AUDI [ This Love ]

AUDI [ This Love ]
27



Audi keluar dari lift dengan wajah masam, pasalnya dia menghabiskan 2 jam didalam ruangan Arshel dengan pria itu memeluknya, apa pria itu tidak mempunyai pekerjaan? Audi menarik rambutnya kasar, setelah ini pasti dia akan kena marah lagi sama managernya


" Audi kamu dari mana saja?" tanya Catrina, Audi berjalan dengan lesu kemejanya, wajahnya terlihat kesal


" tadi manegar mencarimu "


" iya aku tahu, aku akan ke ruangan nya sekarang " timbal Audi dan membawa salinan berkas di atas mejanya


****


Audi menarik nafas panjang, dia harus menguatkan hatinya karena ini, untuk menerima amukkan sang manager, Audi mengetuk pintu terlebih dahulu dan masuk kedalam, dia melihat Antony yang sibuk didepan laptop, Audi berjalan mendekat dengan jantung berdebar karena gugup


"Manager, ini berkas yang anda inginkan"


" taruh saja disitu" sumpah Audi kaget sekali mendengar itu, managernya tidak marah, tidak membentaknya, wah ini luar biasa, Audi pamit dengan cepat, dia takut manegarnya akan kembali sadar dan memarahinya, sepeninggal Audi, Antony menatap pintu ruangannya, dia penasaran ada hubungan apa Audi dengan Direktur, pasalnya Direktur sendiri menelponya dan meminta agar Antony tidak marah karena Audi sedang berada di ruangan sang direktur, bukan itu masalahnya, masalahmya adalah 2 jam Audi disana


"apa yang dilakukannya disana? " Antony pusing memikirkan itu jadi dia kembali fokus mengerjakan pekerjaan nya daripada memikirkan hal itu


Audi duduk di kursinya kembali dengan muka lesu


" Bekerja di perusahaan, dengan Arshel yang kembali menjadi boss, apa - apaan ini? sikap Arshel sekarang juga berubah"  Audi sungguh pusing memikirkan nya


" Audi apa kamu lagi ada masalah?" tanya Dave, Audi menatap Dave dengan pandangan mengiba, Dave melihat Audi penasaran


" ada apa?" tanya Dave lagi


" aku sedang di ganggu makhluk yang menyusahkan" Dave tidak mengerti maksud Audi


" apa!! " Pekik Sisil


"Astaga dia selalu berbicara dengan keras" Kata Catrina menutup kuping nya


" Sisil suaramu terlalu keras" imbuh Catrina, Dave menatap sinis pada Catrina dan Catrina membalasnya tak kalah sinis


" Audi kamu tenang saja, aku akan mencarikan pengusir hantu untukmu" lanjut sisil, Audi menepuk jidat nya mendengar itu


" tidak, bukan makhluk seperti itu"


" jadi ?" tanya Dave


" pasti itu mantan kekasihmu iya kan? Jujur saja" imbuh Catrina, Dave Kambali menatap sinis Catrina, tapi Catrina diam saja, malas menlayani anak kecil


" tidak, dia bukan mantan kekasihku"


" jadi, kekasihmu?" tanya Sisil


" tidak, dia itu bukan siapa- siapa"


" jadi dia siapa?"


" ehem.....!!" deheman keras itu mengagetkan empat orang yang sibuk berbicara, mereka melihat ngeri Antony yang berkacak pinggang sedang manatap tajam mereka satu- satu


" matilah aku" sambung mereka berempat dalam hati


****


Setelah dimarahi dan dinasihati habis- habisan, mereka hanya diam dimeja mereka dengan Antony yang duduk mengawasi mereka, Mereka berempat mengeluh di dalam hati, bahkan hanya kerena memperbaiki posisi duduk saja sudah ditegur


"fokus saja kerjanya jangan banyak gaya"


Audi melihat jam ditanya sudah jam 12.00 saatnya makan siang, dia pagi tadi tidak sempat sarapan jadi perutnya terasa sangat lapar, Mereka saling lirik berusaha mengkode agar ada salah satu yang berbicara pada managernya bahwa sekarang waktu makan siang, jadi karena hanya Dave pria disana jadi dia pasrah saja setelah disudutkan tiga perempuan


" em...menegar" managernya menatap Dave dengan tatapan tajam,  nyali Dave sudah hilang melihat nya


" apa! "


" itu nada tidak bisa lembut sedikit apa" kesal Dave dalam hati mendengar itu


"Sekarang sudah waktunya makan siang menegar" Antony melihat jam ditanganya, dia berdiri dan langsung saja pergi, Dave hanya melongo melihat itu


Audi menepuk pundak Dave


"Sudah lebih baik kalian pergi makan siang " Sisil melihat Audi dan bertanya


" apa kamu tidak ikut?"


" tidak, aku membawa makan siang ku dari rumah"


" baiklah kalau begitu" Sisil menarik tangan Catrina dan membawanya pergi setelah berpamitan pada Audi


" kenapa kamu tidak ikut?" tanya Audi pada Dave


" malas"


" kenapa? apa karena Catrina?"


" tidak, kenapa harus karena dia, memangnya dia siapa " jawab Dave nyolot


" kalau tidak kenapa kamu jawabnya seperti itu?"


" tidak...bukan begitu"


"Dave!!" teriak Sisil, Dave menoleh


" aku kira kamu akan mengikuti kami, ayo Catrina sedang menunggumu" jawab Sisil cepat , Audi menatap Dave saat itu, sudut bibir Dave terangkat sedikit


"apa dia tersenyum, karena mendengar catrina menunggunya"


" males, aku makan sendiri saja" jawab Dave, Audi memicingkan matanya menatap Dave curiga


" banyak bicara " Sisil langsung saja menarik Dave dari sana dengan perlawan Dave, tapi pada akhir dia mengikuti Sisil dengan senyum tipis, Audi melihat itu menggelengkan kepala nya


" bilangnya tidak tapi mau"


" iya kamu" suara terdengar di belakang kuping Audi, Audi merinding mendengar itu, dia kenal suara tersebut, Audi tidak mau berbalik dia pura- pura tidak dengar dan berjalan kemejanya


Arshel menatap itu dengan kesal, dia berjalan mendekati Audi yang sudah duduk di kursinya


" ayo kita makan siang " ajak Arshel, Audi pura- pura tidak dengar, Arshel menggeram pelan menarik kursi Audi hingga menghadapanya, mata Arshel menatap Audi dengan sangat dalam, dia ingin membuat Audi merasakan kalau dia tidak suka diabaikan


"kenapa kamu mengabaikan aku?" tanya Arshel dengan menekan suaranya, Audi malas membalasnya, dia ingin memutar kembali kursinya tapi Arshel kembali menahan kursi tersebut


Dia menatap Audi dengan sangat intens membuat Audi jadi risih, Audi dari tadi menahan rasa gugupnya


" ayo ikut denganku" Arshel langsung menarik tangan Audi hingga Audi sampai berdiri dari kursi, Audi melepaskan tangan Arshel dan mendapat tatapan tajam dari Arshel,


Arshel mengambil wajah Audi dengan tangannya hingga Audi menatapnya


" aku tidak suka kamu diamin aku" kata Arshel dengan nada lembut membuat Audi menatapnya, degupan jantung Audi menari didadanya


" makan siang bersamaku" Arshel memaksa, Audi kembali kemood awal, kesal


" tidak, kamu makan saja sendiri, aku akan makan disini"


" disini, baiklah aku akan memesan makanan untuk kita"


" tidak, kamu pergi saja keluar untuk makan siang, aku akan memakan makanan ku yang ku bawa dari rumah" tunjuk Audi pada bekal makanan disamping komputernya


Arshel hanya diam saja, Audi sudah merasa jengah dia menjauh dari Arshel dan duduk di kursinya


Arshel menarik kursi duduk Dave yang ada di samping meja kerja Audi untuk duduk mendekati Audi, Audi menatap Arshel dengan kesal


"pergi jauh - jauh " Kata Audi di dalam hati


" ayo kita makan siang bersama " Audi menatap Arshel dengan kesal, Arshel tersenyum manis disana, Audi tambah kesal melihat nya


"Aku kan sudah bilang pergi saja sendiri, aku sudah membawa makananku sendiri"Audi menjawab dengan nada kesal


Audi mengambil bekalnya dan membuaka tutupnya, dia melihat disana ada nasi berserta lauk pauknya, ada daging dan sayuran, Ibunya memang yang terbaik,


Audi mengambil sendok dan mengelapnya dengan tisu, dia sudah mengambil makananya dan memasukkan kemulut, masakan ibunya memang yang terenak, Audi menatap Arshel yang masih duduk disampingnya yang dari tadi memperhatikan Audi, dia menatap Arshel seolah berkata, pergi jauh- jauh kenapa masih disini, Arshel hanya tersenyum disana, Audi mengabaikannya


"Biarkan saja dia tidak makan siang dan kelaparan, siapa suruh dia menungguku"


Audi kembali akan memasukkan makanan kemulut, tapi sebuah tangan menarik pergelangan tangan Audi yang memegang sendok dan memakan makanan itu dengan tangan Audi yang masih memegang sendok, Audi kaget, sendok itu sudah bekas dirinya, jantung Audi berdebar dengan sangat kencang, Arshel hanya mengunyah makanannya dengan pelan sambil tersenyum menatap Audi, tangannya masih menggenggam tangan Audi, Audi tersadar dan menarik tangannya dari Arshel


" pergi sana, jangan menganggu " Kata Audi dengan gugup, dia salah tingkah setelah kejadian tadi


" aku lapar "


" makan saja diluar"


" tapi aku mau makan itu" tunjuk Arshel pada bekal makanan Audi


" ini makanan ku, kamu beli saja diluar sana" Arshel mengerucutkan bibir, Audi merasa kesal melihat tingkah kekanak-kanakan pria yang duduk disamping nya


" kamu kan bisa berbagi denganku"


" aku tidak mau berbagi"


" kamu mau berbagi atau...aku akan tetap disini sampai semua tim selesai makan dan kembali" ancam Arshel, Audi menatap Arshel santai


"Memangnya kamu pikir aku takut"


" silahkan saja" Arshel terdiam mendengar itu, Audi tersenyum simpul


" Aku menang " Kata Audi didalam hati dengan puas


" baiklah " Audi menatap kaget Arshel mendengar nya


"Apa dia serius mau duduk disana? apa yang akan rekan kerjaku pikirkan nanti, ini tidak boleh terjadi"


Audi menatap jam tangannya, waktu makan siang tinggal 30 menit lagi, kemukinan besar temannya akan kembali dalam 20 menit lagi, Audi menatap Arshel yang memainkan  ponselnya seakan pria itu serius dengan ucapannya


" kamu boleh makan juga" Arshel menatap Audi dengan mata berbinar mendengar nya


" suapi aku ya"


" makan saja sendiri " Kata Audi ketus


" tapi sendoknya hanya satu"


Audi menatap Arshel sinis, dia menusuk daging dengan kasar menggunakan garpu, Audi kesal


Arshel membuka mulutnya siap menerima suapan dari Audi, Audi mengambil makananan itu dan menyuapkannya pada Arshel, Arshel menatap Audi dengan penuh cinta


" rasanya enak sekali" Audi hanya diam saja, saat Audi akan makan untuk perutnya yang sudah sangat kosong


"Sekarang aku ya" Arshel mengambil alih sendok dan mengarahkannya kemulut Audi, Audi gagu rasanya, wajah Audi memerah karena malu sedangkan wajah Arshel berseri, Audi menatap sendok yang diarahkan Arshel,


" Terserah lah aku sudah lapar "


Audi memakan suapan yang disarankan padanya, Tangan Arshel terangkat dan mengelap sudut bibir Audi dengan lembut, Audi kembali gugup merasakan itu


" makan itu yang benar"


"Dia pasti sengaja, aku yakin aku makan dengan benar, dia saja yang cari kesempatan untuk menyentuh bibirku"


Selama makan Audi hanya pasrah saja, pasalnya yang memegang kendali penuh bekal makannya adalah Arshel, dia akan menyuapin Audi dan setiap selesai menyuapi Audi dia akan mengusap bibir Audi, setalah itu baru menyuapi untuk dirinya hingga makanan itu tandas tak tersisa, bahkan Arshel juga minum, minuman yang Audi bawa


" aku juga mau minum" Audi geli mendengar nada bicara Arshel yang terdengar manja ditelinga Audi, Audi memberikan botol minumannya, Arshel langsung meminumnya


" rasanya manis, karena ada bekas bibirmu disini" tunjuk Arshel padal botol minuman itu, Audi menelan susah payah salinannya mendengar perkataan Arshel


" Ya Tuhan, pria ini membuat jantungku berdetak cepat "


" sebentar lagi rekan ku datang lebih baik bapak pergi saja"


" apa kamu mengusirku dan jangan panggil aku dengan panggilan itu, aku tidak suka " kata Arshel dengan cemberut


" tapi kamu kan memang atasanku, sudah sepantasnya aku memanggilmu bapak"


" tapi aku tidak suka"


" terserah bapak saja, lebih baik bapak pergi saja"


" cium dulu " Audi langsung menatap Arshel sinis


" tidak" jawab Audi dengan tegas, dia menutup mulutnya, agar arshel tidak bisa menciumnya, Arshel berdiri dengan senyum jahatnya, dia membungkuk sedikit


" kamu ternyata pintar juga " Audi tertawa dalam hati dia berhasil menggagalkan rencana Arshel, tapi tiba - tiba Audi tertegun, Arshel mencium kening Audi dan kedua kelopak mata Audi


" kamu! Berani- beraninya...." Arshel kembali mencium bibir Audi, rasa bibir Audi sangat manis, dia suka, Audi menegang dan langsung mendorong dada Arshel menjauh, Arshel tersenyum kemenangan disana


" pergi sana, jauh - jauh dariku " Arshel hanya tertawa dan berlalu dari sana, dia bahagia sekali hari ini, Audi mengacak rambutnya frustasi.


***


Arshel sedang duduk dimeja kebesarannya, dia tidak bisa fokus kerja karena dia mengingat saat dia berbagi sendok bersama Audi, barbagi makanan dan minuman, sebenarnya saat dia mengusap bibir Audi setiap selesai menyuapi Audi hanya alasan saja, dia hanya ingin menahan dirinya untuk mencium Audi, setiap melihat bibir itu Arshel tidak bisa menahannya seperti bibir itu memanggil dirinya untuk menyentuh bibir itu.