ARTELARIVAN

ARTELARIVAN
Ale-40



...# Happy Reading # ...


Ceklek.....


Pintu masuk terbuka memperlihatkan seorang pemuda tampan yang tingginya sekitar 175 cm, mengikuti di belakangnya seorang gadis cantik yang lebih mungil daru si pemuda.


"Dapan!?" Tarqa berlari ke arah Rivan.


Bak anak kecil, Tarqa merentangkan tangannya dan langsung melompat ke dalam pelukan Rivan.


Rivan menyambutnya dengan merentangkan tangannya memeluk erat tubuh Tarqa yang sudah besar, tak ada lagi Tarqa yang mungil.


Pria berkemeja maron itu menangkup wajah Rivan dengan kedua tangannya kemudian menciumi seluruh wajah Rivan dan terakhir memberinya kecupan di bibir seperti saat ia masih kecil.


Jika orang yang tak tahu hubungan keduanya akan menatap mereka dengan jijik seperti yang sedang di lakukan oleh Acras dan Sakran saat ini.


"Dapan kembali?" Tanya Tarqa yang masih setia di gendongan Rivan.


"Iya, Dapan kembali untuk Tata" kata Rivan.


"Uhs so sweetnya"


Cup~


Merasa gemas dengan Tarqa, Rivan memberinya kecupan manis di bibirnya.


Keduanya sudah seperti unclecompelex.


Gadis kecil yang datang bersama Tarqa terlihat menatap bingung pada kakaknya.


"Kakak?" Katanya.


Tarqa menoleh ke belakang sebelum akhirnya memutuskan untuk turun dari gendongan Rivan.


"Dapan ini Aleana, Aleana Dominic umurnya hampir 10 tahun" Tarqa memperkenalkan adiknya.


Rivan memperhatikan Aleana Wajahnya adalah jiplakan Xavier, kasihan sekali adiknya, ia yang mengandung dan menyusui serta merawat kedua anaknya, namun keduanya malah mirip dengan ayahnya yang enak-enakan membuat.


Xavier bersama Riana datang dari arah belakang mereka terlihat telah rapih.


"Ku kira kalian tak akan melanjutkannya dan langsung menemui ku" sindir Rivan karena pasangan itu datang sangat lama.


"Apa kabar kak?" Tanya Riana tak menghiraukan sindiran kakaknya, ia berjalan memeluk Rivan.


Rivan tentu membalasnya.


"Baik" jawab Rivan kemudian melepaskan pelukannya.


"Sebaiknya kau pergi mandi dulu, tubuhmu bau sel anakan Xavier" kata Rivan.


Wajah Riana memerah ia segera pergi dari sana.


"Pah" gadis kecil itu mendekat ke arah Xavier.


"Ada apa sayang?" Xavier mengusap rambut milik Aleana yang sama seperti miliknya.


Aleana menarik kemeja bawah papanya agar menunduk, ia ingin berbisik.


"Paman tampan itu siapa?" Tanyanya.


Wajah Xavier berubah masam mendengar anaknya yang cantik itu memuji ketampanan pamannya sendiri.


"Tak ingat wajahnya? Bukankah kak Tata setiap hari memperhatikannya pada Lana?" Kata Xavier.


"Paman itu?" Tanya Lana.


"Iya, itu dia" jawab Xavier.


Lana mengangguk mengerti.


Tak lama datang Tanza bersama Grish yang terlihat sangat senang, sangat mirip seperti seorang yang telah mendapat harta karun yang amat berharga.


"Kalian kenapa?" Tanya Sakran menatap penasaran pada keduanya yang terlihat sangat bersemangat.


Tanza dan Grish tak menjawab, ia mengayunkan tangannya membuka inventori dan mengambil sebuah kristal besar berwarna ungu kehitaman dari dalam sana.


hal itu cukup mengejutkan Xavier yang ada di sana, ia mencoba berfikir logis setelah melalui semuanya beberapa tahun belakangan.


Tak hanya satu, melainkan dua untuk setiap orang. "Masih ada banyak di inventori ku" kata Tanza.


Sakran dan Acras nampak menginginkannya juga.


"Kalian pasti menyesal tak ikut kami masuk" sahut Grish yang terlihat mengusap kristal itu di pipinya.


"Kenapa kalian berdua mencuri di rumahku?" Tanya Rivan dengan datar.


Tanza terlihat menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Kami hanya mengambilnya mas bro, rencananya kami akan memintanya padamu" alasan Tanza.


"Bagaimana bang? Mau memberinya?" Kata Grish.


"Haiss ambillah, kalian juga jika mau masuk saja ambil di dalam" kata Rivan.


"Ayo keluar" Rivan mengajak yang lainnya untuk pergi.


"Ah Xavier kamu tunggu dua orang yang masuk tadi" kata Rivan saat Xavier akan ikut melangkah.


"Iya kak" sahut Xavier menuruti.


__________


Setelah mereka mengganti pakaiannya yang agak kuno, Rivan bersama keempat lainnya turun menuju Rumah yang tepat berada di samping rumahnya.


Ternyata Xavier dan Riana memperluas rumah ini dengan membeli beberapa rumah di sekitar.


Rumah yang ada di samping adalah rumah utama milik Riana dan Xavier, yang bertempat di rumahnya adalah Tarqa seorang diri.


Xavier tak melarang, sebab ia masih dapat memantau anaknya itu.


Tiba di rumah Xavier, ternyata mereka sudah menyiapkan banyak makanan di atas meja makan.


Rivan mengambil duduk di sisi kanan Xavier yang duduk di kursi kepala keluarga, Rivan tak masalah dengan itu karena rumah ini memang rumah milik Xavier.


"Ku kira perusahaan sudah jatuh miskin sampai kalian tak ada kasur untuk tempati bercinta" sindir Rivan.


Di sampingnya sudah duduk Acras dan yang lainnya. Penampilan mereka menjadi lebih wow karena pakaian yang mereka kenakan benar-benar pas dan modern.


Bahkan para pembantu rumah milik Riana juga terlihat mencuri-curi pandang pada kelimanya.


Riana memang mengambil beberapa pembantu untuk berada di rumah utamanya. ia membatasi mereka untuk pergi ke rumah Rivan.


"Makanya enak sekali mas bro" sahut Tanza ia nampak sangat menikmati hidangan di hadapannya.


Rivan mengangguk setuju, sudah lama ia tak merasakan makanan dari dunianya.


Tarqa yang duduk di samping Riana terus memperhatikan dengan mata berbinar pada Dapannya.


Selesai makan mereka duduk di ruang tamu, Tarqa kembali menempeli Rivan, sementara Rivan hanya mengelus rambut halus anak itu.


"Kak, wajahmu nampak tak berubah sama sekali, bahkan terlihat semakin tampan" komentar Riana "sekarang kamu seperti adikku" lanjutnya.


Xavier mengangguk setuju, "Aku sudah bisa jika jadi ayahmu kak" katakan.


Rivan mendelik tak suka. meraka tak tahu jika umur Rivan sudah tepat 135 tahun.


"Terserah kalian" jawab Rivan ia kembali fokus pada Tarqa yang terus mengoceh.


Sementara ke empat muridnya tengah mengagumi meja hologram yang terletak sisi ruangan.


"Dapan kemana saja?" Tanya Tarqa.


"Dapan pergi berkelana"


"Dapan akan pergi lagi?"


"Sepertinya iya, tapi mungkin agak lama lagi tidak sekarang"


"Dapan... Tata boleh ikut?"


"Boleh" jawab Rivan.


"Besok aku akan masuk kuliah untuk hari pertama, Dapan ingin mengantarku?" Tanya Tarqa.


"Anak yang hebat, bukannya umur Tata baru mau masuk 15 tahun? di mana Tata akan kuliah?" Tanya Rivan.


Wajah Tarqa terlihat sedikit cemberut.


"Sebenarnya Tata ingin ke Harvard tapi papa melarang katanya tak mau jauh dari Tata, jadi Tata kuliah di kampus milik papa"


Rivan melihat ke arah Xavier saat mendengar pengaduan itu.


"Bukankah bagus? Aku bisa mengawasinya kapan saja" kata Xavier seolah tahu apa yang di pikirkan Rivan.


"Kamu terlalu mengekang nya, selama tak berpengaruh buruk padanya sebaiknya kau turuti saja" kata Rivan.


"Kakak ipar menikahlah segera agar tau bagaimana melepas anak kakak yang belum legal untuk belajar keluar negeri" balas Xavier merasa kesal.


"Bahkan aku akan melepaskannya ke mars jika perlu" kata Rivan tanpa pikir.


"Ayo Tata tidur sama Dapan" ajak Rivan.


Tarqa mengangguk kemudian mengikuti Rivan dari samping, sedangkan para murid yang asik menonton juga segera menyusul Rivan.


Sampai di rumah Rivan, Mereka menuju kamar masing-masing.


Saat ini Rivan sedang menghadap langit-langit kamarnya ia terus mencoba terhubung dengan system namun tak ada respon yang ia dapat.


Sejujurnya hal itu menganggu pikirannya, bagaimana rasanya jika seseorang yang menemanimu hingga ratusan tahun tiba-tiba pergi meninggalkan mu?, Hal itu yang tengah di rasakan oleh Rivan.


___________


Bye..... Bab selanjutnya mungkin akan berisi kisah kasih Rivan yang lain nya.


Bye❄️