
...# Happy Reading #...
Pagi harinya Rivan bangun dengan wajahnya yang sangat segar, walaupun sebenarnya dirinya tak butuh tidur.
Mengedarkan pandangannya di mana muridnya yang ternyata tengah tertidur, tapi Alex tak ada di sana mungkin anak itu tidur bersama orangtuanya.
Beranjak dari duduknya, ia menendang kecil kaki milik Acras untuk membangunkannya.
"Bangun"
"Eugghhh" Acras dengan malas membuka matanya.
"Guru?" Kata Acras dan langsung saja ia duduk.
"Bangunkan yang lain, setelah makan kita langsung berangkat ke kuil sihir" perintah Rivan kemudian pergi entah ke mana.
Acras yang mendapat perintah langsung membangunkan Sakran, kemudian Tanza dan Grish yang kebonya minta ampun.
"Bagun Tanza ,Grish" Acras dengan kencang menggoyangkan tubuh keduanya namun seperti tak berpengaruh sama sekali.
Acras menoleh ke arah Sakran agar membantunya membangunkan dua kebo itu.
Mengerti maksud Acras, Sakran mengambil posisi di antara keduanya.
"Bangun!" Suara melengking itu bagai angin sepoi-sepoi untuk keduanya.
"Bangun!" Dengan suara yang lebih keras, Sakran mencoba membangunkan mereka.
Malas melihat keduanya yang tak kunjung bangun, Acras mulai melilitkan tubuh mereka dengan sulur kemudian mengangkatnya hingga mencapai langit-langit.
Brak
Brak
Auhhh
Akkkhhh
Kedua pemuda malas itu langsung melek saat bokoongnya mendarat dengan sangat tak elit di lantai kayu yang cukup keras.
"Rasain" sahut Sakran.
"Kenapa sih Kak" Tanza berbicara dengan nada memelas.
"Bookong cantik aku terzolimih" sahut Grish dengan nada teraniaya.
Acras hanya menatap datar mereka.
"Ayo kita sarapan, mungkin bibi sudah membuatnya di dalam" kata Arcas dan langsung saja menuju ke dalam rumah Horan.
___________
"Ayah ingin ikut, tapi tak ada yang menjaga ibu dan adikmu jika ayah pergi" Horan memeluk Alex sebelum melepas kepergiannya.
"Tak apa ayah" balas Alex.
Keenam pemuda itu sudah kembali menggunakan jubah dan tudung yang menutupi kepalanya.
"Kami pergi" kata Rivan sebelum mengangkat tangannya dan muncullah lingkaran sihir teleportasi.
Rivan dan muridnya tiba di lokasi yang cukup sepi di sebuah pasar, lokasi yang tak jauh dari letak kuil sihir.
Berjalan ke arah kerumunan orang yang nampak sangat ramai berbeda seperti hari-hari biasanya saat Rivan datang.
"Kenapa sangat ramai?" Tanya Rivan pada seorang pejalan kaki.
"Tantu saja ramai, tuan tak tahu? Ada pihak yang berani melawan Akademi sihir no 1 kerajaan 8 tahun yang lalu, semua orang ingin menontonnya hari ini, kami mengetahui hal ini seminggu yang lalu" jawab si pejalan kaki.
"Siapa yang menyebarkan berita?" Tanya Rivan.
"Tentu saja Akademi sihir, bisa dibilang ini akan menjadi ajang pertunjukan kekuatan bagi mereka" kata si pejalan kaki.
Rivan mengangguk memahami, intinya adalah Akademi sihir itu sudah yakin atas kemenangannya terhadap dirinya.
Rivan kembali berjalan menuju kuil sihir yang nampak sangat ramai.
Aura asing yang di pancarkan oleh ke enam pria itu membuat kerumunan orang refleks membuka jalan, di tambah penampilan yang terlihat misterius menambah kesan mendominasi.
"Siapa mereka?"
"Mereka yang menentang akademi sihir?"
"Aura mereka sangat asing"
"Aku tak merasakan ada sihir pada mereka"
"Apakah mereka tak mempunyai sihir?"
"Kau benar, mungkin hanya orang yang datang untuk menonton"
Telinga Tanza agak panas mendengarnya ia ingin mengangkat bicara tapi dirinya tertahan oleh Acras.
Sedangkan Grish yang sama sifatnya dengan Tanza tertahan oleh Sakran.
Memasuki Aula kuil yang ternyata sudah penuh oleh orang-orang, Rivan berjalan ke arah seorang pendeta sihir yang terlihat tak asing.
"Lucas" sahut Rivan.
Lukas si pendeta sihir berbalik menatap pria bertudung di belakangnya.
"Rivan?, Ku kira kamu tak akan datang" kata Lucas saat Rivan memperlihatkan sedikit wajahnya, wajah Lucas lebih dewasa dari sebelumnya.
"Mereka anak-anak itu?" Lucas melihat murid-murid Rivan yang berdiri tepat di belakang gurunya.
"Hm"
"Aku tak merasakan sihir miliknya, sama seperti dirimu" komentar Lucas.
"Apa peduliku?" Jawab Rivan.
"Haha tak ada, tapi setidaknya bisa beritahu tahapan sihir mereka?" Kata Lucas.
"Tidak" tolak Rivan.
"Oh ayolah aku akan memberitahu tahapan sihir anak-anak dari Akademi sihir, mereka berada di sana" Lucas menunjuk ke arah segerombolan pemuda yang terlihat rapih dengan seragamnya. Jumlah mereka tak kurang dari 20 orang, namun di antara mereka ada 5 orang dengan pakaian yang berbeda.
"Tak perlu" kata Rivan saat dirinya sendiri sudah tahu tahap apa lawan muridnya.
Murid-murid Rivan menoleh secara bersamaan ke arah yang di tunjuk oleh Lucas sebelum mereka mengangguk bersamaan.
"Sepertinya mereka akan langsung mati" komentar Tanza.
"Aku saja sudah cukup untuk melawan mereka semua" kata Grish.
Yang lainnya kembali mengangguk setuju.
Lucas yang mendengar pernyataan penuh percaya diri itu semakin di buat penasaran.
"Kalian tahu tahapan sihir mereka?" Tanya Lucas.
"Bukan meremehkan tapi mereka memang lemah dari kami" Tanza berkata dengan dingin mencoba terlihat cool.
Plak
Grish yang ada di sampingnya langsung saja memberikan pukulannya.
"Tak cocok" kata Grish.
Tanza menggaruk tengkuknya yang masih tertutup tudung karena sedari tadi mereka berbincang tak seorang pun melihat wajah rupawan mereka.
"Hehehe"
Rivan kembali melanjutkan langkahnya ke arah kursi kosong yang diketahuinya tempat lawan dari murid akademi sihir yang tak lain adalah dirinya.
Duduk dengan melipat tangannya di atas dada membuat ke enamnya menjadi pusat perhatian, terlebih tak ada yang bisa merasakan energi sihir dari tubuh mereka.
"Mereka benar-benar lawannya"
"Bagaimana mereka akan menang? Energi sihir saja tak punya?"
"Iya mereka hanya orang biasa, bahkan aku tak yakin mereka bisa melawanku"
"Sudahlah setidaknya kita dapat melihat pembantaian"
Aula kuil sihir sudah benar-benar penuh oleh penonton.
Master Akademi yang membuat kontrak dengan Rivan berjalan mendekatinya.
"Kau melihat murid-murid ku?" Kata Master akademi.
"Tentu saja" jawab Rivan.
"Lihat mereka sudah tahap apa?" Kata si master Akademi.
"Hm" jawab Rivan.
"Bukankah sebaiknya kalian kabur saja? Aku akan membatalkan kontraknya" kata si master Akademi.
"Sepertinya master sudah sangat percaya diri akan menang?" Tanya Rivan.
"Hm tentu saja, walaupun kamu sendiri adalah bangsa vali, namun murid-murid mu hanyalah memiliki elemen sampah" ejek si master
Blessssh
Seketika Aura aula menjadi mencekam oleh kelima murid-murid Rivan, mereka sama sekali tak suka jika elemen mereka di hina apalagi di katai sampah.
"Haruskah aku membunuhmu?" Acras berkata dengan dingin pada Master akademi.
"Ohoho kau? Lawan murid ku saja aku tak yakin kalian bisa menang" sahutnya sombong.
"Kalau begitu ayo bertarung" kata Acras ia sudah akan mengambil ancang-ancang namun Rivan malah menahannya.
"Acras!" Tahan Rivan.
Acras mundur ia menatap sinis pada Master akademi.
"Kalau masternya di bunuh, kita tak dapat menyaksikan bagaimana ia akan membunuh murid-murid nya" kata Rivan.
"Kau!" Master Akademi menunjukan pada Rivan.
"Sudahlah sebaiknya kita mulai saja, bagaimana metode pertarungannya? 1 Vs 1 atau 5 Vs 5 atau 1 Vs 5 bagaimana?" Kata Rivan.
__________
sebenarnya tadinya author mau fast update lagi, tapi bab 34 reviewnya lama, author kira bakal di tolak jadi malas buat nulis :v
padahal babnya di serahkan kemarin malam, eh jam 3 sore hari ini baru lolos :v
Bye ❄️