
...# Happy Reading #...
Tanza sudah berdiri ditengah tangah aula, di hadapannya sudah ada murid dari akademi sihir kerajaan yang sudah bersiap.
Di ruangan VIP para Bangsawan ternyata juga ikut menonton karena pertandingan ini adalah pertandingan akademi sihir kerajaan yang paling berpengaruh dan banyak menghasilkan orang hebat.
Metode pertandingan adalah 1 VS 1. Para murid tak di perbolehkan untuk membunuh lawan.
Tanza menatap malas lawannya kenapa dirinya harus mendapat yang paling lemah di antara semuanya.
Tanza sedang misu-misu menatap kukunya seperti seorang anak yang sedang ngambek karena tak di perbolehkan main. Bahkan tudung di kepalanya masih terpasang dengan sempurna.
Seorang pendeta sihir berdiri di tengah.
"Pertandingan pertama murid akademi sihir Vakas melawan Tanza murid dari seorang bangsa Vali" kata Pendeta sihir.
Uoooooohhh
Penonton bersorak saat mengetahui identitas Rivan yang ternyata sangat istimewa.
"Gurunya bangsa Vali"
"Bukankah Bangsa itu sudah lama hilang?"
"Wahh pantas saja auranya sangat asing"
"Yang mana gurunya?"
"Salah satu dari enam pemuda itu"
"Akhh kita tak bisa melihat wajahnya"
"Kira-kira siapa yang akan menang?"
"Hal yang sulit untuk di tebak"
"Peraturan tidak boleh membunuh, dan arena akan di pasang barier agar kalian bertanding sampai menyerah atau pinsan paham?" Kata pendeta sihir lagi.
"Paham" jawab Vacas.
Sementara Tanza yang masih mengamati kukunya dengan malas hanya mengangguk.
"Buat dia babak belur" transmisi suara satu arah itu menyapa indra pendengaran Tanza, ia menoleh ke arah Rivan yang sedang mengangguk kecil.
"Pertandingan dimulai" kata si pendeta sihir sebelum meloncat mundur dari arena dan terlihat barier penahan di sekitar arena.
Vakas mulai memejamkan matanya beberapa saat, sepertinya ia sedang membuat mantra sihir.
Tangan Vakas mulai terlihat sebuah nola api berwarna merah yang terlihat sangat panas siap di lemparkan pada Tanza.
Burrzzz
Vakas melempar bola api itu pada Tanza dengan sangat cepat.
Tak
Tanza dengan malas-malasan mengangkat tangannya hingga bola api itu berhenti begitu saja.
Uoooooohhh
Heboh penonton.
Vakas yang melihatnya cukup terkejut, ia segera membabi buta melempar bola itu pada Tanza.
Burrzzz
Burrzzz
Burrzzz
Tak
Semua bola api itu melayang di udara tak ada yang mampu mendekati Tanza walau hanya satu meter.
Vakas mulai kesal karena serangannya terus di tahan dengan sangat mudah.
"Berikan serangan mu!" Tentang Vakas dengan berani.
Senyum sinis terlihat semua orang di bibir Tanza yang sangat mengkilap dengan warna pink.
Tanpa banyak kata lagi, ia mengayunkan tangannya ringan membuka dimensi Ruangnya mengeluarkan 3 buah pedang panjang dari sana.
"Sihir ruang!"
"Bukankah sihir itu sudah tak ada lagi?"
"Kau lupa, gurunya bangsa vali"
"Ah kau benar"
Pedang-pedang itu melayang di samping kiri dan kanan Tanza serta satu berada tepat di atas kepalanya.
Vakas mulai memasang sikap waspada bersiap menerima serangan.
Tussss
Pisau pertama meluncur dengan di balut sebuah energi sihir, kecepatannya tak main-main, namun dengan keberuntungan Vakas bisa menghindarinya.
Tusss
Tusss
Pedang panjang itu kembali menyerang Vakas sebelum akhirnya mengenai lengan kanan dan kirinya.
"Akkkhhh" Vakas berteriak kesakitan kulitnya seperti disayat menggunakan silet.
Tusss
Pedang yang tadinya ia hindari bergerak dari arah belakang membuat sayatan panjang di punggungnya. Tanza samasekali tak berminat untuk mempersilahkan Vakas membalas serangannya.
"Akkkhhh" Vakas mulai berlutut.
Tusss
Tusss
Tusss
Ketiga pedang itu menari nari menyayat tubuh Vakas hingga benar-benar terluka.
Vakas tak mati karena serangan Tanza tak mengenai titik vitalnya, serangan Tanza hanya menyayat dagingnya ia benar-benar berniat menyiksa Vakas.
Tusss
Tusss
Tusss
Daging milik Vakas tercecer di atas arena membuat penonton bergidik ngeri melihatnya, sementara di tempat Rivan, mereka hanya menatap datar pada arena.
Master Akademi yang melihat itu sudah keringat dingin, ini baru pertarungan pertama dan pihaknya sudah di buat semengenaskan itu.
Master Akademi beralih menatap pada kumpulan Rivan, sedangkan Rivan yang menyadarinya memberikan seringai lebar walau tak membuka tudungnya.
Wajah master Akademi pucat pasih, ia melirik ke arah duke yang sama membatu melihat apa yang terjadi di atas arena.
"Akkkkhhhh" teriak kesakitan di atas arena menarik kembali perhatiannya, di sana ia bisa melihat Vakas sudah benar-benar babak belur, bisa di bilang Vakas sudah hancur, penuh dengan darah.
Wajahnya penuh dengan goresan, seragam kebanggaan akademi miliknya telah benar-benar terkoyak.
Lengan dan bagian paha hingga kaki penuh dengan sayatan, bahkan di beberapa bagian sudah kehilangan dagingnya.
Tussss
Satu Pedang panjang mengakhiri serangan Tanza, pedang itu memotong tendon di sekitar mata kaki milik Vakas membuatnya pingsan karena kehabisan darah.
Semua orang membeku menyaksikan pertandingan penuh darah itu.
Barier di hilangkan dengan segera, sebelum pendeta sihir dengan tipe Cahaya mengevakuasi Vakas mengamankannya.
Pertandingan singkat yang sangat membosankan menurut Tanza.
"Pertandingan pertama di menangkan oleh Tanza murid dari seorang bangsa Vali" kata si pendeta sihir.
Uoooooohhh
Sorak ramai orang-orang terdengar sangat bersemangat atas kemenangan itu.
Tanza tutun tanpa luka dari arena ia mengambil duduk di samping Grish yang nampak biasa saja.
"Harusnya kamu lepaskan saja tangan dan kakinya" kata Grish.
"Ingin ku lakukan, namun takut dia mati dan kita tak mendapatkan poin kemenangan" jawab Tanza dengan lesu.
"Harusnya kamu potong saja, dia tak akan mati karena ada penyihir cahaya di sana" Grish menunjuk ke arah tandu yang membawa Vakas.
"Haiss kasihan murid itu, dia sangat lemah" sahut Tanza.
"Buat apa kau kasihani dia, ujung-ujungnya juga akan di bunuh oleh gurunya nanti" kata Grish.
"Hm, setidaknya gurunya yang menghabisinya bukan aku, kita tak pernah membunuh manusia bukan?" Kata Tanza.
Grish mengangguk setuju.
Acras yang duduk di samping Grish mengode agar ia naik ke atas arena yang sudah di bersihkan.
Posisi duduk mereka adalah Rivan yang ada di tengah antara Acras dan Sakran, di samping Sakran ada Alex sedangkan Grish duduk di samping Acras menyusul Tanza.
Grish berdiri dengan gagah di atas arena menunggu lawannya.
Terlihat di pihak akademi agak ragu menentukan siapa yang akan maju mengingat bagaimana Tanza menghabisi Vakas, salah satu murid kuat dari akademi sihir kerajaan.
Setelah lama terlihat berbincang, akhirnya seorang murid dengan tubuh tegap naik ke atas arena.
Grish yang mengetahui tahapan sihirnya cukup senang, setidaknya ia beberapa kali lebih kuat dari Vakas.
Sementara Tanza yang ada di bawah terlihat agak kesal walaupun ia menyembunyikannya.
"Baiklah kita mulai pertandingan kedua, Hugo dari akademi sihir kerajaan melawan Grish murid seorang bangsa Vali"
______________
Bye ❄️