BABY/I EL (END)

BABY/I EL (END)
Episode 23: Lagi



Happy reading


Sorry for typo


Akan tiba waktu mulut dikunci kata tak ada lagi


Lirik lagu ini mungkin sangat pantas untuk kedua bocah nakal ini karena lihatlah Gilbert tak main-main dengan ancamannya.


Kedua bocah nakal ini sudah tak berdaya dengan mulut yang ditutup lakban, tangan dan kaki yang dirantai.


Sudah seperti buronan mafia saja mereka, tapi ini adalah kesalahan mereka. Gilbert sudah sangat jengkel dengan ulah bocah ini dan mungkin dengan mendapat hukuman kasar seperti ini akan jera.


"Mptshmmmptstppsmmmmtps"


El mencoba bernegosiasi dengan berbicara tak dimengerti mereka semua dan teganya mereka hanya diam dengan masing-masing gadget di tangannya tanpa mempedulikan El dan Jojo yang berteriak-teriak tak jelas.


Gilbert dengan angkuhnya melirik jam yang bertengger di tangannya dan bangkit dari duduknya.


"Dante, Kevin sepertinya sudah waktunya eksekusi untuk dua bocah ini!"


Dante dan Kevin pun langsung menyimpan gadgetnya dan berdiri dari duduknya. "Sepertinya begitu"


"Akan ada drama lagi nih," timpal Clovis yang ikut berdiri.


Dante dan Kevin menyeringai membuat dua bocah nakal itu langsung bergidik ngeri.


El melirik Jojo yang sudah pucat pasi mungkin El juga kalau bisa lihat wajahnya sendiri akan sama seperti Jojo pucat pasi.


"Mpthhptmptpmt!" Teriak El berusaha berbicara tapi mereka hanya diam.


"Diam dan rasakan!" Ujar Dante.


Dante dan Kevin berjalan ke arah lemari tempat pernak-pernik mereka disemayamkan.


Dengan telaten Dante dan Kevin


mencari-cari alat apa yang cocok untuk dua bocah nakal itu.


"Ah, ketemu," teriak Kevin dengan mengacung-acungkan alat yang cukup besar kalau di bandingkan dengan yang biasanya.


Sontak semua tersenyum tapi tidak dengan El dan Jojo yang melihatnya.


"Mptpppmmmtpttmmmppt!" Sekarang Jojo yang mulai angkat bicara tapi semua tak mengindahkannya.


Jojo berusaha berbicara dengan El di balas oleh El, kalau dilihat mungkin mereka seperti alien yang sedang mengobrol.


Kevin dan Dante mendekat dengan membawa alat di tangannya sungguh El dan Jojo sudah ingin kabur tapi semua ini nihil.


Mereka hanya bisa melotot dengan ocehan yang tak dimengerti serta kaki dan tangan yang bergerak-gerak sebisa mungkin untuk menghindar.


"Ini suntikan khusus kalin sengaja om Gilbert memesannya"


"Gede juga ya, sudah seperti suntikan gajah," celetuk Clovis.


"Memang didesain untuk suntikan gajah namun daddy mendesainnya agar bisa menjadi suntikan untuk kedua bocah nakal ini!"


"Cukup mengesankan dan muat obat lebih banyak mungkin akan sedikit sakit tapi ini lebih baik dari yang biasa kakak pakai"


"Eksekusi!" titah Gilbert.


"Baik dad," kompak kedua titisan setan.


"Mptttpttpmmmtptttppptmmm" kedua bocah nakal itu kembali berbicara tak jelas tapi Kevin dan Dante tak menanggapinya.


Kapas alkohol sudah menembus kulit lengan kedua bocah nakal itu, Dante memegang El dan Kevin memegang Jojo.


Jojo dan El kembali mencoba bergerak tapi nihil mereka sudah capek hanya bisa berbicara tak jelas dan bergerak pun sangat sulit.


"Siap ya"


Dante dan Kevin menusukan jarum suntik di lengan kedua bocah nakal itu membuat keduanya menjerit dan memejamkan matanya.


Mereka hanya tersenyum melihat ketakutan El dan Jojo padahal suntikan yang di berikan Dante dan Kevin adalah suntikan seperti biasa mereka pakai.


Gilbert hanya ingin memberikan hukuman saja dengan membuat suntikan seperti itu.


Lemas badan kedua bocah itu sudah seperti jelly dengan keringat bercucuran dan tak lupa air mata.


El mencoba menempelkan kedua tangannya mencoba memberikan kode minta maaf kepada Gilbert dengan air mata bercucuran.


Gilbert yang peka langsung mendekat dan menyeka air mata El. "Jangan nakal daddy tak akan main-main lagi dengan hukumanmu!"


El hanya bisa sesegukan berbeda dengan Jojo yang sudah tak sadarkan diri dan sudah dibuka lakban di mulutnya.


"Janji engga bakal nakal lagi?"


"Dante cepatlah lakukan sebelum dia seperti Jojo"


"Daddy mau melihat dia merasakan hukumannya!"


"Baiklah, ini hukuman sekaligus obat untukmu bocah nakal," timpal Dante.


Dante mendekati lengan El yang belum terjamah jarum suntik "Tahan ya mungkin ini akan sedikit lebih sakit dari yang tadi"


Badan El mencoba bergerak-gerak dengan air mata makin deras tapi Dante dan semua orang yang melihatnya tidak peduli yang mereka pedulikan kesehatan El.


Dante dengan pelan menggosokan kapas alkoholnya dan El kembali terus bergerak-gerak tak jelas.


"Diam atau kau akan merasakan jarum suntik ini menembus pantatmu juga!" Kesal Dante.


El mencoba diam dengan tangan mengepal mencoba menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya terutama lengannya.


Dante menusukan jarum suntiknya dan mengeluarkan cairan di dalamnya benar kata Dante yang ingin lebih sakit dari pada sebelumnya.


Gilbert yang tak sanggup melihat El kesakitan mencoba membuka lakban di mulut El.


"Akhhh.... Sakit udahhhh," El berteriak kencang.


"Udah sakitt huaaaaaa sakit"


"Berisik," kesal Dante yang sudah selesai dengan aksinya


"Tidur," titah Dante.


"Sakit daddy sakit," rengek El.


Gilbert mendekat dan membuka rantai yang sedari tadi membelenggu tangan dan kaki El.


El langsung memeluk Gilbert menyalurkan kekesalan dan kesakitannya dengan terus masih sesegukan.


"Sudah-sudah nanti kau malah sesak sekarang tidurlah daddy temani"


"Gendong," rengek El dengan wajah memelasnya.


Gilbert tak bisa menolak dan menggendong El ala koala dengan terus mengusap-usap punggung El supaya tenang.


"Jalan keluar," pinta El memelas kepada Gilbert.


"No baby, kamu harus istirahat. Setelah kau sembuh nanti kita jalan-jalan"


El mengangkat kepalanya dari pundak Gilbert. Ia kemudian menatap daddy nya penuh harapan.


"Janji?"


"Tentu, sekarang tidur"


Bukannya tidur El malah melakukan negosiasi lagi dengan Gilbert.


"Dad, El ingin sekolah umum," rengeknya.


"Ti–"


"Please dad..."


"Baiklah, akan daddy pikirkan lagi"


"Terima kasih." Setelah itu El menutup matanya, menggeliat mencari kenyamanan di gendongan Gilbert.


Gilbert terus mengusap punggung El, menyalurkan rasa nyaman kepada putra bungsunya.


Tak butuh waktu lama, alam mimpi sudah menjemput El. Dengkuran halus pun sudah terdengar. Semuanya bernapas lega.


Dengan sangat perlahan Gilbert menurunkan putranya dari gendongan menuju ke kasur. El mampat sedikit terusik, namun dengan elusan di kepalanya mampu menenangkan El kembali.


"Daddy yakin membawa mereka berdua jalan-jalan?" Tanya Clovis.


"Benar dad, bagaimana jika mereka kabur lagi?" Sambung Dante.


"Tenang saja, daddy akan menyiapkan semuanya"


"Lalu untuk sekolahnya?" Clovis kembali bertanya.


"Entahlah, daddy juga tidak tahu"


Mari kita doakan agar para setan melarang eh maksud author mengizinkan babi El untuk bersekolah umum.


To be continued~