ARTELARIVAN

ARTELARIVAN
Ale-28



# Happy Reading #


Ayunan besar yang berada di atas gedung itu terlihat bergerak pertanda ada seseorang yang sedang menggunakannya.


Terlihat jelas bahwa orang yang berada di atas ayunan itu tanpa pengaman sehingga salah sedikit saja nyawa bisa melayang.


"Tuan muda, sebaiknya anda turun untuk menghadiri rapat, banyak dokumen yang perlu tanda tangan anda" kata seorang yang terlihat jauh lebih tua darinya.


"Biarkan papa yang mengambil alih dulu, aku ingin istirahat" kata orang yang masih duduk di atas ayunan.


"Baik tuan muda"


Orang di atas ayunan mulai melihat ke arah buku yang ada di pangkuannya, dia dengan gilanya membaca sembari menggerakkan ayunan itu.


Lama berada di sana, ia mulai merasa bosan dan kemudian dengan santainya ia berdiri tepat di atas pagar pembatas yang sengaja di buat oleh papanya.


Alegtarqa Dominic, nama orang itu. Di usia yang baru berumur 14 tahun ia sudah cakap membantu ayahnya mengelola perusahaannya sendiri.


Setiap sebulan sekali ia akan menggunakan ayunan yang ada di gedung XV untuk mengenang sang Dapan.


Tinggi badan yang mendukung hal tersebut membuat ia tak di pandang sebelah mata oleh para atasan perusahaan ataupun pegawainya.


177 Cm, untuk usia 14 tahun sudah cukup tinggi, mungkin Karena faktor keturunan yang menyebabkannya. Ibunya 175 cm sedangkan sang papa 187 Cm.


Wajahnya yang masih tahap pendewasaan membuat ia terlihat manis dan juga dewasa di waktu yang bersamaan.


Melangkahkan kaki panjangnya dengan tangan yang berayun memegang buku yang tadi ia baca, buku berjudul Dopamine itu adalah buku terbaru yang di terbitkan oleh penulis kesukaannya.


Buku berbahasa jerman itu bercerita tentang seseorang yang kehilangan arah dalam hidupnya setelah di tinggalkan oleh oarang yang ia sayang. Ia kekurangan dopamine yang mengatur emosinya.


_________


Uhukkk


Darah segar kembali di muntah kan oleh Rivan, Horan yang ada di sana hanya dapat menatapnya tanpa tahu berbuat apapun.


Matahari telah terbit, Alex juga telah selesai membangkitkan kekuatan sihir yang ada dalam dirinya hanya tinggal melakukan tes bakat untuk mengetahui apakah sihir itu berguna atau tidak.


Posisi Rivan masih duduk, bagian depannya penuh dengan darahnya sendiri.


Uhweeeekkkk


Lagi-lagi darah dari mulutnya keluar dengan derasnya, Rivan terlihat sudah kehilangan kendali pada dirinya sendiri.


BANG


ledakan keras yang terdengar oleh Horan, Maria dan Alex membuat mereka menatap Rivan khawatir.


Rivan tergeletak tak berdaya di tempatnya tadi, wajahnya pucat akibat kekurangan darah.


Horan segera mengangkatnya membawakan menuju kamar Rivan tadi kemudian membuka pakaiannya yang kotor sebelum menutupinya dengan selimut.


Rivan membuka matanya setelah beberapa hari ia tak sadar.


Tubuhnya terasa makin berenergi, namun di saat yang bersamaan ia juga merasa lemah dari sebelumnya.


Ceklek.


"Anda telah sadar Tuan?" Tanya Horan.


Rivan berbalik "Hm" jawabannya.


Fokus Rivan teralihkan pada pusat sihir Horan yang terlihat berwarna Hijau ada 4 lingkaran yang terlihat berputar secara beraturan.


"Apakah anda merasa tidak nyaman?" Tanya Horan, raut wajahnya terlihat tak baik.


"Aku baik-baik saja" jawab Rivan.


Horan mengangguk.


"Berapa lama aku tak sadar? Tanya Rivan.


"Sudah 3 hari" jawab Horan.


"Anda benar-benar baik-baik saja?" Tanya horan lagi.


"Ck, aku baik-baik saja, ada apa?" Kata Rivan.


"Seharusnya kebangkitan kekuatan anda sudah dapat ku rasakan, tapi tidak demikian" jelas Horan.


"Apa maksudmu?" Kata Rivan.


"Aku tak tahu, tapi sihir anda tak terasa sama sekali" jawab Horan.


"Tapi aku merasakan sihirmu" kata Rivan. "Kamu di tahap SEL tingkat 4" lanjutnya.


"Bagaimana mungkin?" Tanya Horan.


Rivan menaikkan bahunya acuh.


"Keluarlah, aku ingin beristirahat" kata Rivan melambaikan tangannya mengusir pemilik rumah.


Horan pergi dengan kebingungan.


"System jelaskan apa yang Horan maksud?"


[ Menganalisis........


Menemukan data....


Bisakah tuan merasakan cincin sihir anda?] Perintah system.


Rivan menaikkan sebelah alisnya, kemudian ia mencoba memejamkan mata melihat cincin sihir miliknya.


[Tuan mengalami penurunan tahapan akibat media sihir berubah]


[Tubuh tuan sekarang adalah media sihir, hal ini memungkinkan tuan untuk melakukan segala jenis sihir tanpa kekurangan energi sihir] jelas system.


Rivan mulai menyadarinya, saat ia melihat cincin sihirnya, itu mengitari tubuhnya bukan jantungnya, jadi begitu, pikir Rivan.


"Tapi kenapa Horan tak bisa merasakannya?"


[Media sihir Horan dan Tuan berbeda] jawab system.


"Baiklah aku mengerti sekarang" jawab Rivan.


Saat akan bangkit dari posisinya, ia baru sadar bahwa ia tak menggunakan pakaian.


Menggulung selimut yang ia kenakan sebelum mencari baju yang bisa dia gunakan, namun di kamar itu sepertinya tak ada bajunya ataupun baju milik Horan.


"Horan, bisakah kamu meminjamkan ku baju?" Kata Rivan yang melihat Horan sedang mengemas barang.


"Baik tuan" jawab Horan, ia kemudian menuju kamarnya mengambil pakaiannya yang paling bagus untuk di beri pada Rivan.


Rivan mengunakan pakaian Horan yang agak kekecilan, karena tingginya yang jauh di atas Horan.


"Kalian sedang apa?" Tanya Rivan pada Horan dan Maria, sedangkan Alex hanya duduk tenang.


"4 hari lagi tes bakat akan di lakukan oleh Alex, kami akan berangkat nanti siang karena perjalanan cukup jauh" kata Horan.


Rivan mengangguk mengerti, ia duduk mendekati Alex dan mengisap kepalanya.


"Sepertinya anda menyukai anak kecil tuan?" Tanya Horan yang selalu mendapati Rivan mengelus rambut Alex yang terbilang kasar.


"Hm, aku memiliki seorang anak kecil juga" kata Rivan.


"Oh anda juga seorang ayah rupanya" sahut Horan.


Rivan hanya diam, ia dapat melihat sebuah lingkaran putih bergerak di perut Alex, sihir anak itu telah bangkit namun Horan tak mengetahuinya.


"Apakah elemen sihir di turunkan Horan?" Tanya Rivan.


"Iya dan tidak" jawab Horan " anak bangsawan mewarisi elemen sihir keluarganya, sedangkan rakyat biasa akan memiliki elemen sihir yang acak walaupun ayahnya pengguna sihir" lanjutnya menjelaskan.


"Jadi ada kemungkinan Alex memiliki elemen yang sama denganmu?" Tanya Rivan.


"Semoga saja tidak terjadi" kata Horan, ia terlihat tak ingin anaknya mewarisi elemen sihir sampahnya.


Alex terlihat menatap penuh arti pada ayahnya, Rivan yang melihatnya mengerti akan hal itu.


"Kamu membuat dia tertekan" kata Rivan.


"Apanya?" Kata Horan.


"Anak ini takut jika mengecewakan mu"


Horan menatap mata anaknya yang juga tengah menatapnya, wajah sedu itu tampak tak bersemangat.


"Kesini Alex" kata Horan memukul pahanya.


Alex mendekat dan langsung duduk di pangkuan sang Ayah.


"Ayah hanya berharap yang terbaik untukmu, seandainya hal itu tak sebaik harapan ayah tak papa" kata Horan mengelus pipi Alex.


Alex mengangguk wajahnya sudah terlihat lebih baik dari sebelumnya.


"Dengan apa kalian berangkat?" Tanya Rivan.


"Hanya Alex yang akan pergi bersama anak lainnya" kata Horan "petugas akan membawa mereka" lanjut Horan.


__________


Siang harinya, setelah membeli pakaian yang lebih lengkap di pasar desa, Rivan telah berada di alun-alun desa.


Terlihat banyak orang tua dan anaknya yang sedang menunggu kedatangan seseorang.


Dua kereta kuda terlihat berjalan mendekat di ikuti beberapa orang berziarah besi juga beberapa yang terlihat memakai baju panjang dengan lambang di dada kirinya sebuah lingkaran sihir dengan bermacam-macam warna.


"Mereka telah datang segera berbaris" pemimpin desa mulai menginstruksi.


Anak-anak yang akan ikut terlihat sudah berbaris dengan rapih dan cukup tertib. Alex ada di tengah-tengah barisan.


"Yang berpakaian putih dengan garis emas itu adalah Pendeta sihir" bisik Horan pada Rivan.


Saat kereta sudah berhenti, sua orang nampak berlutut dengan satu kaki sebagai tanda penghormatan.


"Anda juga harus berlutut tuan" Horan agak menarik tangan Rivan.


Namun Rivan yang wataknya saja tak mau ditindas pun masih berdiri, harga dirinya sangat tinggi untuk berlutut di hadapan pendeta sihir yang hanya berada di tahap ORGAN itu, terlihat warna biru gelap dengan 3 cincin berputar di pusatnya.


"Apa yang kamu lakukan?" Seorang dengan Zirah menodongkan tongkatnya dari atas kuda menatap rendah Rivan.


Rivan sedikit heran dengan perilakunya itu, ia melihat ke arah pendeta sihir yang hanya diam.


"Berlutut di hadapan pendeta sihir" kata penjaga berziarah itu.


Rivan masih menatap reaksi dari pendeta sihir di hadapannya, sepertinya kata pendeta saja tak menggambarkan sifat baik dari profesinya pikir Rivan.


"Kau!!" Penjaga itu geram, ia mulai menekan tombaknya lebih dekat bersiap melukai leher Rivan.


"Tak masalah" pendeta sihir mengangkat tangannya.


_________


Bye❄️