
...# Happy Reading #...
Rivan terlihat memberi pengobatan dengan sihir cahaya miliknya, tubuh Acras mulai membaik luka-luka yang ada padanya sudah menghilang seolah tak pernah ada.
"Biarkan dia istirahat sebentar" kata Rivan.
Saat ini mereka sedang berada di altar yang berada di belakang kuil.
Tubuh Acras yang tak sadarkan diri berada di atas kasur yang setia berada di inventori masing-masing.
"Aku akan membawa Alex pulang lebih dulu" kata Rivan ia melihat ke arah Alex yang hanya berdiri menatap pada Altar.
"Bisakah aku ikut bersama guru?" Tanya Alex.
"Sebaiknya kamu pulang bersama keluarga mu, ada adikmu yang perlu kau jaga" kata Rivan.
"Ayahku pun mampu untuk menjaganya" sahut Alex, sepertinya ia kekeh ingin ikut.
Rivan tak menjawab lagi, ia segera berjalan ke arah Alex dan langsung membuat sihir teleportasi sampai ke depan pintu rumah Horan.
"Guru" Alex nampak tak rela.
Tok
Tok
Tok
Rivan tak mempedulikannya ia mengetuk pintu rumah Horan membuat sang pemilik memperlihatkan dirinya.
"Tuan? Anda telah kembali?" Kata Horan.
"Ya, dan akan pergi lagi" jawab Rivan.
"Ayah, aku ingin pergi bersama guru" kata Alex pada Ayahnya.
Horan menatap anaknya bingung.
"Aku akan pulang ke tempat asal ku dan tak tahu kapan akan kembali" sahut Rivan yang membuat Horan mengerti.
Horan hanya diam, ia tak tahu harus menjawab apa, ia kasihan melihat Alex yang sepertinya sangat ingin ikut dengan gurunya, sementara ia juga tak rela untuk membiarkan anaknya pergi untuk waktu yang lama kedua kalinya.
"Ayah?" Alex berkata penuh harap.
Horan menggeleng kecil sebagai jawaban.
Setelah melihatnya, Rivan langsung saja menghilang dari sana.
"Ayah" mata Alex berkaca-kaca seperti seorang anak kecil, ia berjalan masuk menuju kamarnya yang kecil mengurung diri di sana.
"Huuuffft" Horan menghembuskan nafasnya gusar ia masuk setelah menutup pintu.
_________
Di sisi lain, Acras mulai membuka matanya.
"Yo bang sudah sadar?" Tanza langsung memberinya pertanyaan.
"Hm" jawab Acras, ia mengedarkan pandangannya mencari gurunya.
"Guru dan Alex dimana?" Tanya Acras.
"Guru mengantar Alex ke rumahnya" jawab Tanza.
Acras mengangguk, namun tatapan Tanza masih terus memperhatikan dirinya.
Risih akan hal itu, Acras memilih bertanya.
"Apa?" Tanya Acras.
"Kenapa kamu bisa kalah?" Tanya Tanza.
"Karna aku tak berniat menang" jawab Acras.
"Tapi kenapa?"
Acras mengangkat bahunya acuh tak ingin melanjutkan pembicaraan.
Rivan yang baru saja datang berjalan ke arah Altar kemudian mengalirkan sejumlah energi sihir yang di rasa cukup sebagai percobaan.
"System?" Tanya Rivan.
[Ya tuan]
"Tentukan tujuan"
[Tuan dapat memfokuskan pemikiran pada objek atau tempat untuk di tuju, system akan membantu semaksimal mungkin]
"Baiklah" Rivan menatap ke arah murid-muridnya yang sudah berjejer rapih, Acras sudah sehat seperti semula
"Naiklah" kata Rivan.
Acras dan lainnya mulai menginjakkan kaki di sekitar Altar.
"Alirkan sihir sebisa kalian" perintah Rivan.
Para murid mengangguk, Rivan memulai mengalirkan sihirnya lebih dahulu membuat tekanan yang besar di sekitarnya.
Kemudian secara bersamaan muridnya mulai menyusul memberikan energi sihirnya.
Tulisan yang Rivan ketahui bahasa bangsa Vali pada tiang-tiang altar mulai bersinar terang hingga benar-benar tak dapat dilihat oleh mata.
Setelahnya cahaya terang itu langsung menghilang begitu saja bersama dengan Rivan dan yang lainnya.
__________
"Bukankah kakakku sudah pergi terlalu lama?" Tanya si perempuan yang sedang berada di dekapan seorang pria yang memeluknya dari belakang, keduanya dalam posisi duduk.
"Hm sudah hampir 11 tahun" pria itu nampak menghirup dalam aroma perempuan di pelukannya.
"Hentikan" sahut si perempuan.
"Kamu harum sekali sayang" kata si pria tak menghiraukan ucapan si perempuan.
"Hentikan Xavier" perempuan itu bergerak mendorong kepala Xavier.
"Sebentar saja sayang" jawab Xavier.
Riana menghela nafasnya pasrah membiarkan Xavier mengecupi seluruh leher jenjangnya bagian kanan berlanjut ke belakang hingga bagian kiri tak luput dari bibir Xavier.
Perlahan tapi pasti, ia membalikkan tubuh Riana dan menyatukan bibirnya membuat agar Riana membalasnya.
Tak butuh waktu lama untuk mendapatkan apa yang di inginkan Xavier, karena lengan Riana sudah mengalung di leher Xavier.
"Nanti Tata masuk" Riana berbicara dengan pelan saat Xavier mulai membuka bajunya.
"Dia keluar bersama adiknya" jawab Xavier dengan suara beratnya.
Riana yang awalnya menolak akhirnya menuruti keinginan sang suami, tubuh keduanya mulai polos, pakaiannya berhamburan di sekitar tempat mereka.
Asik dengan penyatuannya, keduanya tak sadar ada pintu yang baru saja timbul dari dinding yang tepat berada di belakang Riana.
Dari arah pintu, Kaki panjang Rivan mulai terlihat di susul oleh kaki-kaki muridnya.
"Astaga" pekik Rivan, dengan segera ia menyihir mata para murid-muridnya untuk segera tertutup, walaupun mereka sudah melihat sedikit adegan itu, terlihat dari telinga keempatnya yang terlihat memerah.
Xavier yang mendengar suara Rivan langsung memeluk erat tubuh Riana berusaha menutupinya, bahkan penyatuannya belum terlepas.
Xavier segera mengambil kemeja miliknya yang tak jauh dari sana kemudian menutupi punggung Riana yang polos, sedang ia masih terus memeluknya.
Sementara Riana tak tahu harus berbuat apa.
"Ka-kakak ipar?" Kata Xavier.
"Haiss kalian benar-benar tak tahu tempat, apakah kamar kalian sudah kekurangan kasur?" Tanya Rivan.
"Bukan sper-"
"Sudahlah pergi ke ruangan Riana dan selesaikan urusan kalian" Rivan melambaikan tangan ringan menyuruh kedua manusia itu untuk pergi.
Xavier yang posisinya sedang duduk mengambil pakaiannya dan pakaian Riana sebelum akhirnya berdiri dengan langkah yang sedikit berlari menuju ruangan Riana.
Rivan melepas sihirnya pada murid-muridnya.
"Jangan mengingatnya" kata Rivan.
"Iya guru" sahut Grish.
"Hm selama kita di dunia ini panggil aku dengan sebutan kakak" kata Rivan.
Wajah keempat muridnya nampak berbinar mendengarnya.
"Siap mas bro" sahut Tanza.
"Iya Bang" sahut Grish.
"Baik Kak" jawab Sakran dan Acras.
Rivan menggeleng ringan sebelum melangkah menuju pintu keluar ruang bawah tanah.
"System?" Tanya Rivan.
Tak ada jawaban, namun Rivan masih melanjutkan langkahnya.
"System?" Tanya Rivan lagi.
"System?" Rivan mulai menghentikan langkahnya tepat di depan goa emas yg berisi kristal energi, padahal itu adalah tambang kristal sihir.
Masih tak ada jawaban.
Pikiran Rivan mulai menjalar kemana-mana, apakah system tak menjawabnya karena ia jarang memperhatikannya?
System ngambek?
"Woah apa ini?" Tanya Tanza yang membuat lamunan Rivan teralihkan.
"Masuk dan periksalah" kata Rivan.
Tanza dan Grish dengan semangat melompat ke dalam, sementara Acras dan Sakran masih di tempatnya.
"Kalian tak ikut?" Tanya Rivan.
"Tidak guru" jawab Sakran.
Rivan mengangguk, ia kembali mencoba menjangkau system, namun tak bisa.
Ceklek.....
Pintu masuk terbuka memperlihatkan seorang pemuda tampan yang tingginya sekitar 175 cm, mengikuti di belakangnya seorang gadis cantik yang lebih mungil daru si pemuda.
"Dapan!?" Tarqa berlari ke arah Rivan.
___________
Bye ❄️