AUDI [ This Love ]

AUDI [ This Love ]
25



4 tahun kemudian


Tak terasa sudah empat tahun Audi di Paris, sekarang dia sudah lulus, kamarin dia baru saja wisuda dengan didampingi kedua orang tuanya, sedangkan kakaknya James sekarang sedang mempersiapkan pernikahannya dengan Laura


Mereka terlalu lama bertunangan yaitu selama empat tahun, semua itu bukan tanpa alasan, kakaknya James harus mulai belajar menjadi direktur di perusahaan dan memajukannya dan juga Ms. Laura saat itu juga dalam suasana hati yang berkabung, karena ayahnya baru saja meninggal karena sakit, tapi karena mereka saling mencintai semua itu bisa mereka lewati bersama


" sayang jadi besok kamu pulang ke Inggris bersama kami ya?" tanya ibu Audi


Audi tahu cepat atau lambat dia pasti akan pulang, dia juga sebenarnya sudah rindu dengan suasana disana


" iya Mama"


****


Audi baru saja memasuki kamar yang selama empat tahun dia tinggalkan, dia sungguh rindu kamar itu, kasurnya yang hanya cukup satu orang itu membuatnya rindu, dia tidak suka tidur dengan kasur yang besar, Audi berjalan menujubalkon dan menatap taman dari atas rumahnya


" hem...rindunya" Audi merentangkan tangannya menikmati angin yang menerpa wajahnya


****


Hari ini Audi duduk di sebuah kafe, dia sedang menunggu seseorang yang dia sangat rindukan, Siapa lagi yaitu sahabatnya Sandra, Sandra selalu menghubungi nya selama Audi di Paris, Menanyakan kabarnya? bertanya apa yang dia lakukan? apa masih lama di Paris?


Seorang wanita masuk dengan senyum ceria, dia berlari kecil mendatangi Audi dan langsung memeluknya


" Audi aku sangat merindukanmu" Sandra tiba- tiba saja menangis, Audi mengusap punggung Sandra menenangkannya


" sudah- sudah, ayo duduk dulu" Sandra kemudian duduk di depan Audi dan menatapnya serius


" kamu sekarang tambah cantik dan dewasa" Audi tertawa mendengar itu, Sandra selalu saja memuji nya


" kamu juga sekarang jauh lebih cantik dan yang pasti..... lebih sexy"


Sandra memukul tangan Audi karena menggodanya


" bagaimana dengan Sony?"


" pria itu masih kerja dan sibuk dengan model cantiknya" Sandra berbicara dengan nada ketus


" kamu harus percaya, Sony itu hanya mencintaimu"


" ya aku tahu, tapi lihat saja kalau dia berani melakukannya, aku akan membunuhnya " kata


Sandra dengan mengangkat pisau makan diatas meja


Audi tertawa, dia sungguh rindu Sandra dan suasana seperti ini


" oh iya Audi, kamu tahu Simon baru saja menikah"


" apa !" Audi kaget, Simon sudah menikah, sedangkan kakaknya yang sudah kepala tiga saja belum


" iya, kamu tahu dia menikah dengan wanita yang bernama Sintya, kamu ingatkan gadis itu"


" hah iya aku ingat, tapi apa alasannya"


" itu semua karena Simon sudah tidak tahan lagi" setelah berbicara seperti itu Sandra tertawa dengan keras


" tidak mungkin, Simon itu anak yang baik"


" ya kamu benar, alasan sebanarnya dia menikahi Sintya adalah karena Sintya adalah anak yatim piatu "


" benarkah?" "


" ya, setelah dua tahun pacaran Simon melamarnya, dia ingin melindungi wanita itu"


" Simon itu pria yang baik, aku senang mendengarnya "


" dan juga , dia sekarang tidak bekerja bersama Sony lagi"


" jadi ?"


" dia sekarang bekerja di....."


" dimana?"


" disalah satu perusahaan"


Audi menganggukan kepalanya mengerti


" dan kalau Arshel...." Sandra berhenti bicara setelah melihat ekspresi Audi yang berubah datar


" apa kamu masih membencinya?"


" tidak"


" maaf kalau aku membuatmu kembali mengingat itu"


" tidak maslah itu hanya masa lalu, sekarang semuanya sudah baik- baik saja"


" ya kamu benar, jadi sekarang kamu bagaimana?"


" aku? aku akan mencari pekerjaan di perusahaan"


" kalau kamu mau, kamu bisa bekerja di bersama ku, kita bekerja sama dalam hal butik dan busana bagaimana?"


" tidak, aku kuliah di jurusan marketing jadi aku ingin berkerja sesuai kemampuan ku"


" jadi kamu akan kerja di perusahaan ayahmu?"


" tidak, aku akan mencari perusahaan yang lain"


" kenapa?"


" tidak ada, aku hanya tidak ingin bergantung pada keluarga ku" Sandra menganggukkan kepalanya mengerti


****


Audi sudah siap untuk ke perusahaan tempat dia bekerja, karena dia sudah diterima berkerja disana, dia sudah mengirimkan lamaran pekerjaan nya via Online dan tidak menyangka dia di terima, meskipun posisinya tidak tinggi tapi dia bahagia, ini akan menjadi awal yang baik baginya


****


Audi menatap bangunan perusahaan didepannya, dia menarik nafas panjang dan menghembuskannya pelan, kakinya melangkah masuk dan berjalan kemeja resepsionis


" permisi, dimana tempat menegemant pemasaran?"


" apakah anda karyawan yang lulus seleksi via online?"


" ya"


" anda bisa naik lift lantai tujuh setelah itu belok kiri disana ruangannya"


" baiklah terima kasih"


****


Audi duduk di kursinya, tanganya mengetik di keyboard, dia sedang menyusun peningkatan penjualan disana, dia sudah bekerja selama tiga minggu di perusahaan tersebut dan selama itu semuanya baik- baik saja


" ini" seseorang meletakkan kopi disamping tangan Audi, Audi menatap pria tersebut


" terima kasih Dave"


" ya" pria itu tersenyum, setelah itu pria itu juga duduk di kursinya, meja Dave dan Audi bersebelahan dan hanya di batasi pembatas kecil


" kenapa harus aku, itu kan tugasmu "


" aku minta maaf Audi, tapi aku sudah tidak tahan lagi, perutku sakit, aku akan buang air besar"


" ya baiklah, tapi nanti siang kamu harus mentarktirku ya Catrina"


" Ok" Catrina langsung saja berlari secepat kilat, dia berpandangan sengit dengan Dave saat melewatinya, Audi merasa penasaran apa yang terjadi dengan mereka berdua.


Audi berjalan dengan santai dan sesekali bersenandung , dia sudah masuk kelift sambil membawa berkas sekardus kecil


" apa- apaan ini, banyak sekali" Audi mengeluh


Pintu lift terbuka karena seseorang akan masuk, Audi masih didalam, karena itu masih dilantai lima, Audi menatap dirinya di pantukan lift yang terbuka dari cermin, seorang laki- laki masuk dengan elegan



Audi menatap pria dibelakangnya melalui cermin di dinding lift, dia seperti mengenal pria itu, jantungnya tiba - tiba berdebar karena dia tahu pria itu


"apa itu Arshel? kenapa dia ada disini" Audi berbicara dalam hati, bagaimana ini, bagaimana kalau Arshel melihatnya, tiba - tiba pria itu memanggilnya


" nona, apa yang kamu bawa?" Audi merutuki Arshel, kenapa dia bertanya dan ingin tahu, Audi masih tidak mau berbalik dan membelakangi Arshel, dia menundukkan kepalanya, agar Arshel tidak melihatnya, lift kembali naik kelantai enam, seorang wanita masuk dan memperhatikan Audi


" Audi , akan kamu bawa kemana berkas sebanyak itu?" Audi mengumpat Sisil yang menyebut namanya, Audi masih tidak berbalik dan membuat Sisil bingung


" Audi" itu bukan suara Sisil tapi suara Arshel dia menatap punggung Audi dengan intens


" Audi " dan saat Arshel memanggilnya untuk kedua kali lift terbuka dan Audi langsung lari dari sana dia bersyukur sekali, sedangkan Arshel menatap kepergian Audi dengan tangan yang hampir menggapai Audi


" apa dia bekerja disini?" Arshel bertanya pada Sisil


" iya pak direktur"


Arshel tersenyum dengan misterius


" aku akan menangkapmu" jiwa Arshel tertawa


****


Jantung Audi rasanya akan keluar, dia tidak menyangka dia akan bertemu Arshel secepat ini, Audi berpikir kerasĀ  apa yang dilakukan Arshel disini, Audi sudah sampai di depan ruangan manager nya


Tok tok tok


"Masuk "


Audi masuk dan meletakkan berkas itu diatas meja


" ini berkas yang anda inginkan pak"


" dimana catrina?"


" dia lagi ada masalah dengan perutnya, dan memintaku mengantarkanya"


" baiklah, kamu bisa kembali bekerja"


" baikalah terima kasih"


Audi keluar dengan perasaan kacau, dia merasa takut naik lift, dia takut akan bertemu Arshel lagi, jadi dia memutuskan untuk turun menggunakan tangga


" kenapa kamu seperti kelelahan ?" tanya Dave


" ya, aku turun menggunakan tangga"


" kenapa? Kamu kan bisa menggunakan lift"


" ceritanya panjang, aku akan menyelesaikan pekerjaanku"


Audi kembali duduk dan menyelesaikan pekerjaannya


Tak terasa saatnya jam makan siang


" Audi ayo kita pergi bersama" ajak Dave


"Sepertinya aku tidak ikut, aku akan menyelesaikan pekerjaanku lebih dulu, aku takut tidak sempat menyelesaikannya"


" baiklah, apa kamu ingin menitip sesuatu"


" ya, satu coppucino saja"


" baiklah "


Setelah itu Dave


pergi bersama rekan kerja yang lain, hanya tinggal Audi disana di ruangan pemasaran, Audi dengan serius menyelesaikan pekerjaannya


" ehem....." sebuah suara terdengar , tapi karena Audi menggunakan erphone jadi dia tidak mendengarnya


" ehem...." kembali suara itu terdengar,


Orang yang berdehem menjadi jengkel karena Audi tidak mendengarnya, dia melihat kuping Audi yang terpasang erphone


" pantas saja" pria itu menarik erphone itu hingga terlepas, Audi kaget dan kesal, Audi berbalik ingin tahu siapa yang berani melakukan itu tapi alangkah kagetnya dia


" A..Ar..Arshel"


" ya sayang" Arshel berjalan mendekat dan memerangkap Audi di kursi yang diduduki wanita itu


" kenapa ?" Tanya Arshel dengan tersenyum manis


" apa yang kamu lakukan?"


" hem...." Arshel mencoba berpikir apa yang ingin dia lakukan


mata Arshel menatap bibir Audi dan Audi paham apa yang dilihat Arshel


" kamu jangan macam - macam " kata Audi dengan Aura mengancam, Arshel semakin mendekatkan kepalanya dan Audi yang gugup menutup matanya kuat- kuat, kepala Arshel berhenti di telinga Audi, mulutnya tepat di depan telinga Audi


" aku merindukanmu" Arshel berkata dengan suara pelan dan sedikit meniup telinga Audi, membuat Audi sedikit tergelitik dia membuka matanya cepat dan saat itu juga Arshel menatapnya, mereka memandang dengan jarak yang sangat dekat hanya tersisa 5 cm saja


Jantung Audi seperti loncat- loncat karena berdebar, ini pertama kalinya semenjak terakhir kalinya dia menatap Arshel


Tangan Arshel terangkat dan menyentuh pipi Audi, kemudian tangannya turun, telunjukknya menelusuri bibir Audi dengan perlahan


" aku rindu bibirmu" Arshel berbicara dengan nada yang sexy membuat Audi menelan air ludahnya susah, Bibir Arshel semakin maju hingga ujung bibir mereka sudah bersentuhan, saat Arshel sudah akan melumat bibir itu, ponsel di sakunya berdering, Arshel mengumpat merasa terganggu


" sial... Siapa yang menelpon" Arshel mencoba mengabaikan itu dan dia masih memarangkap Audi disana, perlahan bibirnya kembali akan menyentuh bibir Audi, ponsel itu kembali berdering, Arshel bersumpah akan membunuh orang yang menelponya jika itu tidak penting, dia mengambil ponsel di sakunya dengan sebelah tangan dan yang lain masih memerangkap Audi, dia mengangkat ponselnya dengan matanya menatap Audi intens, dia sungguh ingin mencium bibir itu


" ada apa?" tanya Arshel dingin


" Arshel, sehabis makan siang kamu ada pertemuan dengan Mr Arnold"


" iya aku tahu" setelah mematikan ponselnya dia kembali menatap Audi, dia ingin mencium Audi saat ini juga, tapi dia takut dia tidak bisa berhenti karena jam makan siang akan segera berakhir, dia membutuhkan waktu yang banyak untuk mencium Audi, dia menghembuskan nafas kasar, Arshel menegakkan badannya dari memerangkap Audi, Audi yang tadi merasa mati kutu karena perbuatan Arshel menarik nafas lega karena itu dan itu tidak luput dari pandangan Arshel, dia merasa kesal karena Audi terlihat senang saat dia tidak jadi menciumnya


" ini belum berakhir, Kamu jangan senang dulu" Arshel pergi dengan menghentakkan kakinya keras karena gagal mencium Audi dan Audi menyentuh dadanya, jantungnya dag dig dug karena berdebar, Audi berbalik menatap layar komputernya


" hah sial! ini semua karena Arshel, Pekerjaanku jadi tertunda" Audi tersadar karena dia mengumpat di kantor, dia melihat kiri dan kanan melihat apakah ada yang mendengarnya setelah dia rasa tidak ada orang dia kembali mengumpat Arshel pelan


" Arshel sialan, aku tidak akan membiarkan dia menciumku, tidak akan" kata Audi dengan suara pelan.