
# Happy Reading #
Fokus Rivan kembali tertuju pada segerombolan anak-anak yang sedang tes dan yang selesai melakukan tes.
Di sisi kanan, anak anak yang di anggap berbakat memiliki elemen seperti Api, angin air dan tanah tengah berkumpul mereka nampak sangat senang karena di pastikan mereka akan di masukkan ke akademi sihir.
Sedangkan di sisi kanan, nampak anak-anak yang di anggap tak memiliki bakat tertunduk kecewa menyembunyikan wajahnya.
"Elemen Petir" kata si pendeta.
Semua yang mendengarnya langsung terpekik heboh menatap tak percaya pada bocah yang sedang memasang wajah datarnya di sekitar batu hitam.
"Dia anak bangsawan" kata pendeta yang berdiri di samping Rivan.
"Siapa nama mu?" Tanya Rivan.
"Lucas" jawab si pendeta "anda sendiri?"
"Rivan" jawabnya.
Lucas mengangguk.
"Apa yang akan terjadi pada anak yang ada di sana?" Tunjuk Rivan pada anak di bagian kiri.
"Tentu saja mereka di pulangkan" jawab Lucas.
Lama menunggu, akhirnya kelompok Lucas yang berjumlah 20 anak memasuki aula.
"Elemen Air" teriak pendeta sihir.
"Oh ada yang berbakat ternyata" kata Lucas.
Rivan dengan serius memperhatikan gelagat Alex yang terlihat gelisah, sebelum akhirnya dia di arahkan menuju batu hitam di sana.
Alex meletakkan tangannya dengan penuh harap.
"Elemen......
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
logam" kata si pendeta.
Seketika wajah Alex meredup, sihir miliknya sama seperti milik sang ayah.
"Bukankah itu bagus?" Tanya Rivan pada Lucas saat melihat tak ada yang merespon.
"Apanya yang bagus? Itu hanya sihir tak berguna" kata Lucas.
Rivan langsung memberinya tatapan tajam, membuat Lucas agak canggung.
Alex berjalan dengan lesu ke kelompok bagian kiri berkumpul bersama teman temannya yang tidak berbakat.
Tes bakat kembali berlanjut, Rivan berjalan menuju Alex yang terlihat sudah tak bersemangat.
Rivan mengusap rambut Alex yang tak terawat membuat anak itu mendongak menatapnya.
Mata Alex berkaca-kaca ia memeluk kaki panjang Rivan sebelum akhirnya menangis dengan tersedu-sedu.
"Paman aku tak berbakat" Adu Alex.
"Tak apa" jawab Rivan, tangannya masih setia mengusap rambut Alex, sementara pandangannya mengedar melihat anak-anak yang bernasib sama seperti alex.
Rivan mencoba menyeleksi beberapa anak yang di anggap cukup berpotensi dengan bantuan system.
Dan benar saja, ia menemukannya, mungkin di dunia ini belum mengetahui banyak tentang segala elemen yang ada, tapi Rivan yang dari dunia lain justru sangat memahaminya.
Dua orang anak ber-elemen Gravitasi serta Teleknesis.
"Elemen suara" kata pendeta sihir.
Rivan menoleh ke arah anak itu, ia berjalan dengan lesu ke arahnya sudah pasti elemen yang dimilikinya tak berguna.
Hingga selesai seleksi bakat, Rivan tertarik dengan total 5 orang anak termasuk Alex. Mereka memiliki elemen yang cukup unik yaitu Gravitasi, Teleknesis, Suara, alam, dan Logam yang menjadi kepunyaan Alex.
Rivan mencoba mengumpulkan kelima anak yang terlihat lesu itu. Tak lama setelah semua sudah berada di hadapannya, dari arah samping Lucas datang dengan raut wajah bingung.
"Apa yang kamu lakukan?" Tanya Lucas.
"Bisakah kita mengambil mereka sebagai murid?" Tanya Rivan.
Kelima anak yang ada di depannya langsung mendongak menatap Rivan berbinar, umur mereka tak jauh dari Alex 10 tahun, dan semuanya laki-laki.
"Tentu saja, tapi daripada mereka lebih baik memilih yang di sebelah sana" tunjuk Lucas membuat kelima anak itu kembali menjadi lesu.
Rivan menatap sekilas ke sebelah kanan di mana ia dapat menangkap wajah berbinar anak-anak yang sedangย saling bercakap-cakap.
"Aku baru menyadarinya tapi siapa mereka?" Tanya Rivan.
"Mereka guru besar Akademi sihir, mungkin semua anak itu akan di ajari sihir" jawab Lucas.
Rivan mengangguk "Aku akan mengambil mereka untuk di latih" kata Rivan dangan sangat yakin.
Beberapa orang di sana terlihat menatap Rivan dengan penuh pertanyaan beberapa menatapnya dengan mengejek.
"Terimakasih Paman" sahut kelimanya bersamaan.
Rivan mengangguk singkat. "Siapa nama kalian?"
"Aku Grish 10 tahun" sahut si anak Gravitasi.
"Namaku Tanza 10 tahun" si anak Teleknesis.
"Sakran 11 tahun" si anak suara berkata dengan nada dingin.
"Acras 12 tahun" si anak Alam berkata dengan datar.
Lucas menatap wajah kelima anak itu, entah kenapa di balik wajah mereka yang terlihat kucel dan dekil juga tersembunyi sebuah keagungan dan wajah rupawan.
"Sepertinya kalian dari desa yang berbeda-beda" kata Rivan.
Mereka mengangguk kecuali Alex.
"Baiklah kalau begitu mari kunjungi desa kalian dan bertemu dengan orang tua kalian" kata Rivan memulai langkah awalnya.
"Itu tak perlu, kami bisa mengirim surat ke kediaman mereka" sahut Lucas.
"Benarkah?" Tanya Rivan.
Lucas mengangguk.
"Baiklah kalau begitu aku akan langsung membawa mereka" kata Rivan kemudian beranjak pergi dari sana di ikuti lima surutnya yang berjalan di belakang.
Tiba di luar kuil, sosok tua yang sedang mengemis di sisi jalan menarik perhatian Rivan untuk berjalan mendekat.
Mengayunkan tangannya ringan sebelum mengeluarkan sebuah kristal berwarna merah dan meletakkannya di hadapan si pengemis tua.
Hal itu tentu saja langsung menarik perhatian banyak orang, terlebih dengan kristal merah yang di berikan untuk pengemis jalanan. Dan jangan lupakan sihir ruang yang sangat-sangat langka itu.
"Terimakasih tuan dermawan" kata si pengemis tua.
Rivan menatap intens wajah pengemis itu sebelum berjongkok tepat di hadapannya.
"Sama sama pengemis tua ah tidak mungkin yang lebih tepat pemimpin pendeta" Rivan berkata dengan suara kecil sehingga tak ada orang yang dapat mendengarnya selain orang tua itu dan seorang anak di belakangnya Sakran.
Pemimpin pendeta yang sedang menyamar entah apa motifnya menatap terkejut pada Rivan.
Rivan tentu tahu tentangnya karena ia melihat lingkaran sihir berwarna ungu muda milik orang tua itu, siapa lagi yang berada di tahap itu selain pemimpin pendeta sihir.
"Anda siapa?" Tanya si pemimpin pendeta.
Rivan menaikkan bahunya tanda acuh kemudian pergi begitu saja.
"Tunggu" tahan si pemimpin pendeta. "Setidaknya tolong ikut denganku sebentar"
"Tidak, aku sedang sibuk" kata Rivan.
"Ada sesuatu yang ingin ku perlihatkan padamu" kata si pemimpin pendeta.
Rivan tak menghiraukannya ia melangkah semakin jauh di ikuti oleh kelima anak di belakangnya.
"Altar" teriak si pemimpin pendeta berhasil mengehentikan langkah Rivan.
Si pemimpin pendeta yang melihatnya segera berjalan menuju Rivan.
"Ikutlah" kata pemimpin itu memimpin jalan di samping kuil.
Rivan yang penasaran akhirnya ikut.
Mereka tiba di belakang kuil, di sana ada sebuah gubuk kecil.
Pemimpin pendeta itu segera membuka pintu dan masuk, sampai di dalam ia memegang bola mata sebelah kanan sebuah patung berbentuk singa di sana.
Tak
Tak
Tak
Tangga bawah tanah terbuka, mereka segera masuk ke ruangan yang nampak gelap di sana.
Berjalan semakin jauh, Rivan bisa melihat Altar yang diterangi cahya yang berasal dari sebuah kristal sihir.
Altar itu sangat mirip dengan altar yang mengurungnya selama lebih dari seratus tahun.
"Aku tak tahu benda apa ini, tapi sebuah ramalan mengatakan bahwa akan ada orang kuat yang datang ke dunia ini dan membutuhkan altar ini" kata si pemimpin pendeta sembari menyerahkan buku ramalan yang sudah di wariskan turun temurun.
_________
Insyaallah Author bakal fast update sampai novel ini selesai, karna author sadar kalau novel yang satu ini rada-rada kurang asik ๐๐ป๐๐ป๐๐ป
Byeโ๏ธ