
...# Happy Reading #...
"Kau berkata aku ini kuat?, Kau tahu dari siapa?" Tanya Rivan.
Pemimpin pendeta itu mengerutkan dahinya "bukankah itu sudah sangat jelas? Tak ada seorangpun yang tahu aku pemimpin pendeta selama ini".
"Tidak kurang dari 50 tahun aku duduk seperti pengemis di pinggir jalan dan tak ada yang mengenali ku, bahkan para pendeta di kuil sekalipun" tambahnya.
Rivan mengangguk, "mungkin karna wajahmu memang cocok untuk jadi pengemis" kata Rivan.
Wajah si pemimpin pendeta memerah mencoba menahan amarahnya.
"Kau marah?" Tanya Rivan.
"Tentu saja tidak" jawabnya terpaksa.
"Aku penasaran kenapa kamu memberitahuku tempat ini?" Tanya Rivan.
"Buku itu mengatakan jika eksistensi anda tidak seharusnya berada di tempat ini dan merusak tatanannya" kata si pemimpin.
"Maksudmu? Aku bisa pergi dengan altar ini?" Tanya Rivan.
"Sepertinya begitu" jawab si pemimpin.
Rivan menoleh pada lima orang anak yang baru saja menjadi muridnya, bahkan ilmu pengetahuan saja belum sempat ia bagi.
Pemimpin pendeta mengikuti arah pandang Rivan. "Biar aku saja yang menjaganya" kata pemimpin pendeta.
Rivan menatap kelima anak yang menatap polos padanya.
"Baiklah, setidaknya ajari mereka dengan baik, aku tahu potensi besar yang ada dalam diri mereka" kata Rivan.
"Tentu" kata pemimpin pendeta.
Rivan berjalan menuju tengah Altar kemudian ia mencoba memahami formasi yang ada di sana.
[Altar belum siap] peringat system.
"Apa yang terjadi?"
[Altar kekurangan energi sihir, setidaknya tuan harus mencapai tahap LEGENDA SEMESTA PUNCAK untuk menggunakan altar]
Rivan mulai menghitung, saat ini ia berada di tahap BIOSFER puncak berarti tinggal melewati 1 tahapan lagi untuk sampai.
Menghela nafas panjang, ia kemudian kembali ke hadapan pemimpin pendeta sihir.
"Ada apa?" Tanyanya
Rivan menatap dalam mata pemimpin itu "aku belum bisa menggunakannya, setidaknya jaga tempat ini beberapa tahun lagi hingga aku berada di tahap yang seharusnya" kata Rivan.
"Huffft baiklah tak masalah, namun sekarang anda berada di tahap apa?" Tanya pemimpin pendeta.
"BIOSFER" jawab Rivan tanpa ragu.
"BI-BIOSFER?" kata Pendeta itu tak percaya.
"Kau seorang Vali" lanjutnya menatap terkejut pada Rivan.
Rivan menaikkan sebelah alisnya tak mengerti. "Bukan aku bukan bangsa Vali" elak Rivan.
"Tidak, kamu bangsa Vali hanya bangsa Vali yang dapat melewati tahapan BIOMA" kaya pendeta sihir itu.
"Aku tahu kau kurang percaya, tapi apakah kamu percaya jika aku mengatakan umurku sudah 800 tahun?, Aku mengetahui banyak sejarah dunia ini" kata pendeta sihir itu.
"Kau monster tua" kata Rivan.
"Ya terserahlah, tapi aku benar benar yakin jika kau bangsa Vali"
"Hm, terserah kau saja, aku akan pergi"
Rivan mulai pergi dari sana dan lima curutnya mengikut saja.
Pemimpin pendeta yang di tinggalkan menatap punggung tegap Rivan dengan sejuta arti. "BIOSFER" gumamnya.
__________
"Rivan" panggil Lucas saat ia melihat Rivan yang baru saja keluar dari jalanan menuju belakang kuil.
Rivan menaikkan alisnya sebagai respon.
Lucas tak menjawab, ia menatap seorang anak yang berada di belakang Rivan.
Rivan yang melihatnya ikut berbalik menatap anak itu.
"Acras, benar namanya kan?" Tanya Lucas pada Rivan.
Rivan mengangguk kecil, pandangannya tak teralihkan pada bocah itu, bocah yang menatapnya datar tanpa ekspresi.
"Ayahnya ada di sini, dia seorang bangsawan" kata Lucas.
Arcas yang mendengarnya semakin mendatarkan wajahnya, ia sedikit mendekat ke arah Rivan dan memegang kain celananya seolah mengatakan ia tak ingin pergi.
Lucas membawa Rivan menuju tempat di mana ayah Arcas menunggu.
Ruangan yang terlihat sederhana terlihat seorang pria dewasa, dan seorang anak laki-laki tengah duduk di sana.
"Terimakasih tuan Lucas sudah membantu saya" kata pria dewasa itu saat melihat anaknya datang di belakang Rivan.
"Ah, tak masalah Duke" kata Lucas dengan sopan, walaupun ia pendeta sihir, namun tingkatannya baru setara dengan seorang Baron.
"Ini Rivan, dia guru Arcas" kata Lucas memperkenalkan.
Duke itu melihat ke arah Rivan sejenak.
"Dia?" Kata Duke tak percaya.
"Ya" jawab Lucas.
"Dia bahkan tak memiliki energi sihir" kata Duke itu "bagaimana mau mengajari sihir?" Lanjut si duke bertanya.
Rivan menyeringai melihat raut wajah mengejek dari duke itu. Pandangannya beralih pada anak yang mendapatkan elemen petir tadi.
"Dia adik atau kakakmu?" Tanya Rivan pada Arcas.
"Kakak" jawab Arcas.
"Kau di akademi apa kamu berada?" Tunjuk Rivan pada anak petir itu.
"Ada apa dengan itu?" Sahut suara dari arah belakang Rivan.
Rivan berbalik melihat siapa yang datang.
"Master Akademi" kata Lucas.
"Ah jadi kau master anak itu?" Tanya Rivan.
"Ya, apa urusannya dengan mu?" Katanya.
"Tidak ada, hanya saja bagaimana dengan sedikit bertukar serangan dengan ku?" Tentang Rivan.
"Ahahaha dengan mu? Aku ta yakin kamu akan bertahan 1 menit saja hahaha" ejeknya.
"Kurasa juga begitu, jadi bagaimana?" Tanya Rivan lagi.
"Haaaahhh tidak, aku takut melukai mu yang tak memiliki sihir, bagaimana dengan mereka saja yang bertukar serangan?" Katanya merujuk pada anak-anak.
"Kurasa itu kurang adil, karena aku bahkan belum mengajari mereka cara bernafas" kata Rivan.
"Hmm baiklah alasanmu cukup masuk akal, bagaimana jika kita melakukannya beberapa tahun lagi? Yang kalah harus membunuh muridnya sendiri" katanya dengan seringai penuh kemenangan.
"Wahh taruhan yang benar-benar berbahaya, tapi bukankah ini akan merugikan anda tuan duke? Anak anda berada di kedua posisi jika salah satu posisi menang maka anda harus kehilangan anak satunya" kata Rivan.
"Tak masalah, lebih baik kehilangan dia yang tak berguna daripada harus membangkang" sahut Duke menghunus tatapannya.
Rivan memasang wajah serius,"mana kontraknya, sebaiknya buat kontrak sihir"
Master yang mengajukan terlihat sedikit merapatkan mantra sebelum sebuah kertas berwarna agak kecoklatan muncul di hadapannya.
"Tulislah persyaratan mu" kata si master.
Rivan menyeringai puas.
• Pihak yang kalah akan membunuh seluruh muridnya.
•Murid yang akan bertanding berjumlah 5 orang.
•Jika salah satu pihak berbuat curang, maka otomatis akan dianggap kalah.
•Pertandingan di laksanakan 8 tahun lagi.
•melanggar kontrak berarti menghabisi nyawa semuanya.
Rivan menyerahkan kontak yang sudah ia tulis itu pada sang master dan di sambut senyum sinis oleh master itu.
"Persyaratannya yang cukup bagus dan adil, baiklah kita sahkan kontraknya" master itu mulai meneteskan darah dari jarinya, Rivan juga mulai melakukannya.
Kelima anak di belakangnya menatap punggung tegap Rivan, sekarang nyawanya adalah taruhan 8 tahun yang akan datang.
"Baiklah kalau begitu selamat berlatih dan bertemu 8 tahun lagi di tempat ini" kata Rivan ia kemudian berbalik menghadap kelima muridnya dan mengayunkan tangannya, seketika itu pula ia menghilang di hadapan orang-orang.
"Di-dia?" Tubun si master bergetar melihat kejadian barusan.
"Bangsa Vali" gumam Lucas.
"Matilah kalian" lanjutnya pada Master dan Duke.
Seketika wajah bangga keduanya berubah masam.
___________
Bye❄️