ARTELARIVAN

ARTELARIVAN
Ale-22



# Happy Reading #


Hari berlalu, hari ini hari di mana Rivan akan mengumumkan dirinya di depan media dan rekan-rekan bisnisnya.


Mereka sudah siap dengan pakaian masing-masing, Rivan dengan jas formalnya yang berwarna hitam dengan kemeja maron.


Xavier juga nampak gagah dengan jas berwarna biru nafi dengan kemeja berwarna putih senada dengan dress formal yang di kenakan oleh Riana.


Tak lupa Tarqa yang saat ini mengikuti penampilan sang papa, tak seperti sebelumnya ia akan selalu mengikuti penampilan Dapannya.


Rivan tak masalah dengan itu.


Tiba di depan gedung hotel yang menjadi tempat yang di pilih oleh Rivan, tentu gedung itu milik Tarqa.


Saat mereka telah turun dari mobil, jepretan kamera tak henti-hentinya mengambil gambar keempatnya.


Wajah para pria datar, sedangkan Riana tersenyum tipis.


Rivan berjalan di depan, di ikuti keluarga kecil Xavier di belakangnya.


Memasuki tempat acara berlangsung, semua mata langsung tertuju pada mereka, tampang yang di atas rata-rata tentu menarik perhatian banyak orang.


Banyak teman-teman Riana yang dari grup PWCDK sedang berbaur.


Xavier yang tengah menggendong Tarqa segera menarik pinggang Riana posesif.


"Kenapa kamu terlalu cantik sayang" bisik Xavier di telinga Riana.


"Kalau aku jelek kamu mau?" Kata Riana.


"Bukankah waktu kita membuat Tata penampilan mu masih jelek dan buluk?" Xavier menyangkal namun jatuhnya malah menghina Riana.


"Terserah kamu saja" jawab Riana.


Terlihat sekretaris Bram berjalan mendekat ke arah Rivan.


"Kita ke sana" kata Rivan, kemudian pergi meninggalkan Riana dan Xavier.


Setelah kepergian Rivan, datang seorang lagi yang sangat di kenal oleh Xavier.


"Tuan muda" sapa Nolan.


"Oh, apa kabar Nolan?" Kata Xavier, sedikit rasa bersalah saat melihatnya.


"Baik tuan muda" jawab Nolan.


"Kamu bekerja di mana sekarang?" Tanya Xavier.


"Tuan Rivan memberi jabatan cukup penting di beberapa perusahaan yang ia pegang" jawab Nolan.


Xavier mengangguk, ternyata kakak iparnya itu cukup perhatian pada orang di sekitarnya.


"Ayo ke sana" ajak Riana pada Xavier ke arah teman-temannya.


"Hai" Riana yang sudah berada di sana langsung saja menyapa teman-teman perkumpulan nya.


"Oh Hai Riana, apa kabar long time no see you" sapa salah seorang temannya.


"Iya Diana"


"Siapa dia Riana?" Tanya Hanum.


"Oh suami dan anakku" jawab Riana.


Teman teman Riana nampak terkejut.


"Xavier dan ini Tarqa" kata Xavier memperkenalkan diri.


"Hai"


Beberapa pasangan teman Riana bersalaman dengan formal bersama Xavier.


"Aku terkejut kamu sudah punya anak" sahut Zivanna.


"Iya tubuhmu masih seperti seorang gadis" tambah Hana.


Riana tersenyum mendengar pujian teman temannya. "Terimakasih"


________


Di sisi Rivan, ia sedang bertemu dengan beberapa rekan bisnisnya di dampingi oleh Sekertaris Bram.


Asik berbicara dengan seorang kolega, dari arah belakang ada yang menyapa sekretaris Bram.


"Apa kabar sekretaris Bram?" Tanya seorang pria paruh baya.


"Baik tuan Ertarto" jawab Bram.


Mendengar nama belakang Xavier, Rivan segera berbalik melihat siapa pria itu.


"Dimana pemimpin?" Tanyanya.


Bram menoleh ke arah Rivan.


"Perkenalkan Tuan, orang ini pemimpin perusahaan" Sekertaris Bram memperkenalkan Rivan.


"Oh aku tak menyangka anda masih sangat muda pemimpin" kata tuan Ertarto.


"Artelarivan Dominic" sambut Rivan.


Kening tuan Ertarto terlihat mengerut ia tengah berpikir.


"Fiona Ertanto" kata Ibu Xavier. Rivan menyambutnya tanpa mengucapkan nama.


"Anda juga di sini tuan Ertarto?" Dari arah samping terlihat seseorang berjalan mendekat di ikuti oleh beberapa orang di belakangnya.


Wajah Rivan menggelap melihat orang itu.


"Iya tuan Zaltam, anda sendiri?" Kata Tuan Ertarto.


"Ya, perusahaan kami juga bekerja sama dengan iu tech" kata tuan Zaltam.


"Oh siapa ini?" Tanya tuan Zaltam pada Rivan.


"Halo pak rektor, anda tak mengingat saya?" Tanya Rivan dengan senyum yang lebih mirip dengan seringai.


Sementara orang yang ada di belakang tuan Ertarto sudah gugup sedari tadi. Dia adalah Daffa Zaltam dan Dalena Zaltam mantan kekasih Rivan, perempuan yang hampir di jodohkan dengan Xavier.


"Bagaimana kabarmu Dalena? Sekarang kamu nampak seperti wanita penghibur ya?" Sindir Rivan.


"Kau, jangan menghina Puteri ku!" Tuan Zaltam menunjuk ke arah Rivan.


Teriakannya menarik banyak perhatian orang-orang di sana.


"Oh dia putri anda? Baiklah aku tak akan menghinanya" sahut Rivan dengan santainya.


Sementara Dalena hanya terus mengagumi pria jakun di depannya, sekarang ia merasa menyesal pernah meninggalkan Rivan.


"Aku baik Rivan, bagaimana denganmu?" Tanya Dalena.


"Hm jauh lebih baik setelah kau tak menghisap hartaku?" Kata Rivan.


Wajah tuan Zaltam memerah mendengar ejekan Rivan.


"Kau! Sekaya apa kamu hingga mengatakan hal itu" tuan Zaltam sangat marah.


"Aku? Hartaku lebih dari cukup untuk menghancurkan perusahaan seperti milikmu, seperti detik ini aku telah menghancurkan perusahaan mu" jawab Rivan dengan sombongnya.


Tuan Zaltam terlihat terkekeh-kekeh menanggapi ucapan Rivan.


"Wah hebat sekali kamu" katanya dengan nada mengejek.


"Ayah hentikan" Daffa berusaha menghentikan Ayahnya, karena ia tahu bagaimana kekuasaan Rivan.


Bahkan mantan istrinya yang telah di pecat sekarang bekerja sebagai wanita penghibur akibat tak ada perusahaan yang ingin menampungnya, jahat sekali.


Tak berselang lama, akhirnya laporan yang di tunggu Rivan sampai, seorang sekretaris tuan Zaltam datang melaporkan kehancuran perusahaan.


Wajah tuan Zaltam terlihat pucat pasih.


Rivan terkekeh jahat melihatnya.


"Dapan?" Suara itu mengalihkan pandangan semua orang.


"Ya Tata?" Kata Rivan sambil mengambil Tarqa dari gendongan Xavier yang baru saja datang bersama Riana.


"Apa kabar Tuan dan nyonya Ertarto?" Sapa Xavier.


Ibu dan ayahnya hanya diam menatap tak percaya pada anaknya, ia beralih menatap wanita cantik yang berdiri di samping Xavier.


Xavier yang melihatnya tersenyum tipis.


"Perkenalkan ini istri ku Artelariana Dominic" kata Xavier dengan bangganya.


Nama belakang Riana tak di ganti oleh Xavier karena ia berpikir sekarang ia tak mempunyai nama belakang, namanya hanya Xavier.


'mereka orang tuaku' Xavier berbisik di telinga Riana.


Riana mendongak melihat wajah Xavier yang hanya tersenyum tipis sembari mengangguk kecil.


"Halo tuan dan nyonya Ertarto" sapa Riana sedang suara yang sangat lembut.


Nyonya Ertarto tak sanggup berkata lagi, ia tersihir dengan sosok Riana. Tatapannya beralih pada pemimpin perusahaan yang sedang berinteraksi dengan Tarqa.


"Dia kakak ipar ku" kata Xavier lagi-lagi dengan nada suara bangga.


"Bagaimana nyonya Ertarto, bukankah latar belakangnya sudah jelas?" Tambah Xavier.


"Vier" ibu Xavier sedikit merasa menyesal.


Acara kemudian kembali berlanjut dengan lancar, pemimpin perusahaan yang memperkenalkan diri bukanlah Rivan melainkan Xavier.


Tentu Xavier merasa terkejut saat kakak iparnya yang berdiri di podium itu tiba-tiba saja memanggil namanya dan memperkenalkannya sebagai pemilik kekayaan yang setara dengan $100.000.000.000. (seratus miliar us dollar).


Kekayaan yang sungguh fantastis.


Kurang baik apalagi kakak iparnya itu?.


Xavier merasa menjadi orang yang paling beruntung di dunia ini, istri yang cantik, anak yang cerdas dan kakak ipar yang baik hati telah ia miliki.


____________


Bye❄️