
Happy reading
Sorry for typo
"Dad aku ingin pulang"
Gilbert pun melirik ke seorang remaja laki-laki yang kini sedang berdiri tegak di hadapannya. Kemudian ia meletakkan kertas di tangannya kemudian menatap Jojo intens.
"Tidak," jawab Gilbert singkat.
"Dad please, let me go home"
"My answer is final Jonathan, no!"
"Why?"
"Banyak musuh di luaran sana Jojo, daddy tidak mau hal yang menimpa El menimpamu juga"
"Ck, gak usah sok peduli deh," ucap Jojo namun sangat lirih.
"Did you say something Jojo?" Tanya Gilbert yang hanya mendengar Jojo bergumam tidak jelas.
"Nothing. Please dad kan ada Oliver atau siapa kek yang bisa jaga Jojo"
"Sekali tidak tetap tidak Jonathan, sekarang kembali ke kamarmu dan tidur siang atau kamu akan mendapat hukuman," perintahnya tegas.
"Daddy~ temani El bobok"
Ah suara yang sangat Jojo kenali. El tiba-tiba datang dengan muka bantalnya ke ruang kerja Gilbert.
"Eh anjing Jojo, ngapain lo di sini?" Tanya anak nakal itu polos.
"Renang! Ya nggak lah. Dad aku ke kamar dulu," pamit Jojo. Ia tak ingin sampai rasa kesalnya menimbulkan masalah.
Dasar Gilbert tidak peka. Argh Jojo frustasi dengan semua ini. Pulang gak boleh, gak pulang makin cemburu.
Melihat kepergian sahabat sekaligus kakaknya El pun bingung, tidak biasanya Jojo seperti itu. "Jojo kenapa dad?"
"Mungkin dia marah sama daddy karena tidak mengizinkannya pulang," balas Gilbert sambil menggendong putra bungsunya.
"Kenapa tidak diizinkan? Kasihan Jojo, pasti dia kangen Mama dan Papanya"
"Ssstt... Tidur ya, daddy punya alasan tersendiri untuk itu semua"
El hanya mengangguk dan mendusel-duselkan kepalanya di ceruk leher Gilbert. Aroma lemon dan pine dari parfum Gilbert menjadi candu tersendiri bagi El.
Tak butuh waktu lama El sudah memasuki alam mimpinya bahkan sebelum ia menyentuh kasur.
Gilbert hanya bisa tersenyum bahagia ini yang Gilbert inginkan andai sedari dulu El seperti ini mungkin Gilbert akan selalu tersenyum.
"Dad"
Gilbert mendongak melihat siapa yang memanggilnya,dan ternyata anak keduanya yang memanggilnya.
"Ada apa?"
"Boleh aku memangkunya untuk ditidurkan"
"Hm"
El diserahkan ke pangkuan Dante tapi dasar El yang mungkin merasakan perasaan yang beda malah langsung membuka matanya dan merengek.
"Daddy~ engga mau sama kak Dante"
"Huaaa, engga mau"
Gilbert langsung mengambil El lagi dari pangkuan Dante membuat Dante hanya bisa melongo kaget sekaligus kesal.
"Cup~ cup~cup~" Gilbert menimang-nimang El agar diam dan tak merengek lagi.
"Sudah sudah tidur lagi ya, daddy akan menjaga kamu"
"Awas kalau daddy kasih El ke kak Dante lagi! El bakal marah sama daddy"
"Hm"
"Janji"
"Iya"
"Awas kalau bohong bisulan sebadan loh"
Mulut El langsung di comot oleh Gilbert karena kata-katanya yang kotor.
Dante pergi dari pandangan kedua manusia yang paling Dante sayangi entahlah ada rasa kehilangan setelah El tak mau lagi beedekatan dengannya.
•••
"Akh... Gue harus berbuat apa sekarang!"
"Diem di sini juga buat apa, hanya jadi pajangan saja"
Jojo hanya mondar-mandir seperti setrikaan pikirannya melayang mencari solusi agar dirinya bisa pergi dari sini atau bisa mendapatkan kasih sayang dari semua orang.
Lamunan Jojo terhempas saat Dante dengan wajah murung dan datarnya masuk begitu saja tanpa permisi. Dasar tidak tau sopan santun
"Kak Dante?"
"Hm"
Dante langsung tiduran di atas kasur Jojo tak mengindahkan Jojo yang masih kebingungan.
"Kak~"
"Hm"
"Kakak~" rengek Jojo lagi.
"Apa Jo, kakak lagi kesal!" sentak Dante dan langsung terbangun dari rebahannya.
"Maafin Jojo kak"
"Dahlah kamu nggak akan bisa ngertiin kakak." Dante meninggalkan Jojo tapi baru saja akan membuka pintu tangan Dante di cegal.
"Ada apa sih kak? Jojo nakal ya, maafin Jojo kak please jangan seperti ini sama Jojo," lirih Jojo menunduk takut.
"Hey kamu nggak salah Jo"
Dante merasa bersalah saat melihat Jojo yang ketakutan. Ck, dirinya terbawa emosi tadi. Seharusnya ia tidak bersikap kasar kepada Jojo yang tidak tau apa-apa.
"Maaf kakak terbawa emosi soal masalah tadi"
Jojo mendongak "emang masalah apa kak? Apa Jojo boleh tau?"
Dante mengangguk dan membawa Jojo kembali ke kasur untuk duduk.
"Kakak hanya kesal karena El selalu mengacuhkan kakak, padahal kakak sudah minta maaf dan sudah menyesal"
"Oh karena El"
"Hm"
"Kak boleh aku bicara sama kak Dante?"
"Kita sedang berbicara Jojo, kau mau apa lagi? Bicara sambil kayang?"
"Ish, bukan gitu maksudnya kak"
"Terus apa?"
"Aku... Kesal dengan El yang selalu mendapat perhatian sedangkan aku tidak. Iya aku tau kalau kedudukan El lebih tinggi daripada aku di keluarga ini, aku sadar diri kok"
"Aku hanya ingin diperhatikan juga. Mana aku engga boleh pulang, terus aku di sini buat apa?"
Tangan Dante terulur mengusap kepala Jojo lembut. "Maafkan kami yang tidak menyadarinya."
Kembali hening, Jojo masih menikmati usapan kepala dari Dante. Rasanya sangat nyaman sampai-sampai ia enggan untuk menghentikan gerakan tangan sang kakak.
Tiba-tiba saja terbesit sebuah ide gila di benak Jojo. "Kenapa kak Dante gak buat El sakit aja biar El bergantung sama kakak?" Ucapnya lirih namun masih bisa didengar oleh telinga tajam Dante.
Usapan Dante berhenti. Jojo sedikit meringis kenapa mulutnya ini selalu ceplas-ceplos dalam berucap. Ia takut sekarang Dante marah dan menghukumnya.
"Sial, kenapa ide itu tidak terpikir olehku"
Jojo menganga tak percaya. Reaksi sangat tak terduga dari Dante. Oke fix Dante sudah gila.
Segera ia merebahkan tubuh Jojo dan memasangkan selimut. "Tidur siang! Kakak akan bersenang-senang terlebih dahulu dan terima kasih idenya"
cup
Satu kecupan mendarat di kening Jojo lantas Dante pergi meninggalkannya seorang diri.
Jojo tak ingin ambil pusing, ia segera memejamkan matanya dan berdoa semoga Dante tidak membuat El sakit parah. Ah ia juga harus memikirkan bagaimana keluar dari mansion ini. Jojo sudah muak.
•••
"Obat racikan ini akan membuat El sedikit sakit tapi tak apa karena nanti El akan selalu bersamaku"
Tawa Dante menggelegar di seluruh ruangan tempat dirinya melakukan hal di luar nalar manusia. Kejam? Tentu saja, gila? Apa lagi. Dua kata mendefinisikan sifat Dante.
Dante pun keluar dari ruangannya dengan obat yang sudah siap di saku celananya.
"Bersiaplah kau anak nakal"
Sementara itu di sisi lain...
"Anjir kok gue tiba-tiba merinding ya? Apa di kamar ini ada penunggunya?" Monolog El sambil mengusap-usap lengannya.
To be continued~