
...# Happy Reading #...
Saat ini Rivan dan Xavier berada di ruang keluarga, seperti bisa Tarqa akan membaca buku tingkat lima yang sudah hampir habis di pelajari nya.
"Kamu tak bertanya kenapa aku mengatakan namamu saat di acara kemarin?" Tanya Rivan.
"Apa yang perlu di pertanyakan? Aku bukan orang bodoh yang tak mengerti itu semua, kamu menyebutkan namaku hanya supaya aku bertanggung jawab di sana" kata Xavier.
"Kupikir kamu bodoh" jawab Rivan santainya.
"Ayo" Rivan berkata dengan nada mengajak kemudian beranjak dari tempatnya.
"Kemana?" Tanya Xavier.
"Ikut saja" Rivan mulai berjalan menjauh.
Mau tak mau Xavier pun ikut meninggalkan Tarqa di ruang keluarga yang masih setia dengan buku besarnya.
Mereka sampai di depan pintu Ruang bawah tanah.
"Aku membawa mu kesini karena kepercayaan ku padamu sudah melewati batas yang seharusnya" kata Rivan.
"Ku harap kamu tak mengecewakanku" lanjut Rivan.
Xavier menatap dalam wajah kakak iparnya itu, terlihat kesungguhan di sana.
"Apapun yang kamu lihat adalah rahasia" Rivan mulai menekan kenop pintu dan terlihatlah isi dalam ruangan itu.
Mulut Xavier terkunci rapat, ia tak sanggup berkata melihat beberapa robot sedang berkebun di sana.
Ia hanya melangkah mengikuti Rivan dari belakang.
Di tengah perjalanan perhatiannya di tarik dengan setumpuk emas yang berbentuk goa, dan berbagai macam kendaraan yang berjejer rapih.
Tiba di perpustakaan ia di buat takjub dengan banyaknya buku di sana, buku dengan bahasa Valingalingxa, bahasa yang tak ia mengerti.
Rivan tiba di ruangannya, ia mengambil setumpuk berkas dari mejanya.
"Ini aset milik Tarqa" kata Rivan.
Xavier yang melihatnya meneguk ludahnya sendiri dari sini saja sudah memperjelas sebanyak apa aset yang dimiliki oleh Tarqa, astaga mungkin anaknya itu adalah manusia terkaya saat ini.
Xavier mencoba mengambil beberapa berkas.
Surat-surat tanah yang letaknya sangat strategis, bangun seperti mall, taman bermain, apartemen, kantor, stadion dan banyak lagi, tak lupa beberapa pabrik mobil iu.tech juga atas nama Alegtarqa Dominic.
"Itu baru sebagian, di kamarku masih banyak lagi" kata Rivan.
Tangan Xavier mulai bergetar.
"Kenapa kamu sangat percaya padaku? Bisa saja aku membunuhmu sekarang dan mengambil semua harta Tarqa" kata Xavier.
"Kamu ingin menguasai harta anakmu?" Tanya Rivan.
"Tentu tidak" jawab Xavier langsung.
"Ya sudah kalau begitu" kata Rivan santainya.
Rivan berjalan menuju pintu yang belum pernah ia buka.
"Kau lihat pintu ini?" Tanya Rivan.
"Tentu saja" jawab Xavier.
"Kamu percaya bila di balik pintu ini ada dunia lain?" Tanya Rivan.
Xavier terlihat berfikir lebih dulu, ia menelisik ke segala sisi ruangan di sana.
"Semua yang ku lihat di sini sesuatu yang mustahil, jadi bisa saja hal yang kamu sebutkan benar adanya" kata Xavier.
"Hm... Pikiranmu cukup logis" kata Rivan.
Ia kemudian berbalik menatap Xavier.
"Mungkin terjadi sesuatu saat aku masuk nanti, aku cuma berharap kamu bisa menjaga Riana dan Tarqa" kata Rivan.
"Pasti" jawab Xavier.
Riana datang bersama Tarqa anak kecil itu memegang jari telunjuk Mamanya.
Rivan mendekatinya kemudian berlutut di depan anak itu, menatap dalam wajahnya. Sebelum memberi ciuman hangat di bibir kecilnya.
"Tata sayang Dapan kan?" Tanya Rivan.
Tarqa mengangguk semangat "Tentu"
"Jangan nakal ya, nanti jika Tata punya adik, adiknya di sayang ya?"
"Iya Dapan.... Tapi nanti kalau Tata udah punya adik mama sama papa nggak sayang lagi sama Tata" kata Tarqa. "Tapi Dapan tetap sayang Tata kan?" Lanjutnya.
"Iya" kata Rivan sebelum mengecup bibir Tarqa dan terakhir keningnya.
Ia kemudian mendekat ke arah Riana dan memeluk adiknya itu dengan sayang.
"Aku akan membuka pintu itu, tapi aku merasakan firasat buruk, jika terjadi sesuatu tetaplah kuat, jangan mau di tindas, ajari Tarqa menjadi pria yang baik, jangan mengekangnya berikan apapun yang ia mau selama itu baik dan bisa kamu wujudkan, pukuli dia jika dia salah tapi jangan sampai melukainya" kata Rivan.
"Apasih kak, nggak lucu kayak orang mau pisah aja" kata Riana membalas pelukan kakaknya.
"Hanya ingin mengatakannya" jawab Rivan.
Rivan melepas pelukannya dan mengecup kening Riana dengan sejuta perasaan sayang.
Ia berbalik dan menepuk pundak Xavier "jangan sekali-kali menyakiti adikku apalagi Tata, sekarang kamu bagian dari keluarga Dominic, biarlah nama orang tuamu tak ada lagi, sekarang kamu kepala keluarga Dominic, kehormatan mu adalah kehormatan istri dan anakmu lindungi mereka Xavier Dominic" kata Rivan panjang lebar.
Xavier mengangguk "aku menerimanya, terimakasih"
Rivan mulai mendekat ke arah pintu, ia berbalik dan tersenyum tulus, senyum yang tak pernah ia perlihatkan pada Riana ataupun Xavier.
"Jangan nakal ya Tata"
Ceklek
Pintu terbuka seketika cahaya menyilaukan menyinari tubuh Rivan sebelum akhirnya menghilang bersama pintu.
Riana yang melihatnya syok, kemana pintu itu? Iya berjalan dengan langkah cepat meraba dinding yang terlihat polos.
"Kak?" Riana memukul dinding itu.
Xavier juga tak kalah terkejutnya dengan apa yang terjadi ia segera mendekat ke arah Riana yang masih terus memukuli dinding hingga tangannya terdapat memar.
"DAPAN!!" Tarqa yang juga syok langsung berteriak dan menangis histeris di tempatnya.
Xavier bingung dengan keadaan saat ini, ia hanya bisa menenangkan kedua manusia itu sembari terus mengelus punggung mereka bergantian.
"Shhhh sudah, apa kata Dapan? Tata nggak boleh nakal ya?" Kata Xavier menenangkan.
"Dapan kemana pa?" Tanya anak kecil itu.
Xavier tak tahu harus menjawab apa.
"Tata nakal ya? Jadi dapan pergi ninggalin Tata" anak kecil itu masih sesenggukan.
"Tata nggak nakal kok, mungkin Dapan lagi jadi superhero buat Tata" kata Xavier.
Riana yang mendengarnya hampir saja tertawa, apa-apaan alasan tak masuk akal itu.
Namun pikiran Riana salah besar, Tarqa terlihat mengusap ingusnya ia menatap papanya penuh binar.
"Superhero yang bisa tembus dinding pa?" Tanya Tarqa.
"I-iya" jawab Xavier agak gugup, tak tega rasanya membohongi anak itu.
"Wah" mata Tarqa berbinar.
__________
Rivan menutup matanya saat cahaya menyilaukan itu menyapa pupilnya.
Setelah di rasa tak ada cahaya lagi yang menerpa wajahnya, ia mencoba membuka matanya yang terasa sangat berat.
Setelah matanya terbuka, hal pertama yang ia lihat adalah pahatan tubuh yang sempurna.
Ah tidak itu memang tubuh yang membatu. Saat akan menggerakkan kepalanya, ia merasa sangat kesulitan dan sangat berat.
Ia melirik ke arah tangannya dan terkejut saat mendapati tangannya yang terlihat seperti patung yang di rantai.
Rivan menyadari bahwa saat ini dirinya sedang di rantai dengan tangan dan kaki membeku terlapisi batu atau itu memang membatu, Rivan tak dapat merasakannya, hanya pengelihatannya yang berfungsi.
Posisi saat ini sedang berada di tengah altar dengan tiang yang mengelilingi sebagai tempat mengikat Rantai.
Rantai besi yang mengikatnya cukup banyak 10 di masing-masing sisi kanan dan kiri, 20 di masing-masing kakinya yang beku, dan 5 di leher yang terhubung dengan sebuah kalung besi yang amat tebal.
_________
Bye❄️
komennya mana:v