
...# Happy Reading #...
Rivan dan kelima anak kecil itu tiba di tempat pertama kali ia ada di dunia ini. Altar yang mengurungnya selama ratusan tahun masih berdiri kokoh di sana.
"Wah ini di mana paman?" Tanya Alex.
"Sebaiknya kalian memanggilku guru" kata Rivan.
"Baik Guru" sahut kelimanya.
"Kita akan membangun rumah di sini, tugas pertama kalian adalah mengumpulkan Kristal sihir yang ada di sana" tunjuk Rivan pada tempat pembantaian monster yang ia lakukan beberapa hari yang lalu.
Tubuh monster itu telah hilang menyisakan tulang belulang, mungkin ada beberapa hwan buas yang datang untuk memakan dagingnya.
"Hati-hati dengan hewan buas" peringat Rivan.
Kelima anak itu mulai berjalan ke arah yang Rivan tunjuk.
"Lihat kristal sihirnya banyak sekali" tunjuk Tanza pada kristal yang berceceran di atas tanah.
Sakran dan Acras langsung memunguti kristal itu menaruhnya di atas pakainya sebagai wadah.
Rivan mengamati dari kejauhan sambil mencoba memikirkan desain bangunan apa yang bagus ia buat.
Setelah memikirkannya, Rivan mulai mengambil posisi di atas ketinggian mengayunkan tangannya ke atas seolah menarik sebuah bangunan dari dalam tanah.
Bangunan besar itu mulai terbentuk sedikit demi sedikit membuat getaran yang cukup kuat.
Alex dan temannya menatap takjub bangunan yang menjulang melingkari Altar. Bangunan itu berbentuk C dengan altar yang persis berada di tengah-tengahnya.
Selesai dengan bangunan, Rivan mulai menyediakan kebutuhan yang ada di dalamnya, mulai dari kasur, perhelatan makan, pakaian, peralatan mandi, dan banyak lagi.
Setelah selesai Rivan kembali berada di ketinggian memasang Array pelindung sejauh 5KM² dari posisinya saat ini.
Setelah di pastikan aman, Rivan masuk ke dalam kamarnya dan tertidur menunggu kelima anak itu selesai mengumpulkan Kristal sihir yang berceceran.
___________
Rivan terbangun oleh suara grusuk, entah apa yang tengah di lakukan kelima anak itu.
Berjalan menuju sumber suara, Rivan menatap datar kelima anak itu.
Tanpa dosa anak-anak itu mengotori dapur dan memakan semua bahan-bahan yang telah ia simpan di kulkas.
"Guru" sahut ke limanya dan langsung berdiri membuat barisan.
Rivan melipat tangan di dadanya membuat suasana yang tadinya rusuh menjadi senyap.
Brrreeeeaaa
Tanza bersendawa cukup keras membuat Alex dan Grish menahan tawanya sedangkan Sakran dan Acras hanya diam.
"Angkat tangan" kata Rivan.
Dengan kompak kelimanya mengangkat tangan tinggi-tinggi.
"Jangan turunkan sampai fajar" lanjut Rivan kemudian beranjak kembali ke kamarnya karena hari sudah gelap.
"Awwwh tangan Tanza sakit" kata Tanza mengaduh, sekarang baru 30 menit ia mengangkat tangan.
"Ini semua karna Alex" sahut Grish.
"Iya, dia yang ajakin makan" kata Tanza.
"Tapi kalian juga setuju" elak Alex tak ingin di salahkan. "Dan lagi Acras makan paling lahap" tambahnya.
Acras yang namanya di sebut-sebut langsung mendelik tajam.
"Aku kerja paling banyak" katanya.
Ke empat lainnya mengangguk serentak memang benar Acras yang paling banyak mengumpulkan Kristal sihir.
Di sisi lain, Rivan menatap kelimanya dengan sedu, ia terus saja teringat akan Tarqa.
"Kalian boleh mencari kamar kalian, dan istirahatlah" kata Rivan tiba-tiba saja muncul.
"Iya guru" kelimanya mulai berjalan mencari kamar masing-masing.
____________
Pagi hari, saat matahari baru saja terbit, Rivan langsung membangunkan kelima anak yang masih asik dengan kasur hangat mereka.
Brak
Brak
Brak
Brak
Brak
Kelima anak laki-laki itu segera bangun dan berjalan keluar berdiri di ambang pintu, wajah mereka masih terlihat sangat mengantuk, bahkan kepala Tanza terkantuk-kantuk di penyangga pintu.
"Ayo mulai latihan hari pertama" ajak Rivan.
Mereka mengikuti dari belakang berjalan dengan lesu akhirnya sampai di altar yang penuh dengan kristal sihir.
Rivan mengayunkan tangannya membuat semua kristal itu hilang dengan sekejap mata.
Rivan kembali mengayunkan tangannya sehingga muncul guci air yang tingginya sekitar 1 merer.
"Kalian ambil air di atas gunung itu dengan gelas yang ada di dalam guci, lakukan sebelum malam tiba tak ada makanan sampai semuanya selesai" kata Rivan.
Mata kelimanya langsung terbelalak dengan cepat mereka melihat ke dalam guci yang terdapat sebuah gelas yang ukurannya jauh lebih kecil dari guci di hadapannya, mungkin hanya sebesar gumpalan tangan orang dewasa.
Kemudian kelimanya melihat ke arah gunung yang di tunjuk oleh Rivan sangat tinggi.
"Ayo cepat" kata Rivan.
Akhirnya kelima anak itu berlari menuju gunung tinggi dan mulai mengambil air dengan wadah yang aga di tangannya.
Rivan kembali mengawasi dari kamar miliknya.
Waktu berlalu hingga malam tiba, kelima anak itu tengah ngos-ngosan di sisi guci masing-masing.
Rivan datang "ayo makan" ajak Rivan.
Kelimanya berjalan dengan lesu ke arah meja makan.
Sampai di sana mata kelimanya langsung berbinar melihat banyaknya makanan yang sudah tersaji.
Mereka makan dengan sangat lahap.
"Tidurlah, selama 6 bulan lakukan hal yang sama seperti hari ini" kata Rivan.
"Baik guru" sahut mereka lesu kemudian berjalan menuju kamar masing-masing.
6 bulan berlalu.......
Siang harinya mereka telah selesai dengan rutinitas mengisi guci.
"Waktunya berenang" sahut Grish mereka berlari ke arah kolam renang yang ada di sisi kanan rumah mereka.
"Ayo" Tanza ikut berlari dengan semangat.
Sedangkan Alex dan yang lainnya pun ikut.
Rivan tersenyum lembut melihatnya.
___________
Pagi harinya mereka sudah berkumpul di Altar untuk mendapatkan pelajaran selanjutnya.
"Sekarang duduk dengan posisi lotus" kata Rivan.
"Baik guru" mereka dengan semangat duduk di altar dengan posisi lotus.
"Pejamkan mata kalian dan rasakan energi alam masuk dan berusaha mengumpulkannya di jantung, aku akan memantau kalian agar ledakan energi tak membunuh kalian" kata Rivan.
"Baik guru"
Mereka mulai memejamkan matanya, Rivan melakukan metode yang hampir mirip dengan yang ia lakukan di rumah horan, hanya saja waktu itu ia menggunakan kristal sihir, berbeda lagi jika hanya menggunakan energi alam, resiko keberhasilan akan meningkatkan dan resiko ledakan akan menurun.
Rivan mempertahankan tubuh Acras anak itu paling cepat melakukannya membuat lingkaran putih di sekitar jantungnya dan akhirnya berhasil tanpa kendala.
Mengikuti Sakran, kemudian Alex, Grish dan Tanza.
"Kalian merasakannya?"
"Iya guru" kaya mereka.
"Baiklah sekarang pelajaran selanjutnya adalah ini" Rivan memperhatikan sebuah benda tipis di tangannya.
"Jarum?" Kata kelima anak itu.
"Ya, lakukan seperti ini, alirkan sedikit energi sihir dan"
Tus
Jarum itu menempel pada tiang beton Altar.
"Berusaha sekuat mungkin, buat energi yang terkumpul di ujung jarum menjadi setipis mungkin, setelah kalian kehabisan energi sihir lakukan kembali sikap lotus, Paham?!" Kata Rivan.
"Iya guru" sahut mereka
___________
Bye ❄️