
...# Happy Reading #...
Saat wajah Zeline makin mendekat dan sudah hampir bertubrukan dengan bibir Rivan, Pria itu menghindarinya.
"Aku sama sekali tak memiliki perasaan lebih padamu, hanya kesopanan pada orang tua Kia" sahut Rivan.
Zeline menjauhkan wajahnya kemudian memperbaiki duduknya.
"Apa maksudmu?" Kata Zeline.
"Bukankah sudah sangat jelas? Aku tak memiliki ketertarikan apapun padamu" jawab Rivan.
"Tapi selama ini kau terlihat selalu mendekati dan menyayangi kia, bukankah untuk mengambil hatinya agar merelakan mu bersamaku?" Sahut Zeline.
"Apa yang kau maksud? Saat pertama kali bertemu dengan Kia, Kia pun sudah memanggilku papa" kata Rivan tak terima.
Zeline manatap tak percaya pada Rivan.
"Jadi selama ini kau menyayangi Kia tanpa mengharap apapun?" Tanyanya.
"Kau pikir aku tempat pemberi kasih sayang?" Kata Rivan.
"Aku tak mengerti" kata Zeline.
"Hmm benar, kau tak akan mengerti karena aku pun tak mengerti" Rivan berkata dengan penuh misteri.
"Kau membuatnya rumit" kata Zeline.
"Tidak, ini tak rumit hanya masalah waktu saja dan semuanya akan membaik, salahkan dirimu yang memiliki perasaan berlebih padaku" kata Rivan.
"Katakan apa motif mu selama ini, jangan membuatku berfikir, katakan dengan jelas" paksa Zeline.
Rivan menatap serius wajah Zeline. "Kia" jawabnya dengan serius.
Wajah Zeline nampak sangat amat terkejut mendengarnya, ia berharap pikirannya tak sama dengan apa yang Rivan pikirkan.
"Kau menyukai Kia?" Tanya Zeline.
"Hm" jawab Rivan.
"Sebagai seorang wanita? Bukan sebagai anakmu?" Tanyanya dengan wajah tak percaya.
"Ya" tegas Rivan.
Zeline menutup mulutnya tak percaya.
Plak
Satu tamparan di dapat oleh Rivan, Zeline menatapnya dengan mata merah penuh dengan amarah.
"Kau menyukai anak yang bahkan umurnya masih 5 tahun?" Kata Zeline dengan suara keras.
"Ya, ada apa dengan itu?" Kata Rivan dengan berani.
"Pedofil" Teriak Zeline sembari menuju ruang keluarga untuk membawa kia, membawanya pergi menjauh dari hidup Rivan.
Rivan hanya menatap punggung Zeline yang terekspos, wanita itu memang terbiasa menggunakan baju seksi saat bersamanya, Rivan tahu beberapa bulan terakhir Zeline selalu menggodanya, hanya saja ia tak memiliki rasa sama sekali pada wanita itu.
Rivan tahu perasaannya pada Kia adalah salah, namun melihat usianya yang seperti tak ingin bertambah, ia memilih menjaga perasaan itu hingga tiba waktu yang tepat, ia membiarkan Zeline membawa Kia menjauh darinya karena dirinya pun tak yakin dapat menahan diri pada Kia.
Saat pertama kali bertemu dengan Kia, Rivan sudah memiliki rasa yang berbeda pada kia, Rasa yang berbeda dari rasa sayangnya pada Riana, Rasa sayang yang berbeda pada Tarqa keponakan tersayangnya, hingga saat melihat Kia yang sedih ia pun merasa sedih, melihat Kia terluka, ia pun merasa terluka, dan saat ia melihat Kia senang ia pun merasa senang, ia Seolah berbagi perasaan pada Kia hingga dirinya pun menyadari bahwa perasaan itu adalah perasaan yang pernah ia dapatkan dari mantan kekasihnya, bahkan lebih besar seolah ada iblis yang meracuni hatinya untuk memiliki Kia.
Rivan melupakan rasa itu karena dirinya sudah hidup lebih dari 1 abad tanpa cinta.
Zeline mengemasi barang-barangnya yang ada di kamar saat dirinya akan menginap.
Ia melepas pakaian Kia untuk menggantikannya.
"Kita mau kemana mah?" Tanya gadis kecil itu.
"Kita mau pergi sayang" jawab Zeline.
"Papa ikut?" Tanya Kia.
"Papa tidak ikut, ia akan menyusul" Zeline beralasan.
Kia mengangguk pakaiannya sudah terlepas.
Zeline melihat ke arah kalung perut berwarna silver di perut Kia, itu adalah hadiah dari Rivan. Kalung perut itu memiliki sebuah permata hitam kecil tepat di bawah pusar Kia.
Tak ada!
Ia memutar tubu kecil Kia mencarinya lebih teliti, namun masih tak ada.
Zeline berusaha menariknya ia akan memutuskan kalung perut itu, entah mengapa ia tak suka melihatnya.
"Auhhh" Kia meringis saat kalian itu melukai sedikit perutnya.
"Sakit mah" sahut Kia.
Zeline menatap heran pada kalung perut itu, sangat sulit untuk di lepaskan.
Tak ingin melukai Kia, ia dengan segera memakan pakaian untuk Kia.
Siap dengan sebuah tas berisi pakaiannya, ia keluar lewati pintu, ternyata Rivan berdiri menunggunya di sana.
"Papa!" Pekik Kia girang, ia akan turun namun Zeline menahannya.
Zeline memandang tak suka pada Rivan, ia menatap jijik pada pria itu. Rivan menyadarinya namun tak berkata apapun.
"Kita mau pergi pah, papa nanti ikut kan?" Kata Kia.
Rivan hanya mengangguk sembari memberikan senyumnya. Ia akan merelakan kepergian Kia untuk saat ini, Obsesinya bisa menghancurkan anak kecil itu.
Zeline menggendong Kia ke pintu keluar rumah, ia bahkan tak ingin berbicara lagi pada Rivan.
"Aku akan menjemputnya setelah ia 18 tahun" Kata Rivan yang mampu membuat langkah Zeline terhenti sesaat sebelum ia kembali melanjutkan langkahnya.
Zeline berencana benar-benar menghilang dari hidup Rivan apapun caranya, ia tahu seberapa berkuasanya pria itu, ia hanya seorang ibu yang ingin melindungi putrinya.
Ia berharap saat hari-hari akan berlalu perasaan Rivan pada kia pun ikut berlalu, atau setidaknya Rivan mati sehingga tak bisa menyentuh putrinya.
_________
"Acras bagaimana dengan penelitian mu?" Tanya seorang wanita berambut pirang cantik dengan tubuh tinggi dan proporsional, ia nampak menggunakan jas laboratorium.
"Baik, setidaknya sebentar lagi aku dapat mengekstrak sari pada tanaman pinus yang di harap bisa menjadi obat regenerasi sel" jawab Acras ia terlihat sedang memutar-mutar gelas lab.
"Bagaimana denganmu?" Kata Acras.
"Belum terlihat perkembangan yang berarti" kata wanita itu.
"Hm" Acras mengangguk mengerti.
"Emm Acras kau memiliki kekasih?" Tanya wanita pirang itu.
"Kenapa?" Kata Acras.
"Hanya bertanya"
"Belum" jawab Acras.
"Benarkah?" Wanita pirang itu nampak senang.
"Hm" jawab Acras ia masih fokus dengan cairan berwarna merah yang ada di gelas lab di tangannya.
Wanita pirang yang sedari tadi memperhatikannya nampak gemas dengan wajah serius Acras, ia dengan berani mendekatkan wajahnya.
Cup
Bibir wanita itu menempel pada bibir Acras.
Acras terkejut dengan serangan tiba-tiba itu, jantungnya berdegup kencang, ingatannya berputar pada Rekaman video yang selalu mereka( Rivan dan muridnya) nonton bersama.
Lama bibir itu menempel, sebelum wanita pirang itu mulai menggerakkan bibirnya, Acras membalasnya dengan gerakan kaki dirinya baru pertama kali ciuman.
Kegiatan mereka makin agresif, Acras meletakkan gelas lab di atas meja sebelum tangannya membantu membuka jas lab milik wanita yang masih di ciumnya.
Hal yang sama di lakukan oleh wanita itu pada Acra, mereka saling menyerang hingga tak lama sahutan kenikmatan menggema di laboratorium penelitian tanaman itu.
Acras berhasil melepas masa perjaka nya di usia 22 tahun bersama rekan penelitiannya.
_________
Bye °<°❄️ Acras mah Gercep :v