ArkaSha with Niki

ArkaSha with Niki
Bubur Mual



Shanna berjalan setelah berpisah dengan Alruni yang juga menuju ke kelasnya. Dari tempatnya sekarang sudah banyak mahasiswa yang berlalu lalang. Dengan tote bag yang terselip di bahunya, ia sekarang sudah memasuki kelasnya yang sudah dua hari tidak ia datangi. Cewek dengan balutan pashmina sage itu memilih untuk segera duduk di kursi yang ia rindukan. Tak sedikit ia mendapat sapaan dan senyuman dari teman sekelasnya.


“ roni..! lo liat Anjel..” ujar Shanna sambil melepas tote bag yang sedari tadi disandangnya.


Roni mengangguk. “ anjel ke toilet..” shanna mengangguk mendengar penuturan Roni. Ia tak sabar menunggu kedatangan Anjel, ia sudah tau bagaimana reaksi temannya itu nantinya ketika Shanna menghilang selama dua hari.


Tak lama kemudian Roni memanggil Shanna sepertinya ingin menyampaikan sesuatu. Shanna yang mendengar panggilan Roni otomatis mengarah kepada Roni dengan menaikkan sebelah alisnya.


“ ada yang cariin lo di luar..” ucap Doni dengan datar.


“ Alruni? Suruh masuk aja Ron..” sahut Shanna.


“ bukan Al..” sambung Roni memalingkan wajahnya dari Shanna.


Shanna penasaran dengan sosok yang berada di depan kelasnya saat ini. ia bangkit dari kursinya untuk menghampiri seseorang yang tidak diketahuinya itu. Ketika Shanna sudah berada di ambang pintu, tentu saja ia terkejut melihat kedatangan Arkana menghampirinya. Lihatlah Arkana, wajahnya masih segar pagi hari seperti ini. sangat mempesona bagi Shanna, namun ia tetap memenangkan egonya. Sisiran rambut yang rapi, tubuh tegap dan tinggi, siapa yang tidak tertarik dengan seorang Arkana Fahsya. Jangan dilupakan pasangan wajah tampan yang membuat kaum hawa selalu mengganggunya.


Senyuman terukir di bibir Arkana. “ Shann..” tegurnya membuyarkan pemikiran Shanna.


“ hmm..” balas Shanna singkat membuat hati Arkana sedikit tergores. Sementara didalam kelas, Roni tidak segan menempelkan telinganya ke dinding berniat menguping pembicaraan Shanna dan cowok yang tidak dikenalinya itu. Tentu saja ia penasaran, saingannya semakin banyak baginya. Ia tidak suka jika Shanna dekat dengan lelaki lain, kecuali Alruni. Ia tak bisa untuk mencegah itu.


“ bales pesan gue, bales dm gue, dan follback instagram gue!” perkataan Arkana terdengar ambigu menurut Shanna. Karena sejujurnya setelah sakit ia memang taka da membuka instagram miliknya, dan untuk pesan di WhatsApp, ia sangat jarang bahkan tidak memedulikan pesan dari nomor tak dikenal.


“ lo dari mana dapat kontak gue?” Tanya Shanna membuat Arkana menoleh ketika mendapati bayangan seseorang perempuan yang tengah mematung dari tempat mereka berdua. Gadis itu adalah Anjel, kini ia gelagapan sekaligus takut mendapat amukan dari Shanna jika tau ia yang membagi kontaknya kepada Arkana.


“ temen lo..” balas Arkana singkat yang melihat Shanna paham dengan perkatannya.



Shanna menggeram marah, kemudian membuka suara lagi. “ buruan ngomong, kalau ada perlu sama gue.” Shanna menekankan ucapannya. Hatinya akan semakin menggerutu jika lama berada di dekat Arkana.



“ Cuma mau bilang itu doang. Yaudah..lo buruan masuk gih, jangan lupa kabarin gue. Gue pamit mau ke kampus.” Tanpa berkutik lagi, Shanna meninggalkan Arkana yang tengah setia memandangnya. Arkana hanya ingin memastikan, Shanna memasuki kelasnya. Walaupun hanya satu langkah dihadapannya. Setelah memastikan sosok Shanna tidak lagi dihadapannya, ia meninggalkan tempat itu.


-----------------------------------------------------------


Anjel meringis ketika Shanna mencubit bahunya. “ sakit Shan..”


“ lo yang berulah duluan..kenapa lo kasih kontak gue ke Arkana?” pertanyaan itu membuat Anjel menggaruk tengkuknya yang tidak berasa gatal. Ia mengumpulkan tenaganya untuk berpikir, alasan apa yang akan ia katakana pada Shanna.



“ lo kemana dua hari ini,,? Gue pusing tau..dua curut itu nanyain lo mulu ke gue. Gue kasih aja kontak lo.” Beruntung saja Anjel mengingat ia belum menanyakan alasan Shanna membolos kelas. Walaupun selalu alasan yang tidak masuk akal diutarakan Shanna, namun si Anjel tidak pernah memperpanjangnya. Ia paham, temannya ini pasti memiliki privasi, tak selalu harus ia ketahui.



“ siapa?” Alruni berjalan mendekati meja dimana Shanna dan Anjel berada. Alruni tak sengaja mendengar percakapan kedua gadis itu, karena ia juga tak jauh dari sana.




Alruni mengangguk. Ia mengamati Shanna, lalu membuka suara lagi. “ udah makan?” shanna menggeleng. Setelah itu, alruni bangkit menjauhi meja itu ingin memesan makan untuk Shanna dan dirinya. Tak berlangsung lama, Alruni membawa dua mangkok bubur. Ia menyodorkan mangkok itu kepada Shanna, membuat Shanna keheranan.



“ lo ga suka bubur Nik..” ucap Shanna saat melihat Alruni memasukkan satu suapan bubur ke dalam mulutnya. Pria ini tidak pernah menyukai bubur, karena ia akan mual katanya jika makan bubur.



“ gue suka sekarang, buruan makan.” Sekarang dengan terpaksa Alruni menghabiskan suap demi suap bubur itu. Ia sangat ingin mual sekarang, ia merasa enek melahap makanan putih yang tidak menggiurkan baginya. Ia tidak suka bubur, namun kali ini saja ia berusaha. Jika saja dirinya membeli makanan bernuansa micin, dapat ia pastikan Shanna juga akan menginginkan makanan itu. Maka dari itu, ide muncul dalam pikirannya untuk menyamakan makanannya dengan Shanna. Ia takut Shanna akan jatuh sakit lagi, jika makanan bermicin lagi. Ia adalah manusia paling lemah, jika disuguhi Shann yang tengah sakit.



Shanna memandangi Alruni dengan tatapan kasihan. Apa benar Alruni sudah menyukai bubur? Ia tau sejak kecil Alruni tidak pernah ingin menyentuh bahkan melihat bubur pun ia sudah mual.



“ besok ga usah makan di kantin lagi. Bawa bekel dari rumah, kalau g ague minta bunda yang siapin.” Sahut Alruni menahan rasa mual di perutnya.



“ gue ke toilet dulu.” Pamit Alruni ketika tak bisa lagi menahan gerah di perutnya. Ia terbirit-birit memasuki toilet pria yang berada di ujung kantin. Melihat Alruni, Shanna berinisiatif mengikuti Alruni. Ia yakin jika pria itu akan memuntahkan seluruh isi perutnya. Ia meninggalkan gilang dan Anjel di meja kantin. Hal itu, membuat gilang tersenyum kemenangan ketika hanya ia dan Anjel yang berada di sana.



Dengan setia menunggu Alruni di depan toilet pria, ketika Alruni keluar ia memandanginya dengan pandangan sedikit geram. Tak ada rasa kasihan dalam dirinya, pria ini sangat keras kepala. Jika saja ia tau alasan Alruni, ia takkan berani memarahi Alruni.



“ masih mau makan bubur?” alruni yang tengah merapikan pakaiannya kemudian mendongak menyadari ucapan itu.



“ sejak kapan disini?” bukannya menjawab pertanyaan Shanna, Alruni malah balik bertanya.



“ niki..!” bentak Shanna.



“ ga boleh teriak..” ucap Alruni kemudian mengarahkan telapak tangannya kepada Shanna. Shanna yang sudah mengerti sikap Alruni menurunkan lengan kemejanya yang kebetulan ia lipat Karena terlalu panjang. Lengan kemeja yang menyembunyikan jemari Shanna diraih oleh Alruni kemudian menggenggamnya. Ia menariknya lalu membawa Shanna berjalan. Shanna pun yang sudah biasa dengan hal ini mengikuti langkah Alruni. Ia tidak pernah berani untuk memegang tangan Shanna, karena Shanna tidak membenarkan hal itu.