
...# Happy Reading #...
Malam hari setelah mereka makan malam, saat ini keluarga yang terdiri dari Rivan, Xavier, Riana dan Tarqa sedang duduk di ruang keluarga.
Meja hologram yang ada di sudut ruangan sudah menyala.
Saat pertama kali melihat meja Hologram di kamar Riana, Xavier merasa kagum dengan benda itu, dan saat melihatnya lagi di sini kekagumannya belum juga menghilang.
"Dapan.... Tata mau baca buku" kata Tarqa yang sedang berada di pangkuan sang papa.
"Ayo sama papa aja ya?" Tanya Xavier pada Tarqa "Sayang perpustakaannya di mana?" Lanjutnya bertanya pada Riana yang duduk di sampingnya.
Riana tak menjawab, ia melirik ke arah kakaknya.
"Biar aku yang ambil" Rivan beranjak dari sana meninggalkan keluarga kecil itu.
"Padahal aku bisa ke sana" gumam Xavier.
Mereka kembali asik menonton meja Hologram sambil menunggu Rivan datang.
______
Rivan sedang mengambil buku untuk Tarqa, buku yang ukurannya 50×35 cm tingkat 5 yang masih di pelajari oleh Tarqa.
Saat akan kembali, ia teringat dengan pintu yang belum pernah ia buka.
Dengan langkah lebarnya ia berjalan ke pintu itu mencoba melihat apa yang ada di dalamnya.
Saat tiba di depan pintu, pintu itu tak seperti pintu ruangannya maupun Riana sedikit agak berbeda.
Rivan menekan handle pintu.
[PERINGATAN]
[Sebaiknya tuan tidak masuk]
Pemberitahuan system muncul dengan tiba-tiba di hadapan Rivan.
"Kenapa?" Tanya Rivan, ia tak pernah mendapat pemberitahuan system sebelumnya.
[ System merasakan aura yang berbeda di balik pintu, system sedang mengumpulkan data dari aura]
Rivan diam menunggu apa yang di lakukan system.
[Memperoleh data]
[System menemukan keberadaan dunia lain di balik pintu]
Rivan sedikit terkejut mendengarnya, hanya sedikit.
"Kalau begitu apa yang berbahaya?" Tanya Rivan.
[System tak dapat memastikan] jawab System yang membuat Rivan agak kesal.
Rivan mengurungkan niatnya, ia berjalan keluar dari ruang bawah tanah itu untuk menyerahkan buku yang lumayan besar dan tebal di tangannya pada Tarqa.
Sampai di ruang keluarga, Tarqa menyambutnya dengan girang, masih di pangkuan sang papa ia mulai membuka halaman terakhir yang ia kunjungi, kemudian membacanya dengan serius.
Xavier yang memangku nya tentu saja melihat buku itu, ia menatap bingung pada tulisan yang asing di sana.
"Itu buku apa?" Tanya Xavier.
Riana dan Rivan diam saja.
"Kata dapan ini buku sastra, sastra Valingalingxa" kata Tarqa kemudian melanjutkan bacaannya.
Xavier berpikir keras mengenai suku atau negara yang Tarqa sebutkan namun nama itu terasa benar-benar asing.
"Valigasa?" Tanya Xavier.
"Valingalingxa" Tarqa membenarkan.
Xavier yang bingung menoleh pada Riana untuk memberitahunya.
"Sayang itu bangsa apa?" Tanya Xavier, tangannya mengelus punggung tangan Riana.
"Bangsa Vali, bangsa kuno dengan sejuta pengetahuan, mereka bukan penghuni bumi" Bukan Riana yang menjawab namun Rivan.
Seketika Xavier menoleh dengan alis yang terangkat sebelah menatap bingung maksud dari ucapan Rivan.
"Di saat yang tepat aku akan memberitahu, jangan terlalu penasaran" kata Rivan.
Xavier akhirnya mengangguk kemudian ikut melihat buku yang di baca oleh Tarqa walaupun tak mengerti.
Setelah lama mereka berada di sana, mereka memutuskan untuk tidur karena hari mulai semakin larut.
"Kamu bisa tidur bersamanya" Kata Rivan sebelum meninggalkan mereka bertiga.
Xavier memejamkan mata, ia melirik ke arah Riana yang seperti menahan tawa.
Ya siang tadi mereka sudah berencana untuk melanjutkan kegiatan bersama pada malam hari, namun sepertinya harus di urungkan.
Akhirnya ketiganya berjalan menuju kamar Riana dan tidur bersama.
__________
|Iya tuan?| Jawabnya.
"Sebar undangan ke para kolega, 3 hari lagi saya akan muncul di depan publik" kata Rivan.
|Baik Tuan|
Tut
Telpon pun di akhiri, Rivan yang telah merencanakan untuk mengungkapkan identitas dirinya seminggu yang lalu harus tertunda karena Xavier, ia merencanakan akan mengungkapkan identitas dirinya kembali 3 hari yang akan datang, persiapan sudah rampung tinggal mengundang beberapa kolega dan investor dari berbagai negara.
Orang yang tadi ia telpon adalah sekretarisnya Bram.
_______
Pagi harinya, terlihat Riana telah berkutat di dapur, rambutnya terlihat di cepol asal.
"Di mana suamimu?" Tanya Rivan ia mengambil air minum untuk membasahi tenggorokannya.
"Masih tidur kak" jawab Riana.
"Kamu bermain semalam?" Tanya Rivan, pasalnya ia memang dengan sengaja membiarkan Tarqa tidur bersama keduanya.
Wajah Riana terlihat memerah, ia mengangguk tanda mengiyakan.
"Oh di mana?" Rivan semakin penasaran.
"Ku rasa kakak tidak perlu tahu" jawab Riana.
[Mereka bermain di ruang tamu, ruang keluarga dan dapur tuan] jawab system.
"Ck kamu nakal sekali, beruntung semalam aku tak turun" sarkas Rivan.
Riana yang mengerti maksud kakaknya hanya bisa melanjutkan masakannya yang hampir selesai.
Xavier datang bersama Tarqa, anak itu terlihat hanya memakai handuk karena memang tak ada bajunya di kamar sang ibu.
"Pagi Dapan" kata Tarqa.
Rivan mengangguk.
"Pagi kakak ipar" sahut Xavier, terdengar sedikit nada mengejek di sana, sepertinya pria itu senang dengan kehidupannya saat ini, terlihat dari senyum cerahnya tak seperti hari-hari sebelumnya. Bahkan ia sudah berinisiatif untuk menyapanya dahulu.
"Hm" jawab Rivan, kalau di pikir pikir lagi, Xavier lebih tua darinya mereka beda 4 tahun.
Setelah sarapan pagi, kini terlihat dua manusia sedang berbicara dengan serius di taman belakang.
"Kamu bahagia?" Rivan menatap lurus ke arah kolam buatan di sana, banyak ikan emas yang sedang berenang.
Xavier sudah sedari tadi merasa bingung dengan kakak iparnya itu, tiba-tiba mengajaknya untuk berbicara serius. Dan lagi pertanyaan apa itu? Perhatian sekali.
"Hm" jawab Xavier.
"Berapa anak yang ingin kamu miliki?" Tanya Rivan lagi.
Xavier nampak berfikir sejenak.
"Mungkin sepasang cukup, jika adik Tata nanti perempuan, tapi kalau adik tata laki-laki mungkin aku akan menambah 1" jawab Xavier.
Rivan terlihat mengangguk paham.
"Kau tahukan Tata sudah memiliki perusahaan yang sebelumnya milikmu?" Tanya Rivan.
"Hm, bahkan sekarang aku hanya menumpang hidup padamu" jawab Xavier.
"Benar" Sahut Rivan. "Kamu tahu? Semua kekayaan yang kumiliki selain rumah ini atas nama Alegtarqa Dominic" tambah Rivan.
Xavier terlihat terkejut dengan pernyataan kakak iparnya itu.
"Aku sangat sayang padanya" kata Rivan.
"Tapi di usianya yang sekarang itu belum legal, jadi aku yang mengurus segalanya" Rivan mulai menjelaskan.
"Suatu saat nanti ketika Tata memiliki adik perempuan maka adiknya tak boleh diberikan sepeserpun harta Tata"
"Jika adiknya 1 laki-laki kamu bisa membaginya 1/5 dari milik Tata"
"Tapi jika adiknya 2 laki-laki kamu harus membaginya 1/8, 1 untuk anak-anak mu yang lain dan 7 untuk Tata"
"Kenapa bukan kamu saja yang membaginya nanti?" Tanya Xavier.
"Kamu tak berencana menikah sehingga memberikan semua hartamu pada Tata?" Lanjutnya bertanya.
Rivan mengangkat bahunya sebagai jawaban.
"Aku melupakannya, kamu bisa membangun perusahaan mu sendiri dan memberinya pada anak perempuan mu" kata Rivan.
"Hm tak usah mempermasalahkannya ku pastikan keinginanmu akan ku laksanakan" jawab Xavier.
Rivan mengangguk, suasana kembali hening di antara mereka.
__________
Bye❄️