
...# Happy Reading # ...
Pagi harinya Rivan, Tarqa dan ke empat manusia dewasa lainnya bersiap menuju kampus Tarqa.
Selesai dengan makan pagi bersama di rumah Xavier, mereka akan menggunakan mobil milik Rivan yang telah lama di simpan di garasi.
Rivan mengadakan tangannya di hadapan Xavier yang telah siap dengan baju kantornya.
"Aku akan ke mall membeli beberapa baju untuk mereka" kata Rivan.
Xavier menatap bingung pada telapak tangan yang menggantung di hadapannya.
"Apa?" Tanya Xavier.
"Kartu" kata Rivan.
"Ah kartu!" Xavier seketika langsung konek ia mengambil dompetnya dari balik jas memberikan sebuah kartu pada Rivan.
Tangan Rivan masih menggantung setelah menerima sebuah kartu berwarna hitam.
"Sudah" kata Xavier.
"Kami tak melihat kami ada lima?" Kata Rivan sambil melirik ke arah yang lainnya.
"Itu sudah cukup untuk kalian berlima kak" kata Xavier.
"Kami semua pria" kata Rivan yang membuat otak Xavier ngeleg seketika.
"Terus?" Tanya Xavier.
"Bukankah aneh jika kami bertemu perempuan dan mereka menyuruhku membayarnya? Sangat tak elit" kara Rivan memberi alasan.
"Ah jadi kalian mau mencari kekasih" Xavier mengangguk ia kembali mengambil dompet yang telah di simpannya.
"Tidak juga" Gumam Rivan.
Tangan Rivan sudah penuh dengan lima kartu ATM masing-masing berwarna 1 Hitam, 2 emas, dan 1 silver, yang membuat dompetnya tersisa sebuah kartu yang berwana biru, kasihan sekali.
Setelah mendapatkan kartu-kartu itu, Rivan mulai menyusunnya di dompet miliknya.
"Bukankah kakak akan memberikan pada mereka?" Tanya Xavier melihat kegiatan Rivan.
"Pernahkah aku mengatakannya?" Sahut Rivan ia segera beranjak meninggalkan Xavier yang nampak bodoh itu.
__________
Mobil Rivan tiba di kampus Tarqa, salah satu kampus swasta terbaik dan terbesar di Indonesia.
Cup
"Terimakasih Dapan" kata Tarqa setelah mencium pipi dan punggung tangan Rivan. Rivan mengusap kepala Tarqa sebagai jawaban.
"Jika ada yang mengganggumu lawan dia hingga mati, kamu tahu beladiri kan?" Kata Rivan.
"Tentu! Bahkan aku sudah terbiasa sparing dengan papa" jawab Tarqa.
"Baiklah"
Tarqa turun dari mobil Rivan, Raut wajah yang tadinya seperti bocah manja seketika berubah datar dan dingin.
Ia melangkah dengan tegas menuju aula yang diperuntukkan untuk maba. Dalam setiap langkahnya banyak maba perempuan yang menatapnya. Apalagi tubuh Tarqa yang proporsional padahal ia belum genap 15 tahun.
Setelah Tarqa pergi, Acras yang duduk bersama Sakran maju ke depan di ikuti Grish yang mengisi tempat Acras sehingga Tanza sendiri di jok paling belakang.
"Grish biarkan aku duduk di depan"
"Tidak, aku duluan yang pindah"
"Oh ayolah, aku ingin melihat bangunan-bangunan tinggi itu lebih leluasa"
"Tidak"
"Grish ayolah"
"Tidak Tanza"
"Ayol-"
"Sudah Tanza kita sudah hampir sampai" potong Rivan.
"Kenapa lama sekali mas bro?" Tanya Tanza.
"Macet" jawab Rivan.
"Haihh bagaimana kalau kita berlari saja" usul Tanza.
"Astaga, aku hampir melupakannya selama kita di sini jangan sekalipun memperlihatkan sihir atau ruang penyimpanan kalian mengerti?" Kata Rivan.
"Kenapa kak?" Tanya Sakran.
"Dunia ini tak ada orang yang menggunakan sihir, dan jikapun kalian dalam keadaan terdesak usahakan melakukan sembunyi-sembunyi"
Mereka mengangguk mengerti.
Beberapa saat kemudian mereka benar-benar sampai di sebuah mall besar milik Tarqa.
"Gunakan ini" Rivan memberikan mereka sebuah masker berwarna hitam.
Damage sebagai pria tampan dan misterius semakin terasa pada diri kelimanya, tatanan rambut yang telah di potong pendek memperlihatkan jidat mereka yang mulus.
Setelah keluar, Rivan membuka dompetnya memberikan masing-masing satu kartu untuk mereka.
"Kalian jangan berbicara karena tak akan ada yang mengerti apa yang kalian ucapkan jika kalian menginginkan sesuatu ambil dan bayar dengan ini, saat ada yang bertanya kalian hanya perlu mengangguk"
"Kita tak bergerak bersama bang?" Tanya Grish.
"Tidak, bersenang-senanglah dengan cara kalian dan jangan membuat masalah" kata Rivan "kita akan bertemu di pintu masuk mall 2 jam lagi" kata Rivan.
Dengan kompaknya keempat pemuda itu melihat ke arah matahari yang sedikit jauh dari atas kepala. Kemudian mereka mengangguk.
___________
Pov Acras
Saat ini Acras sedang berada di sebuah toko pakaian formal, di toko itu sudah lengkap pakaian kantoran. Jas, keja, celana bahan, sepatu, kaus kaki, kacamata, tas kantor dan jam tangan sudah tersusun rapih di berbagai etalase.
"Selamat datang di butik kami, ada yang bisa kami bantu kak?" Seorang SPG meletakkan kedua tangannya di antara paha menunduk formal menyambut langkah Acras.
Acras mengangguk seperti yang di instruksikan oleh Rivan.
"Mari kak saya bantu mencari apa yang kakak butuhkan"
Acras mengangguk lagi.
Ia di samping menuju ke sebuah ruangan dengan banyak etalase yang telah tersusun rapih.
"Kakak sedang menca-" perkataan SPG tak selesai sebab Acras sudah berdiri di etalase yang terdapat banyak kemeja di sana.
Acras langsung mengambil beberapa warna yang terlihat menarik perhatiannya, ia menyerahkan semua kemeja itu pada si SPG.
Tak khayal 10 potong kemeja sudah ada di tangan si SPG, Acras berhenti setelah semua warna yang ia sukai sudah habis.
SPG itu nampak sedikit terkejut, beberapa saat kemudian datang dua orang SPG lain untuk membantunya.
Acras kembali mengambil beberapa potong jas, celana, beberapa pasang sepatu, jam dengan tujuh warna berbeda, tak lupa ia juga mengambil beberapa buah kacamata.
"Sudah semua kak?" Tanya SPG itu saat Acras sudah diam dan tak mengambil barang lagi.
Acras mengangguk.
"Kalau begitu kami akan membungkus semua barang kakak silahkan lakukan pembayaran di sebelah sini" Acras kembali mengangguk.
Melihat SPG itu meninggalkannya ia segera berjalan mengikuti.
Setelah sedikit paham apa yang di maksud oleh SPG tadi, Acras memberikan kartu emasnya pada SPG yang berjaga di kasir.
"Terimakasih kak tunggu kami menghitung sebentar ya" kata SPG itu.
Beberapa saat kemudian SPG itu terlihat selesai menghitung.
"Total senilai 1 Miliar ya kak"
Acras mengangguk.
___________
Bye❄️