ARTELARIVAN

ARTELARIVAN
Ale-43



# Happy Reading #


Sesaat sebelumnya.........


Pov Rivan


Saat ini Rivan sedang melihat-lihat kaos yang kiranya bisa ia beli untuk Tarqa, saat sedang asih memilih.....


Bruk


Auch..... Hiks.....


Seorang gadis kecil menabrak kakinya dan terjatuh, gadis kecil itu tengah menangis karena merasa kesakitan di bokonngnya.


Rivan menunduk untuk melihat Gadis kecil itu, sementara sang gadis kecil mendongak menatap tubuh Rivan yang sangat tinggi. Matanya yang bulat penuh di hiasi genangan air mata membuatnya nampak sangat manis.


"Kamu tak apa?" Tanya Rivan sambil berjongkok di hadapan gadis kecil itu.


Gadis kecil itu nampak diam menelisik wajah Rivan. "Papa?" Katanya.


Rivan menoleh ke belakang melihat siapa tahu ada orang lain yang di panggil papa oleh gadis kecil itu, tapi tak ada siapapun di sekitar sana.


Rivan mulai menggendong gadis kecil itu. "Kamu gak pa pa manis? Mana orang tua mu?" Tanya Rivan ia merasa gemas dengan pipi tembemnya yang basah.


"Papa" gadis kecil itu memeluk erat leher Rivan menenggelamkan wajahnya di leher jenjang Rivan.


"Aku bukan papa mu gadis manis"


"Papa!" Gadis itu menggeleng.


"Ibumu ada di mana?" Tanya Rivan.


Gadis itu mulai menjauhkan wajahnya menatap wajahnya Rivan.


"Mama?" Tanyanya


"Iya, mama ada di mana?" Tanya Rivan.


"Situ" tunjuk si gadis kecil ke arah toko pakaian anak-anak yang sedikit jauh dari tempatnya.


"Kamu bermain terlalu jauh dari mamamu manis" kata Rivan, ia mulai berjalan ke arah toko pakaian anak-anak.


Namun di tengah-tengah perjalanan ia mendengar suara seruling yang sedikit memancarkan sebuah energi sihir.


"Sakran" gumam Rivan, ia mulai menajamkan indra pendengarannya mencari lokasi di mana Sakran berada.


Beberapa saat mencari suara seruling menghilang kemudian beberapa saat terdengar suara nyaring.


Teeet


Rivan yakin Sakran akan membuat ulah, ia segera berlari berlawanan arah dari toko pakaian anak-anak.


"Kita kemana pah?" Tanya si kecil dengan suara khasnya.


"Nanti kita cari mama ya?" Kata Rivan.


Gadis kecil itu mengangguk.


Setelah beberapa saat berlari, Rivan akhirnya melihat banyak kerumunan serta pendengarannya juga mulai semakin menangkap melodi biola.


Langsung saja dengan agak hati-hati ia membela kerumunan dan langsung menekan senar biola yang ada di tangan Sakran.


"Kak?" Kata Sakran.


____________


Saat ini keduanya sudah berada di restoran tak jauh dari toko pakaian anak-anak tadi.


"Haiss sudah ku bilang jangan membuat masalah" kata Rivan pada Sakran.


"Aku membuat masalah kak?" Sakran berkata dengan polosnya.


"Kenapa kau bermain alat musik di tengah-tengah banyak orang? Bersiaplah menjadi perhatian banyak orang" kata Rivan.


"Tapi apa yang salah kak? Aku hanya merasa bosan" kata Sakran.


"Haisss lihat sekeliling, orang-orang memperhatikan mu, mungkin sekarang kau sudah viral" kata Rivan.


Sakran melihat ke sekeliling memang benar banyak yang melihat ke arahnya.


"Pah Kia antuk" anak kecil itu terlihat memanjat di dada Rivan untuk meletakkan dagunya di pundak Rivan.


Rivan membantunya dengan mengangkat tubuh si kecil.


"Tidurlah manis" kata Rivan ia mengusap rambut gadis kecil itu.


"Dia siapa kak?" Tanya Sakran.


"Tak tahu" Rivan berkata sambil mengangkat kedua bahunya.


Dari arah pintu masuk, terlihat muda mudi yang berjalan memasuki restoran.


"Tanza, Grish?" Gumam Sakran melihatnya.


Rivan menoleh ke arah pengelihatan Sakran.


"Siapa yang bersama mereka?" Tanya Rivan.


"Tak tahu" sahut Sakran.


"Jangan bilang mereka juga buat masalah" Rivan terus memperhatikan Tanza dan Grish yang terlihat di seret oleh gadis SMA.


"Grish!" Sakran mengangkat tangannya sebelum berteriak.


Plak


"Apa yang kau lakukan bodoh, kau membangunkannya" Rivan terlihat mengenakan Kia yang sedang menggeliat akibat suara sakran.


"Kirim suara satu arah bodoh" lanjutnya merasa kesal.


"Tanza, Grish apa yang kalian lakukan?"suara satu arah itu berhasil di kirim pada keduanya.


Tanza dan Grish yang sedang di seret segera mencari sumber suara dan mendapati Sakran dan Rivan di salah satu meja.


Dengan segera mereka menuju ke arah meja itu tanpa menghiraukan dua gadis yang tadi menyeretnya.


"Siapa mereka?" Tanya Sakran dengan transmisi suara yang bisa di dengar oleh Rivan.


Keduanya menggeleng tak tahu.


"Kalian membuat masalah?" Tanya Rivan.


Mereka menggeleng lagi.


"Mereka siapa kak?" Tanya Vio pada Grish.


Grish mengangguk membuat Rivan memijat pangkal hidungnya.


"Mungkin kenalan mereka" sahut Nana.


Tanza mengangguk.


"Astaga" Rivan serasa pusing sekarang.


"Kalian siapa?" Tanya Rivan pada kedua gadis muda itu.


"Kakak siapa?" Tanya Nana.


"Saya kakak mereka" kata Rivan menunjuk ke arah Tanza dan Grish.


"Oh" sahut Vio dan Nana.


"Kenalin kak aku Vio pacar dia" kata Vio mengapit tangan Grish.


"Aku Nana pacarnya kak ini" sahut Nana.


Mereka tak menyebutkan nama pacar masing-masing karena keduanya tak tahu.


Tanza dan Grish dengan polosnya mengangguk.


"Haihhh" Rivan menatap tajam keduanya.


"Mungkin ada salah paham di sini, adik-adik saya baru balik dari luar negri mereka tidak tahu bahasa Indonesia" kata Rivan, ia mulai menjelaskan dengan tenang.


"Pas saya ajak jalan ke sini, saya cuma suruh mereka mengangguk sebagai jawaban"


"Kalian kan yang ajak duluan pacaran?"Tebak Rivan "Tapi mereka udah ada pacar di luar negeri, bahkan pacar mereka udah hamil, mereka nggak tahu apa yang kalian maksud" kata Rivan.


Mata Vio terlihat membulat karena terkejut, tak jauh beda dengan Nana.


"Benar kak?" Tanya Nana dan Vio.


Tanza dan Grish mengangguk tak mengerti apa yang di tanyakan.


Rivan terlihat menahan tawanya sementara Sakran hanya memperhatikan.


"Ish" Vio memukul pundak Grish kemudian pergi dari sana. Mengikuti Nana yang juga menendang tulang kering Tanza.


Kedua pemuda itu hanya menatap bingung kepergian gadis yang menyeretnya hingga sampai di restoran.


Tanza dan Grish yang sedari tadi berdiri mengambil duduk di kursi kosong di sisi kanan dan kiri Rivan.


"Mereka kenapa mas bro?" Tanya Tanza.


"Haiss kalian membuat masalah tapi tak tahu masalah apa yang kalian buat" gumam Rivan.


"Tak usah di pikirkan" jawab Rivan.


"Baiklah kalau begitu kami akan lanjut berkeliling mas bro" Tanza sudah akan berdiri dari tempatnya, begitu lula dengan Grish mereka nampak bersemangat.


"Duduk!" Perintah Rivan.


"Ada apa bang?" Kata Grish.


"Duduk saja, sebaiknya kita bergerak bersama"jelas Rivan.


"Hm baiklah" sahut Tanza, mereka kembali duduk.


"Sakran coba cari di mana Acras sudruh dia datang ke sini" kata Rivan.


"Bagaimana kak? Aku saja tak tahu nama tempat ini" jawab Sakran.


"Kenapa kamu tambah bodoh! Arahkan ke sumber suara mu" Rivan terlihat menatap kesal ke arah Sakran mencoba tak berteriak karena Kia masih nyaman tidur di dada bidangnya.


"Ah baiklah akan ku coba" Sakran mulai memfokuskan indra pendengarannya penyihir suara itu mulai mencari suara khas dari Acras.


"Kak?" Sakran mencoba terhubung dengan Acras.


Acras yang mendengarnya seketika berhenti.


"Ikut ke sumber suara kak, aku akan mengarahkan mu" kata Sakran.


"Hm" Acras membalas namun bisa di tangkap oleh Sakran karena fokusnya sedang berada padanya.


Beberapa menit kemudian terlihatlah Acras di ambang pintu masuk restoran.


Rivan yang melihat kedatangannya terlihat terkejut dirinya hampir saja berteriak.


"Aku pikir setidaknya Acras tak membuat masalah" kata Rivan menatap lesu pada murid tertuanya itu.


Huffffttt ia menghela nafas dalam.


___________


Bye ❄️