
# Happy Reading #
Acras berjalan dengan tangan yang penuh dengan paper bag entah berapa Rupiah yang di habiskan olehnya, bahkan jalannya sudah mirip dengan manekin yang membawa banyak barang.
Berbagai merek mahal terlihat di permukaan paper bag menandakan bahwa isi dari paper bag itu sendiri.
Hal itu membuatnya menjadi pusat perhatian banyak orang.
Acras tiba di meja Rivan.
"Hufff akhirnya" gumamnya, sembari meletakkan setidaknya 20 paper bag di atas lantai dengan berbagai ukuran.
"Kau kenapa?" Rivan menatapnya tajam.
"Aku merasa tak nyaman mereka terus memperhatikan ku" adunya.
"Kau yang bodoh, kenapa banyak sekali barang yang kau bawa?" Tanya Rivan.
"Itu karena mereka memberikan nya setelah aku mengangguk" jawab Acras "kemudian aku membayangkannya karena itu sudah ada di tanganku" lanjutnya ia nampak memasang wajah lesu.
Rivan menatap banyaknya paper bag di lantai, namun pandangannya tertuju pada sebuah paper bag dengan logo yang tak asing.
Ia meraih paper bag itu.
"Kurasa Xavier pernah memberikan hadiah dengan tas ini?" Kata Rivan, Tangan mulai meraih paper bag itu dengan hati-hati.
Rivan mengambil isinya sebuah pakaian renda berwarna merah. Kemudian ia mencoba merentangkan pakaian itu.
Blush
Wajah keempat muridnya langsung memerah melihat itu, ingatan mereka berputar saat berada di kediaman Horan.
Rivan menatap Acras dengan pandangan menelisik.
"Kurasa kau mempunyai fantasi yang sangat baik" kata Rivan.
"Aku tidak memperhatikannya kak" jawab Acras wajahnya memerah karena malu.
Lingerie merah menyala itu kembali Rivan masukkan ke dalam paper bag.
"Kia!" Teriak seorang wanita cantik dari arah belakang Rivan.
Acras, Sakran, Tanza dan Grish menoleh ke asal suara, sementara Rivan mengusap lembut rambut kia yang tersentak akibat teriakan itu.
Drap
Drap
Drap
Langkah si wanita semakin cepat dan langsung saja mengambil Kia yang masih mengumpulkan makanannya.
Wanita itu menatap nyalang pada Rivan, raut wajahnya terlihat sangat marah wajahnya sembab kentara sekali ia baru saja menangis.
"Mah?" Kata Kia dengan suara malasnya.
"Kamu tak apa sayang?" Tanyanya mengusap wajah Kia.
"Hmm" Kia mengangguk kemudian kembali menenggelamkan wajahnya.
"Kenapa tuan membawa putriku?" Tanya wanita itu dengan suara keras mengundang perhatian beberapa pengunjung.
"Kurasa anda tahu alasannya nona" kata Rivan.
"Apa maksudmu?" Kata wanita itu.
"Bukankah anda yang lalai menjaganya? Beruntung aku yang menemukannya" kata Rivan.
Wanita itu diam beberapa saat.
"Tapi walaupun begitu kau seharusnya mencari ku bukannya hanya duduk di sini" katanya.
Rivan terdiam karena memang ia tak berusaha mencari keberadaan orang tua Kia entah apa alasannya hanya Rivan yang tahu.
"Sudahlah terimakasih telah menjaganya" wanita itu kemudian berbalik bersiap untuk pergi.
"Pah!" langkah si wanita harus berhenti saat Kia berteriak sembari merentangkan tangannya ke arah Rivan.
"Dia bukan papah sayang" kata wanita itu.
"Papah!" Sahut Kia ia memberontak untuk turun dari gendongan wanita itu. Setelah berhasil ia berlari dengan kaki kecilnya.
"Papah" Gadis kecil merentangkan tangannya untuk di gendong.
Rivan meraih tubuh kecil itu.
"Kenapa manis?" Tanya Rivan.
"Kia mau cama papah" kata Kia memeluk erat leher Rivan seolah tak ingin melepaskannya.
Wanita tadi berjalan mendekat.
"Ayo kia kita pulang, dia bukan papah nya kia" sahutnya mencoba mengambil Kia dari Rivan.
"Nda mau mah, kia mau cama papah" kata Kia semakin mengeratkan pelukannya.
Wanita itu menjadi bingung ia tak tahu harus berbuat apa.
Rivan menjauhkan wajah Kia dari lehernya kemudian menatap dalam wajah anak kecil itu.
"Kia ikut sama mamah ya?" Bujuknya.
"Nda mau!" Jawab Kia.
"Besok main sama Papa lagi, gimana?" Bujuk Rivan.
Rivan menoleh ke arah mamah kia yang nampak gusar.
"Nomor ponsel anda nona" sahut Rivan sambil memberikan benda persegi miliknya.
"Untuk apa?" Tanya Wanita itu.
"Aku akan membawanya ke rumahku, nona bisa menjemputnya nanti" kata Rivan.
"Bisakah aku percaya?" Kata si wanita agak ragu.
"Hm, jika aku ingin menculiknya sudah ku lakukan dari tadi" jawab Rivan.
"Hm, baiklah" wanita itu mulai mengambil ponsel Rivan dan memberikan nomornya. Setelahnya ia mengembalikannya pada Rivan.
"Bagaimana jika anda saja yang mengantarkannya ke rumahku?" Tanya si wanita, ia terlihat masi ragu membiarkan Kia ikut dengan Rivan.
"Tidak bisa nona, aku datang bersama adik-adik ku, mereka baru datang dari luar negeri dan tak tahu lokasi di sini" alasan Rivan.
Wanita itu melihat ke arah keempat pemuda lainnya yang hanya diam.
"Bahkan mereka tak tahu bahasa negara ini" lanjut Rivan memperkuat alasannya.
"Hufft baiklah, tolong jaga dia" sahut Si wanita.
"Hm" jawab Rivan.
Mereka kemudian beranjak menuju parkiran, belanjaan Acras sebagian dibawa oleh yang lain.
"Kita mau ke rumah papa?" Tanya Kia, ia nampak sangat senang.
"Iya" jawab Rivan.
Sementara di posisi paling belakang terlihat wanita yang tak lain adalah Mama Kia terlihat mengikuti.
"Bisakah aku ikut?" Tanya wanita itu saat Rivan sudah akan masuk mobil, sementara yang lainnya sudah kembali ke tempat mereka masing-masing.
Dreettt
Baru akan mempersilahkan karena memang masih ada kursi kosong di samping Sakran, Grish berada di jok belakang bersama Tanza,ponsel Rivan malah berdering.
-Ponakan Tersayang ❣️-
"Halo?"
|Dapan di mana? Tata udah nungguin dari tadi| suara yang agak manja dan dingin itu terdengar pelan, mungkin Tarqa sedang berada di keramaian sehingga ia tak mengeluarkan suara imutnya.
"Iya Dapan ke sana sekarang" jawab Rivan.
|Oke Dapan Tata tunggu depan kampus|
Tut
Rivan beralih ke arah Ibu Kia yang sepertinya menunggu dengan penuh harap.
"Aku akan menjemput seseorang jadi mobilku tak memiliki kursi lagi" kata Rivan.
"Ah baiklah" wanita itu nampak mengangguk kecewa ia memperhatikan Kia yang sedang berada di pangkuan Acras.
"Dah mamah" sahut Kia nampak senang.
Rivan masuk ke dalam mobil dan langsung mengemudikan mobil menuju kampus.
Jalan tak terlalu ramai karena jam masih siang.
Rivan tiba di depan kampus Tarqa, ia dapat melihat sebuah kerumunan. Pekikan para gadis juga terdengar.
"Ada apa di sana?" Tanya Tanza.
Rivan mengangkat bahunya acuh kemudian membuka pintu untuk keluar.
"Pah" tahan Kia, ia mengulurkan tangannya tanda ingin ikut.
Rivan menyambutnya kemudian berjalan ke arah kerumunan melihat apa yang terjadi.
"Turun?" Tanya Sakran pada si tertua.
Acras menoleh ke belakang melihat Sakran dan yang lainnya.
"Sebaiknya kita di sini saja? Aku tak nyaman dengan para gadis yang terus menatapku" jawab Acras.
Sakran mengangguk setuju "baiklah" ia kemudian menoleh ke belakang. "Kalian?".
"Panas" jawab Grish sementara Tanza hanya mengangguk. Jadilah ke empatnya hanya menunggu di atas mobil.
Beralih pada Rivan, ia sudah berada di tengah-tengah kerumunan melihat apa yang terjadi.
Bukh
Bukh
Bukh
Suara hantaman bersahutan di hadapannya, keponakannya ternyata sedang bertengkar dengan seseorang.
Rivan hanya memperhatikan tanpa mau melerai, sementara mahasiswa lainnya terlihat ingin memisahkan namun gerakan keduanya terlihat sulit di terobos, salah sedikit mereka yang babak belur.
___________
Yo Janda kah, istri orang kah atau cuman ibu sambung?....
Hari ini cuman 2 Bab
Bye ❄️