
...# Happy Reading #...
"Kalian! Kalian menghinaku?" Master Akademi terlihat benar-benar marah, ia menunjuk ke arah murid Rivan.
"Oh baguslah kalau kau sadar diri" jawab Tanza.
"Kau dasar tak sopan!" Kata Master akademi.
"Siapa kau yang pantas diberikan kesopanan?" Tanya Tanza.
Para penonton menyaksikan dengan diam perdebatan kedua Manusia itu.
Dreet
Rivan berdiri dari bangkunya, seketika semua orang menatap pada dirinya, Tanza dan Master akademi juga langsung berhenti berbalas kalimat.
Rivan berjalan naik ke atas arena dengan langkah yang sangat santai.
"Kami memenangkan 3 dari 5 pertandingan, sesuai perjanjian kau akan membantai seluruh murid mu" kata Rivan.
"Kalian bermain curang" kata Master akademi tak terima.
"Bukankah di kontrak sihir sudah terdapat poin kecurangan? Apalagi?" Kata Rivan.
"Kalian pasti telah memanipulasi kontrak itu!" Kata Master akademi.
Rivan menatap tak suka pada master akademi di hadapannya.
Menundukkan kepala sebelum akhirnya ia melepaskan tudung yang menutupi wajah tampannya membuat seluruh orang yang ada di sana terpesona seketika. Di antara murid-muridnya, Rivan adalah yang tertampan.
"Kau mau apa?" Sahut Rivan menatap jengkel pada master akademi itu.
Master Akademi terlihat senang akan pertanyaan Rivan, ia kemudian mengeluarkan kontrak yang ia bawa.
"Ayo bertanding tanpa kontrak" kata si master.
"Tidak, untuk apa? Tak ada untungnya bagiku" kata Rivan menolak.
"Tentu saja ada! Pertandingan selanjutnya di bolehkan membunuh, tapi mengingat murid-murid mu yang sedikit lebih kuat, kita buat pertandingannya menjadi adil" sahut master akademi.
"Kau memperumit ini, sebaiknya terima saja kekalahan mu" kata Rivan. "Dan mulai membantai seluruh murid mu" lanjut Rivan.
"Aku tahu kau tak akan berani" kata master Akademi.
"Betapa bodohnya, apakah matamu sudah hilang? Kau melihat sendiri murid-murid ku menang tanpa terluka sama sekali" kata Rivan.
"Dan jangan membuat alasan mengenai murid-murid ku yang sedikit lebih kuat dari murid mu" kata Rivan.
Ia mulai berbalik untuk menuruni arena. Namun dari arah belakangnya master akademi malah membuat serangan mendadak.
Master akademi bergerak cepat akan memukul punggung Rivan, tubuh si master nampak memerah tak lama tubuhnya terlihat semakin membesar.
"HAAA MATILAH" teriak Master akademi.
Bom!
Brukk
Tubuh Rivan terpental keluar arena akibat gelombang yang di berikan oleh master akademi.
Walaupun luka yang di terimanya tak berarti, namun ia nampak kesal.
Grish dengan segera membantu Rivan berdiri.
Terlihat di atas arena sudah penuh dengan darah yang berceceran.
Ternyata master akademi itu mengorbankan dirinya untuk membatalkan kontrak sihir.
Rivan sedikit tersanjung akan hal itu.
Para penonton terdiam menyaksikan orang hebat akademi kerajaan mati sia-sia, bahkan korbannya saja tak tergores sedikitpun.
Para murid akademi kerajaan nampak tercengang, mereka berdiri dari posisi duduknya masing-masing. Namun mereka tak dapat berbuat apapun.
"Ayo" ajak Rivan pada Grish ia kembali ke tempat murid-muridnya berada.
"Aman mas bro?" Tanya Tanza dengan tak sopan nya.
"Pernah melihatku terluka?" Kata Rivan.
Tanza menggeleng keras. "Tidak" jawabannya.
"Huh" Rivan mendelik pada Tanza, kemudian menoleh ke arah Acras yang sepertinya sedang menahan amarahnya.
Pandangan Acras mengarah pada Ayahnya yang tega membuangnya karena dianggap tak berbakat.
"Ayo hampiri ayahmu sebelum pergi" ajak Rivan, ia menepuk pelan bahu Acras.
Acras mengangguk samar sebelum mereka semua berjalan ke arah duke.
Para penonton mulai membubarkan diri masing-masing.
"Beruntung sekali gurumu mengorbankan dirinya" kata Rivan saat berdiri tepat di hadapan kakak Acras.
Kakak Acras yang bernama Ares itu hanya diam, ia sedang menelisik mana adiknya di antara kelima pemuda di belakang Rivan.
Tak jauh berbeda dengan duke yang juga nampak mencari keberadaan Acras.
Acras berjalan tepat di hadapan duke kemudian membuka penutup kepalanya.
"Mencari ku?" Tanyanya.
Mata duke terlihat membelalak menatap Acras yang jauh lebih tinggi darinya.
Duke hanya terdiam.
"Maaf" Duke menjatuhkan dirinya dengan posisi berlutut tepat di hadapan putranya.
Acras mundur beberapa langkah. "Kenapa minta maaf duke?" Tanya Acras seolah tak tahu apa-apa.
"Acras berhenti bersikap seperti orang asing" sahut sang duke.
Raut wajah Acras berubah serius.
"Bukankah kita memang orang asing?" Kata Acras "sejak kau membuang ku, kita adalah orang asing" lanjut Acras.
"Berhenti bersikap tak sopan pada ayah Acras!" Teriak Ares yang tak suka melihat ayahnya sedang berlutut, ia membantu ayahnya untuk kembali ke posisi berdiri.
"Dia ayahmu bukan ayahku" jawab Acras, kemudian berbalik ingin pergi.
"Kau mau kemana?" Tahan Ares.
"Pergi sejauh mungkin dari kalian" kata Acras masih dengan posisi memunggungi Ares.
"Mari bertarung, setidaknya kepergian mu tak akan memuat ayah menyesal telah membuang dirimu" sahut Ares.
Seketika Acras berbalik menatap tajam mata Ares beberapa saat, sebelum tatapannya mengarah pada duke yang terlihat lesu.
"Baiklah, tapi ku tegaskan sekali lagi bahwa dia bukan ayahku" Acras meloncat tinggi ke arah Arena.
Penonton sudah tak sebanyak tadi, namun masih ada beberapa orang yang terlihat masih duduk.
"Duduklah ayah" kata Ares pada duke.
Setelah duke duduk, Ares menghampiri Acras yang ada di atas arena.
Tanpa banyak bicara lagi, dan tanpa pembukaan pertandingan oleh pendeta sihir, Ares menyerang Acras dengan sihir listriknya.
Di kedua tangan Ares terlihat pedang pendek yang di aliri energi listrik yang terlihat sangat kuat.
Ares menyerang Acras membabi buta sehingga tubuh Acras terlihat banyak sayatan.
Acras tak bergeming di tempatnya, ia nampak menerima semua serangan yang Ares berikan.
Rivan dan yang lainnya hanya menatap apa yang di lakukan oleh Acras.
Serangan terus menghampirinya untuk beberapa saat, sampai kemudian Acras mengangkat tangannya membuat arena penuh dengan tanaman berduri tajam sehingga membatasi pergerakan Ares.
Acras menggerakkan tangannya mengendalikan tumbuhan berduri itu untuk bergerak cepat menangkap kaki Ares.
Srettt
Sringgg
Saat tumbuhan berduri itu telah melilit kaki Ares, dengan segera ia memotongnya.
Acras kembali menggerakkan tangannya dengan gerakan lambat memberi perlawanan yang sebenarnya tak berarti untuk Ares.
Ares melompat tinggi di atas tumbuhan berduri itu, pedang pendeknya ia arahkan menuju Acras.
Sringgg
Sreeet
Jubah Acras nampak telah hancur oleh beberapa goresan.
Sringgg
Sringgg
Sringgg
Sreeet
Sreeet
Seluruh serangan diterima dengan wajah datar oleh Acras.
Tusss
Pedang pendek Ares menancap dalam mengenai perut Acras membuatnya mengeluarkan darah dari mulutnya.
Tusss
Pedang yang satunya menancap tepat di dada kiri Acras.
Sreeet.
Ares menarik dengan kasar pisau itu membuat Acras jatuh berlutut di atas Arena.
Tusss
Pedang Ares kembali tertancap tepat menembus jantung milik Acras.
"Benar keputusan ayah untuk membuang mu" bisik Ares tepat di telinga Acras.
"Yah setidaknya di hadapan duke kau terlihat hebat" balas Acras berbisik.
Sreeet
Ia menarik pedangnya membuat Acras hilang kesadaran.
Sebelum benar-benar tak sadar, Acras nampak memberikan senyum yang tak pernah ia perlihatkan, senyum yang entah apa artinya.
Rivan segera naik ke atas Arena dan menggendong Acras menuju ke arah muridnya yang lain sebelum menghilang dari sana, meninggalkan Ares yang memasang wajah penuh tanya.
___________
Bye ❄️