
...# Happy Reading #...
"Berlutut di hadapan pendeta sihir" kata penjaga berziarah itu.
Rivan masih menatap reaksi dari pendeta sihir di hadapannya, sepertinya kata pendeta saja tak menggambarkan sifat baik dari profesinya pikir Rivan.
"Kau!!" Penjaga itu geram, ia mulai menekan tombaknya lebih dekat bersiap melukai leher Rivan.
"Tak masalah" pendeta sihir mengangkat tangannya.
Pendeta sihir mulai menelisik penampilan Rivan mencoba mengukur tahapan sihir miliknya.
"Berdirilah" kata pendeta sihir pada warga desa yang masih setia berlutut.
Mendengar perintah dari pendeta sihir, semua mulai berdiri dengan canggung.
"Haruskah kita berangkat sekarang?" Tanya pendeta sihir dengan suara lah lembutnya, walaupun sebenarnya ia adalah seorang pria.
"Pendeta!" Penjaga yang tadi menodongkan senjata pada Rivan mengeram tak setuju. "Dia harus di hukum" lanjutnya.
"Tak masalah dia hanya rakyat biasa yang bahkan tak memiliki energi sihir sama sekali" kata pendeta sihir.
Rivan hanya diam mendengarkan ucapan remeh dari sang pendeta.
"Tap-"
"Cukup" potong pendeta sihir.
Akhirnya si penjaga harus menelan kekesalannya, penjaga itu terus saja menatap tajam Rivan meski Rivan hanya diam memperhatikan.
Anak-anak yang berjumlah sekitar 20 orang itu mulai naik ke atas kereta, masing-masing kereta berisi 10 anak.
"Kami akan berangkat sekarang" kata pendeta sihir.
"Terimakasih pendeta, di berkahi lah kuil sihir" sahut para orang tua.
Kereta akhirnya berjalan meninggalkan desa.
"Apakah mereka akan aman?" Tanya Rivan pada Horan.
"Tentu saja, pendeta sihir akan menjaganya" kata Horan.
"Kenapa kamu tak ikut?" Tanya Rivan.
"Akan merepotkan bila semua para orang tua ingin ikut" kata Horan.
Rivan menatap kereta yang semakin menjauh.
"Aku akan menyusul" kata Rivan, dan tanpa kata ia mulai meninggalkan Horan yang ingin angkat bicara.
"Haiss anda tak dapat di tebak tuan" gumam Horan.
____________
Rivan mengambil posisi agak jauh dari kereta yang membawa anak-anak.
Setidaknya 10 penjaga Tahap JARINGAN tingkat 3 dan seorang pendeta sihir di tahap ORGAN tingkat puncak sudah cukup untuk menjaga anak anak itu selama perjalanan beberapa hari ke depan.
Malam harinya, saat waktu beristirahat Rivan yang pengelihatan malamnya sangat tajam mengawasi anak-anak, mereka memakan sup yang di buat penjaga.
Asik dengan pengawasannya, Rivan merasa ada kejanggalan di sekitar mereka.
"System telusuri area" perintah Rivan.
[Peta perjalanan]
Rivan memperhatikan peta di hadapannya melihatnya sebuah titik merah yang agak besar berada satu kilometer tadi posisinya.
"Apa itu?" Tanya Rivan.
[Sepertinya itu adalah monster sihir tuan] jawab System.
Titik merah itu bergerak cepat ke arah kumpulan anak-anak yang tengah beristirahat.
Roarrrrrrr
Dan beberapa detik kemudian monster itupun terlihat.
Monster serigala dengan rambut mengkilap bak baja, berwarna biru pekat, tubuhnya setinggi 5 meter menjulang tinggi.
Setibanya monster itu, tanpa kata ia langsung menyerang penjaga yang lengah.
Pendeta sihir bergerak cepat, mengengkat tangan sebelum barier melindungi dirinya beserta anak-anak yang mulai menangis karena ketakutan apalagi melihat para penjaga yang di makan oleh monster itu.
Rivan meloncat cepat ke arah monster itu mengeluarkan sihirnya yang membentuk sebuah pedang panjang.
Satu tebasan saja sudah berhasil melepaskan kepala monster sihir tahap menengah itu.
Seluruh penjaga yang tadinya tak siap menerima serangan harus meregang nyawa hingga hanya tersisa pendeta sihir di dalam barier.
Rivan berjalan mendekat ke arah barier yang masih melindungi anak-anak itu dan dengan santainya ia melangkahkan kakinya masuk melewati pelindung yang di buat pendeta sihir.
"Hm, setidaknya kau berhasil melindungi anak-anak" kata Rivan.
Pendeta sihir yang melihat Rivan hanya terdiam membisu, ia syok melihat orang yang tadi sempat ia remehkan dengan mudahnya membantai monster yang dirinya saja tak tahu apakah bisa melawan atau tidak.
"Bukankah anda tak memiliki sihir?" Kata si pendeta.
"Pernahkah aku berkata seperti itu?" Kata Rivan.
__________
Setelah tiga hari perjalanan, akhirnya mereka sampai di kuil sihir dengan Rivan yang berakhir menjadi penjaga.
"Terimakasih telah membantu kami tuan" kata pendeta sihir, ia sedikit menunduk sebagai tanda kesopanan.
Mereka beristirahat sambil menunggu giliran kelompok mereka melakukan tes, memang sudah banyak kereta yang mengantri di depan kuil sihir.
Mereka adalah anak-anak dari desa lain.
"Berapa lama lagi giliran kita?" Tanya Rivan, ia sudah tak sabar melihat bagaimana proses penentuan elemen sihir dilakukan.
"Mungkin 2 jam lagi" jawab pendeta sihir.
"Ck" Rivan kesal sendiri.
Melihat itu pendeta sihir berinisiatif untuk mengajak Rivan masuk lebih dulu, karena ia yakin Rivan bukan orang sembarangan.
Setelah memanggil salah seorang penjaga untuk menggantikannya menjaga kereta, pendeta mengajak Rivan untuk masuk lebih dulu.
Rivan yang di ajak tentu saja setuju, pendeta itu mulai membawanya ke sebuah aula yang berisi banyak orang anak yang sedang duduk sembari menunggu, tak lupa pula banyaknya pendeta sihir yang sedang sibuk mengatur antrian.
Di tengah-tengah aula terlihat sebuah bongkahan batu besar berwarna hitam dengan seorang pendeta sihir berdiri di sampingnya.
Seorang anak meletakkan tangan kanannya di sana, batu hitam itu berubah warna menjadi merah.
"Elemen Api" kata si pendeta yang berdiri di samping batu.
Mendengarnya semua orang bertepuk tangan merasa senang.
"Atribut pisau" kata si pendeta lagi pada seorang anak.
Tak ada yang memberinya tepuk tangan, bocah yang baru saja tes nampak lesu.
"Dia kenapa?" Tanya Rivan ada pendeta sihir yang tadi membawanya masuk.
"Dia tak berbakat" jawab pendeta sihir itu.
"Tak berbakat? Bukankah dia memiliki atribut pisau?" Tanya Rivan.
"Apa gunanya?" Kata pendeta sihir "dia hanya cocok menjadi petani atau bekerja di dapur dengan pisau itu" lanjut Pendeta sihir.
"Tapi bukankah pisau juga bisa membunuh?" Kata Rivan.
"Percuma, Elemen dan Atribut sihir yang berguna hanya elemen Api, Air, tanah, Angin, cahaya, dan petir sementara Atributnya hanya pedang, tombak, perisai, dan sebagain senjata kelas menengah dan tinggi" papar pendeta sihir.
"Elemen hanya ada 6? Bukankah itu 7? Bagaimana dengan elemen kegelapan?" Tanya Rivan.
Seketika pendeta sihir itu menoleh.
"Elemen itu sudah lama punah bersama bangsa Vali sekitar 500 tahun yang lalu" kata si pendeta.
Rivan yang mendengar bangsa Vali agak tertarik, karena ia sedikit tahu dengan sejarahnya.
"Bukankah bahasa yang kita gunakan bahasa bangsa Vali?" Kata Rivan mencoba memancing pembicaraan.
"Ya hanya bahasa yang mereka tinggalkan, mengerti dan menggunakan bahasa mereka bukan berarti kita bangsa Istimewa itu" kata pendeta.
"Apanya yang istimewa?"
"Mereka bangsa yang kuat, bangsa dengan segudang ilmu pengetahuan dan teknologi, serta satu-satunya bangsa yang memiliki elemen kegelapan" jawab pendeta.
Rivan tak bertanya lagi, pikirannya memutar pada perkataan pendeta, bukankah itu artinya ia juga bangsa Vali mengingat ia memiliki Elemen hitam dan putih yang mampu berbaur dengan segala elemen?.
___________
Bye ❄️