ARTELARIVAN

ARTELARIVAN
Ale-33



...# Happy Reading #...


"Acras jerat kakinya sekarang" seorang pemuda dengan rambutnya yang berwarna coklat gelap terlihat duduk di atas sebuah tebing tinggi sambil mengirimkan suara satu arah pada pria ber surai gelap di bawah sana.


Acras meletakkan tangannya di atas tanah kemudian sulur-sulur tanaman langsung naik dari bawah tanah menjerat kaki seekor monster kucing besar.


Bruk


Roarrrrrr


Monster itu langsung terlentang tak mampu bergerak saat Gravitasi di sekitarnya mulai terasa memberat saat Grish mengarahkan tangannya.


"Alex" suara kembali di kirim dari atas tebing yang cukup jauh.


Alex yang paham langsung melompat setinggi mungkin mengeluarkan sebuah panah besar dari tangannya kemudian menarik senar logam yang sudah terpasang anak panah.


Jleb


Anak panah itu tepat menembus tengkorak kepala si monster dan mengakhiri nyawanya.


"Arah jam 4" suara itu datang dan dapat di dengar oleh semuanya.


Tanza yang kebetulan berada di arah yang sama berbalik dan melihat seekor monyet besar berlari dengan cepat ke arahnya.


Menjulurkan tangannya, dengan mudah ia mengangkat monyet itu dan melemparkannya ke arah tebing.


"Sialan" Sakran mengumpat sebelum mengeluarkan suara tajam yang tak dapat di dengar oleh siapapun.


Srassssshhh


Darah mengalir dari telinga monster itu akibat gelombang suara yang sangat tinggi menghampiri telinganya.


"Awas kau Tanza" geramnya masih duduk di atas tebing.


"Bahahaha maaf kak" sahutnya.


Saat ini mereka sedang berburu monster tingkat tinggi.


Tahapan sihir mereka sudah berada di tahap POPULASI, Arcas berada di puncak, Sakran di tingkat 3, Alex dan Grish berada di tingkat 2 sedangkan Tanza berada di tingkat 1.


Sakran melompat dari pohon ke pohon yang lainnya ia bergerak mendekat ke arah teman seperjuangannya. Saat hampir sampai, ia meloncat dengan tinggi untuk menerjang Tanza dan tentu saja tanza dengan cepat mangkat tangannya sebelum mengeluarkan 10 pedang dari sihir ruang yang di ajarkan oleh Rivan.


10 pedang tajam itu langsung saja berada di leher Sakran siap untuk merobek venanya.


"Bagaimana kak? Mau kehilangan suaramu?" Sahut Tanza dengan wajah tengilnya.


Sakran tentu saja tak bisa jika suaranya hilang, suaranya adalah kekuatan miliknya.


"Heh bisa?" Tantang Sakran.


"Tentu saja" jawab Tanza saat pedang itu akan bergerak,


"Tanza jauhkan pedangnya" suara Otoriter dari Sakran sukses membuat pedang-pedang itu bergerak menjauh.


Tanza yang malas dengan Sakran langsung saja melepaskannya dari ketinggian.


Arcas dengan segera membentuk jaring tanaman untuk menahan tubuh Sakran.


Bruk


Beruntung Sakran tak terluka.


"Bocah" teriak Sakran ia akan berlari ke arah Tanza namun Acras segera menahannya.


"Ayo kita makan siang" ajak Acras.


"Mari berlomba menuju rumah?" Ajak Grish.


Semua menatap jengah ke arahnya, tentu saja dia yang akan menang untuk masalah kecepatan.


Grish curang ia meringankan gravitasi di sekitarnya dan mengirimkan gravitasi itu pada yang lainnya.


"Bagaimana jika berlomba tanpa melibatkan kekuatan?" Ajak Grish lagi.


"Ayo" sahut Alex.


Mereka mulai berbaris mengambil star dengan posisi siap.


"1...2....Go" Sakran berhitung dan mengirimkan suara itu agar mereka serempak.


Mereka mulai berlari dengan Arcas yang memimpin, tentu saja karena tahapan sihirnya berada paling atas, di susul oleh Sakran, Alex, Tanza dan yang berada di posisi akhir adalah Grish, ia memang tidak terbiasa berlari dengan gravitasi sehingga dirinya harus menempati posisi terakhir.


Kesal akan hal itu ia mulai berbuat curang dengan melepas gravitasi di kakinya menyusul Tanza.


Tanza yang di lalui menyadari kecurangan Grish ia mulai menurunkan tangannya membuat dorongan di tanah.


"Grish curang" teriak Tanza tak terima.


Mendengar itu, mereka akhirnya menggunakan kekuatan masing masing.


Acras melilitkan sulur panjang ke arah tanaman besar untuk segera menghindar efek gravitasi milik Grish.


Alex juga segera mengeluarkan panahnya untuk memanah pohon besar.  Sebelumnya ia mengikat sebuah tali baja tips namin elastis pada ekor anak panah.


Sedangkan Sakran hanya menghela nafas tak tahu harus melakukan apa, ia tak memiliki sihir untuk kabur.


Baru saja akan menarik dirinya, Acras dan Alex sudah lebih dulu tertahan oleh gravitasi milik Grish dan menekan mereka berempat dengan sangat kuat.


"Grish stop" Otoriter Sakran.


Berakhir mereka dalam gerakan slomotion akibat sihir Grish.


Rivan yang sedang di altar menggeleng kecil melihat muridnya yang sudah dewasa namun pikirannya masih anak-anak.


8 tahun terlewati dengan sangat cepat, usia Rivan semakin tua dan ia masih perjaka, sedangkan murid tertuanya Arcas sudah berusia 20 tahun.


Saat berdiri bersama, mereka seperti saudara, terlebih Rivan yang sepertinya tak menua semenjak ia datang ke dunia ini, seolah waktunya sedang berhenti.


Banyak hal yang mereka lalui bersama, terkadang mereka bercanda dan melupakan kesopanan antara guru dan murid.


"Yo mas bro" Tanza mengangkat tangannya tinggi pada Rivan.


Wajah Rivan menggelap, mengangkat tangannya lalu menghempaskan Tanza ke kolam renang.


Sedangkan yang lainnya berbaris di hadapan Rivan dengan sopan.


"Ayo makan" ajak Rivan, mereka masuk meninggalkan Tanza yang masih berada di kolam.


"Tunggu aku mas bro" teriak Tanza.


Rivan mengangkat tangannya lagi hingga Tanza tenggelam ke dasar kolam.


Grish yang diam diam baek menoleh ke belakang kemudian menjulurkan lidahnya dan menarik turun sebelah matanya. Sebelum akhirnya ikut tercebur di kolam yang sama.


"Rasain" ejek Tanza.


Wajah Grish hanya datar, ia merasa di nistakan.


___________


Duduk di meja panjang dengan Rivan yang berada di ujung meja.


"Besok sudah tepat 8 tahun sejak perjanjian itu" Rivan menatap Acras yang sedang duduk di sampingnya.


Acras membalas dengan senyum yang agak di paksakan. Ia terus mengingat ayahnya yang tega membiarkan dirinya di habisi saat kalah.


"Dan setelah ini seharusnya kalian sudah bisa bertahan hidup di luar, temui keluarga kalian" lanjut Rivan.


Selama 8 tahun mereka pelatihan, tak pernah sekalipun ada yang pulang berkunjung ke rumah orang tuanya atau bahkan ke pasar sekalipun.


"Bisakah kami ikut saja dengan guru?" Kata Tanza dengan wajah sayunya.


"Aku juga akan pulang menemui keluargaku setelah ini" kata Rivan, ia sudah berada di tahap LEGENDA SEMESTA puncak.


"Aku akan ikut" sahut Acras cepat, ia menatap wajah Rivan "aku akan ikut kemanapun guru pergi" tambahnya.


"Aku juga" kata Sakran.


"Benar aku juga akan ikut" sahut Grish.


"Ohoho kalau aku jangan di tanya, pasti aku akan ikut!" Sahut Tanza sambil mengelus dagunya seolah ada janggut yang menempel di sana.


Semuanya beralih menatap Alex yang hanya diam, di antara mereka hanya Alex yang kondisi keluarganya harmonis.


Sakran merupakan anak seorang budak, ibunya sudah meninggal dan ayahnya yang seorang Marquez telah membuangnya.


Grish berasal dari desa yang di serang oleh monster sesaat sebelum ia pergi dari desanya.


Dan Tanza, bahkan orang tuanya saja ia tak tahu siapa, ia merupakan anak yang di rawat oleh biarawati. Namun sang biara harus meregang nyawa karena tenggelam di sumur.


"Ak-aku juga ingin ikut, hanya saja aku tak tega meninggalkan orang tuaku" kata Alex.


Rivan mengusap punggung tegap pemuda 18 tahun itu, "Tak apa, mungkin lain waktu kita bisa bertemu lagi" kata Rivan.


___________


Fast update 💪🏻🏋️🏃


Bye ❄️