sekarang.
Setelah beberapa menit menjadi tontonan, sampailah El di rumah sahabatnya. "TANTE VIONA, JOJO, OM ARGA, SIAPAPUN ITU BUKAIN PINTUNYA!" Teriak El sambil menggedor-gedor pintu.
Sedangkan keluarga harmonis yang sedang sarapan pagi itu mengelus dadanya sabar. Untung saja mental mereka kuat menghadapi manusia yang bentukannya seperti El ini.
Betapa terkejutnya Jojo saat melihat sahabatnya pulang dalam keadaan mengenaskan. "Woy lu kenapa?"
"Cepetan masuk sebelum si santet itu nemuin gue!"
Jojo menganga bingung. Namun belum juga selesai dengan imajinasinya, El sudah menarik lengan Jojo agar masuk dan tak lupa El mengunci pintunya.
"El udah, ini udah di dalem rumah dan lo kenapa kayak mumi gini sih? Lo kabur dari RSJ?" Selidik Jojo.
"Berisik gue laper!" El langsung menyambar makanan yang ada di atas meja untung saja tante Viona dan om Arga sudah tak ada di meja makan, bila ada mungkin El bisa di katakan tidak sopan.
Jojo hanya bisa menghela napas melihat kelakuan teman ajaibnya ini tapi ke-kepoan Jojo tak bisa di tunda lagi Jojo akhirnya mengeluarkan suaranya lagi.
"Lo beneran kabur ya dari RSJ? Kembali lagi yuk gue anter lo suer deh"
"Anjing lo, gue lagi makan lo engga liat!" Kesal El.
El benar-benar kelaparan setelah kabur dan berjalan cukup jauh melewati lembah, hutan, delapan tikungan, dan sepuluh tanjakan.
"Sorry," ringis Jojo yang sedikit ketakuan dengan sikap El seperti baby singa.
Sementara di sisi lain...
"****! bocah itu kabur," kesal Dante.
"Cari bocah itu sampai ketemu aku tak mau dikatakan tak bertanggung jawab!" Titah Dante pada para bodyguarnya.
"Baik tuan." semua bodyguard bubar mencari informasi tentang anak nakal itu.
Dante duduk di kursi kebesarannya dengan meneliti CCTV di rumah sakitnya. Sungguh Dante kecolongan sebagai dokter hanya dengan bocah nakal itu.
Tak lama berselang ponsel Dante bergetar menandakan ada sebuah pesan dengan cepat Dante melihatnya dan langsung berdiri, bergegas pergi dan menyambar kunci mobilnya dengan cepat.
Dalam perjalanan Dante tak menghiraukan pengemudi lain yang dia hiraukan adalah bocah nakal itu. Dante tak mau terjadi sesuatu dengannya entah mengapa perasaan Dante menghangat setelah bentemu bocah nakal itu.
...
Tok
Tok
Tok
Suara ketukan pintu yang tak sabaran membuyarkan lamuanan Jojo sedangkan El sudah kabur dengan susah payah karena tubuhnya malah tak bisa berkompromi.
"El..." Baru saja Jojo akan menoleh ke arah El tapi yang diajak bicaranya sudah tak ada di tempat.
"Anjir dasar si babi El!" Kesal Jojo.
Tok
Tok
Jojo yang tak tau apa-apa hanya bisa kicep dengan tubuh yang sudah gemetar sedangkan El sudah bersembunyi di dalam lemari dengan keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya.
Bukan Dante namanya jika memiliki stok kesabaran yang banyak. "Dobrak pintunya," perintah Dante kepada para bodyguard-nya.
Hanya butuh hitungan detik pintu kayu rumah Jojo sudah dibuat rusak oleh para kingkong tidak beradab.
Dante masuk dengan angkuhnya. "Dimana anak nakal itu?"
Jojo dibuat gelagapan berhadapan dengan Dante. "A- anak nakal siapa bang?" Cicit Jojo.
"Saya tidak tahu namanya tapi yang pasti dia masih memakai piyama rumah sakit saat dia kabur dan saya yakin dia berada di rumah ini berdasarkan rekaman CCTV"
"Anjir orang ini pasti yang dihindari El tadi. Astaga anak itu bikin masalah apa sampai dikejar-kejar begini," batin Jojo.
Perhatian Dante tiba-tiba teralihkan akibat suara-suara aneh yang berasal dari lemari. Ia melangkahkan kakinya ke lemari tersebut tanpa sepatah kata pun.
El dibuat ketar-ketir karena ia mendengar ada suara langkah kaki mendekat. Jantungnya terus berpacu cepat diikuti pula dengan napasnya yang mulai tidak teratur.
El yang sibuk dengan pikirannya sampai-sampai tidak menyadari Dante sudah berjongkok tepat di sebelahnya.
"Lagi apa?" Tanya Dante.
"Lagi jagain ****** Minion gue biar gak dimaling, ya nggak lah! Lo gak liat gue lagi ngumpet?"
Beberapa detik berlalu dan El baru tersadar akan sesuatu. Ia kemudian menolehkan kepalanya secara perlahan. Wajah Dante dengan ekspresi dinginnya menjadi pemandangan pertama yang El lihat. Tenggorokan El terasa sangat kering sampai-sampai ia kesusahan menelan salivanya sendiri. "Aduh mampus gue," ringis El dalam hati.
Jojo yang mendengar percakapan absurd itu menepuk jidatnya. Para bodyguard pun turut menahan tawanya mendengar percakapan tersebut.
Dengan cekatan Dante menggendong El bak karung beras. El sebenarnya ingin mencekik si dokter ini, namun tenaganya sudah terkuras habis.
"Pasien nakal." Dante menepuk pantat El membuat El memekik kaget.
El menatap wajah sahabatnya nanar. "Jo..." Mata El sudah siap menumpahkan muatannya meminta bantuan Jojo. Jojo hanya bisa menggeleng tanda ia tidak mampu menolong sahabatnya.
•••
Gilbert menatap serius putra keduanya. Ia bergegas menuju rumah sakit setelah mendapat kabar yang cukup mengejutkan dari Dante. Begitu pula Clovis, dia yang sedang berada ditengah-tengah rapat pun langsung bergegas ke tempat adiknya bekerja.
"Hasilnya sudah keluar?" Tanya Gilbert kepada Dante yang sedang mengecek beberapa berkas tentang identitas El.
"Belum dad, mungkin beberapa jam lagi," jawabnya.
Dante menghentikan aktivitasnya sejenak. Ia menaruh berkas-berkas yang sudah ia baca dan menyandarkan punggungnya di kursi kerjanya.
"Daddy sudah tak sabar ingin mengetahui apa benar dia anak bungsu daddy"
"Aku pun sama dad, andai dulu bunda tidak jahat mungkin sekarang dia ada bersama kita," balas Clovis. Di hatinya masih tersisa sedikit rasa penyesalan akan perbuatan Arin yang sangat disayangkan.
Dante memijit pelipisnya, harinya sungguh melelahkan setelah melewati berbagai cobaan, tapi Dante sangat bahagia bisa bertemu dengan bocah nakal yang bisa membuatnya tersenyum walaupun tak terlihat oleh orang lain.
"Sabarlah, kalau memang benar dia adikku, sudah kupastikan dia tak akan bisa kabur lagi dari tangan dinginku," seringai Dante.
"Bukan hanya kamu, daddy juga tak akan membiarkan cahaya hidup daddy menghilang kembali setelah bertahun-tahun"
"Ah, jangan sampai dia pergi lagi seperti Vero. Sudah cukup Vero yang meninggalkan kita," timpal Clovis.
Dalam keheningan mereka terdiam dengan pemikiran masing-masing dan tanpa mereka sadari di bagian ruangan lain sedang ada kerusuhan antar babi dan kingkong yang mungkin akan menjadi kebun binatang dadakan.
To be continued ~