
...# Happy Reading #...
[System memperoleh data tentang dunia baru]
[Memperbaharui system]
[Waktu pembaharuan tidak di ketahui]
[Memulai pembaharuan]
________
Rivan menatap datar pada sekumpulan hewan buas yang ada di hadapannya, tangan dan kakinya masih membeku dengan rantai yang melilitnya.
Hewan-hewan itu hanya menatapnya lapar tanpa bisa mendekatinya, bahkan tumbuhan lebat seolah tak berani menyentuh altar yang mengikatnya.
Sudah berapa lama semenjak ia berada dalam posisi ini?
Ah tidak sudah berapa lama semenjak system di perbarui?
Atau sudah berapa lama ia tiba di dunia ini, dan dalam kondisi yang terikat.
1 tahun.....?
2 tahun....?
5 tahun.....?
10 tahun...?
Ah tidak, itu tidak kurang dari 100 tahun....
Monster-monster itu akan berkumpul di sini sekali dalam setahun, dan dari pengamatan Rivan, setidaknya itu telah lebih dari 100 kali.
Rasanya Rivan telah menyatu dengan alam, bahkan angin yang berhembus terdengar berbisik di telinganya menyampaikan sebuah kabar.
Pandangannya sudah sangat tajam, bahkan ketika malam menjemput ia masih dapat melihat semut yang merangkak di atas tanah membawa beberapa daun yang memiliki sumber air.
Hewan hewan melata bahkan sudah dapat di mengerti bahasa tubuhnya oleh Rivan.
100 tahun tanpa makan dan minum harusnya seseorang telah mati, tapi tidak dengan Rivan, ia sudah seperti seorang petapa makanannya hanya energi alam.
Bahkan saat ini Rivan tak merasakan tubuhnya hanya pengelihatan dan pendengaran yang berfungsi.
Sekumpulan monster yang jumlahnya tak kurang dari 1 juta itu mengaum pada Rivan. Dari ukurannya paling besar hingga sekecil burung Pipit.
Telinga Rivan yang sangat tajam itu berdengung mendengarnya.
Monster dan hewan itu berbeda, ia tak mengerti apa yang dimaksud oleh monster-monster di hadapannya tapi satu yang Rivan yakini, monster itu berkunjung setiap tahunnya karena merasakan energi yang ada pada dirinya yang semakin besar.
Rivan juga menyadarinya, semakin lama ia berdiam, semakin banyak pula energi alam yang masuk ke dalam tubuhnya, itu seperti sungai yang mengalir, dari anak sungai berubah menjadi sungai besar hingga rasanya enegi dalam tubuhnya seluas lautan.
Deg
Deg
Deg
Tiba-tiba Rivan dapat merasakan jantungnya yang berdegup sangat kencang adrenalin nya meningkat pesat.
Ia memejamkan matanya mencoba merasakan apa yang terjadi pada jantung nya.
Sebuah garis putih terlihat melingkari jantung nya, hingga garis melingkar itu berjumlah 20 setelahnya menyatu menjadi satu dan berubah warna menjadi kuning.
Hal yang sama kembali terjadi, setelah 20 lingkaran berwarna kuning cukup, itu kembali menyatu menjadi warna Hijau.
Warna hijaunya kemudian bertambah hingga 5 lingkaran dan menyatu lagi menjadi warna merah mudah.
Hal tersebut terus berulang kembali 5 lingkaran terus muncul dan menyatu di jantungnya seiring dengan ia semakin merasakan tubuhnya.
Setelah merah muda kemudian berubah menjadi merah...
Biru muda
Biru
Ungu muda
Ungu
Kelabu
Silver
Hitam.
Lingkaran itu berhenti menyatu tepat dimana jantungnya memiliki 2 lingkaran berwarna hitam.
Tubuh batu Rivan perlahan mulai retak, rantai yang menempel terpental jauh. Perlahan tapi pasti tubuhnya pun berubah menjadi manusia normal, hanya saja pakaiannya sudah hancur.
Rivan terduduk di atas altar batu yang benar-benar bersih itu, bahkan debu tak i
berani mengotorinya, kakinya serasa mati rasa, tangannya tak dapat di gerakkan.
Monster mulai berdesakan ke arahnya namun masih ada penghalang yang cukup kuat untuk menahannya.
Namun penahan itu tak bertahan lama sebelum seekor monster terbang ke arahnya melesat dengan cepat dan langsung membuka mulut lebar siap menelan Rivan.
Hanya satu yang lolos sebelum akhirnya mereka berdesakan masuk hingga penghalang altar sudah benar benar hancur.
Ketika tak merasa apapun ia membuka sedikit matanya, terlihat monster itu seolah dalam waktu yang berbeda dengannya, sangat lambat.
Entah pikiran darimana, ia membayangkan kepala monster yang sedang menganga itu hancur lebur.
Dan
Trak.....
Kepala monster itu berceceran bahkan mengenai wajahnya yang penuh dengan janggut panjang yang menjuntai hingga menutupi area privasinya.
Dengan sekuat tenaga ia mencoba berdiri kemudian membayangkan sedang menggenggam pedang.
Cahaya hitam mulai berkumpul membentuk sebuah pedang yang sangat besar dan panjang. Namun Rivan merasa pedagang itu sangatlah ringan.
Rivan mengayunkan pedang itu secara Horizontal dengan gerakan memutar.
Crashhh
Setidaknya 100 ribu monster dalam radius 1 km mengenai pedang panjangnya dalam sekali tebasan.
Pergerakan monster mulai terlihat lebih cepat mereka berbondong-bondong berlari ke arah Rivan seolah Rivan adalah sebuah piala emas yang harus mereka menangkan.
Rivan menggerakkan lengannya seolah menari di tengah kerumunan monster.
Rivan terlihat sangat menjanjikan saat ini dengan darah yang sudah membasahi seluruh tubuhnya.
Ada rasa puas tersendiri saat pedang itu membelah monster di hadapannya, oh kesenangan apa ini? Ini seperti melepas seluruh beban pikirannya.
Lama mengayunkan pedangnya, akhirnya monster itu tersisa beberapa dengan ukuran yang lumayan besar.
Seekor monster yang sangat mirip dengan ular namun sisiknya terlihat sangat mengkilap mirip baja. panjang monster itu sekitar 20 meter dengan lidah hitam yang penuh dengan racun.
Sssssssst
Monster itu mendesis sebelum akhirnya berlari dengan capat menggunakan sepasang kaki burungnya ke arah Rivan.
Crashh
Satu ayunan pedang dari Rivan mampu membuat ular terbelah menjadi dua dari kepala hingga bagian perut.
Tak sampai di sana, seekor harimau bergerak dengan cepat siap melukai wajah Rivan
Crashh
Rivan yang pendengarannya sudah sangat sensitif tentu menyadari pergerakan sang harimau.
Hingga ayunan pedang itu langsung memisahkan kepala harimau dari tubuhnya.
Begitu seterusnya dengan beberapa monster yang mencoba melukai Rivan.
Setelah dirasa semua monster telah ia habisi, Rivan diam sejenak menatap laut darah berwarna hitam di hadapannya.
Rasa senang tiba-tiba saja keluar dari dirinya, inilah kebebasan pikir Rivan.
Saat akan duduk di atas sebuah batu, ia tiba-tiba saja merasakan guncangan yang cukup keras, tak lama kemudian batu yang ia duduki terasa terangkat.
Roarrrrrr
Akhirnya Rivan dapat melihat kepala monster besar yang sedang mengaum di hadapannya, ah tidak monster kura-kura yang sedang ia duduki.
Monster itu sebesar bukit, pepohonan juga tumbuh di atasnya.
Rivan tanpa kata langsung meletakkan tangannya di atas batu dan membayangkan ada paku besar yang menusuk cangkang keras kura-kura.
Roarrrrrr
Monster kura-kura itu merasa kesakitan saat energi yang di kumpulkan Rivan mulai merusak cangkang kerasnya sebelum akhirnya.
Brukk
Tak dapat melawan, kura-kura itu sudah habis di tangan Rivan.
Rivan merasakan sebuah energi yang amat besar masuk ke jantungnya, rasanya sangat menyakitkan.
Ia mencoba mengatur energi itu membuatnya melingkari jantungnya.
Satu lingkaran hitam kembali terbentuk di sana sehingga tiga lingkaran itu menyatu membentuk sebuah lingkaran agak besar berwarna emas menyala, sangat indah.
Rivan terbaring di atas batu besar itu menatap langit biru yang terlihat sangat indah di sana.
Angin kembali berhembus membawa berita untuknya.
Sebelum akhirnya kesadarannya perlahan menghilang karena merasa kelelahan.
Rivan tertidur dengan tubuh penuh dengan darah hitam janggutnya menutup area privasinya.
Auranya begitu mencekam sehingga burung pun tak ingin melintas di atasnya.
[System telah di perbarui]
__________
Bye❄️
Komennya mana:v