
...# Happy Reading #...
Grish menyeringai puas saat musuh di depannya mengeluarkan pedangnya yang panjang dari tangannya, ternyata lawannya adalah penggunaan pedang.
Sringgg
Pedang panjang itu terlihat sangat mengkilap.
Hugo terlihat mengambil posisi kuda-kuda bersiap untuk melesat dengan cepat ke arah Grish.
Sringgg
Secepat kilat Hugo sudah berada di hadapan Grish, namun tak tahu saja ia jika Grish adalah yang tercepat di antara murid Rivan.
Bagai tersapu angin, Grish telah berada di posisi Hugo semula sehingga membuat Hugo hanya dapat memotong angin.
Hugo tak menyerah ia terus menyerang Grish dengan penjagaan yang sangat ketat karena belajar dari kesalahan Vakas sebelumnya yang malah menyuruh Tanza menyerang.
Grish nampak santai mengimbangi kecepatan Hugo, dirinya belum memberi Serangan sedikitpun.
Sringgg
Sringgg
Ctak
Ctak
Sringgg
Serangan satu sisi dari Hugo membuat dirinya mulai kehabisan energi, apalagi sepesialis nya adalah pedang.
Mengambil jarak yang cukup jauh, Grish melayang di atas ketinggian setelah menghilangkan hampir seluruh gravitasi di kakinya.
"Dia melayang!"
"Sangat hebat"
"Sepertinya pemenang sudah terlihat"
Hugo yang melihatnya segera mengambil ancang-ancang dan melompat tinggi ke arah Grish sambil mengayunkan pedangnya.
Saat pedang ter-ayun ke arahnya, Grish terlihat sedikit mengangkat tangan dan......
Bom....
Gravitasi yang sangat kuat menarik turun tubuh Hugo, bahkan pedangnya yang panjang terbenam seluruhnya ke dalam lantai arena akibat tarikan gravitasi.
Uhukkk
Hugo memuntahkan setengguk darah segar dari mulutnya.
Posisinya sedang terungkap menghadap lantai yang terlihat hancur akibat hantaman tubuhnya.
Hugo mencoba berdiri, namun Grish tak membiarkannya ia mengangkat tangannya lebih tinggi sehingga tekanan yang Hugo rasakan semakin meningkat.
Uhukkk
Hugo kembali memuntahkan darah, tekanan yang ia rasakan semakin kuat seolah ingin menghancurkan kepalanya.
Brukk
Akhirnya tubuhnya ambruk di atas arena yang terlihat sangat berantakan.
Grish menurunkan tangannya bersama dengan tubuhnya yang juga mulai turun secara perlahan.
Barier di lepaskan dan langsung saja pendeta sihir mengamankannya.
Grish turun dari arena setelah ia dinyatakan kemenangannya.
"Ku kira kau akan membunuhnya" Tanza yang duduk di sampingnya membuka suara.
"Dia sudah pingsan duluan, padahal aku berencana untuk menghancurkan tulangnya" jawab Grish.
Pertandingan berlanjut, seorang dari akademi sihir kerajaan sudah siap di atas arena.
"Kau majulah" Rivan memerintahkan pada Sakran yang ada di sampingnya.
"Baik guru"
Sakran melompat tinggi ke arah arena.
Pertandingan kembali di mulai, lawan Sakran adalah seorang penyihir air, lawan yang cukup sulit untuk penyihir suara.
Namun itu untuk penyihir lainnya, berbeda dengan sakran.
Karena sihir miliknya sangat mudah di ketahui cara kerjanya, maka Sakran berniat untuk menyelesaikannya dengan cepat.
Mengeluarkan sebuah seruling bambu dari ruang dimensinya dan mulai memainkan seruling itu dengan sangat merdu.
Sekarang Sakran tau kenapa gurunya itu membuat ia berhadapan dengan kelemahan dari elemen sihirnya, ternyata bukan untuk melatihnya melainkan membuat lawannya lengah.
Vio, penyihir perempuan itu malah terpesona dengan permainan seruling yang di mainkan oleh Sakran, tak tahu bahaya apa yang akan menimpanya.
Angin sepoi-sepoi yang terbawa oleh gelombang suara milik Sakran membuat tudung yang menutupi wajahnya yang rupawan terlihat.
Vio terpesona seketika, ia tak bergerak di tempatnya bahkan untuk 1 centimeter.
Bahkan para penonton terlihat membeku saat rambut kecoklatan milik Sakran telah terlihat sangat indah, tak lupa bulu mata lentik menempel di mata miliknya yang sedang tertutup menghayati lagu.
Permainan seruling Sakran semakin intens melewati pendengaran Vio, hingga tanpa sadar perempuan itu mulai mengeluarkan sihir air dari tangannya.
Air membentuk sebuah bilah runcing yang siap melukai siapapun.
Master sihir yang menonton dari bawah tak tahu apa yang di lakukan oleh Vio, namun melihatnya mengeluarkan sihir untuk menyerang ia merasa di atas awan.
Vio mengangkat lurus tangannya terlihat seolah akan menembakkan bilah itu pada Sakran yang masih terus memainkan seruling miliknya.
Tiba-tiba tempo permainan seruling berubah tajam, yang tadinya membuat Vio terpesona kini terdengar menyeramkan.
Suara melengking dari seruling membuat Vio seperti orang yang kehilangan akalnya, namun sihirnya masih terlihat menggantung.
Perlahan tapi pasti, air yang keluar dari tubuh Vio mulai menenggelamkannya di dalam sebuah pelindung kubus, hingga tak lama kemudian air benar-benar mengurungnya tanpa ada udara sama sekali.
Vio yang tak mendengar suara seruling lagi seketika tersadar, namun semuanya sudah terlambat.
Ia memberontak di dalam kubus yang ia buat sendiri memukulnya, berusaha menghancurkan sihir miliknya.
Sakran menatap datar ke arah kubus air itu, melihat usaha Vio yang napak sia-sia.
Tak puas sampai di sana, ia mulai berjalan mendekat membuka inventori miliknya dan mengeluarkan banyak jarum dari sana.
Jarum-jarum itu mulai ia masukkan ke dalam kubus air sebelum kembali memainkan seruling nya.
Jarum mulai merespon gelombang suara yang di bawa oleh air menggerakkan masuk ke dalam mulut, hidung, dan juga telinga Vio.
Wajah Vio terlihat menahan sakit saat jarum-jarum itu mulai menusuk nusuk tenggorokannya, telinganya serasa sangat sakit saat terdengar robekan dari gendang telinganya. Jarum yang masuk semakin dalam seolah ingin merusak otaknya.
Geli bercampur sakit saat ia menghirup air di hidungnya karena jarum jarum itu seolah tengah bermain di dalam.
Di bagian tubuh lainnya, dapat di lihat banyak jarum yang seolah tengah berenang di dalam kulitnya membentuk sebuah labirin, menjelajahi setiap pembuluh darahnya.
Air yang tadinya jernih mulai berganti warna menjadi merah, darah itu keluar dari hidung, telinga, mulut dan kulit Vio.
Sakran mencoba kembali mengontrol jarumnya, walaupun tak terlihat oleh orang lain, jarum-jarum itu sudah berada di organ dalam Vio menusuk bagian hati, lambung, hingga usus ususnya mulai hancur.
Sakran tak menyerang jantung Vio membiarkannya tetap hidup.
Saat kembali ingin merusak bagian lainnya, pendeta sihir menghentikannya karena Vio terlihat sudah tak sadar dalam air itu.
Jika Vio bukan penyihir air, mungkin ia sudah meninggal karena kehabisan nafas.
Sakran mulai memainkan akhir lagu hingga kubus air itu hancur seketika membuat Vio yang ada di dalamnya bebas.
Jarum yang ia masukkan ke tubuh Vio masih terbenam di tubuh perempuan itu.
Sakran tak peduli akan jarum-jarum itu ia bisa memintanya nanti pada Alex.
"Pertandingan di menangkan oleh Sakran murid dari seorang bangsa Vali" umum pendeta sihir.
Sakran kembali menggunakan tudung kepalanya kemudian berjalan kembali ke tempat semula.
Berakhirnya pertandingan Sakran menandakan kenangan yang telah di peroleh oleh Rivan, entah bagaimana permainan selanjutnya.
Rivan menatap pada Master akademi yang terlihat benar-benar sudah sangat pucat. Ia melemparkan seringai kemenangan padanya.
Master Akademi terlihat berjalan naik ke atas Arena.
"Mereka berbuat curang!" Sahutnya.
"Tak mungkin murid-murid ku yang berada di tahap Organ di kalahkan dengan mudah olehnya muridnya" lanjutnya.
Rivan bersama murid-murid yang mendengar itu nampak terkekeh ringan, bahkan Acras yang juga jarang tertawa itu nampak terkekeh ringan.
"Lucu sekali lawakan mu" sahut Tanza yang sedari sudah ingin mengomel.
"Dia membanggakan muridnya yang hanya berada di tahap organ" ejek Grish.
"Tentu saja di banggakan, gurunya saja hanya berada di tahap ORGANISME, hehehe" Tanza kembali mengoceh.
"Oh benarkah? Lemah sekali" Grish berkata seolah ia tak tahu apa-apa.
Rivan hanya memperhatikan kedua murid laknatnya itu, ia cukup terhibur dengan tingkah laku konyolnya.
___________
Bye ❄️