ARTELARIVAN

ARTELARIVAN
Ale-45



# Happy Reading #


Tarqa berada di aula kampus bersama banyak maba yang lainnya, ia duduk agak di pojokan untuk menghindari orang-orang. terlihat jelas banyak yang curi-curi pandang kepadanya.


Sedangkan Tarqa hanya cuek ia memilih membaca sebuah buku filosofi berbahasa Yunani.


Tak berselang lama, acara penyebutan di mulai, acara tersebut di buka oleh ketua BEM, Tarqa menyimpan bukunya dan memperhatikan dengan seksama apa yang di ucapkan oleh orang yang memperkenalkan diri sebagai presiden mahasiswa.


Setelahnya sambutan oleh beberapa orang rektor dan ucapan ucapan selamat karena sudah bergabung di universitas swasta ternama milik papanya atau lebih tepatnya miliknya sendiri.


Di penghujung acara, para anggota BEM mulai mengajak para maba untuk bermain, sekedar untuk mempererat hubungan antara senior dan junior.


Tarqa hanya menatap datar pada seniornya yang tengah mengoceh di atas podium.


"Baiklah bagaimana kalau kita panggil seseorang untuk di wawancarai?" Sahut si anggota BEM itu ia nampak bersemangat.


"Iya kak" jawab suara maba yang di dominasi perempuan.


"Emmm kalai begitu kita tunjuk secara acak ya" kata si anggota BEM kemudian mengedarkan pandangannya ke sekeliling.


Matanya menangkap lokasi Tarqa yang terlihat menyendiri, tak lupa wajah rupawan milik Tarqa yang tentu menjadi daya tariknya untuk memanggil anak itu.


"Yang di pojok ayo maju" sahutnya sambil menunjuk Tarqa.


Tarqa yang merasa dirinya di panggil menoleh ke belakang dan ke sisi kanan kiri tak ada siapapun, ia kemudian menunjukkan dirinya sendiri seolah bertanya 'saya?'.


"Iya" jawab si anggota BEM.


Dengan malas Tarqa menenteng tasnya karena tak mungkin di tinggalkan, ia tak memiliki seseorang untuk menjaganya.


Berjalan dengan langkah pasti, ia naik ke atas podium tanpa ragu.


"Kesini" kata si anggota BEM mengarahkan Tarqa untuk berdiri tepat di sampingnya yang sedang berdiri di mimbar.


Tarqa menurut saja sebagai formalitas karena hal tersebut masih wajar.


"Namanya siapa?" Tanya si anggota BEM.


"Tarqa" jawab Tarqa dengan nada tak bersahabat, sejatinya ia tak suka di jadikan tontonan banyak orang.


"Oke, Tarqa kalau boleh tau nih Tarqa masuk universitas lewat jalur apa?" Tanyanya lagi.


"Mandiri" jawab Tarqa.


"Jurusan?"


"Bisnis"


"Oke.... Jadi Tarqa ini anak orang kaya ya?" Tanyanya mencoba untuk membuat percakapan agar tak terlalu canggung.


Tarqa mengangguk, ia tak menampik bahwa dirinya memang anak orang kaya.


Setelah Tarqa mengangguk suasana menjadi agak kikuk karena Tarqa selalu menjawab singkat dan seadanya.


"Orang tua Tarqa kerja apa?" Kata si anggota BEM itu.


Tarqa Langsung menoleh kepadanya dengan sebelah alis yang terangkat.


"Tak sopan" sinis nya dengan suara pelan.


"Apa?" Tanya si anggota BEM yang nampak tak suka dengan perkataan Tarqa.


Tarqa hanya diam, ia malas melihat wajah sok akrab orang di hadapannya itu.


"Papa kerja kantoran sementara mama di rumah" jawab Tarqa setelah menghela nafasnya dalam.


"Oh jadi Tarqa ini anak papa dan mama ya?"


"Hm" jawabannya.


"Oke kalau begitu untuk mengakhiri kegiatan kita hari ini, mari semua berdiri dan ikuti gerakan Tarqa sesuai instruksi saya" kata si anggota BEM.


Semua maba mulai berdiri dari kursinya menunggu apa yang akan di instruksikan oleh anggota BEM itu.


"Oke Tarqa anak papi dan mami angkat kedua tangan tinggi tinggi, yang lain mengikut ya" kata si anggota BEM.


Tarqa melirik sejenak ke arah anggota itu wajah Tarqa nampak sangat tak bersahabat, sebelum ia mulai mengangkat tangannya tinggi menjulang hingga ke atas kepalanya.


"Tengok ke kanan"


"Hirup" Sahutnya.


Tanza hanya diam tanpa mempedulikan instruksi terakhir ia menurunkan tangan menatap dingin pada anggota BEM itu yang nampak senang mempermainkannya.


"Harum?" Tanya si anggota BEM dengan wajah jahiliah, ia terlihat terkekeh ringan.


Semua maba yang ada di bawah podium nampak menertawakan kebodohan mereka. Berbeda dengan Tarqa yang benar-benar tak suka permainan si anggota BEM itu.


"Ada apa Tarqa" tanya si anggota BEM.


"Kenapa kau tak mencobanya juga?" Kata Tarqa.


Si anggota BEM nampak bingung atas apa yang Tarqa ucapkan.


"Mencoba apa?" Tanya si anggota BEM.


"Mencium ketiak mu" sahut Tarqa.


"Ada apa dengan itu?" Katanya.


"Tidak, hanya saja aku mencium beberapa bau aneh darimu" sahut Tarqa tak lupa dengan wajah datarnya menambah kesan menjengkelkan di sana.


Seketika si anggota BEM itu mengangkat tangannya dan mencium aroma ketiaknya yang mana hal itu membuat semua Maba menertawakan dirinya.


Wajah si anggota BEM nampak memerah menahan malu.


Tarqa dengan santainya berjalan menuruni podium untuk keluar dari aula itu, tak menghiraukan tatapan marah yang di arahkan padanya.


____________


Dan di sinilah mereka berdua sedang bergulat di sekitar gerbang masuk kampus di saksikan oleh banyak maba lainnya.


Tak lupa ada Rivan yang masih setia menggendong kia, tubuhnya yang tinggi membuat kia aman dari orang lain.


Rivan menatap datar ke arah perkelahian melihat bagaimana keponakan tersayangnya itu mengatasi orang yang berkelahi dengannya, tak ada niat sedikitpun untuk melerai.


Bukh


Bukh


Bukh


Tarqa yang berada di posisi atas menghantam wajah si anggota BEM yang terlihat terkapar di bawahnya, wajah keduanya membiru namun wajah anggota BEM nampak lebih parah.


Tas dan buku-buku mahal milik Tarqa berceceran di sekitaran, ponsel yang baru saja di berikan oleh Xavier sebagai hadiah masuk kampus juga tak luput menjadi korban perkelahian.


Kemeja yang harganya mampu membeli sebuah handphone android nampak kotor dan berantakan.


Huffft Rivan membuang nafasnya sejenak, Hari yang benar-benar berat.


Tarqa berhenti setelah anggota BEM itu nampak tak mampu melawan balik lagi, ia berdiri menyeka darah di sudut bibirnya kemudian memunguti ponsel dan buku-bukunya sebelum di masukkan ke dalam tas.


Raut wajah datar membelah kerumunan yang otomatis menyingkir, hingga ia tak sadar bahwa ada Rivan di hadapannya yang tengah memperhatikan gerak geriknya.


"Dapan?" Kata Tarqa ia mempercepat langkahnya hingga sampai tepat di depan Rivan, memberi pelukan sebagai sapaan dan di balas Rivan dengan mengusap rambutnya yang kotor penuh dengan debu.


"Harusnya kau tak membiarkannya hidup" kata Rivan yang masih dapat di dengar oleh orang yang masih berkerumun.


"Ayo" ajak Rivan keduanya mulai berjalan meninggalkan kampus menuju tempat mobil di parkir.


Tarqa duduk di samping kemudi setelah Acras pindah ke belakang bersama Sakran.


"Dia siapa dapan?" Tanya Tarqa pada gadis kecil yang di pangkuannya.


Rivan mengangkat bahunya acuh. Dan mulai mengemudikan mobil.


"Kakak ciapa?" Tanya Kia.


"Kamu yang siapa?" Kata Tarqa.


"Kia" kata Kia menatap mata Tarqa.


___________


Bye ❄️