ARTELARIVAN

ARTELARIVAN
Ale-42



...# Happy Reading # ...


Pov Tanza & Grish.


Tanza dan Grish memilih berkeliling bersama untuk mengitari Mall.


"Kau mencuri sesuatu?" Tanya Grish. Mereka sedang duduk di sebuah bangku cafe.


"Tidak, untuk apa aku mencuri?" Kata Tanza.


"Tapi kenapa mereka semua melihat ke arah kita?" Tanya Grish.


"Aku juga tak tahu" jawab Tanza.


"Shuut diam lah seseorang datang" Grish berkata saat seorang pelayan cafe perempuan menghampiri mereka.


"Pesan apa kak?"tanya si pelayan.


Tanza dan Grish mengangguk, membuat pelayanan itu agak bingung.


"Kami sedang mencoba menu baru ingin mencobanya kak?" Katanya lagi.


Kedua pemuda itu kembali mengangguk.


"Baiklah tunggu sebentar ya kak" setelah pelayan itupun pergi.


"Apa yang dikatakannya?" Tanya Grish.


"Tak tahu, kita lihat saja apa yang dia lakukan" kata Tanza.


Mereka melihat ke arah pelayanan yang tengah bergerak melayani pengunjung, membawa minuman dan mencatat pesanan.


Tak lama seorang pelayan pria menghampiri keduanya sambil membawa minuman berwarna coklat.


"Silahkan di coba kak, ini menu baru kami Choco lava"


Tanza dan Grish menatap pada minuman itu, di sisi gelas terlihat lelehan coklat yang terlihat meluncur bebas.


Keduanya mengangguk, sebelum meraih gelas di hadapannya.


Keduanya membuka masker hingga terlihatlah seluruh wajah mereka. Jika wajah Acras dan Sakran terlihat dewasa, maka wajah Tanza dan Grish terlihat beby face Sangat imut, di tambah mereka sedang menyedot pipet yang sedikit besar.


Semua pengunjung memperhatikan mereka dengan tatapan intens.


Di sisi meja lainnya masih di cafe yang sama terlihat kumpulan anak SMA sedang nongkrong bersama.


"Gila imut banget"


"Samperin Na"


"Gila sih sebelah kanan punya gw"


"Siapa cepat dia dapat"


3 dari 4 orang gadis itu terlihat membicarakan Tanza dan Grish tak berselang lama, seorang yang terus memperhatikan dengan diam segera berdiri.


"Lo mau kemana Vi?" Tanya seorang yang tadi di panggil Na.


Vi hanya diam ia beranjak semakin dekat ke meja Tanza dan Grish.


"Gw susulin Vio ya" kata Na pada dua temannya yang lain.


Kembali ke meja Tanza dan Grish, mereka masih asik menyedot minuman coklat yang ada di depannya.


Tak lama gadis yang tadi mendekat mengambil duduk di hadapan keduanya di susul oleh seorang gadis lagi.


"Hay kak kenalin nama gw Violeta panggilannya Vio salam kenal" Vio mengulurkan tangannya.


Si gadis yang tadi menyusul terlihat menatap tak percaya pada temannya itu.


"Lo sakit Vi?"


"Nggak tuh" jawab Vio.


Tanza dan Grish saling pandang sebelum Grish meraih tangan itu kemudian mengangguk, hal yang sama di lakukan oleh Tanza.


"Gw Nahna panggilnya Nana" kata Nana juga mengulurkan tangan.


Hal yang sama kembali di lakukan oleh keduanya.


"Kalian berdua belum ada pacar kan?" Sahut Vio dengan berani.


Tanza dan Grish dengan kompak mengangguk.


"Kalau gitu kakak jadi pacar aku ya?" Vio menunjuk ke arah Grish yang terlihat menatap bodoh padanya.


Grish mengangguk saja, membuat Vio agak terkejut ia kira dirinya harus berusaha dengan ekstra, dengan cepat ia berdiri dan memeluk Grish.


"Sekarang kakak pacar Gw" klaimnya.


Grish mengangguk dalam pelukan Vio dirinya agak terkejut mendapat serangan dadakan. Sementara Vio yang mendapat anggukan setuju dari Grish merasa semakin senang.


Nana melihat ke arah sahabatnya yang terlihat antusias itu dengan tatapan bodoh miliknya. Sahabat dinginnya itu baru saja menembak cowok ganteng dan lebih parahnya lagi cowok itu menerimanya dengan sangat mudah?.


Nana beralih menatap Tanza membuat Tanza menaikkan sebelah alisnya.


"Kakak mau nggak pacaran sama aku?" Nana berkata dengan senyum mengambang yang mampu menular pada orang lain.


Tanza terlihat berkedip beberapa kali melihat senyum manis itu sehingga dirinya yang sedang mengangguk juga ikut tersenyum.


"Awh akhirnya masa jomblo gw berakhir" kata Nana.


"Minta nomor dong kak" Vio menyodorkan handphone miliknya pada Grish.


Grish yang melihatnya menatap bingung benda persegi itu, ia beberapa kali melihatnya saat berada di rumah Xavier, serta Tarqa juga punya yang bentuknya lebih besar.


Kedua pemuda itu nampak bingung dengan situasi ini, mereka menggaruk tengkuknya secara bersamaan.


"Kakak nggak punya ponsel kah?" Kata Vio saat melihat keduanya hanya diam.


Tanza dan Grish mengangguk.


"Padahal jaman sekarang ponsel mah wajib" sahut Nana.


Tanza dan Grish mengangguk lagi.


Setelah dirasa cukup lama berasa di sana dan minuman mereka pun telah habis, Tanza dan Grish membawa gelas mereka ke arah kasir kemudian secara bersamaan memberikan silver card mereka.


Si kasir menatap bingung gelas kosong di depannya, sebelum mengambil salah satu kartu yang di sodorkan padanya dengan agak canggung dan melakukan transaksi.


"Terimakasih kak"


Tanza dan Grish mengangguk.


Dari arah belakangnya datang Vio dan Nana yang membawa tas ransel mereka.


"Ayo kak kita kencan sebentar" ajak Vio lalu mengapit tangan Grish.


Grish yang akan mengangguk sudah terseret meningkatkan Nana dan Tanza.


__________


Pov Sakran


Saat ini Sakran sedang duduk di bangku istirahat di dekat sebuah toko, ia sudah mengelilingi mall untuk mencari keberadaan temannya yang entah ada di mana.


Malas dengan hal itu ia menoleh ke kiri dan ke kanan untuk memastikan tempatnya sepi.


Ia mengayunkan tangannya pelan sebelum mengambil sebuah seruling bambu dari sana, seruling bambu yang berbeda beberapa tempo yang lalu.


Membuka masker dan mulai meniup seruling nya dengan irama lembut sehingga suara suling itu menggema di seluruh mall.


Suara seruling miliknya seolah menyampaikan sebuah pesan pada yang lainnya bahwa dirinya sedang bosan dan sendiri.


Orang-orang yang kebetulan melintas di sana sedikit takjub mendengarnya mereka berkerumun menyaksikan Sakran yang terlihat memejamkan matanya.


Satu persatu dari mereka langsung membuka live ig memfokuskan kamera pada Sakran.


Beberapa menit kemudian, Sakran yang sedari tadi menutup matanya kini mulai membukanya.


Sepasang bola mata se-hijau zamrud langsung menghipnotis semua orang yang berkerumun, bulu mata lentik berwarna Coklat terlihat berusaha menutupi kecantikan bola mata itu.


Alis Sakran nyaris bertemu, beginilah jadinya jika ia terlalu memfokuskan diri pada satu suara, sehingga suara yang lainnya tak terdengar.


"Kamu seorang musisi?" Tanya seorang pria yang terlihat membawa sebuah biola.


Sakran mengangguk, pandangannya tertuju pada biola itu.


"Bisa bermain biola juga?" Tanya si pria.


Sakran mengangguk lagi seperti perintah Rivan.


"Kalau begitu ayo mainkan kita semua ingin mendengarnya" kata si pria.


Sakran mengangguk lagi, saat tangannya menerima biola itu.


Sebenarnya ia asing dengan alat musik itu, tapi nampaknya alat itu sedikit menarik.


Sakran meletakkan biola dengan posisi berdiri di atas pangkuannya kemudian mengambil senarnya.


Teeet


Suara melengking itu membuat telinga semua orang sakit. Namun mereka masih menunggu dengan sabar sembari merekam.


Treeet


Bunyi nyaring kembali terdengar, mereka mulai menatap Sakran dengan serius.


"Kamu benar-benar bisa memainkannya?" Tanya Pria itu.


Sakran mengangguk.


Teeet teennn


Senar saling menggesek mulai memunculkan suara musik.


Sakran mulai memejamkan mata setelah berusaha mempelajari alat musik itu.


Teeeettttt


Sakran mulai menggesekkan senar dengan tempo beraturan sehingga musik yang terdengar sangat asing di telinga penonton mulai terdengar.


Sakran semakin memfokuskan dirinya gesekan pada senar mulai semakin cepat seiring dengan melodi biola semakin tajam dan lembut di waktu bersamaan.


Sakran semakin menggesekkan biola itu, dirinya seperti orang yang lepas kendali.


Tubuhnya yang duduk sedikit terangkat hanya sekitar 1 inci sebelum Rivan datang dan langsung memegang semua tali senar sehingga suara nyaring terdengar.


"Kak?" Kata Sakran.


"Ayo" Rivan menarik lengan Sakran menggunakan tangan kirinya karena tangan kanannya sedang menggendong seorang gadis kecil sekitar 2 tahunan.


________


sorry author gak revisi makanya banyak kata yang agak melenceng dan gak nyambung.


Bye ❄️