
...# Happy Reading #...
Mereka berkumpul di tengah-tengah aula, hari sudah sore.
"Kenapa berangkat sekarang?" Tanya Tanza dengan malasnya, ia ingin rebahan di kamarnya.
"Tadi katanya mau ikut kemanapun guru pergi" sinis Grish.
Rivan tak menghiraukan kedua muridnya yang semakin hari semakin kurang ajar itu.
Ia membuka inventorinya dan mengambil sebuah jubah dengan tudung yang menutupi seluruh wajahnya hanya terlihat bibirnya yang manis.
Jubah itu berwarna coklat gelap hampir hitam, di punggungnya terdapat gambar unik yang sulit di jabarkan.
Tanpa di suruh, Acras,sakran,dan Alex langsung mengikuti memakai juba dengan gambar yang sama dengan Rivan. berbeda dengan Grish dan Tanza yang masih asik bertukar kata tak bermutu.
"Ekhm" suara tegas itu berasal dari murid tertua.
"Yo bang" sahut Tanza. "Napa pake jubah?" Tanya Tanza.
Sementara Grish tak bertanya ia mengayunkan tangannya dan langsung mengambil jubah miliknya di dimensi ruang.
Buru-buru Tanza juga ikut mengambil juba miliknya.
Jika warna jubah Rivan kecoklatan hampir hitam,
Jubah Acras berwarna hijau tua
Sakran Merah tua
Alex biru nafi
Grish abu-abu basah
Tanza oranye gelap.
Siap dengan penampilan mereka, Rivan mulai mengayunkan tangan kanannya secra vertikal sebatas dagu.
Lingkaran teleportasi muncul sesaat sebelum altar itu menjadi kosong dan hening.
__________
Ke enam pria tampan yang tertutup jubah itu tiba di sebuah gerbang masuk desa.
Alex menatap terpaku pada gerbang itu, gerbang yang menjadi tempatnya bermain bersama teman-temannya dulu.
Ia menoleh ke arah Rivan.
"Guru" kata Alex.
Rivan tak menyahut ia mulai berjalan mendekati warga yang sedang menatap mereka waspada.
"Siapa kalian?" Kata si penjaga gerbang, walaupun takut tapi ia mencoba tetap berani.
Alex membuka tudungnya. "Paman poli" sapa Alex.
Pria baya yang di panggil paman oleh Alex segera memfokuskan pengelihatannya pada pemuda tampan itu.
"Alex?" Kata si paman Poli.
"Apa kabar paman?" Kata Alex.
"Paman baik Alex kamu sendiri?" Tanya Poli.
"Sangat baik" jawab Alex.
"Kamu lama tak terlihat, pulang-pulang sudah jadi pemuda tampan" puji Poli.
"Terimakasih paman"
"Kamu kemana selam-"
"Ekhm" Rivan berdehem malas.
Alex menggaruk tengkuknya yang tak gatal, ia melupakan keberadaan Rivan sesaat.
"Kalau begitu aku permisi paman" kata Alex.
"Ah baiklah" jawab Poli.
Alex kembali memakai tudung kepalanya berjalan di bawah tatapan warga desa yang penasaran dengan ke enam orang itu.
Sampai di depan rumah yang menjaganya selama 10 tahun, Alex dengan tangan agak gemetar mencoba mengetuk pintu.
Tok
Tok
Tok
"Iya~" sahut suara lembut dari dalam.
Alis Alex nyaris bertemu saat mendengar suara asing itu.
Ceklek pintu terbuka memperlihatkan seorang gadis kecil dengan rambut terkepang.
"Siapa?" Tanyanya mendongak dengan mata bulat miliknya.
"Siapa Ayuna?" Suara yang teramat dikenali Alex langsung membuat jantungnya berdegup kencang.
Maria berdiri menatap sekumpulan orang yang menutupi wajahnya.
"Siapa ya" tanya Maria agak takut.
Dengan gerakan slomotion, Alex mengangkat tudungnya sehingga memperlihatkan wajahnya yang rupawan.
Maria berkedip menatap wajah di depannya ia menutup mulutnya tak percaya.
"Alex!?" Pekik Maria membuat seorang pria paruh baya yang sedang berada di meja makan mendengarnya.
"Hai ibu" sapa Alex dengan senyumnya yang benar-benar manis.
Maria langsung menerjang tubuh tegap anaknya itu memeluknya dengan sangat erat seolah tak ingin kehilangan Alex.
Horan yang baru saja datang terpaku sejenak sebelum ikut bergabung memeluk anak sulungnya itu.
Kegiatan mereka di saksikan oleh yang lain, keempat murid Rivan yang lain merasa iri dengan kebahagiaan keluarga Alex.
Rivan yang mengerti hal itu mengusap punggung mereka secara bergantian sebelum memberikan sebuah senyuman hangat seolah mengatakan tak apa.
_________
Duduk di sebuah karpet jerami merupakan hal yang biasa mereka lakukan, bahkan di atas tanah berkerikil pun sudah biasa bagi murid-murid Rivan.
Rivan membuka tudungnya di ikuti muridnya yang lain, seketika wajah tampan mereka membuat Ayuna terpekik heboh sedangkan maria berada di dapur untuk membuat minuman hangat.
"Wah kakak itu tampan sekali" tunjuk Ayuna pada Rivan.
'kakak?' pikir yang lainnya menatap Rivan dalam. Sebelum akhirnya mereka mengangguk setuju.
"Jangan seperti itu Ayuna tidak sopan" tegur Horan.
"Iya ayah" jawab Ayuna.
"Dia Ayuna adik kamu, umurnya baru 7 tahun" kata Horan
Mata Alex nyaris melompat mendengarnya. "Bagaimana bisa?" Tanyanya ambigu.
"Ya karna di buatlah" jawab Tanza yang sedari tadi diam.
"Iya, gitu aja nggak tau" tambah Grish.
"Iya tapi kenapa aku bisa punya adik" kata Alex yang tak mau percaya, ia menatap Ayuna.
"Pasti paman cium bibi di bibirkan? Makanya bisa jadi" sahut Tanza yang malah di benarkan dengan anggukan oleh yang lain kecuali Rivan dan Horan.
Bibir Rivan sedikit berkedut mendengar pernyataan penuh percaya diri dari Tanza dan parahnya yang lain malah membernarkan, salahkan dirinya yang kurang memberi pelajaran tentang reproduksi manusia.
Ingatkan dia untuk langsung memberikan pelajaran mengenai itu setelah ini.
Alex kembali menelisik wajah adiknya dengan seksama membuat Ayuna tak nyaman.
"Ekhm jadi selama ini kalian kemana saja?" Tanya Horan yang tahu gelagat putrinya.
"Kami berlatih sihir dengan guru" Alex melihat ke arah Rivan yang sedang santai menikmati minuman panas yang di bawa oleh maria.
"Hanya berlima?" Tanya Horan.
Alex mengangguk
Horan mencoba melihat tahapan sihir milik Alex dan yang lainnya, ia tak merasakan adanya sihir dari tubuh mereka semua.
"Kau di tahap apa?" Tanya Horan dengan wajah seriusnya.
"Menurut Ayah?" Alex berkata dengan penuh teka-teki, wajahnya semakin dekat dengan wajah sang ayah.
"Tahap...." Horan juga melakukan hal yang sama ia mendekatkan wajahnya lebih tepatnya telinganya.
"Organ?" Lanjutnya.
"No" jari telunjuk Alex Bergerak ke kanan dan ke kiri.
"Jaringan?" Kata Horan lagi.
"Ush kenapa semakin turun" kesal Alex.
"Jangan bilanh SISTEM ORGAN?" Tebaknya tak percaya.
"Bukan" sahut Alex lagi.
"Terus?" Horan berkata dengan wajah yang sangat penasaran.
"POPULASI" bisik Alex.
Horan segera menjauhkan tubuhnya dan menatap horor pada Alex yang sedang tersenyum jahil melihat reaksi ayahnya.
"Serius?" Kata Horan tak percaya.
"Iya" jawab Alex.
"Tapi ayah dengar Elemen milikmu adalah elemen samp......" Horan tak menyelesaikan kalimatnya saat merasakan aura tak enak yang di pancarkan kelima pemuda di depannya.
"Ah.... Baiklah ayah percaya, kalau begitu bagaimana dengan istirahat sebentar?" Tawar ayah Alex.
"Baiklah kami akan membangun tempat di halaman depan" sahut Alex menyetujui.
"Apa? Tapi ini sudah hampir malam, sudah tak sempat jika baru ingin membangun" kata Horan.
Tak menghiraukannya, Acras beranjak keluar dan mulai meletakkan tangannya di taman rumah Horan yang agak luas di ikuti dengan Grish yang meratakan tanah agar Acras mudah membuat lantainya.
Ruangan persegi seluas 5×5 M² sudah siap dengan lantai beralaskan papan dan dinding yang tertutup papan juga.
"Aku istirahat dulu ya paman" kata Tanza dan mulai menyusul Acras dan Grish.
"Aku duluan guru" kata Sakran kemudian juga ikut ke dalam ruangan itu.
Rivan berdiri "ayo" katanya.
"Datanglah nanti malam" Rivan berkata pada Alex.
"Iya guru" jawab Alex.
___________
Ruangan yang tadinya hanya beralaskan lantai papan kini sudah terdapat beberapa kasur dan selimut yang tergelar di atas lantai.
"Grish bagaimana kalau kita juga membuat anak? Ayo cium aku" Tanza buka suara.
"Kau mau perutmu buncit?" Kata Grish.
"Tak masalah, setelahnya aku akan mendapatkan anak yang cantik" kata Tanza.
"Baiklah ayo mendekat" Grish mengulurkan tangannya, kebetulan kasur mereka bersampingan.
Tanza mulai mendekat keduanya hendak berciuman, sementara Acras dan Sakran menunggu dengan serius.
Bukh
Saat mereka hampir berciuman, Rivan langsung melempar sebuah bantal pada mereka, tentu sakit karena Rivan sudah lebih dulu mengirim energi sihirnya pada bantal.
"Aws guru, kau mengangguk ku membuat anak" kata Tanza mengusap pipinya.
"Buat anak palamu" gumam Rivan.
Ceklek
Alex datang dengan wajah cerahnya ia langsung mengambil duduk di samping Sakran yang sedang selonjoran di atas kasur miliknya.
"Baguslah kalian sudah di sini, aku akan memberikan pelajaran paling penting dalam hidup kalian" kata Rivan.
"Hentikan Tanza, Grish" Rivan berkata dengan tegas saat kedua manusia itu kembali akan berciuman.
Rivan mulai memutar sebuah video yang di ambil dari system, ya itu sebuah video de*wasa bagaimana cara membuat bayi.
Suara di ruangan tak keluar karena Rivan telah memasang barier jadinya saat ini mereka sedang nobar video po*rn.
Rivan terlihat biasa saja karena ia sudah 'sering' menonton adegan seperti itu, mata, telinga dan tangannya sudah tak perawan.
Beda lagi dengan kelima murid-muridnya wajah meraka memanas jadi itu fungsi benda yang bergelantungan di antara dua paha mereka serta ukurannya yang seringkali berubah saat di sentuh atau saat mereka sedang bangun tidur.
Tanza dan Grish saling tatap sebelum mereka mengambil jarak dengan canggung.
Agggh
Pemeran pria mengeram sebelum susu kental manis menyembur.
Rivan melihat murid-muridnya yang sedang memeluk bantal sudah bisa di pastikan di balik bantal itu ada yang berdiri tegak tapi bukan tiang dan keadilan.
Rivan tidur tak menghiraukan murid-muridnya yang pastinya akan tersiksa memikirkan adegan itu, apalagi mereka tak tahu bagaimana menyelesaikannya.
__________.
Bye ❄️