ARTELARIVAN

ARTELARIVAN
Ale-46



# Happy Reading #


Sore harinya, ibu Kia datang berkunjung untuk menjemput Kia di rumah Rivan.


"Buka pintu Tanza" suruh Rivan setelah suara bel berbunyi, mereka sedang duduk di ruang keluarga, Kia bermain di atas karpet berbulu tebal bersama Grish dan Sakran.


Acras hanya duduk di atas sofa.


"Iya mas bro" jawab Tanza beranjak dari duduknya yang semula memperhatikan acara yang terpampang di meja Hologram.


Tanza kembali bersama Ibu Kia yang nampak segar dan terlihat sedikit seksi dan cantik.


Wanita itu langsung menuju ke arah Kia dan memangku nya.


"Terimakasih telah menjaganya" katanya menoleh ke arah Rivan. Wanita itu nampak terpesona pada ketampanan kelima pemuda tampan di depannya, jika tadi saat bertemu di mall wajah mereka tertutup oleh masker, sekarang wanita itu bisa dengan jelas melihat bibir seksi mereka.


"Hm" jawab Rivan, fokusnya masih pada Kia.


Tanza, Grish, Sakran dan Acras nampak beranjak pergi.


"Kalian mau ke mana?" Tanya Rivan dengan bahasa bangsa Vali.


"Kami ada kelas bahasa dengan Tarqa bang" jawab Grish.


Rivan menaikkan alisnya "Tarqa?"  Tanyanya.


"Ia, tadi kami memintanya tadi" jawab Tanza.


"Baiklah", setelahnya mereka meninggalkan Rivan bersama Kia dan ibunya.


Suasana meja hologram mengisi ruangan, Rivan yang asik memperhatikan Kia, sementara kia dan ibunya asik bermain bersama.


Ibu kia berbalik dan tatapannya bertubrukan dengan Rivan beberapa saat.


"Maaf tuan nama saya Zeline, siapa nama anda?" Tanya Zeline.


"Rivan" jawabannya.


Zeline mengangguk "anda tak memiliki istri tuan?" Tanya Zeline, wajahnya nampak memerah.


"Tidak" jawab Rivan.


Zeline mengangguk "tuan menyukai Kia?" Tanya Zeline lagi.


"Hm" Rivan berdehem sebagai jawaban.


Hal itu membuat Zeline kembali menatap mata Rivan menyorotnya dengan penuh arti.


"Ada apa?" Tanya Rivan.


Zeline membuang pandangannya "Tidak" jawabannya.


Hari mulai semakin sore, cuaca nampak mendung di luar.


"Kau tak pulang? Sudah hampir gelap" kata Rivan.


Zeline menoleh ke arah jendela, benar sudah hampir gelap.


"Baiklah, aku pesan taksi lebih dulu" zeline mengambil tasnya yang berisi ponsel dan membuat pesanan taksi.


"Kami akan menunggu di depan" kata Zeline mengangkat tubuh Kia yang ternyata sudah terlelap di pahanya.


Rivan mengikuti langkah Zeline dari arah belakang hingga mereka sampai di depan rumah, menunggu beberapa saat taksi yang sudah di pesan.


Sekitar 30 menit kemudian, taksi yang di pesan Zeline tak kunjung menampakkan diri, suhu udara semakin dingin.


"Perlu ku antar?" Tanya Rivan ia menatap punggung kecil milik Kia yang terlihat sangat kelelahan.


"Jika tak merepotkan" jawab Zeline tak berniat menolak sama sekali.


"Tunggu sebentar" Rivan masuk ke dalam rumah untuk mengambil Hoodie miliknya sebelum menuju garasi dan mengeluarkan mobilnya dari sana.


Jarak menuju Rumah Zeline sekitar 20 menit dengan kecepatan 60km/jam.


Setelah arahan panjang dari Zeline, mereka tiba di sebuah rumah minimalis yang terlihat nyaman.


"Anda tak mampir tuan" tawar Zeline.


"Tidak terimakasih" jawab Rivan.


"Tak apa tuan anda bisa pergi" sahut Zeline.


Kia yang mendengarnya semakin nangis kejer, tangannya yang pendek mencoba meraih di mana kendaraan Rivan.


Rivan hanya menatapnya dari dalam mobil dengan kaca jendela yang sudah di turunkan.


"Papa!!!" Tangis Kia tak kunjung Reda membuat Zeline kesusahan akibat anak kecil itu yang terus saja memberontak.


"Haisssh" gumam Rivan, ia membuka pintu dan berjalan ke arah Kia, gadis kecil itu langsung mendekapnya erat.


Zeline memperhatikannya dengan wajah seduh, ia membuka pintu dan mempersilahkan Rivan membawa Kia yang masih sesenggukan untuk masuk.


Sampainya di dalam, Rivan duduk di sofa tanpa di suruh dengan Kia yang ada di pangkuannya.


"Maaf merepotkan mu tuan" kata Zeline.


"Hm" sahut Rivan.


Zeline kemudian pergi menuju kamarnya untuk berganti pakaian.


Piyama berbahan satin dengan lengan pendek dan celana yang berada di atas lutut memperlihatkan pahanya yang mulus dan bersih. Ia kemudian berjalan menuju dapur untuk membuat makan malam.


Setelah makan, Rivan menemani Kia di kamar ibunya hingga tidur setelahnya ia kembali ke kediamannya.


___________


Waktu berlalu dengan cepat, tak terasa sudah 2 tahun Rivan dan keempat muridnya kembali berkumpul bersama keluarganya, rutinitasnya kembali pada kehidupan semula, berkerja dan mengurus perusahaan.


Semuanya nampak dewasa, terlebih Tarqa yang sudah menyamai tinggi papanya sendiri. Pemuda 17 tahun itu sedang berada di luar negeri menempuh pendidikan S2 nya. S1 di kampus miliknya hanya di tempuh selama 1 setengah tahun dan semua berjalan lancar saat tersebar bahwa dia konglomerat terkaya se-asia.


Beralih pada Acras, pemuda tampan itu ternyata cakap dalam berhitung dan mempersiapkan data, kemampuan belajarnya juga sangat cepat. Ia sedang berada di Australia mempelajari tentang tanaman dan pelestariannya, ia merangkak menjadi ilmuan terkenal. Banyak majalah internasional seputar tumbuhan yang sudah menerbitkan namanya.


Sakran menjadi musisi dan artis populer sesaat setelah ia viral di mall waktu itu. Banyak agensi yang menawarkan diri untuk meninggikan namanya, sehingga sekarang ia bertempat di korea selatan.


Tanza dan Grish memilih ikut dengan Tarqa untuk berkuliah.


Tanza mengambil jurusan psikologi sedangkan Grish mengambil Astronomi.


Xavier dan Riana nampak semakin dewasa tanda penuaan mulai terlihat, sangat berbeda dengan kondisi Rivan yang masih nampak seperti pemuda berusia 25 tahun, hubungan mereka masih harmonis.


"Pah nanti Kia mau main ke taman boleh?" Kia yang sedang sarapan pagi bersamanya bertanya dengan suara bersemangat.


"Boleh sayang, tapi papa ikut ya?" Kata Rivan.


"Heum" Kia kembali mengangguk kemudian melanjutkan makanannya.


Seorang wanita dengan pakaian yang cukup seksi memperhatikan dari arah yang tak terlalu jauh.


"Jangan terlalu memanjakannya Kak" sahut Zelina, ia duduk di samping Kia.


Rivan tak menyahut, ia hanya menatap Kia yang terlihat bersemangat.


"Kia pergi ke ruang keluarga dulu ya? Mama mau bicara sama papa" kata Zeline saat Kia telah menyelesaikan makanannya.


"Iya Mah" jawab Kia dengan segera ia beranjak meninggalkan kedua orang dewasa itu.


Setelah Kia sudah tak terlihat, Zeline nampak pindah posisi di samping Rivan.


"Kak?" Kata Zeline dengan suara lembutnya.


"Apa?" Sahut Rivan ia masih setia dengan makanannya.


"Bukankah kita sudah lama hidup akrab?" Zeline berkata dengan raut wajah serius.


"Terus?" Kata Rivan.


Zeline nampak diam, kode kerasnya tak di tangkap sama sekali oleh Rivan.


"Aku memiliki perasaan lebih pada kakak" kata Zeline dengan berani ia mengungkapkan perasaannya. "Kakak tahu sendiri aku adalah seorang janda, jadi selama ini aku tak berani mengatakannya, tapi ku rasa ini sudah cukup lama" tambahnya.


Rivan menatap mata Zeline yang juga menatapnya, perlahan tapi pasti wajah Zeline mendekat untuk merasakan bibir yang sudah lama ia inginkan.


_____________


Hayoloh, hohohoho....... Zeline meresahkan yahhh.......


Bye ❄️